
...BAB 75...
...Akhir Kisah Mereka...
Beberapa jam kemudian, akhirnya Fadil telah sampai di Kota Semarang dan waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 malam. Fadil membuka google map dan mencari hotel yang paling dekat dengan alamat Salon Mariana tempat Rubi bekerja seperti yang di katakan Randy kemarin siang.
Setelah sampai Hotel, Fadil lalu memesan kamarnya dan memilih letak kamarnya berada bersebrangan tak jauh dengan Salon Mariana. Fadil tersenyum senang akhirnya ia dapat menemukan alamat Salon itu dengan mudah.
Di dalam kamarnya, lelaki berusia 30 tahun lebih itu merebahkan punggungnya sejenak di atas tempat tidur. Mengistirahatkan semua otot tangan dan juga kakinya yang terasa kaku karena perjalanan jauhnya tadi.
Setelah rasa pegalnya hilang, ia pun menikmati coklat panas yang ia pesan sebelumnya pada pelayan hotel tadi. Fadil berdiri lalu berjalan ke luar balkon kamarnya seraya membawa cangkir berisi coklat panas ditangannya, dan satu tangannya memegangi pagar balkon.
Lantas matanya tak berkedip memandang ke arah Salon Mariana di sebrang bawahnya yang sudah tutup sedari jam 20.00 tadi. Dari sana Fadil dapat melihatnya dengan jelas.
"Jadi sekarang, kamu bekerja di sana Rubi? Aku sudah tak sabar lagi, menunggu pagi tiba. Setelah kita bertemu, aku berjanji tidak akan pernah membiarkanmu pergi lagi dariku ..." ucapnya tersenyum lirih.
Fadil pun duduk menyamping di pagar penyangga. Meneguk sisa coklatnya yang sudah agak mendingin itu. Hembusan angin malam terasa sejuk membelai wajahnya. Rasanya, ingin sekali ia mendekap erat sang kekasih malam ini juga. Menghempaskan semua rasa rindu yang menyesakkan dadanya.
*****
Raffa menghela nafasnya lega, mendengar kabar dari Fadil pagi itu, jika temannya itu sudah menemukan Rubi.
Setelah sarapan dan mereka berkumpul di ruang keluarga, Raffa pun menceritakan lagi pada Bunda dan istrinya jika ternyata adiknya ada di Semarang.
"Apa! Rubi ada di Semarang?!" Lyra tersohok kaget, mendengar adik iparnya telah ditemukan Fadil di kota kelahirannya.
"Yap, itu tempat kelahiranmu bukan?!" sahut Raffa menyungging senyumnya. "Dan di kotamu itu pertama kalinya kita bertemu juga sayang ..." bisiknya ditelinga Lyra, lalu mengerlingkan matanya dengan genit seraya merangkul pundak sang istri.
Sontak pipi Lyra memerah malu, lalu spontan mencubit kecil pinggang Raffa yang ingin mencium pipinya.
"Mas ada Bunda!" cegahnya pelan, seraya melirik pada Ambar yang memijat keningnya karna pusing memikirkan putrinya sejak kemarin.
Ambar berdecak kesal. "Kok bisa-bisanya anak itu ada disana?! Bikin khawatir semua orang saja!" sungutnya.
"Bi ... Bi Sumi!!" teriaknya.
Ambar memanggil asisten rumah tangganya yang telah lama mengabdi itu.
Wanita berusia 52 tahun itu tergopoh-gopoh menghampiri majikannya. "I, iya Nyonya?!"
"Tolong ambilkan obat sakit kepalaku dan air hangat ..." titahnya.
"Oh baik Nyonya ..."
Bi Sumi kembali ke dapur memenuhi perintah majikannya. Lalu tak lama kemudian, wanita setengah baya berbadan gembul itu kembali membawakan apa yang Ambar minta barusan.
"Ini Nyonya ..."
"Terimakasih Bi ..." Ambar lekas menelan pil sakit kepalanya.
Lyra jadi kasihan melihat kondisi Ibu mertuanya yang sama sekali tak tidur semalaman itu. Wajar saja jika sakit kepalanya jadi kambuh.
"Lebih baik sekarang, Bunda istirahat saja di kamar. Rubi kan sudah ketemu. Jadi Bunda tak perlu lagi mengkhawatirkannya. Aku yakin Rubi akan baik-baik saja bersama Mas Fadil ..." ucap Lyra mengusap lengan mertuanya untuk menenangkannya.
"Iya kamu benar Lyra. Kalau begitu Bunda ke kamar dulu ya ..."
"Ya Bunda hati-hati ..." Lyra membantu mertuanya berdiri dari sofa.
"Sudah, kamu tak perlu bantu Bunda. Kamu juga kan sedang hamil!" cegahnya. Lyra hanya tersenyum menanggapi.
"Tidak apa-apa Bun ..."
Ambar pun pergi ke kamarnya ditemani Bi Sumi.
"Jadi saat ini Ate Rubi ada di Semarang! Ayok Pah, kita susul Ate ke sana!" seru Keyla yang lantas memeluk erat leher Raffa di sampingnya. "Keyla kangen pengen ketemu Eyang Kakung dan Eyang Uti juga!" sahutnya, bermanja pada Papanya.
__ADS_1
Raffa gelagapan melihat Lyra yang sedang sibuk merapikan buku gambar Keyla di meja. Pura-pura tak mendengar. Eyang Kakung dan Eyang Uti yang dimaksud Keyla adalah mertuanya Raffa dulu. Orangtua Dania, istri pertamanya.
"Emm, tidak sekarang sayang. Nanti saja, kalau Ate Rubi dan Om Fadil sudah benar-benar menikah. Dan adikmu juga sudah terlahir ke dunia ... Kita akan pergi sama-sama ke sana semuanya ya!" ucap Raffa.
"Uuh itu kan masih lama ... Kapan adikku lahirnya?!" gerutu Keyla tak sabar.
Lalu gadis kecil itu beralih memeluk dan mencium perut Lyra yang sudah terlihat membuncit itu, diperkirakan saat ini usia kehamilan Lyra baru berjalan tujuh bulan.
"Adee, cepetan dong keluar, emang kamu betah apa di perut Mama terus?!" celotehnya lucu.
Lyra menggeleng tertawa kecil. "In Syaa ALLAH, adiknya Keyla lahir dua bulan lagi sayang ..." ujar Lyra mengusap putrinya.
Raffa merangkul bahu istrinya lagi. "Aku tak sabar ingin segera melihat putra kita ke dunia ..." ucapnya seraya mengecupi tangan istrinya dengan lembut.
"Iya aku juga Mas ... Rasanya ini seperti mimpi bagiku, nggak nyangka aku akan menjadi Ibu yang sesungguhnya ..." ucap Lyra terharu.
Raffa tersenyum lagi, lantas mengecup kening Lyra dengan lembut.
"Nah sekarang, gimana kalau kita pergi jalan-jalan? Papa bosan nih lama-lama terus di rumah!" ajaknya tiba-tiba.
Keyla berbinar senang mendengar Papanya yang akan mengajaknya pergi keluar. "Yeeey bener nih Pah?! Ayuk Keyla juga udah bosan di rumah terus!"
"E, eh tunggu dulu! Sebelum pergi jangan lupa beresin dulu mainanmu ya sayang!" perintah Lyra.
"Oke, siap Mama!"
****
"Terimakasih sudah berkunjung ..." ucap Rubi tersenyum ramah pada pelanggannya. "Kami tunggu kedatangannya lagi ..."
Ini adalah pertama kalinya ia bekerja di Salon Kecantikan. Untungnya Rubi punya banyak pengalaman sejak menikah dengan Wisnu dulu. Dia punya banyak teman artis di Malaysia dan meminta Rubi untuk memotongkan gaya rambut yang mereka inginkan.
Sudah ada lima pelanggan yang Rubi layani hari ini. Waktu sudah menunjukkan jam 11.30 siang, waktunya para pekerja salon untuk istirahat dan makan siang.
"Terimakasih Riana, kalau begitu aku ijin keluar dulu mau nyari makan!"
"Oke pergilah ..."
Rubi pun mengambil tas kecilnya lalu keluar dari Salon. Dia menoleh ke kanan kiri untuk mencari Kafe atau Restoran yang terdekat dengan tempatnya bekerja. Rubi tidak membawa mobil dan malas menaiki kendaraan umum. Dia ingin belajar berhemat mulai saat ini.
Rubi tersenyum melihat tak jauh beberapa meter sebuah cafe outdoor dari hotel di depannya.
"Itu dia kafenya, sepertinya di sana rame sekali ya!" gumamnya.
Dengan hati-hati, Rubi berjalan menyebrangi jalan. Sampai di kafe dia mencari meja yang kosong. Setelah dapat dia pun duduk.
Rubi memanggil waiters, lalu memesan makanan dan minumannya. Sambil menunggu pesanannya datang wanita berusia 25 tahun itu pun membuka gawainya dan mulai berselancar di medsos. Pandangannya sendu melihat gambar dirinya bersama Fadil di akun miliknya.
Rubi sedih karna terpaksa harus memblokir semua akun milik Fadil kemarin.
"Entah kenapa aku selalu ingat kamu Kak Fadil? Bagaimana kabarmu hari ini? Pasti saat ini kamu sedang sedih dan marah kepadaku 'kan?! Maaf aku sudah mengecewakanmu Kak, tapi inilah yang terbaik untuk kita berdua ..." lirihnya, tak terasa air matanya berlinangan membasahi kedua pipinya.
"Hallo Kak?"
Rubi terkejut saat seorang anak laki-laki tiba-tiba memanggilnya dan menghampirinya. Buru-buru Rubi mengusap pipinya yang basah.
"I-iya ada apa ya Dek?" tanya Rubi menatap heran bocah lelaki, yang kira-kira usianya 8 tahunan.
Badannya kurus dan gelap. Sepertinya anak lelaki itu seorang pemulung, terlihat sekali pakaiannya kotor dan banyak sobekan dimana-mana. Rubi seketika prihatin hanya dengan melihatnya saja.
"Ini Kak ada titipan buat Kakak cantik ..." sahutnya menyodorkan setangkai bunga merah yang ia sembunyikan barusan di belakang punggungnya. Ditangkai bunga itu ada kertas kecil yang terikat dengan pita berwarna merah muda.
Rubi mengerutkan keningnya. "Ini beneran buat Kakak?" Anak lelaki itu mengangguk tersenyum.
"Dari siapa?" tanya Rubi lagi penasaran. Anak itu menggeleng tidak tahu. Lantas ia pamit pergi setelah bunga sudah berpindah ke tangan Rubi.
__ADS_1
Rubi merasa aneh, lalu memperhatikan bunga itu dan kembali menengok kanan-kirinya. Mencari-cari seseorang yang iseng memberinya bunga?
"Dari siapa sih? Iseng banget nih orang! Ada-ada aja?!" dumelnya.
Rubi pun semakin penasaran, membuka cepat kertas kecil itu. Matanya membulat lebar saat membaca sederet puisi singkat, yang selalu kekasihnya kirim lewat pesan whatsapp.
Kasih ...
Kutoreh rindu ini dari kasihmu ...
Kunantikan esok untukmu ...
Sebab bahagiaku denganmu ...
Lantas Rubi berdiri, matanya kembali berkaca-kaca. Melihat lagi sekeliling kafe itu.
"Kak, Kak Fadil. Apakah kamu ada disini?!" gelagapnya.
Rubi terisak kecil. Memutar tubuhnya lagi, dengan pandangan yang terus mencari-cari seseorang disana. Lelaki yang baru saja ia pikirkan. Ternyata ada di kota yang sama dengannya.
Sontak ia membuka matanya lebar, setelah melihat sosok lelaki tinggi dan putih berjalan pelan menghampiri Rubi dari jarak tak begitu jauh.
Rubi menutup mulutnya dan kembali terisak haru. Di sana lelaki itu tersenyum sendu menatap wanitanya.
"Dasar, kenapa kau selalu saja membuatku khawatir!" kesalnya.
"Kak ..."
Rubi berlari kecil lalu memeluk pinggang lelaki yang juga sangat ia rindukan.
Fadil memenjamkan matanya. Air matanya keluar berhamburan.
"Aku nyaris mati kehilanganmu. Berjanjilah padaku. Kau tidak akan pernah pergi meninggalkanku lagi seperti ini, Rubi ..." lirihnya lalu membalas pelukan Rubi dengan erat.
Rubi sesenggukkan. Merebahkan kepalanya di dada bidang milih Fadil. Lalu ia mengangguk cepat dan berjanji tak akan meninggalkan lelakinya.
"Iya Kak, maafkan aku ..." sesalnya.
"Ayo kita pulang, dan kita lanjutkan lagi pernikahan kita yang sempat tertunda kemarin..." ujar Fadil seraya menyentil dahi Rubi dengan gemas.
"Aaww, sakit Kak!" ringisnya, yang cepat mengusap keningnya.
"Itu hukuman buatmu karna telah pergi diam-diam meninggalkanku!" ketusnya yang masih kesal.
Rubi cemberut lantas dia terkejut melihat tangan kanannya Fadil sudah dibalut perban.
"Lho lho Kak, tanganmu, tanganmu inj kenapa?" tanyanya cemas.
"Kau harus bertanggung jawab, semua ini karenamu, Rubi!"
"Kenapa kau melakukan ini Kak, apa kau melukai dirimu sendiri?" tanyanya dengan kening berkerut. Hatinya ikut terluka hanya melihat tangan kekasihnya.
Fadil mengulas senyumnya lalu kembali memeluk kekasihnya. "Maaf ya, maaf atas apa yang pernah Mbak Farah dan Sinta lakukan padamu ..."
Rubi mengangguk cepat, lantas Fadil mengecup hangat dan dalam kening Rubi.
...~Tamat ~...
Haaii semuanya, terimakasih banyak sudah membaca Novel ini sampai tamat... Maafkan author yang tidak konsisten update.
Author pindahan balik lagi ke kampung di bulan juni kemarin. Ngurus pindahan anak2 sekolah juga 🙏🙏🙏
Sekian disini ya cerita Raffa Lyra Fadil dan Rubi... Semoga terhibur mohon dukungan like komentar, dan hadiahnya...
I Love U good bye... 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1