
...BAB 62...
...Obsesi Sinta...
"Kapan kamu mau nikahi Sinta, Dil?"
Sontak Fadil tersedak makanan dengan pertanyaan Ibunya di tengah-tengah mereka makan.
Sinta tersenyum kecil melihat kegugupan Fadil, pasti saat ini Fadil tengah bingung untuk menjawab apa.
"Ini Mas, minum air dulu..." dengan penuh perhatian, Sinta lekas menyodorkan air minum untuk Fadil di sampingnya duduk.
Fadil mengambil gelas dari tangan Sinta. Lalu meminumnya perlahan. "Terimakasih..." ucapnya pelan tanpa melihat Sinta.
"Sama-sama Mas..."
Fadil menunduk kepala menelan ludahnya yang sulit masuk, rasanya makannya jadi tak selera, bukan hanya kehadiran Sinta di rumahnya. Tapi pertanyaan Ibunya yang membuatnya tak bisa berkata-kata. Lidahnya mendadak kelu dan tak mampu menjawabnya langsung.
Sebenarnya Fadil belum siap dengan situasi ini, tadinya dia akan memberitahukan orangtuanya kalau ia membawa Rubi nanti ke rumahnya. Tapi sepertinya keadaan harus memaksanya untuk bicara jujur sekarang. Di depan Sinta sendiri tentunya.
"Em, sebenarnya..."
"Fadil, Ibu dan Bapakmu ini sudah tua. Sampai kapan kami harus menunggu kamu siap menikah? Disini sudah ada Sinta, lihatlah Sinta cantik dan juga keibuan, dia sudah pantas menjadi sosok seorang istri bahkan Ibu sekaligus... Ibu akui Sinta lihai dalam mengasuh anak kecil yang rewel, terus pandai masak juga, lihatlah makanan yang kau makan ini, semua juga Sinta yang bantuin Ibu. Beda banget kalau di bandingin sama Mbak mu itu. Udah nggak bisa masak, suka ngeluh juga kalau ngurus Yoga..." terang Bu Marjuki menyahut lebih dulu dan membandingkan sifat Farah dan Sinta yang bagaikan langit dan bumi, walaupun mereka berdua bersahabat baik.
Sebelum bicara, Fadil menghela nafasnya dalam dan panjang, memenjam rapat matanya. Fadil akui yang di katakan Ibunya memang benar, bahwa tak ada satupun kekurangan dalam diri Sinta. Hanya saja hatinya sudah mantap memilih Rubi, untuk menjadikan pendamping hidupnya.
"Maaf Bu, sebenarnya Fadil dan Sinta sudah putus..." ungkapnya terbata-bata.
Byuurrr...
Sangking terkejutnya Bu Marjuki sampai menyemburkan air minumnya yang tadi sempat masuk ke dalam mulut.
"Apa katamu, kalian berdua sudah putus?!"
Bu Marjuki dan Pak Marjuki saling menatap tak percaya.
"Iya Pak Bu, kami sudah putus..." jelas Fadil lagi, Sinta pun menggeleng kepala dan langsung menangis.
"Benar itu Sinta, kalian sudah putus?" tanya Pak Marjuki yang sejak tadi diam saja mendengar pembicaraan Ibu dan putranya.
"Iya Pak Bu, itu karna Mas Fadil tak menyukaiku. Mas Fadil lebih mencintai wanita lain dari pada aku..." isak Sinta sesenggukkan seraya menutup wajahnya.
__ADS_1
"Kurang apa aku Bu, selama ini Sinta sudah setia sama Mas Fadil. Tapi Mas Fadil tega memutuskan aku demi seorang janda..." ungkapnya lagi dengan dada yang sesak Sinta keluarkan semua uneg-unegnya.
Fadil menghela nafasnya kencang. "Maaf Sinta, sekali lagi aku minta maaf padamu. Bukankah cinta tak bisa di paksakan, jika kita terus melanjutkan hubungan ini. Justru aku yang semakin berdosa karna aku akan terus menyakitimu. Tolong lepaskan aku, aku yakin kamu pasti bisa mendapatkan pasangan yang lebih baik dari aku..."
Sinta berdiri, menatap nanar Fadil. "Tidak Mas tak ada lelaki yang aku cintai selain kamu. Demi kamu bahkan aku rela di dahului kedua adikku..."
Sinta pun berjalan cepat memeluk Bu Marjuki. Menangis di pundak wanita paruh baya itu, meminta pembelaannya.
"Bu lihatlah Mas Fadil, kenapa dia lebih memilih janda yang jelas-jelas aku masih perawan. Bahkan sebelum kami putus pun Mas Fadil sudah selingkuh di belakangku. Aku sakit hati Bu, aku ingin menjadi saudara ipar Farah dan aku juga ingin Ibu dan Bapaklah yang jadi mertuaku..." ujarnya kembali menangis di depan mereka.
Bu Marjuki mengusap punggung Sinta ikut sedih, namun matanya menyorot tajam ke arah Fadil.
Begitupun Pak Marjuki yang sama-sama tak membenarkan sikap buruk putranya.
"Fadil... Apa kau tega nyakitin anak orang. Kamu itu jadi lelaki ya harus gantle! Sebelumnya kamu berpacaran dengan Sinta. Tak seharusnya kamu permainkan perasaannya!" tegas Pak Marjuki tak tega melihat anak orang menangis karna kesalahan putranya.
"Tapi Pak, Bu. Fadil nggak cinta sama Sinta!" timpal Fadil dengan wajah lesu.
Pak Marjuki menatap nyalang Fadil. "Menikah tak harus dengan cinta. Bapak dan Ibumu juga dulu menikah dan tidak saling mencintai. Tapi lihatlah kami berdua selalu rukun hingga saat ini..."
Sinta yang masih betah memeluk Bu Marjuki pun tersenyum puas.
"Fadil!" bentak Pak Marjuki geram.
Semua terkejut melihat wajah marah Pak Marjuki. Lantas Sinta segera mencegah Pak Marjuki untuk tidak memarahi lagi Fadil.
"Pak Bu, sudah jangan marahi lagi Fadil. Sinta tidak apa-apa, mungkin Sinta memang bukan yang sempurna untuk Mas Fadil. Kalau begitu Sinta pamit pulang..."
"Lho Nak Sinta... Kenapa terburu-buru, bahkan kamu belum menyelesaikan makanmu..."
"Makasih Bu, tapi Sinta harus pulang ini sudah malam permisi Pak Bu... Assalamua'alaikum..."
Sinta pun bergegas pulang setelah menyalami kedua orangtua Fadil dengan air mata terus keluar. Lalu mengambil tasnya dan berlari kecil keluar rumah.
"Kenapa kamu masih diam disini Fadil, cepat kamu antar Sinta pulang sampai rumahnya!" tegas Ibunya.
Fadil ingin menolak, tapi lagi dia mendapat tatapan tajam dari kedua orangtuanya.
"Baiklah..."
Fadil menghembus kencang, dan terpaksa mengejar Sinta.
__ADS_1
"Sinta tunggu, biar aku antar kamu pulang..." sahut Fadil menahan tangan Sinta di depan pagar rumahnya.
"Lepas Mas biar aku pulang sendiri!"
"Kamu nggak bawa mobil kan. Bahaya ini sudah malam. Biar aku antar kamu pulang! Ayo..."
Fadil membuka pintu mobilnya untuk Sinta. Tak lama berpikir Sinta pun mengangguk menuruti.
Di perjalanan Sinta tak berhenti menangis dan itu membuat kepala Fadil menjadi pusing.
"Ku mohon kamu jangan menangis lagi Sin..."
"Bagaimana aku tidak menangis, kekasih yang ku cintai memutuskan aku dan memilih wanita lain. Lebih baik aku mati saja kalau aku tak menikah denganmu..."
"Jangan bicara yang tidak-tidak Sinta!"
"Aku serius Mas, lebih baik aku mati daripada kau bersama wanita itu!" Tiba-tiba Sinta membuka pintu mobil.
"Apa yang ingin kau lakukan Sin, kenapa kau buka pintunya." tanya Fadil yang tiba-tiba panik melihat Sinta.
"Aku akan melompat dari mobilmu, kalau kau tak menikahiku!" ancamnya tiba-tiba.
"Sinta jangan macam-macam! Ayo tutup lagi pintunya!" perintahnya.
"Tidak mau!"
Fadil memegang tangan Sinta yang benar-benar nekad ingin meloncat dari mobil, sementara tangan kanannya cekatan menyetir dan bergegas menepikan mobilnya.
"Lepas Mas!" Sinta menepis tangan Fadil lalu keluar dan berlari ke tengah jalan.
"Sintaaaa!!"
Braaakkk
Tiba-tiba sebuah motor berkecepatan tinggi menyerempet Sinta. Hingga tubuh Sinta terjatuh.
"Ya Tuhan Sintaaa!"
Bersambung....
...****...
__ADS_1