
...BAB 47...
...Sikap Dingin Rubi...
Sangking gemasnya, hanya mendapat balasan singkat dari Rubi. Fadil pun melihat-lihat status WA Rubi yang di upload siang kemarin. Ternyata wanita itu tengah sibuk menjual sepatu dan tas miliknya dengan harga yang sangat murah. Lalu berikutnya status terakhir yang di upload lima menit lalu, Rubi mengirim video singkat dirinya yang centil dengan gaya rambut terbarunya bersama Keyla.
Otewe mandi. Mau siap-siap pergi tamasya sama keluarga besarku... guyss 🥰
"Pergi tamasya?" gumam Fadil, mengangkat sebelah alisnya.
Karna bosan di rumah, Fadil jadi ingin pergi menemui Rubi. Fadil pun memberanikan diri keluar rumah dengan mengendarai mobilnya sendiri hari itu.
"Kamu mau kemana Dil? Emang bahumu sudah gak sakit lagi?" tanya Farah yang sedang menggendong putranya di teras rumah.
Seketika ia terkejut melihat penampilan adiknya yang sudah memakai jaket dan mengenakan celana santai seperti mau pergi healing saja, bau minyak wanginya pun sampai tercium Farah, dan di tangannya sudah membawa kunci mobil bersiap pergi.
"Sudah nggak Mbak. Fadil mau keluar dulu ada urusan penting..." sahutnya tersenyum gugup.
"Tadi katanya mau di rumah saja? Kok tiba-tiba mau pergi!"
"Hehe, mendadak Fadil ada urusan..."
"Nggak minta antar Sinta aja?"
"Nggak usah Mbak, Fadil nggak mau ngerepotin dia terus. Sekalian olahraga gerakin otot tangan biar nggak kaku... Uh uhhh..." sahutnya lagi, berpura-pura memutar bahunya di depan Farah, agar tak di curigai kalau sebenarnya Fadil ingin menemui Rubi.
Fadil tak ingin Farah sampai tahu kalau dia akan menemui Rubi. Fadil tahu jika Farah tak menyukai Rubi. Farah juga tak ingin kalau adiknya itu macam-macam di luaran sana, apalagi sampai dekat dan akrab dengan wanita lain.
Fadil pun berangkat, melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Perasaan Farah jadi tak tenang, lantas ia menitipkan Yoga pada Ibunya. Lalu berniat akan mengikuti adiknya pergi.
"Mau kemana Farah?" tanya Bu Marjuki karna kedua anaknya malah pergi keluar. Farah pun malah menitipkan Yoga padanya.
"Mau ke supermarket sebentar Bu, beli pampers sama susu Yoga udah tinggal dikit.." sahutnya berbohong pada Ibunya.
Farah bergegas keluar rumah mengikuti Fadil, memakai helm dan menaiki motornya agar bisa cepat menyusulnya.
Saat sarapan tadi Ibunya menyinggung nama Rubi. Fadil jadi berubah diam, Farah jadi khawatir jika adiknya diam-diam menemui Rubi, si janda centil itu.
"Awas saja ya kalau sampai Mbak tahu, kamu temui si janda itu lagi. Mbak nggak ridho dunia akherat Dill, kamu bisa sampai suka sama dia! Pokoknya kamu harus bisa nikah sama Sinta! Titik!" pekiknya geram.
Farah tak ingin jika adiknya itu menghianati Sinta. Walau bagaimanapun Farah hanya ingin Fadil menikahi Sinta, sahabat terbaiknya. Karna Sinta sudah berjanji pada Farah jika Fadil nanti menikahinya, maka butik Sinta akan menjadi milik mereka bersama.
Farah senang saat di iming-imingi itu. Maka itu, dia semangat sekali untuk menjodohkan adiknya dengan sahabatnya.
Beberapa menit kemudian. Fadil menghentikan mobilnya di depan rumah Rubi. Tebakan Farah ternyata tidak meleset.
"Benarkan dia pasti nemui janda itu lagi!" geramnya. "Heeem Fadiiill!" Farah mengepal kedua tangannya geregetan. "Apa sih yang kau sukai dari janda itu?! Sinta lebih cakep kemana-mana dari pada dia!" gerutunya sendiri.
__ADS_1
Fadil masuk ke dalam pagar rumah kediaman Ambarwati. Terlihat keluarga itu telah bersiap ingin pergi, menaiki mobil keluarga.
"Om Dokter!" teriak Keyla tersenyum lebar melihat Fadil ada di depan gerbang rumah mereka.
Rubi yang ingin masuk ke mobil pun terhenti. Matanya membulat lebar melihat kedatangan Fadil ke rumah. Jantungnya berdebar sangat cepat.
"Ka, Kak Fadil!" gelagapnya pelan.
"Assalamu'alaikum... Pagi semuanya, maaf apa kedatanganku mengganggu acara kalian?" sapanya.
"Wa'alaikum salam..." jawab mereka serempak.
"Tentu saja tidak, kami senang melihat kamu lagi. Sudah bisa pergi-pergian rupanya. Bagaimana sekarang kabarmu?" tanya Raffa seraya berjalan menghampiri temannya dengan senyuman mengembang. Lalu mereka berjabat tangan dan saling memeluk gaya sahabat.
"Alhamdulillah baik, seperti yang kamu lihat sendiri. Besok aku juga sudah mulai bekerja lagi." sahut Fadil.
Raffa dan Lyra ikut senang mendengarnya. "Syukurlah jika begitu..." tanggap mereka.
Rubi masih bergeming, menundukkan kepalanya di sisi pintu mobil, yang setengah pintunya sudah terbuka. Tubuhnya seakan kaku melihat kedatangan Fadil ke rumahnya lagi. Pria yang sebenarnya tak ingin dia temui lagi. Padahal susah payah Rubi ingin melupakannya. Tapi tiba-tiba saja dia datang kembali di hadapannya.
Disana Fadil pun merasa ada yang aneh dengan perubahan Rubi, yang akhir-akhir ini seperti sengaja menghindarinya, tak biasanya dia juga tak secerewet dulu.
"Oh ya kalian semua mau pergi kemana?" tanyanya berbasa-basi.
"Kami mau pergi tamasya Om. Ini kan hari minggu..." jawab Keyla dengan wajah ceria dan bahagianya.
"Jika kamu mau, ikutlah bersama kami..." tawar Raffa.
"Ikut saja Om. Kita bakal seru-seruan. Om Fadil satu mobil saja sama Tante Rubi..." celetuk Keyla menunjuk mobil Rubi disana.
Rubi terkejut, matanya melotot ke arah keponakannya. Apa maksudnya nih bocah? dumelnya dalam hati.
"Kan Om Dokter baru saja sembuh Tante, mendingan Tante Rubi satu mobil aja sama Om Dokter dan yang menyetir Tante saja!" titah Keyla lagi.
"Tapi kan..." protes Rubi.
"Iya, Bunda setuju. Biar Rubi saja yang menyetir mobilnya. Perjalanan ini lumayan jauh dan pastinya memakan waktu yang lama. Nanti tanganmu bisa pegal..." ujar Ambar pada Fadil perhatian, mengiyakan saran cucunya.
"Terimakasih banyak Nyonya Ambar... Tapi bahu saya udah agak mendingan kok..."
"Panggil saja Tante. Kenapa selalu saja Nyonya? Apa kamu ingin bercita-cita jadi bawahanku, hem?!" gemas Ambar pada Fadil mencubit pipi lelaki itu hingga Fadil tertawa geli.
"Iya Tante, iyaaa..." Semua pun tertawa melihat kelucuan Ambar.
Terpaksa Rubi pun satu mobil dengan Fadil atas perintah mereka.
"Ekhm, gaya rambutmu boleh juga. Tambah lucu..." sahut Fadil tersenyum, seraya memegang lembaran rambut coklatnya Rubi.
"Hem.." Rubi berdeham kecil, kedua pipinya sedikit memerah. Lantas ia segera masuk ke mobilnya.
__ADS_1
"Tunggu!" Fadil menyekal lengan Rubi. "Biar aku dulu yang menyetir, nanti kalau aku sudah merasa pegal kamu yang ambil alih menyetir." titahnya.
"Oh, ya sudah..." Rubi menurut lantas berjalan dan membuka pintu mobil samping sisi kemudi.
Farah mendengus kasar melihat kebersamaan Fadil dan Rubi. Lalu ia kembali ke rumah dengan wajah kesalnya.
"Awas saja Dil, kalau pulang ke rumah! Kamu tak jewer abis-abisan. Masih aja deketin wanita gak bener itu! Kalau bener gak mungkin kan dia sampai cerai sama suaminya!" umpat Farah.
Sebelum Farah ke rumah, dia mampir dahulu ke supermarket karna tadi terlanjur bohong pada Ibunya. Dia akan beli pampers dan susu, padahal stok pampersnya masih lumayan banyak di kamarnya
*****
Selama mereka pergi tamasya, sikap Rubi benar-benar dingin dan sama sekali tak menampakkan keceriaan di wajahnya. Saat makan bersama pun. Dia tak banyak cerita seperti waktu-waktu biasanya. Padahal dia adalah salah satu keluarga Raffa yang paling heboh di antara yang lainnya.
"Ada apa kenapa diam saja dari tadi, apa kamu tak suka bila Kakak ikut ke acara liburan keluargamu?" tanya Fadil saat mereka di perjalanan pulang.
"Tidak, aku senang kok Kak Fadil ikut bersama kami..." jawabnya seraya memalingkan wajahnya ke samping jendela.
"Apa kamu sedang sakit?"
Fadil menyentuh dahi Rubi dengan punggung tangannya.
"Aku bilang tidak apa-apa..." Rubi menepis pelan tangan Fadil di dahinya. Menutupi rasa sakit di hatinya.
"Lalu kenapa seperti tak semangat sekali?"
"Aku memang lagi malas bicara saja!" ketusnya.
Fadil menarik nafasnya kencang. "Ya sudah jika memang tidak ada apa-apa..."
Setelah sampai rumah kediaman Ambar. Rubi pun melenggang masuk ke kamarnya. Seolah tak ingin lama-lama bersama Fadil.
Karna tak enak melihat perubahan sikap Rubi yang dingin. Fadil pun pamit pulang. Sepertinya Fadil sudah merindukan sosok Rubi yang dulu.
****
"Kamu udah bohongin Mbak, kamu temui janda itu lagi kan, Dil?!" sentak Farah.
"Mbak ngikutin Fadil?"
"Iyalah, Mbak nggak suka kalau kamu deketin dia! Inget Sinta Dil, dia udah lama nungguin kamu, semenjak kamu mau nikahin Lyra. Dia udah suka sama kamu! Hargai pemgorbanan Sinta sama kamu, Dil?"
"Rubi itu adiknya temenku, Mbak! Dia anaknya baik. Kenapa sih Mbak apa yang salah kalau Fadil deket sama dia?!"
"Tentu saja salah, kamu nggak ngejaga perasaannya Sinta. Kalau Sinta tahu kamu deket ma cewek lain. Dia bisa sakit hati, gimana sih!" makinya lagi.
"Ah sudahlah Mbak. Sekarang kok mbak jadi ngatur-ngatur hidup Fadil segala sih!"
Fadil masuk ke kamarnya dengan hati yang teramat kesal. Karna sikap Farah yang lama-lama terus mengekang hidupnya.
__ADS_1
Bersambung...
...****...