Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku

Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku
Rindu Menjadi Seorang Istri


__ADS_3

...BAB 42...


...Rindu Menjadi Seorang Istri...


"Ayo makanlah yang banyak Key, biar nanti di sekolah kamu bisa konsentrasi belajar..." titahnya pada Keyla.


"Oke Mamaa..."


Lyra tersenyum bahagia, melihat suami dan putrinya begitu lahap menyantap sarapan yang di buat dari tangannya sendiri. Hatinya tersentuh, sebab keberadaannya begitu berarti bagi mereka.


"Waah wahh enaknya... Jam segini udah pada sarapan aja. Kok Tante Rubi nggak di tawari makan juga sih?!" cerocos Rubi dengan bibir manyun, ia tiba-tiba saja datang dan berdiri di belakang kursinya Keyla.


"Salah sendiri bangunnya kesiangan. Ini udah jam berapa Tante!" sindir Keyla.


"Iya nih, habisnya Tante ngantuk sih dari malem susah tidur..."


Rubi kembali menguap, wajahnya benar-benar kusut sekali. Bahkan dia belum sempat cuci muka. Lalu Rubi menarik kursi dan duduk di samping Keyla. Menuangkan air di gelasnya.


"Tante cuci muka dulu, di matanya masih ada kotoran tuh!" celetuk Keyla lagi ceplas ceplos.


Rubi pun tersedak air minumnya sendiri hingga terbatuk. "Uhuuk, Keyla... Kebiasaan nih anak! Pasti suka komentarin hidup orang." gemasnya.


Rubi memincingkan tajam matanya ke arah Raffa yang sudah cekikikan menahan tawanya, mendengar ledekan yang di lontarkan putrinya pada adiknya.


"Huuu... Dasar anak sama Bapak sama saja. Sama-sama tukang komen!" sewotnya kesal.


"Hidupmu memang perlu di komentarin biar jalannya lurus. Kalau tidak begitu, kamu nggak akan pernah bisa pintar mencari pasangan hidup!" timpal Raffa menyindirnya lagi dengan senyuman miring.


Namun Rubi pura-pura tak mendengarnya, bibirnya menya-menye menirukan ucapan Kakaknya sambil berjalan ke arah wastafel dan membasuh mukanya.


Lyra hanya tersenyum-senyum melihat suami dan adik iparnya itu. Suasana rumah menjadi sangat ramai dan ceria.


Setelah perceraiannya dengan Wisnu. Rubi memang tak punya kegiatan lain lagi. Biasanya pagi-pagi dia juga sudah melayani suaminya seperti Lyra. Walau Rubi terlahir dari anak orang kaya dan masih terkadang manja. Tapi Rubi juga tahu diri sebagai seorang istri ia harus melakukan apa.


Bukan, bukan Rubi rindu pada mantan suaminya. Tetapi Rubi merindukan saat-saat menjadi seorang istri.


Tak terasa masa iddahnya tinggal beberapa minggu lagi. Rubi harus segera mencari pendamping baru dalam hidupnya. Rubi benar-benar merindukan saat-saat dirinya di manja oleh suami. Tapi Rubi juga tak mau terburu-buru dan salah pilih suami lagi.


"Tante Rubi kenapa melamun?" tanya Keyla tiba-tiba mengagetkan Rubi yang hanya diam sambil melihat mereka makan.

__ADS_1


Rubi tersentak. "Ah tidak, Tante hanya melihat masakan Mamamu itu, kayaknya enak ya.. Mbak boleh aku nyicip dikit?" alihnya menyengir.


"Ambil saja Rubi. Masih banyak kok di mangkuk..." titah Lyra.


"Asyiikk... Makasih Mbak Ra..." ucapnya senang.


Lyra tersenyum melihat tingkah Rubi yang terlihat masih kekanak-kanakkan walau sudah pernah menikah.


Rubi lekas mengambil piring dan ikut makan bersama mereka.


"Oh ya Mas, kemana Bunda dari tadi kok belum lihat keluar dari kamarnya?" tanya Lyra.


"Nyonya biasanya suka jalan-jalan pagi mbak Lyra.." jawab Bi Sumi yang baru saja selesai menyapu ruangan. Lalu berjalan ke dapur menjawab pertanyaan Nyonya barunya.


"Iya, Bunda kalau udah bangun pagi biasanya jalan-jalan di sekitaran komplek sini." sambung Raffa.


Lyra menganggukkan kepala. "Ooh..."


"Mama, Keyla udah kenyang, makannya juga udah abis. Ayo kita berangkat ke sekolah..." sahutnya.


"Wah iya udah abis..." puji Lyra seraya melihat piring Keyla yang bersih tanpa ada sisa nasi di sana.


Raffa pun menyusul mereka setelah meminum habis kopinya. Menyisakan Rubi di ruang makan sendirian.


"Awas jangan melamun terus, nanti kesambet genderewo!" ledek Raffa sambil mengacak kasar rambut adiknya.


"Uuuh apaan sih, siapa juga yang melamun!" teriaknya kesal pada kakaknya yang sudah berlari pergi.


Rubi mendengus kasar. "Aku bosan diam terus di rumah, apa ke rumah Kak Fadil saja ya?" renggutnya. Rubi mengernyit sesaat dia teringat pesan Fadil kemarin. "Tapi Kak Fadil bilang, kalau cewek jangan sering keluar rumah!"


Rubi mengacak-ngacak rambutnya sendiri frustasi. "Aaahh bodo amat, pokoknya aku pengen main keluar!" gerutunya.


Rubi pun segera mandi setelah menghabiskan sarapannya lalu dia pergi keluar setelah dua jam Kakak dan keluarganya pergi.


"Kamu mau kemana Rubi?" tanya Bu Ambar yang baru saja mau sarapan dengan Bi Sumi.


"Mau ketemu Kak Fadil Bun..."


"Ya udah hati-hati di jalan, inget jangan suka ngebut-ngebut..." pesannya.

__ADS_1


"Siap Bun..." Rubi menyungging senyum dan mengecup pipi Bundanya. Lalu berjalan keluar menaiki mobilnya.


Dia tak peduli dengan pesan Fadil kemarin. Sejak dulu Rubi memang senang keluyuran. Rasanya sumpek jika terus diam di dalam rumah.


Semalam sebenarnya Rubi tak bisa tidur karna terus memikirkan wanita yang dekat dengan Fadil. Dia menjadi tak tenang. Akhir-akhir ini pun Fadil jarang menghubunginya lagi. Kalau tidak, Rubi duluan yang akan mengiriminya pesan.


Selang berapa lama Rubi telah sampai di depan rumah Fadil dengan membawa kue-kuean yang ia beli di toko kue. Rubi selalu di sambut baik oleh Ibunya Fadil.


Tapi sayangnya pagi itu ternyata Fadil sedang keluar karna ada jadwal kontrol ke Rumah Sakit.


"Oh..." Rubi mengangguk sedikit kecewa karna Fadil tak bilang sama sekali padanya kalau hari ini ada jadwal Fadil kontrol ke dokter.


"Tunggu saja di sini. Palingan pukul sepuluh juga pulang." Bu Marjuki menyuruh Rubi di rumah dulu menunggu Fadil.


Rubi mengangguk setuju. Lalu mereka kembali berbincang. Bahkan Bu Marjuki mengajak Rubi ke pasar swalayan sebentar untuk memasak makan malam nanti.


Rubi merasa senang sekali karna kehadirannya di anggap oleh Ibunya Fadil. Hanya saja Rubi agak sungkan bila berhadapan dengan Farah yang memang seperti tak menyukainya.


Melihat kedatangan Rubi ke rumahnya mendadak wajahnya masam sekali. Benar-benar tak enak di lihat. Padahal Rubi sudah seramah mungkin menyapanya.


Farah bekerja di sebuah butik milik temannya. Farah kadang masuk kadang tidak, karna memang masih repot mengurusi putranya. Sedang suaminya bekerja di luar kota, dan sebulan sekali suaminya barulah pulang. Farah baru memiliki satu anak, dan masih berusia delapan bulan.


Farah menarik pelan lengan Ibunya dan mengajaknya masuk ke kamar untuk bicara. Meninggalkan Rubi di dapur yang sedang membantunya memasak.


Rubi yang melihat Farah membawa Ibunya masuk ke kamar. Lantas ingin tahu. Pelan Rubi berjalan dan menguping di balik dinding kamar yang pintunya tidak tertutup rapat.


"Kenapa Ibu mau-maunya akrab sama dia?" Farah tak mengerti dengan Ibunya yang masih saja dekat dengan orang yang sudah menyebabkan adiknya kecelakaan dan hampir mati di bunuh oleh mantan suaminya Rubi.


"Memangnya kenapa kalau Ibu dekat sama Rubi? Ibu suka sama dia..." timpal Bu Marjuki.


"Ibu, dia itu sudah buat putra kesayangan Ibu nyaris mati tahu nggak! Aku kesal sama dia, heran kok dia nggak punya malu sama sekali, sok-sokan dekat sama keluarga kita lagi!" sinisnya.


Rubi tersentak kaget mendengar umpatan kasar dari mulut Farah yang membicarakannya. Matanya berkaca-kaca. Kini dia tahu kenapa Farah seperti tak menyukainya. Ternyata inilah penyebab Farah yang tak pernah ramah setiap kali berhadapan dengannya.


Bersambung...


...****...


Hari double up

__ADS_1


Ayook mana like dan komentarnya 😘😘😘


__ADS_2