Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku

Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku
Menyusul Ke Luar Kota


__ADS_3

...BAB 74...


...Menyusul Ke Luar Kota...


Bruaakk


"Apa maksud perkataan kalian!!"


Sontak Farah dan Sinta terkejut, menoleh ke arah pintu kamar mandi yang tiba-tiba terbuka dari luar.


"Fadill!!" Farah dan Sinta terbelalak kaget, setelah melihat Fadil berdiri di sana.


Fadil berjalan cepat mendekati mereka. Seketika wajah kedua wanita itu berubah pucat dan tegang.


"Apa maksud perkataan kalian barusan, hah?! JAWAB AKU!!" bentaknya.


Sinta tersentak, menelan susah ludahnya. Ini adalah pertama kalinya ia melihat Fadil semarah itu padanya.


"Apa benar, kalianlah yang membuat Rubi pergi dariku?!" tanyanya dingin, dengan rahang yang mengeras. Dadanya bergejolak marah setelah barusan mendengar rencana busuk yang sudah mereka lakukan pada Rubi.


"Katakan padaku, kenapa tiba-tiba kalian jadi diam, hah? Bicaralah seperti tak ada rasa bersalah seperti tadi!" sindirnya sinis. Kedua sahabat itu saling melihat dengan gelisah.


"Fa, Fadil, Mbak bisa jelaskan ini semua padamu ..." sahut Farah tergugup. "Mbak hanya---"


"Apa yang ingin kau jelaskan padaku Mbak?! Kau ingin katakan padaku, bahwa kalian telah berhasil menyingkirkan Rubi, begitu maksudnya?!" pekiknya, seraya menggebrak kasar pintu dengan pukulannya.


Braaak


Farah dan Sinta kembali melonjak kaget dan ketakutan.


"Fadil dengarkan dulu, maksud Mbak bukan begitu--" Farah ingin menyangkal, namun Fadil segera memotongnya dan tak memberinya kesempatan bicara.


"Aku benar-benar tak menyangka, kalian bisa sepicik ini. Aku kecewa pada kalian, terutama padamu Mbak Farah. Kau adalah saudariku satu-satunya. Seharusnya kau-lah orang yang mendukung kebahagiaanku! Tetapi kau malah mengorbankan kebahagiaanku demi keuntunganmu untuk bisa membalas perbuatan suamimu itu?!" cecarnya lagi. Kedua mata Farah memerah panas, sedih bercampur malu.


"Aaaaargghhh!!!"


Fadil berteriak kesal, lantas ia memukul kencang dinding dengan sekali tinjuannya. Hingga dinding toilet itu tampak sedikit retak, darah pun menetes-netes melewati celah-celah jarinya.


Buughh Bruaakk


Tak hanya itu, Fadil juga melampiaskan amarahnya lagi dengan menendang semua pintu kamar mandi itu hingga rusak.


Sinta terpekik sehingga menutup mulutnya dengan tangan. "Mas, kami minta maaf! Sudah, sudah hentikan Mas Fadill!" teriak Sinta takut, melihat emosi Fadil yang meluap-luap dan semakin tak terkendali. Selain itu Sinta juga khawatir jika Fadil akan terus melukai dirinya sendiri.


Suara teriakan dan amukan Fadil sampai terdengar jelas hingga keluar gedung. Semua orang terkejut termasuk Pak Marjuki dan juga istrinya. Lantas kedua orangtua itu bergegas pergi untuk melihatnya.


"Sekarang katakan padaku, dimana Rubi saat ini?!" teriaknya, yang kini ia menatap nyalang pada Sinta.

__ADS_1


Sinta menggeleng lagi, ketakutan. "Aku, aku tidak tahu Mas ..." jawabnya lirih. Lalu Fadil berganti menatap tajam Farah.


"Kamu pasti tahu dimana Rubi berada kan, Mbak?! Cepat katakan padaku, atau tidak, aku tidak akan pernah memaafkan kalian berdua!" pekiknya lagi.


Farah mendongak menatap adik lelakinya yang hanya berselisih satu tahun itu. Menelan cepat ludahnya. "Maafkan aku Dil, tapi Mbak juga tidak tahu, dimana dia ..."


"Kau jangan bercanda Mbak!"


Farah menggeleng lemah. "Mbak tidak bohong Dil! Mbak memang tidak tahu dia pergi kemana, yang jelas katanya dia pergi ke luar kota ..." ucapnya pelan.


Farah menundukkan kepalanya, seketika ia menyesali perbuatannya. "Maafkan Mbak Dil ... Maaf Mbak telah khilaf melakukannya ..." lirihnya dengan mata yang semakin berkaca-kaca. Menangkup wajah dan terdengar isakan kecil dari mulutnya.


"Ada apa ini?! Fadil, Farah, Sinta?!"


Pak Marjuki beserta istrinya tiba-tiba sudah berada di depan kamar mandi. Kedua orangtua itu terkejut melihat pintu-pintu toilet yang sudah rusak.


Fadil menghela nafasnya kasar. "Bapak dan Ibu tanya saja pada Mbak Farah! Apa yang sudah terjadi? Gara-gara mereka berdua, calon istriku pergi meninggalkanku!" kesalnya, menunjuki dua wanita itu, seraya tatapan penuh kebencian.


"Apa, be-benarkah itu Farah?!" tanya Bu Marjuki tak percaya. Kedua orangtua itu tercengang mendengar pernyataan Fadil.


Farah tak menjawab pertanyaan Ibunya, kepalanya semakin tertunduk dalam. Kedua tangannya saling me-remas dengan gelisah.


Bu Marjuki menggeleng kepala, sungguh ia kecewa sekali dengan sikap putrinya tersebut. "Ibu kecewa sama kamu Farah, tega-teganya kamu melakukan ini pada adikmu sendiri?" lirihnya mengusap dadanya yang tiba-tiba sesak.


Setelah Fadil puas melampiaskan emosinya pada Farah dan Sinta. Fadil pun pamit pergi untuk mencari Rubi lagi. Sebelumnya ia meminta maaf pada orangtuanya lebih dulu, juga para tamu undangan yang terlanjur hadir di acara pernikahannya, terpaksa harus dibatalkan karna mempelai wanita yang tiba-tiba menghilang. Fadil juga terpaksa mengundurkan tanggal pernikahannya sampai ia menemukan Rubi


Tak lama kemudian, Fadil telah sampai apartemen Randy.


"Katakan padaku apa kau tahu dimana saat ini Rubi berada?" Fadil menangkup kedua bahu Randy. Ia berharap Randy bisa memberitahukan keberadaan Rubi.


"Maaf, tapi aku tidak tahu Rubi berada. Aku bahkan tidak tahu Rubi akan menikah hari ini ..." acuhnya, Randi hendak menutup lagi pintu apartemennya. Namun Fadil segera menahannya lagi.


"Kau tidak sedang membohongiku kan, Ran?! Kumohon katakan dengan jujur padaku!" desaknya menatap lekat Randy.


Randy memalingkan wajahnya menghindari tatapan Fadil padanya. Tapi Fadil bisa menangkap jelas gelagat Randy, jika Randy sedang berusaha menyembunyikan sesuatu darinya.


"Kumohon padamu Ran, aku tak sanggup kehilangannya ... " lirih Fadil yang mulai putus asa, lantas ia menyender punggungnya ke dinding. Memejamkan matanya. "Bersamanya hidupku menjadi penuh warna, hanya dia satu-satunya wanita yang mampu membangkitkan semangat hidupku lagi ..."


Randy sedikit prihatin, melihat kondisi Fadil yang merana dengan luka-luka ditangannya. Karna tak tega, akhirnya dia menyerah untuk tidak memberitahukan dimana Rubi.


Randy membuka laci meja di ruang tamu lalu memberikan alamat dimana Rubi berada sekarang. Bukan ingin melanggar janji. Tapi Randy pikir sepertinya mereka berdua memang harus dipertemukan.


Sebenarnya Randy juga sempat marah, setelah mendengar cerita Rubi tentang masalahnya dengan kakak perempuannya Fadil waktu itu.


"Apa kau sedang bercanda, kau ingin membatalkan pernikahanmu hanya demi mereka?!" Randy tercengang, menggeleng kepalanya tak habis pikir.


Sesama sahabat, jelas ia tak terima jika Rubi diperlakukan buruk oleh kakaknya Fadil dan juga mantan kekasihnya Fadil.

__ADS_1


"Aku yakin itu hanya akal-akalan mereka saja, agar kalian berdua bisa berpisah!"


Rubi bergeming mendengar kekesalan Randy pada Farah.


Rubi menghela nafasnya panjang. "Sudahlah Ran, biarkan saja. Aku tidak ingin memperpanjang masalah ini lagi. Saat ini yang kuperlukan adalah aku bisa menghasilkan uang sendiri, untuk keperluan hidupku. Tolong carikan aku pekerjaan tapi tidak di kota ini?" ujar Rubi memohon padanya.


"Ini ambillah ..." Randy menyodorkan kartu nama seseorang pada Fadil.


Fadil pun terkejut. Lantas menerima kartu nama berisi alamat lengkap ditangan Randy.


"Apa ini?"


"Disitu tercantum alamat Rubi bekerja. Dia bekerja di Salon sepupuku. Pagi dini hari tadi, dia berangkat bersama sepupuku. Kamu bisa menyusulnya kesana." terangnya.


Fadil tersenyum haru. Mengusap air matanya yang terus menetes keluar. Lantas memeluk dan menepuk-nepuk punggung Randy, dan mengucapkan banyak terimakasih.


"Terimakasih Ran, terimakasih sudah memberitahuku ... Aku berhutang budi padamu ..."


"Sudahlah ... Aku tahu kalian berdua saling mencintai. Setelah bertemu, jagalah Rubi baik-baik. Walau sifat Rubi keras kepala, tapi percayalah dia adalah wanita baik-baik ..." ujar Randy.


Fadil mengangguk percaya. Lantas dia pamitan pada Randy.


****


Sore itu Fadil telah siap pergi ke Semarang. Setelah ia membalut luka ditangannya dengan perban. Fadil memangku tas ranselnya.


"Mau kemana kamu Dil?" Bu Marjuki terkejut melihat Fadil yang memakai jaket tebal. Seperti ingin pergi jauh.


"Fadil mau ke luar kota dan menginap beberapa hari disana Bu, doakan Fadil ya Bu ... Supaya maksud dan tujuan Fadil dapat tercapai ..."


"Iya, Ibu akan selalu mendoakan kamu, semua yang terbaik untukmu Nak. Pergilah dan hati-hatilah di jalan, jangan ngebut. Semoga selamat sampai tujuan dan bawa calon menantu ibu lagi kemari ..." ucap Bu Marjuki terharu.


"Terimakasih Ibu. Fadil berjanji tidak akan pulang sampai Rubi benar-benar telah di temukan ..." Fadil pun mengecup punggung tangan Ibu dan Bapaknya disana, lalu melengos pergi dengan mengacuhkan Farah yang sedang menggendong Yoga di teras rumah.


Farah menarik nafasnya yang terasa sesak, rasanya sakit sekali diacuhkan oleh adiknya sendiri. Farah tak berhenti merutuki dan menyesali perbuatannya.


Dengan sadar diri, dia juga meminta maaf pada Sinta yang tidak bisa memenuhi janjinya untuk menyatukan sahabat dan adiknya. Lalu mengembalikan lagi butik milik sahabatnya itu sebab ia tak pantas menerimanya.


Tak lama, Farah akhirnya menemukan pekerjaan yang pantas untuknya, dia bekerja di sebuah konveksi pembuatan mukena dan gamis di kota itu.


Mulai sekarang Farah akan lebih giat lagi bekerja demi menafkahi putranya sendiri. Farah juga tak mengharapkan diberi oleh mantan suaminya. Farah ingin berubah. Sungguh dia telah menyadari akan semua kesalahannya selama ini. Sikap egois juga ambisi yang pernah dimilikinya dulu ternyata telah membuat hubungan keluarganya menjadi hancur.


Perlahan demi perlahan, sehingga ia kehilangan suaminya, dan Farah tak ingin, jika sampai ia juga kehilangan orangtua dan saudaranya.


Bersambung ....


...****...

__ADS_1


__ADS_2