
...BAB 51...
...Jangan Pernah Bertemu Lagi...
"Mau kemana Rubi?"
Bu Ambar mengerutkan keningnya bertanya, saat melihat putri bungsunya menghampirinya di meja makan, Rubi sudah berpenampilan cantik sekali malam itu dengan pakaian pesta berwarna merah cerah, dan membawa tas mewahnya.
"Tante Rubi cantik banget sih?!" puji Keyla.
Rubi tersenyum, membelai rambut keponakannya.
"Aku mau pergi ke acara reunian Bun, di hotel.." jawab Rubi pada Bundanya.
"Reunian kok malam-malam begini kira-kira sampai jam berapa selesainya?"
"Rubi belum tahu pastinya Bun..." Rubi menggeleng kepala. "Ya sudah kalau begitu, Rubi pamit pergi dulu ya Bun sudah terlambat, yuk Mbak Lyra... Assalamu'alaikum..." pamitnya pada Bunda Ambar dan Lyra, setelah Rubi mencium punggung tangan Bundanya.
"Wa'alaikumsalam... Tapi inget ya, jangan pulang kemaleman. Inget kamu itu wanita Rubi, di luar banyak orang jahat..." seru Ambar berpesan.
"Tenang saja Bun, Rubi akan jaga diri..." sahut Rubi seraya terus melangkah keluar pintu rumah.
Setelah mengeluarkan kunci mobilnya di dalam tas, Rubi menyalakan mesin mobil kesayangannya, mobil hadiah dari mendiang Ayahnya. Mobil Rubi keluar dari gerbang dan dengan lihai ia kendarai mobilnya dengan laju yang lumayan sangat cepat membelah jalanan kota.
Melihat kepergian adik iparnya, Lyra menjadi cemas. Malam itu pukul delapan malam. Lyra khawatir jika Rubi akan pulang malam lagi seperti malam-malam waktu itu, belum lama kejadian Rubi yang mabuk berat karna patah hati.
Raffa sudah memperingatkannya berulang-kali agar dia tak keluar malam lagi. Tapi sekarang Rubi seolah bebas keluyuran lagi disaat Kakak lelakinya tak ada dan tak bisa memantaunya disini.
Lyra menghela nafasnya panjang, tak mungkin juga ia memberitahukan hal ini lagi pada Raffa, Lyra khawatir akan mengganggu pekerjaan suaminya di luar kota sana.
Lyra kembali gelisah, dia mondar-mandir di atas balkon kamar, karna waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Sementara Ambar dan Keyla sudah tidur sedari tadi. Tapi Rubi belum juga pulang.
"Ya Allah kamu kemana Rubi?" Lyra menutup ponselnya nyaris tiga kali panggilan tapi Rubi tak mengangkatnya juga.
Tiba-tiba saja Lyra teringat Fadil. Lantas ia menelepon Fadil dan meminta bantuannya untuk mencari Rubi.
"Baiklah, aku akan pergi ke hotel..." sahut Fadil menjawab telepon Lyra.
"Telepon dari siapa Mas?" tanya Sinta setelah Fadil menutup lagi sambungan teleponnya.
"Em, itu telepon dari Lyra"
__ADS_1
"Mas masih hubungan aja sama mantan calon istri Mas itu?" selidik Sinta mencurigai.
Fadil tersenyum lantas menjawil pelan hidungnya Sinta. "Jangan salah paham dulu, barusan Lyra telepon memintaku untuk menyusul Rubi di hotel katanya ada acara reunian, tapi sampai jam segini Rubi juga belum pulang."
"Uh, ngapain sih Mas selalu ngurusin Rubi. Rubi terus Rubi teruss?!" gerutu Sinta seraya bersedekap tangan di depan pagar rumahnya.
Wajahnya menekuk tanda ia teramat kesal karna Fadil selalu perhatian terhadap Rubi.
Mereka berdua baru saja pulang selesai nonton bareng di bioskop. Fadil mengantar Sinta pulang ke rumahnya, tapi saat akan pamitan pulang Fadil di telepon Lyra.
"Kan sudah Mas bilang, kalau Rubi sudah Mas anggap kayak adik sendiri. Ya, sejak kejadian Rubi bercerai dengan suaminya. Mas jadi kasihan sama dia... Ya udah Mas pergi dulu ya, takut kemalaman juga..." Fadil pun lekas masuk kembali ke mobilnya.
Fadil tersenyum melihat Sinta masih berdiri di depan pagar, lalu menyuruhnya untuk masuk ke dalam rumah.
Sinta mengangguk terpaksa. Lalu ia masuk ke dalam rumahnya. Setelah memastikan kekasihnya masuk rumah. Fadil bergegas menjalankan mobilnya menuju hotel.
Tak sampai lima belas menit Fadil telah sampai. Di sana memang sedang diadakan acara yang sangat meriah. Fadil mengedar pandangannya di ballroom hotel. Mencari-cari Rubi di tengah-tengah ratusan orang. Mereka semua tampak asyik bercengkrama diiringi dengan suara nyanyian dari seorang wanita di atas panggung.
Fadil mencoba menghubungi Rubi, tapi ia urungkan karna suara penyanyi dan musik itu sangat kencang dan tak mungkin Rubi dapat mendengar suara panggilan teleponnya.
"Ah maaf Tuan!" sahut seorang waiter yang tak sengaja menyenggol Fadil dengan membawa nampan minuman, dan menumpahkan sedikit minuman itu ke bajunya Fadil.
"Oh tidak apa-apa..."
Namun saat akan pergi ke toilet. Fadil terkejut, dia melihat Rubi duduk bersama seorang pria, dan menawarinya minum.
"Rubi..." Fadil tercengang saat Rubi mengambil minuman keras yang di tangan pria itu.
"Minumlah... Hanya sedikit saja itu tidak akan membuatmu sampai mabuk..." sahutnya. Rubi tersenyum miring.
"Aku pernah minum melebihi ini..." ujarnya lantas menerima tantangan pria itu. "Jadi bagiku, ini tidak ada apa-apanya..." remehnya.
Fadil menggeleng kepala. Lantas berjalan cepat menghampiri mereka, lalu merebut gelas minuman keras itu di tangannya Rubi.
Rubi dan Pria itu tercengang. Fadil meletakkan gelas itu di meja.
"Ayo pulang... Ini sudah jam berapa?" sahutnya.
Rubi mengerutkan keningnya. Lantas berdiri dan mengambil lagi gelas tadi, lalu meminumnya di depan Fadil dan juga teman-teman semasa SMAnya dulu.
Fadil tercengang. "Rubi!" sentaknya.
__ADS_1
"Aaaahh... Segernya ini nikmat sekali, boleh aku minta tambah lagi..." pintanya pada temannya seraya tertawa miris, mengacuhkan Fadil disana.
"Boleh..." ucap pria tadi senang. Lalu ia menuangkan lagi minuman keras itu di gelas Rubi.
Rubi kembali ingin minum namun Fadil segera menepisnya hingga gelas itu terpental jatuh dan pecah di dekat kaki pria tadi. Rubi terkejut.
"Heh siapa kau berani ganggu acara kami!" Dia tak terima, lantas bangkit dan menantang Fadil. Wajahnya memerah marah.
"Itu bukan urusanmu, dia adikku. Kau jangan racuni pikirannya dengan memberinya minum-minuman keras!" balas Fadil dengan tatapan tajamnya.
Lalu Fadil menatap Rubi dan menarik tangannya. "Ayo ikut aku pulang!" perintahnya.
Rubi menepis kasar tangan Fadil. "Lepas, mau apa kau kemari hah, dia benar kenapa kau ganggu acara kami?!" cecarnya pada Fadil dan membela temannya.
"Rubi!" Fadil terkejut baru kali ini Rubi terlihat marah dan benci sekali padanya.
"Aku ingin minum, aku ingin bersenang-senang disini! Pergilah kau dan jangan pernah ikut campur dengan urusanku..." kesalnya mendorong Fadil.
Fadil menggeleng kepala. "Kenapa kau jadi begini? Ini bukan Rubi yang ku kenal. Rubi tak pernah mabuk-mabukkan seperti ini kan?! Ayo pulang Rubi. Bunda dan Kakak iparmu mencemaskanmu di rumah..." ucap Fadil dengan nada lembut.
"Kenapa kau selalu saja mengurusi hidupku? Aku ini bukan adikmu!" sentaknya dengan nada marah.
Rubi mengambil tasnya lalu berlari pergi dari sana. Meninggalkan teman-temannya dan juga Fadil. Dia tak tahan lagi bila selalu melihat Fadil, hatinya selalu merasakan sakit.
Rubi berlari ke arah parkiran, di susul oleh Fadil.
"Rubi! Ayo naik mobilku, biar aku yang antar kamu pulang, mobilmu biar besok aku yang antar pulang..." Fadil menarik tangan Rubi dan hendak membawanya masuk ke dalam mobilnya.
"Lepaskan aku! Aku bisa pulang sendiri! Aku tidak butuh perhatianmu!" tolaknya melepaskan diri dari tangan Fadil. Tetapi genggaman Fadil lebih kuat.
"Rubi! Aku tahu kamu masih marah padaku, tapi aku melakukan ini semua karna aku sayang padamu..." ucapnya tulus.
Rubi melepas tangannya, menjauh dari Fadil. Kepalanya menggeleng cepat. Air matanya kembali berlinangan.
"Kau sayang padaku..." Rubi tertawa miris. "Kau sayang padaku hanya menganggapku sebagai adik 'kan..." lirihnya lagi.
"Rubi..." Fadil menggeleng kepala.
"Pergilah Kak Fadil, sebaiknya kita jangan pernah bertemu lagi..." ucapnya pelan. Rubi berjalan lunglai dengan hati yang terluka. Dia masuk ke dalam mobilnya.
Fadil menatap kepergian Rubi dengan pandangan yang sendu. Aku memang tidak bisa membalas cintamu Rubi... Tapi sungguh, aku sayang padamu dan ingin melindungimu... ucapnya dalam batin.
__ADS_1
Bersambung....
...****...