Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku

Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku
Doni Yang Tak Adil


__ADS_3

...BAB 66...


...Doni Yang Tak Adil...


Setelah Farah selesai mengerjakannya dengan hati tak ikhlas, dia pun keluar untuk memberitahukannya pada mereka bahwa kamarnya sudah siap di tempati.


Sontak Farah terbelalak, ketika ia melihat adegan ciuman panas sang suami berserta madunya di depan matanya sendiri. Tanpa melihat tempat, keduanya tampak acuh dan sama sekali tak menghargai keberadaan Farah di rumah itu.


"Ehm, hem!"


Farah mendeham keras sehingga keduanya terkejut dan menoleh pada Farah yang sudah berdiri di depan pintu kamar mereka.


"Bisakah kalian berdua tidak bermesraan di ruangan terbuka?!" sindirnya dengan tatapan jengah.


Doni berdiri lantas menarik pelan tangan Susi. "Ya sudah kami akan pindah ke kamar..." jawabnya santai. "Ayo sayang kita lanjutkan lagi di kamar..." ajaknya pada Susi.


Doni pun membawa Susi masuk ke dalam kamar mereka, tak lupa membawa koper Susi dan menutup pintunya lagi dan tanpa memperdulikan perasaan Farah.


Farah menatap getir pintu kamar mereka yang sudah tertutup rapat, lantas ia pun pergi ke kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah, walau hatinya saat ini tengah bergemuruh, menahan lahar panas yang seolah sebentar lagi akan meledak.


Malam pun semakin larut, tapi mata Farah tak bisa terpejam, karna suara ******* dan erangan yang terdengar jelas hingga masuk ke dalam kamarnya, membuatnya risih dan ingin muntah rasanya.


"Apa mereka sengaja melakukannya? Ah, aku sudah tak kuat lagi mendengarnya..."


Farah pun mengambil bantal dan menutupi kedua telinganya dengan bantal itu.


****


Pagi itu, Doni telah selesai mengemasi sebagian pakaiannya ke dalam koper. Dia akan tinggal di apartemen bersama Susi.


"Apa sudah selesai masaknya? Kami berdua lapar ingin makan!" tanyanya seraya berjalan ke arah dapur bersama Susi. Menghampiri Farah.


Farah menoleh pada mereka yang sudah rapi dan wangi. Tampak kedua rambut pasangan pasutri itu telah basah habis keramas. Farah lekas memalingkan wajahnya yang sudah memerah padam menahan rasa cemburu yang bergejolak dalam dada, lalu ia cepat-cepat menuangkan makanan matang di wajan ke dalam mangkuk besar.


"Mas, apa Mas yakin akan tinggal di apartemen? Lalu, kontrakan kita bagaimana?" tanya Farah, karna ia pikir Doni dan Susi juga akan tinggal di kontrakan bersamanya.


"Kamu yang akan tinggal di kontrakan ini. Jangan khawatir sesekali aku akan datang kemari. Tiga minggu bersama Susi dan satu minggunya lagi aku tinggal disini..." jawabnya seenaknya.


Farah membulatkan matanya terkejut. "Apa satu minggu?!" pekiknya. Doni mengangguk santai.


"Ya, satu minggu. Kamu masih untung kan, kalau aku tak menceraikanmu dan masih bisa menafkahimu dan Yogi?" ucapnya dengan nada meremehkan.

__ADS_1


"Apa ini yang kau sebut adil memperlakukan istrimu Mas?! Katanya kau berjanji akan bersikap adil padaku? Tapi aku hanya dapat satu minggu saja jatah waktu bersamamu. Lalu, sejak kapan Mas juga punya uang untuk bisa tinggal di Apartemen? Bukankah selama ini Mas hanya pegang uang satu juta saja?!" cecarnya tak terima.


"Atau Mas memiliki tabungan lain yang tak kuketahui selama ini?" selidiknya lagi seraya menatap tajam Doni.


Farah tahu gaji Doni memang tak lebih dari dua juta setengah, setiap sebulan sekali Doni selalu mengirimi Farah uang sejuta saja dan tidak mungkin Doni bisa menabung membeli apartemen. Untuk membayar uang kontrakan selama setahun saja sulit untuk ia dapatkan. Kecuali bila Doni membohonginya dan memiliki uang lain yang Farah tak ketahui.


Bibir Doni semakin miring ke atas lantas menarik kursi dan duduk di hadapan istri pertamanya.


"Farah-Farah... Kau tak tahu saja. Tentu aku akan lebih memilih menghabiskan waktuku lebih lama bersama Susi. Selain Susi perhatian dan cantik, apartemen itu juga hadiah pernikahan pemberian orangtua Susi, yang tentunya lebih kaya dibandingkan orangtuamu, mereka sama sekali tak mau memberikan modal sedikitpun untuk kita berdua selama menikah. Mana ada mereka peduli kebutuhan kita selama ini, hah!" tukasnya seraya menggelengkan kepala.


Farah terkejut menatap bulat Susi. Tak sangka ternyata pelakor itu adalah anak orang kaya.


"Apa katamu Mas? Jangan bawa-bawa orangtuaku dong Mas! Walaupun orangtuaku bukan orang berada tetapi setidaknya mereka tidak mempersulit kamu. Bapak Ibuku tak pernah menuntut atau meminta apapun dari kamu!" cecar Farah tak terima karna keberadaan orangtuanya tak di hargai sama sekali oleh suaminya.


Doni tertawa sinis, tak peduli dengan ucapan Farah, lalu ia membelai rambut kepala Susi.


"Kamu laper sayang? Ayo makan dulu yang kenyang, karna setelah sampai di Apartemen nanti. Malamnya kita akan berangkat ke Bali..." ajak Doni lembut dan perhatian seperti biasanya. Susi mengangguk dan duduk di samping suaminya. Mereka berdua kini menatap Farah yang masih terbengong berdiri.


"Heh, kenapa diam saja! Cepat ambilkan nasi dan lauk untukku da Susi! Karna malam ini kami akan pergi berbulan madu!" perintah Doni lagi.


Braaak


"Huh, istri apaan dia?! Tahunya hanya bisa marah-marah saja." umpat Doni.


"Makanya itu, lagian buat apa sih, Mas masih mempertahankan dia?" sahut Susi mengompori.


"Tidak bisa sayang, Mas masih punya tanggung jawab ke Yoga. Dia kan putranya Mas..."


"Tapi kan nanti juga Mas bakalan punya anak dariku..." rengeknya seraya mengusap perutnya yang masih rata.


Doni menutup cepat mulutnya Susi. "Syuuutt jangan kencang-kencang, nanti Farah bisa dengar ucapanmu..."


"Habisnya sih, Mas masih mau aja baikan sama dia..."


"Sudahlah sayang, yang pasti Mas lebih mengutamakanmu dari pada dia..."


Farah yang belum terlalu jauh dari dapur pun sontak membekap mulutnya terkejut.


Apa maksud perkataan mereka? Jadi wanita itu, dia sedang hamil?! pekiknya dalam hati.


Farah pun kembali menghampiri mereka. Doni terkejut dia kembali duduk tegak setelah kepergok sedang mengecup dan mengusap perut Susi.

__ADS_1


"Cepat jelaskan padaku Mas, jadi benar yang aku dengar kalau wanita ini sudah hamil duluan?!" cecarnya.


Doni dan Susi pun saling menatap sedikit gugup.


"Mas Doni!!"


****


Esok harinya, Sinta tak menyerah untuk terus memisahkan Rubi dari Fadil. Siangnya dia sengaja datang menemui Rubi dan mengikuti Rubi di sekolah Keyla.


"Sebaiknya cepat kau tinggalkan Mas Fadil, karna aku yakin Farah tak akan mungkin mengijinkanmu bersamanya!" Sinta menarik kasar tangan Rubi.


Rubi terkejut melihat kedatangan Sinta di sekolah Keyla.


"Maksudnya?" Rubi mengerutkan keningnya terheran.


"Apa kurang yang kujelaskan selama ini?! Aku dan Farah sudah saling sepakat, bahwa yang akan menjadi istri Mas Fadil adalah aku seorang bukan kamu! Walaupun orangtua Mas Fadil menyetujuimu, tapi aku yakin kau tak akan pernah di terima Farah menjadi anggota keluarganya! Kau tahu Rubi, kau itu hanya seorang janda murahan, tentu kau tak sepadan dengan Mas Fadil!" berangnya, yang masih tak terima jika Rubi akan disambut baik kedua orangtua Fadil.


Rubi menatap dingin Sinta, lantas bersedekap tangan di dada. "Ya, aku memang tak sepadan dengan Kak Fadil. Tapi buktinya Kak Fadil lebih memilihku dari pada kamu kan?! Kenapa juga kamu masih memaksa lelaki yang tak pernah mencintaimu?! Jadi mana yang lebih murahan menurutmu?"


Sinta mengepal tangannya geram, matanya menyalang tajam menatap Rubi. Jarinya menujuk tepat di wajah Rubi.


"Diam kau! Apa urusanmu dengan hidupku?! Telah lama aku mengincarnya, tapi kau sudah membuat impianku untuk bisa bersama Mas Fadil hancur! Sebaiknya kau saja yang pergi jauh dari kehidupan dia, Rubi! Kau tahu, aku dan Farah sudah membuat perjanjian! Dan aku tak mau perjanjian kami sampai batal! Akan aku berikan apapun untuk Farah sahabatku demi bisa dengan Mas Fadil!"


Rubi mengerutkan keningnya. "Maaf tapi aku tetap tak bisa meninggalkan Kak Fadil, kami saling mencintai..."


Rubi berbalik dan hendak pergi masuk ke dalam halaman sekolah. Namun Sinta menarik tangannya lagi dan bersiap akan menamparnya. Tapi Fadil sudah lebih cepat menahan tangannya.


"Mas Fadil?!"


Sinta terbelalak begitupun Rubi yang sama-sama terkejut.


"Apa maksud perkataanmu tadi, perjanjian apa memangnya yang kau lakukan bersama Mbak Farah?" tanyanya dengan tatapan menyelidik.


Bersambung...


...****...


Hallo, maaf readers apakabarnya? Maafkan author nih yang baru kembali update. Karna kemarin sengaja pengen liburan panjang dulu bersama keluarga 😍😍😍...


Sebelumnya Author mau ngucapin taqaballahu minna wa minkum 🙏🙏🙏... Selamat hri raya... Mohon maaf lahir dan bathin ya...

__ADS_1


__ADS_2