Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku

Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku
Mempelai Wanita Yang Hilang


__ADS_3

...BAB 73...


...Mempelai Wanita Yang Hilang...


Ponsel Fadil terjatuh di tangannya. Tubuhnya gemetar. Lelaki yang telah rapi memakai jas pernikahan itu, menatap nanar ke setiap sudut ruangan yang sudah dihias secantik mungkin sejak kemarin. Tempat dimana ia akan mengucapkan ijab qabul, janji sucinya di depan penghulu dan para tamu undangan nanti.


"Apa kamu tidak akan kangen aku? Satu bulan itu lama lho, sayang ..." rajuk Fadil di video call saat itu.


"Bersabarlah, aku yakin sekali kamu lelaki yang sangat kuat Kak! Mampu menahan rindu walau selama apapun. Buktinya, kamu juga bisa cepat move on dari Mbak Lyra dulu, iya kan ... " sindir Rubi, bibirnya menyungging senyum.


Tak sedikit pun Rubi ingin menampakkan raut kesedihan di depan Fadil.


Fadil sedikit aneh dengan kata-kata Rubi yang sama sekali tak ada hubungannya dengan Lyra.


"Rubi, jelas itu berbeda sayang! Cinta yang kurasakan saat ini sangatlah menggebu-gebu padamu. Walau kau wanita kedua yang kucintai. Tapi percayalah, kaulah yang terakhir kalinya untukku ... Tidak ada nama wanita lain lagi di hatiku ..." ucap Fadil menatap lekat wajah Rubi di layar pipihnya.


Rubi tersenyum simpul. Sungguh setiap ucapan romantis yang Fadil berikan, membuatnya terbang melayang-layang. Tetapi Rubi harus menyadari, jika Fadil bukanlah jodoh yang di persiapkan Tuhan untuknya.


"Terimakasih banyak Kak, atas cinta yang telah Kak Fadil berikan untukku. Aku bahagia sekali akhirnya cintaku padamu terbalaskan ..." ucap Rubi dengan senyum tak lepas dari bibirnya. Dan aku, akan selalu mengingatnya sampai kapanpun itu ... Lanjut Rubi dalam hatinya lirih.


Fadil mencoba melangkah, menyeret kakinya keluar ruangan, walau kakinya seakan kaku untuk berjalan.


Farah yang terheran melihat adiknya yang linglung pun segera menitipkan Yoga pada Buleknya yang sedang asyik bercengkrama dengan ibu-ibu lain. Lantas Farah berlari kecil menghampiri Fadil.


"Dil, Fadiiil!!" teriaknya memanggil. Langkah Fadil terhenti.


"Ada apa denganmu? Kau mau pergi kemana?" tanya Farah.


Fadil menoleh pada Kakak perempuannya. Tatapannya nanar. "Rubi, dia pergi Mbak ..." lirihnya terbata-bata, pandangannya kosong.


Farah tersentak kaget, lantas menelan kasar ludahnya gugup. "E,em ma-maksudmu pergi? Pergi kemana?" tanya Farah, dan pura-pura tak tahu soal itu. Padahal sebelumnya Farah tahu jika Rubi memang akan pergi.


Fadil menggeleng kepalanya lemah. Lantas Fadil membuka pintu mobilnya dan berniat ingin mencari Rubi. Tapi bersamaan itu, mobil Sinta baru saja datang.


Sinta keluar dari mobilnya. Melambai dan tersenyum sumringah pada kakak beradik itu. Hari itu penampilan Sinta benar-benar sangat cantik menawan dengan memakai kebaya putihnya.


"Pagi semuanya!" sapanya. "Lho, kamu mau kemana Mas?" tanyanya pada Fadil terheran.


Fadil yang ingin masuk mobil pun, urung. Dahinya mengerut. Melihat penampilan Sinta dari ujung kaki hingga ujung rambutnya yang di sanggul cantik, tak kalah cantik seperti seorang artis model.


"Mas, Mas Fadil?!" Sinta melambai tangan di depan wajah Fadil yang menatapnya aneh dan heran.


Fadil menggeleng cepat. "Maaf, aku harus pergi!" ujarnya dan bergegas masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Lho, mau pergi kemana? Bukankah sebentar lagi penghulunya akan datang, ya?"


Fadil tak menjawab pertanyaan Sinta. Ia pun dengan cepat menyalakan mesin mobil lalu melajukannya pergi.


"Hei Mas, Mas Fadill!" teriak Sinta seraya berlari hendak ingin mengejarnya. Farah pun segera menghentikannya.


"Sudahlah jangan dikejar lagi, Fadil sudah tahu kalau Rubi pergi. Dan sekarang, biarkan dulu dia sendiri ..." cegah Farah.


"Jadi wanita itu benar-benar sudah pergi?!" tanya Sinta terkejut senang.


Farah mengangguk. Lalu Farah membuka ponselnya dan memperlihatkan chat Rubi tadi pagi-pagi sekali.


Sinta bersorak dalam hatinya. "Hahaha ... Baguslah kalau begitu dia menepati janjinya!"


Sinta tersenyum puas seraya melipat kedua tangannya, bahagia. Akhirnya rencananya untuk memisahkan Fadil dari Rubi berhasil ia lakukan, walaupun dengan cara harus mengorbankan butik miliknya pada Farah, yang terpenting Rubi, saingannya itu sudah ia singkirkan dengan sukses Tinggal menunggu keputusan Fadil. Mau tak mau lelaki itu, haru menerimanya sebagai pengantin pengganti.


****


Fadil tergugu di rumah Ambar sembari memeluk gaun pengantin milik calon istrinya.


Raffa dan Lyra pun, juga sama-sama tidak mengerti kenapa Rubi bisa pergi dari rumah. Rubi menghilang sebelum di rias oleh MUA. Bagai ditelan bumi, tak ada satu orangpun yang tahu kepergian Rubi di sana. Nomer ponsel milik Rubi juga sudah tak bisa dihubungi lagi. Rubi pergi tanpa membawa selembar pakaian pun, bahkan meninggalkan pesan apapun.


Sedang Ambar tak berhenti menangis di pelukannya Lyra.


Fadil lebih dulu mencarinya di tempat-tempat yang sering mereka kunjungi berdua. Namun hasilnya tetap sama. Tak ada satu pun orang yang tahu dan melihat Rubi di tempat-tempat itu.


Hingga waktu terus berlalu, matahari semakin naik ke atas, teriknya menyengat hingga lapisan tanah bumi. Suara dering telepon terus memanggil Fadil berulang kali, dengan hati nelangsa Fadil menerima panggilan dari Ibunya.


"Hallo Dil! Sekarang kamu dimana Nak? Kenapa tidak bilang pada Ibu, jika Nak Rubi pergi?" tanya Ibunya, sangat mencemaskannya di sana.


"Fadil cepat kembali Nak ... Kita tidak bisa meninggalkan acara pernikahan ini begitu saja. Semua tamu sudah menunggu kita sejak pagi tadi ... Setidaknya kita sampaikan permintaan maaf dulu pada mereka ..." sahut Ibunya. Namun Fadil tak merespon telepon Ibunya.


"Fadil, sudahlah lupakan Rubi! Jika dia benar-benar wanita baik. Dia tidak akan pernah pergi meninggalkanmu! Bukankah Mbak pernah bilang sebelumnya, Rubi belum tentu serius padamu! Menurut pandangan Mbak, dia itu masih ingin bersenang-senang dan belum siap terikat oleh pernikahan ..." tukas Farah yang tiba-tiba saja merebut ponsel Ibunya dan mengompori lagi adiknya agar adik lelakinya itu tak lagi mengharapkan Rubi.


"Masih ada kesempatan kamu buat baikan lagi sama Sinta. Dia rela jika jadi pengantin pengganti wanitanya ... Pikirkanlah Fadil, kasihan penghulunya sudah capek-capek datang dari tempat jauh. Beliau masih menunggu keputusan darimu!" sahutnya lagi.


Fadil meletakkan ponselnya sembarang. Lalu lelaki itu keluar dari mobil memandang getir pada ombak yang menggulung-gulung bersusulan di lautan.


"Kenapa, kenapa tiba-tiba saja kau pergi meninggalkanku Rubi? Apa alasanmu melakukan ini semua padaku?! Kau patahkan semua harapanku!" teriak Fadil dengan dada yang semakin terasa sesak menusuk hingga jantungnya.


"Kau benar-benar jahat, Rubiii! Kau keterlaluan, kau permainkan hati iniii!" teriaknya lagi dengan tangisan penuh kekecewaan.


****

__ADS_1


Sinta menunggu kepulangan Fadil dengan gelisah. Dia mondar-mandir di depan toilet gedung, tempat yang telah di sewa Fadil untuk acara pernikahannya bersama Rubi.


"Apa kau yakin Mas Fadil akan kemari lagi dan mau menikahiku?" cemasnya.


Farah menggeleng kepala. "Aku tidak tahu, tapi aku yakin tadi dia sempat mendengarkan saranku!"


Fadil memarkirkan mobilnya. Bu Marjuki berlari kecil menghampirinya dan memeluk putra kesayangannya.


"Buu..." hamburnya memeluk sang Ibu, dengan deraian air mata.


"Sudahlah Nak, jangan bersedih lagi. Mungkin kamu belum berjodoh dengan Nak Rubi ..." Bu Marjuki mengusap punggung lebar putranya.


Fadil mengusap wajahnya yang kusut. Lalu pandangannya mengitari setiap orang yang sudah menunggu acara yang belum di mulai sejak tadi.


"Dimana Sinta?" tanyanya tiba-tiba.


"Sinta tadi dia ke toilet bersama Farah ..." sahut Lek Putri sambil menggendong Yoga.


Fadil mengangguk dan berjalan gontai menyusul Sinta ke toilet. Mungkinkah saran Farah di telepon tadi ada benarnya.


Fadil melangkah pelan di sebuah lorong menuju toilet wanita. Seketika kakinya tertahan saat mendengar jelas suara wanita di depan pintu kamar mandi.


"Huh, aku masih kesal walau wanita itu sudah pergi! Saat ini Fadil pasti sedang berusaha mencarinya!" gerutu Sinta.


"Sudahlah, kamu tenang saja Sin! Sampai kapanpun adikku itu tidak akan pernah menemukan wanita manja itu di kota ini lagi. Dia sudah pergi jauh keluar kota. Kamu bersabarlah. Fadil pasti lambat laun akan menerimamu lagi ..." ucap Farah lagi menenangkan sahabatnya.


Sinta pun tertawa puas. "Hahaha ya, kau benar Farah! Nggak rugi aku berikan semua aset berhargaku padamu! Ets, tapi ingat kamu harus jaga baik-baik butikku!" celetuknya.


"Siap Bos, aku pasti akan amanah menjaga butikmu. Sampai nanti, nama butikmu itu terkenal ke mancanegara ..."


"Aamiin ..." Sinta mengaminkan doa dan harapan Farah, yang lalu mereka tertawa gembira.


Fadil membeku, menatap tak percaya dua wanita yang ia percaya selama ini. Sesaat dia sadar kembali dari kenyataan.


Bruaakk


"Apa maksud perkataan kalian!!"


Sontak Farah dan Sinta terkejut, menoleh ke arah pintu kamar mandi yang tiba-tiba terbuka dari luar.


"Fadill!!" Farah dan Sinta terbelalak setelah melihat Fadil berdiri disana. Tatapannya tajam kepada mereka.


Bersambung....

__ADS_1


...*****...


__ADS_2