
...BAB 41...
...Seperti Mimpi Bagi Raffa...
Pukul setengah lima subuh Raffa baru saja terbangun. Bibirnya melengkung senyum memancarkan kebahagiaan. Bagaimana ia tidak bahagia? Bangun-bangun dia sudah di suguhkan oleh pemandangan indah di depan matanya.
Istrinya sudah terlihat segar dengan mengenakan dress cantiknya di depan cermin rias. Wanitanya tengah sibuk mengeringkan rambut basahnya yang baru saja selesai di keramas.
Sepertinya sudah lama sekali Raffa menduda. Di saat-saat seperti inilah yang Raffa selalu rindukan ketika masih single father. Ada sosok istri di sampingnya saat ia terbangun dari tidur, dan keperluan apapun sudah ada yang menyiapkan. Lalu ketika ingin berangkat dan pulang bekerja akan ada yang menyambutnya dengan senyuman.
Aah, rasanya ini seperti mimpi bagi Raffa seolah ia kembali bangun dari tidur panjangnya.
Lyra sontak menoleh ke belakang, setelah dia tersadar jika suaminya itu sudah bangun dan terlihat dari pantulan cerminnya.
Raffa memandang Lyra tak berkedip seraya berbaring menyamping dengan keadaan dada bidangnya yang polos.
Mengingat lagi tentang kegiatan semalam, sontak kedua pipi Lyra bersemu merah. Malam tadi adalah pengalaman pertama baginya.
"Kenapa senyum-senyum begitu melihatku? Bukannya bangun dan pergi mandi?!" singgung Lyra yang lekas mengalihkan wajah malunya lalu kembali melanjutkan mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Berpura-pura mengacuhkan suaminya.
"Aku jadi malas mandi, kalau sudah melihat bidadari di depan mataku..." gombalnya mengulas senyum manisnya.
Lyra tersipu, lagi dan lagi Raffa pandai menggombalinya. Namun perkataan manis Raffa berhasil membuat hati Lyra jadi klepek-klepek.
"Sudah mandi sana, nanti kita bisa terlambat antar Keyla ke sekolah. Kita kan sudah janji, mau ngajak putri kita bersenang-senang selama kamu cuti kerja..." alihnya lagi.
"Seharusnya tadi kamu bangunkan aku. Jadi kita bisa mandi barengan..." timpal Raffa, dengan wajah agak kesal karna tak di bangunkan.
Seingatnya dulu Dania selalu membangunkan dia dan mengajaknya mandi bersama. Apa mungkin Lyra memang belum terbiasa. Maklum lah karna ini adalah hari pertama Lyra menjadi seorang istri.
Lyra tersohok mendengarnya. Mandi bareng? pekiknya dalam hati. Rasa-rasanya pikirannya kembali kotor hanya dengan memikirkannya saja.
"Sudah ku bangunin kok dari tadi, tapi lihat kamu tidurnya pules banget aku jadi nggak tega. Aku pikir nanti saja lah ku bangunkan! Ya sudah, mumpung sekarang kamu sudah bangun, cepat mandi dulu. Biar aku beresin tempat tidurnya. Nanti aku siapkan sarapan buatmu..." titahnya.
__ADS_1
Lyra bangkit dari duduknya setelah selesai mengeringkan rambut. Lalu meletakkan alat pengering rambut itu ke tempat semula.
Setelah itu menyiapkan pakaian untuk suaminya. Mencarinya di lemari baju dan meletakkannya di kepala sofa kamar mereka.
"Eh, malah diem aja. Cepatan mandi..." titahnya lagi karna melihat suaminya yang belum bergerak sama sekali di tempat tidurnya.
Lyra mendekatinya, mengulur tangannya ke arah suaminya agar dia segera beranjak dari kasur. "Ayo jangan malas-malasan lagi, nanti kesiangan loh!" desaknya lagi.
Raffa tersenyum lebar mendengar ocehan istrinya, lantas ia menarik cepat tangan istrinya hingga tubuh rampingnya terjatuh tepat di pangkuannya.
"Sebentar lagi, aku pengen nyium istriku dulu.."
"Mass.. tapi, ahh emmm.." desah Lyra menutup mulutnya menahan rasa geli.
Raffa mencumbu apapun yang ia lihat dari tubuh istrinya. Pipi dan leher. Lalu yang terakhir melumati bibir ranum milik istrinya.
Rasanya Raffa belum puas bercinta dengan istrinya semalam. Tubuh istrinya membuat dia sangat ketagihan, perasaan ingin dan ingin terus menikmatinya.
"Lima menit lagi..." Raffa kembali melahap rakus bibir merah Lyra. Mencumbunya tanpa jeda.
"Emmm...!"
"Mama Papaaa!!"
Sontak kedua pasang mata mereka melotot terkejut, mendengar teriakan Keyla yang memanggil mereka berdua di balik pintu kamar.
Tok tok tok
"Mamaaa..." teriak gadis kecil itu lagi.
"Tuh kan apa ku bilang dari tadi!" gerutu Lyra, kesal sekaligus tertawa geli. "Cepat masuk kamar mandimu!" Lyra mendorong tubuh Raffa agar bergegas masuk ke kamar mandi.
Raffa menghembus nafasnya kesal, dengan malas ia memakai piyama tidurnya, lalu beranjak dari kasur. Terpaksa Raffa pun masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Lyra menggeleng tersenyum melihat tingkah suaminya yang kembali kesal karna selalu terganggu putrinya.
Setelah merapikan rambut dan pakaiannya lagi karna ulah suaminya, Lyra pun bergegas membuka pintu kamarnya yang terkunci. Lyra tersenyum senang melihat putrinya yang sudah siap dengan pakaian seragam sekolahnya.
"Selamat pagi sayang... Waah putri Mama udah cantik banget, udah siap rupanya... Muach muaach, wanginya..." Lyra menciumi kedua pipi putri tirinya dengan gemas.
"Mama, kenapa Mama tadi lama sekali buka pintunya?" tanyanya, cemberut.
"Oh, itu Mama tadi sedang ngeringin rambut Mama dulu..." jawabnya kikuk.
"Emm, Key mau sarapan Mah, perut Keyla udah laper dari tadi..." renggutnya sambil memegang perutnya yang terdengar berbunyi.
"Oh kasihan anak Mama, ya sudah kamu tunggu di meja makan duluan ya. Mama mau rapihin tempat tidur dulu sebentar."
"Oke Mama..." Keyla menurut lantas ia berlari kecil ke arah ruang makan.
Mendengar putrinya yang kelaparan. Lyra buru-buru merapikan tempat tidurnya, lalu bergegas pergi ke dapur. Menyiapkan bahan-bahan yang akan ia masak dengan cepat dan tak terlalu ribet.
Walau sudah ada Bi Sumi dan dua pelayan di rumah mertuanya yang sudah pasti sudah menghidangkan makanan lezat. Tapi Raffa dan Keyla sudah sepakat dulu, akan makan makanan yang di masak Lyra setiap hari, jika Raffa telah resmi menikah dengan Lyra.
Semenjak Ayah dan anak itu sering main ke rumah Lyra. Mereka menikmati setiap hidangan yang Lyra sajikan, dan keduanya sama-sama ketagihan dengan masakannya Lyra.
Raffa akui. Masakan Lyra sangatlah lezat bahkan tak kalah lezat.dengan masakan yang ada di restoran dan rumah-rumah makan yang ia sering datangi.
Mungkin inilah, perbedaan yang tak di miliki oleh Dania dulu, istri pertamanya memang tak memiliki bakat yang satu itu.
Raffa menyungging senyumnya bahagia, melihat istrinya yang cekatan mengambil nasi dan makanan yang baru saja matang untuknya dan juga putrinya dengan penuh perhatian. Baginya ini seperti mimpi. Mimpi yang selama ini ia harapkan, memiliki keluarga yang utuh lagi.
Raffa bersyukur sekali karna memiliki istri sebaik dan secantik Lyra. Bahkan Lyra benar-benar cocok untuk menjadi Ibu sambung bagi putrinya.
Bersambung....
...****...
__ADS_1