Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku

Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku
Pertemuan Fadil Dan Rubi


__ADS_3

...BAB 28...


...Pertemuan Fadil Dan Rubi...


Di kediaman Ambar.


Rubi masih menangis tergugu, di dalam kamarnya. Panjang lebar Rubi ceritakan semua masalahnya pada Raffa, kakak keduanya. Tentang suaminya yang tega menghianatinya.


"Apa kamu punya buktinya jika Wisnu memang berselingkuh di belakangmu?" Raffa bertanya tegas. Dia belum sepenuhnya percaya jika belum melihat buktinya sendiri.


"Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri Kak, kalau Wisnu itu berselingkuh. Bahkan temanku juga melihatnya dan langsung mengirimkan foto mereka padaku!" tukasnya dengan sangat yakin.


Rubi mengambil ponselnya di atas meja samping tempat tidurnya, lalu memperlihatkan foto-foto kemesraan suaminya bersama wanita lain pada Raffa.


Raffa mengambil ponsel adiknya, melihatnya dengan seksama. Terlihat di fotonya. Wisnu, adik iparnya itu, tengah memegang tangan wanita lain sambil berjalan-jalan di sebuah mall.


Raffa menghela nafasnya kasar. "Tapi ini belum bisa di jadikan bukti yang kuat untukmu bisa menggugat cerai dia, Rubi. Pernikahan itu tidak main-main. Jika kamu salah paham sedikit saja. Bisa jadi kamu yang terkena pidana karna telah menuduh suamimu sendiri. Bisa saja wanita itu adalah adik sepupunya atau, cuma teman biasa."


"Kok Kak Raffa malah jadi percaya sama dia sih daripada perkataan adiknya?! Jelas-jelas di foto itu Wisnu main wanita di belakangku Kak! Kalau misalkan temen, nggak mungkin kan mereka sampai pegangan tangan segala! Uuuh, kak Raffa ini payah, emang gak pernah respek kalau dengerin curhatan adiknya sendiri!" sungutnya kesal.


Rubi mengambil tas dan kunci mobil miliknya lebih baik dia pergi jalan-jalan keluar saja, untuk menghilangkan segala penat yang membebani pikirannya. Rubi sengaja kabur dari Malaysia hanya untuk menghilangkan kesedihannya. Tapi sampai di rumah orangtuanya, dia malah di pojokan oleh kakaknya sendiri.


"Mau kemana? Di bilangin malah pergi!" tanya Raffa.


"Mau keluar, di rumah sumpek dengerin orang yang nggak pernah nyambung kalo di ajak ngomong!" ketusnya.


Saat Rubi keluar kamar, Raffa memperingatkannya lagi seraya mengekor di belakangnya.


"Heh, kenapa juga jadi kesal sama kakak? Bukankah menikahi lelaki Malasyia itu adalah pilihanmu sendiri? Harusnya sejak awal kau pikir dulu matang-matang sebelum menikah dengannya! Dari pertama kali Bunda dan Kakak sudah pernah memperingatkanmu. Sekarang saat kau di khianati baru kau adukan itu dan keluhkan pada kami!" tegas Raffa pada adik bungsunya yang memang agak manja itu.


Rubi tak ingin mendengarnya, bibirnya semakin mengerucut kesal. Bukannya memberikan dukungan untuknya bercerai, tapi Kakaknya malah menyalahkannya.


Namun di hati kecilnya Rubi membenarkan perkataan Raffa. Bahwa ini juga sepenuhnya adalah kesalahannya yang terlalu percaya dengan kata-kata lelaki. Dan terburu-buru sekali ingin menikah dengan Wisnu.


Rubi pura-pura tak mendengar nasehat Kakaknya ia terus berjalan ingin keluar rumah. Ketika melewati ruang keluarga, Rubi melihat Keyla yang rebahan sambil menonton televisi bersama Ambar.


"Tante Rubi mau kemana? Kok pergi lagi? Kan baru pulang ke rumah!" tanya Keyla. Ambar pun mengangguk turut menanyakannya.

__ADS_1


"Tante Rubi sumpek di rumah, Key! Bilang tuh sama Papamu. Jangan marah-marahin Tante terus, Tante kan capek habis perjalanan jauh!" renggutnya.


"Papa, Tante Rubi nya jangan dimarahin terus dong! Kan kasihan baru aja turun dari pesawat!" bela Keyla dengan wajah polosnya. Rubi meledek puas Kakaknya karna sudah di bela keponakannya sendiri.


Raffa pun mendengus kesal menatap jengah pada adik perempuannya.


Setelah mengadu sama Keyla, Rubi pun melanjutkan jalannya keluar rumah. Lalu meminta penjaga rumah untuk membukakan garasinya. Rubi lekas menaiki mobil miliknya. Mobil pemberian mendiang Ayahnya dulu saat usianya masih 20 tahun.


Rubi tertegun, tak terasa air matanya menetes membasahi kedua pipinya. Sesaat dia teringat pada pesan Ayahnya. Rubi jadi merasa bersalah karna pernah menolak lelaki yang di jodohkan oleh beliau dulu. Ternyata Wisnu bukanlah pria yang baik seperti sangkaannya selama ini.


"Maafkan Rubi Ayah, Rubi memang bodoh tak mau mendengar kata-katamu dulu..." gumamnya terisak kecil. Mengusap kasar air matanya.


Rubi mengeluarkan mobilnya keluar rumah setelah beberapa menit memanaskan mesin mobilnya.


Hampir satu tahun dia juga tak memakai mobilnya lagi.


Rubi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan, pergi ke tempat favoritnya di Surabaya. Yakni di Jembatan Suramadu, tempat yang tepat dimana dirinya ingin melampiaskan segala kekesalan dihatinya.


****


Setelah mengantarkan Lyra pulang ke rumahnya, Fadil lekas pamitan. Sikapnya berubah dingin sejak mendengar pembicaraan Lyra dan Keyla tadi di Rumah Sakit.


Ketika Lyra ingin merebahkan tubuhnya di atas kasur. Bu Rukanda menghampiri Lyra.


"Kamu habis darimana toh nduk, dari pagi baru pulang sore. Siang tadi Ibu mampir ke tokomu tapi kamunya tak ada." tanyanya.


"Kata Noni kamu nggak datang ke toko hari ini!"


Lyra tersentak. "Ibu pergi ke toko, mau ngapain?"


"Eh, ditanya malah balik nanya. Ibu tadi siang pergi ke rumahnya Om Rudi ngabari dia, kalau pernikahan kamu dan Fadil akan di percepat. Dan pulangnya Ibu sekalian mampir dulu ke tokomu!"


Lyra menelan ludahnya kasar. "Em Lyra, tadi pergi ke..." Lyra tergugup gelisah, ia khawatir jika ibunya akan marah kalau Lyra masih menemui Keyla.


"Maaf Bu, Lyra tadi di Rumah Sakit. Keyla sakit Bu..." lirihnya menunduk kepala.


Bu Rukanda terkejut, lantas menyentak nafasnya, menatap kesal putrinya. "Kamu masih nemuin anaknya si Raffa itu lagi?" sentaknya dengan mata melotot ke arah Lyra.

__ADS_1


"Namanya Keyla Bu... Keyla sakit dan dia butuh aku." jawab Lyra pelan.


"Terserah Ibu mau nyebut dia siapa. Tetap saja Ibu tidak suka kamu masih berhubungan dengan anak itu, Nduk! Harusnya kamu jangan terlalu ngemanjain dia. Lihatlah sekarang, dia jadi tergantung terus kan sama kamu! Mulai besok, kamu Ibu larang lagi untuk keluar rumah! Lagipula sebentar lagi kamu dan Fadil akan menikah. Diam saja di rumah hingga pernikahanmu tiba!" perintahnya tegas.


"Tapi Bu..."


"Tidak ada tapi-tapian, pokoknya kamu jangan bantah lagi perkataan Ibu, titik!" Bu Rukanda pun melengos pergi setelah memarahinya, lalu keluar kamar Lyra dan menutup pintunya.


Lyra kembali tergugu di kamarnya. Mengusap wajahnya berkali-kali. Perasaan sedih pun kembali menyelimuti hatinya.


****


Fadil melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Malam itu, dia ingin mencari suasana baru. Untuk menghilangkan segala resah di hatinya. Manakah yang harus dia putuskan, apakah ia akan tetap menikahi Lyra, mesti Lyra tak mencintainya? Ataukah dia menyerah saja untuk memperjuangkan cintanya demi kesehatan Keyla.


Fadil berhenti di jembatan Suramadu. Lalu keluar dan berjalan-jalan sendirian di sana. Dengan pandangan yang nanar ia melihat ke arah lautan luas.


Namun tiba-tiba saja kepalanya merasakan sakit karna tertimpuk sesuatu yang keras. Dan benda kecil itu menggelinding jatuh tepat di dekat sepatunya Fadil.


"Awww!" Fadil refleks mengusap kepalanya, lantas menengok ke belakang. "Hei siapa yang_?!"


Seorang wanita berdiri tak jauh dari belakangnya. Matanya terbelalak kaget, karna lemparannya malah mengenai kepala orang.


"M-maaf Kak, aku_" gelagapnya, yang buru-buru menundukkan kepalanya. Takut


"Rubi?!" serunya.


Fadil mengerutkan dahinya. Wanita muda itu mendongak terkejut. Sebab lelaki itu ternyata mengenalnya.


"Eh, Kak Fadil ya?!" Rubi pun ternyata mengenalnya.


"Maaf Kak, tadi aku nggak sengaja. Mau lempar itu ke laut tapi malah kena ke kepala Kakak..." ucapnya lagi tersipu malu.


Fadil menghela nafasnya pelan. Lantas mengambil cincin yang di lempar Rubi barusan. Menelisiknya heran.


"Cincinnya masih bagus, kenapa di buang?" tanyanya.


Rubi menelan ludahnya pelan. Lalu menundukkan kepalanya. "Itu cincin pernikahanku Kak..." lirihnya. "Aku membuangnya karna aku mau bercerai dengan suamiku..."

__ADS_1


Fadil sedikit terkejut mendengarnya. Rubi pun berkaca-kaca lantas menutup wajahnya, tak ingin kesedihannya di lihat oleh Fadil.


Bersambung...


__ADS_2