Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku

Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku
Silakan Meminta Cerai


__ADS_3

...BAB 56...


...Silakan Meminta Cerai...


Melihat senyum puas Susi, Farah yang geram pun dengan cepat mengambil bungkusan bakso itu di meja tamu, tanpa pikir panjang lagi ia melemparnya kasar ke arah selingkuhan suaminya.


Susi menjerit, tubuhnya melonjak kepanasan karna bungkus plastik bakso itu pecah, alhasil kulit mulusnya tersiram kuah bakso yang masih mengepul panas.


"Aaaahhh Mass panass! Panaaas..." teriaknya.


"Rasakan! Kau memang pantas kuberi pelajaran dasar wanita ja-lang!"


Merasa tak puas, Farah pun ingin menendang perutnya Susi namun segera di tahan Doni. Doni benar-benar terkejut jika istrinya akan seberani itu.


"Dek, Dek sudah hentikan! Mas mohon jangan sakiti dia, maafkan Mas, disini Mas lah yang salah..." sahut Doni, akhirnya dia mengakui bahwa semua kesalahannya, ia takut jika Farah akan terus menyakiti Susi. Wanita yang sangat ia cintai selain istrinya.


"Lepaskan aku! Kau dan dia sama-sama breng-sek, Mas!! Akan ku bunuh wanita ituu!" jeritnya.


Farah benar-benar sudah kalap. Sepertinya dia belum puas sebelum membuat selingkuhan suaminya itu mati di tangannya.


"Faraah! Mas mohon, sudah hentikan!" Doni tak kuat menahan tubuh Farah yang terus memberontak ingin menghajar Susi, lalu Doni menyuruh Susi agar cepat pergi dari rumah kontrakannya.


Susi menghentak kakinya kesal, wajahnya memerah menahan marah ingin rasanya dia pun membalas perlakuan Farah padanya. Namun ia harus terpaksa pergi menuruti perintah Doni.


"Hei mau kemana kau?! Jangan pergi dasar pe-lacur!! Aku belum selesai menghajarmu!" Farah berteriak histeris.


Doni bergegas lari ke depan pintu lalu menutup rapat pintunya dan menguncinya, supaya Farah tidak bisa mengejar Susi lagi.


"Dek, sudah-sudah tenangkan dulu dirimu..." perintah Doni dengan suara lembutnya kini. Kedua tangannya menahan bahu Farah yang masih terus saja mengamuk.

__ADS_1


Doni masih tak percaya jika istrinya akan datang ke Madiun, kalau saja dia tahu kalau istrinya akan datang mungkin dia tak akan membawa kekasihnya ke kontrakan dulu.


"Minggir Mas! Bagaimana aku bisa tenang, jika aku melihatmu dengan wanita lain?! Apa kau tidak berpikir sama sekali, kalau kau itu sudah punya istri dan juga anak hah!" berangnya, sambil mendorong dan memukul-mukul kasar pundak suaminya masih tak terima jika suaminya berselingkuh.


"Farah! Hentikan kataku!!" bentaknya. Doni tak tahan terus mendapat pukulan yang bertubi dari istrinya.


"Aku tak mau berhenti, aku benci padamu Mas! Kau sudah menghianati pernikahan kita..."


Farah terisak kencang, dadanya sesak sekali. Lantas tubuhnya merosot jatuh ke lantai bersamaan linangan air mata.


"Apa salah dan kurangku padamu Mas... Sehingga kamu tega sekali melakukan ini semua padaku?" tanyanya seraya menutup wajahnya. Tubuhnya berguncang hebat. Dia masih tak percaya yang ia lihat sendiri, apa yang di lakukan suaminya di belakangnya selama ini.


Doni menghela kasar nafasnya. Lantas memalingkan wajahnya yang sudah memerah padam.


"Baiklah, karna semua sudah terlanjur kau ketahui. Mas mengaku salah padamu... Susi memang kekasihnya Mas. Itu karna kau selalu memilih ingin tinggal bersama orangtuamu daripada terus menemani suamimu sendiri disini. Mas bosan hidup sendiri! Aku juga manusia yang butuh seseorang untuk bisa menemani dan melayaniku Farah!" bentaknya.


Sontak Farah mendongak. Lantas ia berdiri dan membalas tatapan nyalang dari suaminya.


"Alaaah! Menurutku, kaulah yang terlalu banyak alasan Farah! Kau tak lebih dari wanita manja! Apa kau tidak lihat. Banyak sekali wanita bersuami di luaran sana, mereka pandai mengurus suami dan anaknya tanpa harus mengeluh dan merasa lelah sepanjang hari. Harusnya kau belajar dari wanita-wanita mandiri seperti mereka. Bilang saja kalau kau itu memang malas untuk melayani suamimu ini!" tukasnya menunjuk kasar pada wanita yang baru saja dua tahun menjadi istrinya.


Doni akui, selama menikah dengan Farah tak sedikit pun dia mendapatkan perhatian yang lebih dari istrinya. Bahkan sebelum punya anak pun, Farah jarang sekali melayani kebutuhan perutnya. Dia selalu meminta Ibunya yang memasak makanan untuk dirinya. Doni merasa kesal, apa sebenarnya kelebihan Farah sehingga Doni mau menikahinya?


"Buat apa aku punya istri tapi tidak berguna sama sekali, masak makanan pun kau selalu saja meminta bantuan Ibumu. Kalau tinggal bersamaku kau tak pernah mau memasak alasan badanmu itu capek, lalu terpaksa aku pun harus pergi beli makanan matang di luar!" telaknya, dan berhasil membuat Farah bungkam.


Farah menelan ludahnya yang kering, hatinya seperti tercubit. Ucapan Doni mampu menelaknya. Sangat sakit memang, tapi Farah akui bahwa itu bagian dari kekurangannya. Farah memang tak pandai memasak.


Dulu sebelum menikah dia adalah pekerja kantoran. Hanya setelah menikah dengan Doni. Farah harus terpaksa resign. Dan dia jarang sekali melakukan pekerjaan rumah. Makanya, ia pun mencari alasan agar Doni tak memaksanya untuk terus tinggal merantau bersamanya.


Selain itu, Farah juga memiliki ambisi yang besar untuk menjadi bagian dari pemilik butik besar Sinta. Farah dan sahabarnya sama-sama mendapatkan keuntungan. Farah yang terlalu fokus mengurusi Fadil agar mau menikahi Sinta, sehingga dia melupakan kewajibannya sendiri sebagai seorang istri. Melupakan suaminya yang tinggal jauh darinya.

__ADS_1


Melihat Farah yang diam saja seakan tak berkutik lagi. Doni tersenyum meremehkannya.


"Jika kau memang sudah tak kuat lagi hidup denganku. Silakan meminta cerai, dengan senang hati akan ku turuti kemauanmu. Toh, Susi lebih segala-galanya darimu. Pagi dan siang dia selalu menyiapkan makanan untukku. Bahkan dia belum jadi istriku pun sudah sangat perhatian padaku. Tentu dia sangat jauh lebih baik darimu..." ujarnya yang kembali berhasil menghancurkan semua harga diri Farah.


Farah mencintai Doni, walaupun memang Doni belum sukses. Tapi dia tak pernah berniat untuk berpisah dari suaminya.


Farah menggeleng cepat kepalanya. Matanya semakin berkaca-kaca. "Tidak Mas, aku-aku tidak mau bercerai darimu..." ucapnya terbata-bata sambil memegang tangan suaminya. Namun Doni segera menepisnya lagi tak peduli. Lalu ia melengos masuk ke kamar mandi.


"Mas... Mas Doni tunggu!" Farah mengejar suaminya, hatinya menjadi panik kala tahu, jika suaminya ingin menyerah hidup berumah tangga dengannya.


****


"Aku ingin bicara denganmu..." Fadil menahan tangan Rubi agar tak masuk dulu ke dalam rumahnya, setelah wanita itu mengantarkan Randi pulang hingga depan rumah.


"Apa yang ingin kamu bicarakan sih Kak? Kenapa juga kak Fadil masih ada disini? Apa Kak Fadil tidak takut ya kalau nanti di pecat dari Rumah Sakit karna keluyuran di luar di saat masih jam kerja?!"


"Sebaiknya kau tidak bergaul dengannya lagi Rubi!" perintah Fadil mengalihkan pembicaraan.


Fadil sebisa mungkin harus tegas pada adik temannya itu. Entah kenapa dia tak suka jika Rubi terlalu dekat dengan Randi yang terlihat urakan.


"Apa?!" Rubi tersentak, rasanya dia ingin sekali tertawa kencang mendengar permintaan Fadil. Entahlah apa itu bisa di bilang sebuah permintaan atau perintah?


"Kenapa kau melarangku bergaul dengannya? Jangan bilang kalau itu demi kebaikanku lagi..."


Fadil menelan ludahnya kasar. "Em, tentu saja itu semua demi kebaikanmu Rubi. Semalam dia memberimu minuman keras, apa itu tidak cukup membuktikan bahwa lelaki itu sangat buruk untuk di jadikan kamu teman!" terang Fadil.


"Aku tahu siapa Randi sebenarnya. Jadi kau tak perlu lagi mengkhawatirkan aku Kak... Randi tidak seperti yang Kak Fadil sangkakan. Bahkan aku lebih nyaman dengan lelaki yang terang-terangan mengutarakan perasaannya daripada lelaki yang sok jaim dan plin-plan!" lontarnya dengan sedikit sindiran yang berhasil membuat Fadil menelan kasar ludahnya.


Rubi pun masuk ke dalam rumahnya dan meninggalkan Fadil yang masih terpaku disana. Memikirkan maksud ucapan Rubi yang seolah menyentil dirinya.

__ADS_1


Bersambung....


...****...


__ADS_2