Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku

Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku
Permohonan Farah Pada Rubi


__ADS_3

...BAB 69...


...Permohonan Farah Pada Rubi...


Rubi dan Farah kini telah duduk di sebuah kursi taman kecil tak jauh dari toko Lyra berada. Keduanya masih terdiam dan canggung untuk memulai bicara.


Sesaat Rubi terpana, melihat perubahan sikap Farah. Saat Farah masuk ke toko tadi, wanita itu sempat tersenyum manis menyapanya, seolah itu bukanlah Farah yang Rubi kenali selama ini.


"Emm... Mbak Farah mau, bicara apa denganku?" tanya Rubi hati-hati dan pelan, dengan menatap serius wajah calon kakak iparnya itu. Ya, Rubi dan Fadil memang sudah merencanakan akan menikah di bulan agustus nanti, tepatnya bulan kelahiran Fadil. Jadi waktunya tinggal tiga bulan lagi.


"Rubi, itu... Sebelumnya aku kesini ingin meminta maaf padamu... Soal sikap kasarku yang pernah aku lakukan dulu terhadapmu. Dan, bagaimana kabarmu sekarang? Lama sekali kita juga tak berjumpa ya..." tanya Farah yang kembali menyunggingkan senyumnya pada Rubi.


Rubi sontak tertegun, masih tak percaya apa yang dia dengar dan lihat sendiri. Farah yang selalu bersikap ketus dan dingin padanya, kini tak terlihat lagi.


Hei, apa benar yang di hadapanku ini adalah Mbak Farah? Dia, mi-minta maaf padaku? bahkan bertanya kabarku juga?! Kupingku ini tidak salah dengar kan?! gelagapnya dalam hati, semakin terheran.


"Em iya Mbak, tidak apa-apa aku sudah lama memaafkan Mbak kok... Kabarku baik, ya sangat baik Mbak, lalu bagaimana kabar Mbak Farah sendiri? Baik juga kan? Kapan Mbak pulang, kata Kak Fadil, katanya Mbak mau tinggal di Madiun lagi..." tanya Rubi sedikit berbasa basi, mencoba untuk mengakrabkan dirinya.


"Oh itu aku ke Madiun hanya kangen sama suamiku saja, dan hanya menginap sebentar disana, kemarin sore aku baru pulang kesini..." jawab Farah dan kali ini senyumannya sangat kaku sekali. Tiba-tiba saja perasaan Farah menjadi gelisah. Dia jadi khawatir kalau Fadil akan memberitahukan Rubi, soal perceraiannya dengan suaminya.


Rubi mengangguk dan membalas senyuman Farah. "Ooh begitu..."


"Ya begitulah, walau gaji suamiku sangat sedikit tapi aku akui dia seorang pekerja keras. Hahaha... Makanya itu kami terpaksa melakukan hubungan jarak jauh demi bisa mengumpulkan uang untuk masa depan Yoga..."


Rubi mengangguk mengerti, ya dia juga tahu soal itu dari Bu Marjuki, karna calon Ibu mertuanya itu sering menceritakannya padanya waktu mampir ke rumahnya Fadil.


"Oh ya Rubi, maksud kedatanganku kesini, sebenarnya ada hal yang ingin kubicarakan soal Fadil padamu..."


Rubi mendongak menatap lagi Farah dengan mimik terkejut, perasaannya kembali tidak enak saat Farah ingin membicarakan Fadil kepadanya.

__ADS_1


"Iya Mbak, kenapa dengan Mas Fadil?" tanya Rubi kembali gugup dan hatinya merasa tak tenang.


"Aku sudah tahu hubunganmu dan Fadil, dari Ibu... Ya, dari Ibu..." ulang Farah, mengangguk-anggukkan kepalanya. "Apa benar kamu mencintai adikku? Dan kalian merencanakan untuk menikah?"


Rubi menelan pelan ludahnya, lalu mengangguk kepalanya pelan. "I-iya Mbak itu benar..."


"Sebenarnya, aku tidak pernah melarang kamu mencintai Fadil. Namun, dulu aku sudah berjanji pada Sinta. Kami bukan hanya sahabat baik tapi sudah seperti saudara kandung..."


"Ma-maksudnya Mbak Farah, aku belum mengerti?" tanyanya dengan raut yang bingung. "Langsung saja Mbak, pada pokok permasalahannya... Sebenarnya apa yang ingin Mbak katakan padaku?!"


"Aku kesini, ingin memintamu agar membatalkan niatmu untuk menikah dengan adikku..." pinta Farah, kali ini tatapannya sangat serius.


Rubi sempat tersentak, namun dia tak begitu terkejut. Lantas ia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya kencang, memalingkan wajahnya ke samping menyembunyikan matanya yang sudah berkaca-kaca. Pantas saja Rubi sudah merasakan firasat tak enak saat kedatangan Farah.


"Oh, jadi ini maksud Mbak ingin menemuiku? Aku memang sudah punya firasat buruk sejak dulu, kalau Mbak pasti tak akan pernah merestui hubungan kami..." ucap Rubi, yang cepat-cepat mengusap air matanya yang sudah menetes keluar.


Farah menelan kasar ludahnya. Menundukkan kepalanya merasa bersalah. Tapi dia pun tak punya jalan lain lagi untuk bisa membalas hinaan dan penghianatan suaminya terhadapnya.


"Ini demi masa depan putraku, Yoga. Sinta sudah sangat mencintai Fadil sejak lama. Aku benar-benar mohon padamu tinggalkan adikku, aku yakin kamu pasti akan dapatkan pria yang lebih baik dari adikku. Biarkan Fadil untuk Sinta sahabatku..." pintanya lagi seraya menangkup kedua tangannya di atas dada, kembali memohon pada Rubi. Agar Rubi mau memenuhi keinginannya.


Rubi menatap getir Farah. Rubi tak menyangka jika Farah akan memohon seperti itu padanya. Haruskah Rubi mengorbankan cintanya lagi, dan merelakan Fadil untuk Sinta.


"Tapi Mbak, aku dan Kak Fadil saling mencintai dan sudah merencanakan akan menikah tiga bulan lagi. Bahkan kedua orangtua Mbak dan Kak Fadil sudah pernah datang ke rumah menemui Bundaku. Bagaimana aku bisa membatalkan itu semua, tak hanya aku dan Kak Fadil yang kecewa mereka semua juga pasti akan kecewa bila aku membatalkan tiba-tiba. Lalu apa maksudmu juga, bahwa ini semua demi putramu Mbak? Memangnya apa hubungannya ini dengan Yoga?" tanya Rubi memincingkan matanya tajam, dan menatap penuh penasaran pada Farah.


Farah tersentak, wajahnya tiba-tiba berubah pucat. "Em itu kau tak perlu tahu, itu urusanku dan kau tidak akan pernah mengerti walau aku ceritakan. Yang pasti kau harus tahu, bahwa aku sudah sejak lama menjodohkan Fadil dan Sinta. Aku hanya ingin Sinta yang menjadi adik iparku. Kami sudah sahabatan sejak kami sekolah..." jawab Farah dengan nada sedikit gugup.


Tiba-tiba Farah beringsut turun, lalu bersimpuh duduk di depan Rubi. Menundukkan kepalanya.


"Aku mohon Rubi, ini adalah permintaan terakhirku padamu. Aku hanya berharap padamu saja. Aku berjanji, setelah ini aku tak akan pernah mengganggumu lagi... Aku hanya ingin Sinta hidup bahagia, dia telah di langkahi oleh adik-adiknya menikah. Dia wanita baik dan sabar. Aku hanya ingin menolongnya karna dia sahabat terbaikku..."

__ADS_1


Rubi menghela nafasnya dalam, dadanya terasa sangat sesak. Sungguh permintaan Farah kali ini membuatnya sakit hati. Tapi melihat kesungguhan Farah dan memohon padanya dia pun sontak menjadi tak tega.


"Sudah Mbak, sudah... Kamu tidak perlu berlutut dan memohon di depanku..." Rubi mengangkat kedua bahu Farah untuk membantunya berdiri.


Farah menatap Rubi dengan raut sendu. Rubi bertambah iba. Rubi mengangguk kecil.


"Baiklah Mbak, nanti akan kupikirkan lagi soal ini... Karna aku juga perlu waktu untuk bisa menjelaskan dan memberi alasan yang tepat pada Kak Fadil, untuk membatalkan pernikahan kami..." ucap Rubi pelan.


"Benarkah itu Rubi?" Farah menatap binar Rubi.


"Ya Mbak..." angguk Rubi.


Farah semakin terharu, lalu memeluk Rubi dengan erat.


"Terimakasih, terimakasih banyak Rubi. Dan sekali lagi, aku minta maaf padamu. Aku berjanji tidak akan pernah melupakan kebaikanmu padaku..." lirihnya senang.


*****


Setelah berhasil membujuk Rubi, Farah pun menceritakan semua pada Sinta. Sinta pun senang tak terkira, dan mereka pun saling berpelukan.


"Benarkah, dia bilang begitu padamu?" tanya Sinta girang.


Farah mengangguk tersenyum tipis. Sebenarnya Farah pun tadi sempat tak tega meminta Rubi untuk membatalkan keinginannya menikah dengan Fadil. Tapi Farah juga tak ingin melihat suami dan istri keduanya itu hidup bahagia di atas penderitaannya. Farah harus bisa tunjukkan pada mereka kalau dia pun bisa sukses dan bahagia.


Sementara itu Rubi yang masih duduk di kursi taman seorang diri, hatinya kembali nelangsa. Akankah dia siap berpisah dari lelaki yang sudah banyak memberinya kenyamanan. Di dekat Fadil, Rubi merasa dirinya menjadi wanita seutuhnya. Mengenal Fadil, dia jadi percaya bahwa di dunia ini masih ada lelaki yang setia.


Rubi masih mengharapkan, jika Fadil-lah, lelaki terakhir satu-satunya yang akan selalu menemaninya hingga dia tua nanti, dan hingga raganya tak bernyawa lagi.


Bersambung....

__ADS_1


...****...


__ADS_2