
...BAB 55...
...Membuat Fadil Cemburu...
"Siapa dia Rubi?" tanya Ambar
"Ini Bu, Randi teman SMA Rubi..." sahut Rubi memperkenalkan Randi kepada Bundanya.
"Hallo Tante... Apa kabarnya?"
"Alhamdulillah baik..." Ambarwati mengangguk tersenyum pada Randi.
Sedang Fadil menatapnya tak suka, Fadil masih ingat bagaimana lelaki itu menyuruh Rubi untuk minum-minuman keras.
Ingin sekali rasanya Fadil memaki dan mengusirnya dari sini, namun rumah ini bukanlah rumahnya dan dia juga tak berkuasa melarang Rubi untuk tak bergaul dengan lelaki itu.
"Ayo ajak masuk ke dalam temanmu Rubi, sekalian ajakin sarapan sama-sama..." titah Ambar.
"Iya Bun, ayuk Ran.. Kita sarapan dulu!" Rubi mengajak masuk temannya dengan masih tetap mengacuhkan Fadil.
"Tan-Tante..." sahut Fadil terbata, Ambar menoleh.
"Em sebenarnya, Fadil tadi sarapan sedikit sekali. Tawaran sarapannya masih berlaku kan untuk Fadil? Hehehee..." sahutnya terkekeh-kekeh malu, sambil menggaruk kepala. Sebab barusan dia sempat menolak tawaran Ambar untuk sarapan bersama.
Mendadak dia jadi berubah pikiran, sebab melihat kedatangan lelaki itu. Walau bagaimana pun hatinya menentang Rubi berteman dengannya. Lelaki itu jelas tak baik untuk Rubi. Khawatir dia akan terus mempengaruhi pikiran Rubi ke jalan yang tidak benar.
Nyonya Ambar menggeleng kepala. "Kau ini! Dasar plin-plan. Tadi kan Tante sudah nawarin kamu makan. Ayo masuk, pake malu-malu segala!"
Ambar mencubit gemas lengan Fadil, sampai lelaki itu terbahak kencang. Lalu Ambar menarik tangan Fadil, dan mengajaknya masuk ke ruang makan.
"Kenapa ada lelaki itu disini?" tanya Randi setelah ia duduk di kursi makan.
"Dia ngembaliin mobilku..." jawab Rubi dengan mengambil piring kosong untuk Randi.
"Dia itu kakakmu atau apa sih? Semalam dia bilang, katanya kamu adiknya!"
"Bukan, dia itu teman kakakku! Sudah ayo makan, nanya-nanyain dia terus sih nggak jelas tahu!" gerutu Rubi. Randi membulatkan mata dan mulutnya.
"Ooh kirain, die abang loe!" celetuknya dengan khas bahasa betawi. Randi memang asli orang Jakarta.
"Abang abang, kalo disini abang itu merah tahu!" ralat Rubi cekikikkan. Randi pun ikut tertawa, mendengar bahasa jawa yang menurutnya sangat lucu di dengar.
Rubi dan Randi adalah teman sewaktu SMA dulu di Jakarta. Mereka adalah teman akrab. Begitupun dengan Wisnu yang sebenarnya juga teman dekatnya Randi namun Rubi malah jatuh cinta pada Wisnu. Kemanapun mereka bertiga selalu bersama. Namun saat mereka bertemu lagi di acara reunian, Randi terkejut sekaligus tak percaya mendengar kabar jika Rubi ternyata sudah berpisah dari Wisnu sejak lima bulan lalu.
__ADS_1
Kali itu acara Reunian memang di adakan di kota Surabaya, karna memang tempat bekerja Randi sekarang ada di Surabaya.
"Ehem-ehem..." Fadil berdeham di depan mereka. Membuat mereka berdua berhenti tertawa.
Lalu Fadil duduk di hadapan mereka berdua sambil matanya tak lepas menatap tak suka pada Randi.
Rubi terkejut karna Fadil tak jadi pergi tapi malah ikut duduk dan makan bersama. Randi pun tak kalah kaget, dia jadi canggung sendiri karna terus di awasi oleh Fadil. Seolah lelaki di hadapannya itu ingin sekali menerkamnya. Apa itu karna kejadian semalam?
Katanya tadi sudah sarapan, kok tiba-tiba ikut sarapan sih?! batin Rubi, mengulum senyumnya.
Rubi melirik Fadil yang terus saja melihat tajam ke arah Randi. Terlihat sekali bahwa Fadil tidak menyukai Randi. Lantas Rubi jadi ingin sekali memanfaatkan Randi untuk memanasi Fadil.
"Eh, Ran coba makanan yang ini deh... Kamu belum pernah nyoba kan? Ini makanan khas Aceh. Ini Bundaku loh yang bikin..."
"Masa sih, sini aku cicip dikit dulu...."
"Yah nih aku suapin..."
Randi mengerutkan keningnya karna Rubi ingin menyuapinya. Randi tahu bahwa hubungan mereka hanya seorang teman saja. Tapi Rubi cepat memberinya kode kedipan mata, Randi tersenyum langsung mengerti lantas menuruti keinginan Rubi. Sengaja Rubi menyuapi Randi di depan Fadil. Dia hanya ingin tahu bagaimana reaksi Fadil saat dirinya tengah dekat dengan seorang lelaki.
"Emm enak, ini enak sekali... Tante memang jago masak. Kayaknya Randi jadi kepengen nih jadi menantunya Tante kalau gini. Bisa di masakin enak setiap hari..." seru Randi memuji, membuat Ambar di dapur menggeleng tersenyum mendengarnya.
Fadil mendadak terbatuk, seolah tenggorokannya merasa gatal sekali setelah mendengar celotehannya Randi.
*****
Tiga jam dalam perjalanan, akhirnya Bus yang di tumpangi Farah telah tiba di kota Madiun. Farah lekas memesan taksi online dan pergi menuju kontrakan kecil suaminya dan dirinya.
Tak ada lima belas menit Farah sampai di depan rumah kontrakan. Dia memang sengaja tak memberitahukan suaminya kalau saat ini dia sedang berada di kota tempat suaminya mengais rezeki.
"Akan ku selidiki dirimu Mas. Awas saja kalau kau benar-benar main perempuan di belakangku!" geramnya dengan mengepal kencang tali tas selempang di tangannya. "Aku berjanji tidak akan pernah memaafkanmu..."
Nafas Farah tak berhenti memburu. Langkahnya cepat memasuki pekarangan rumah sederhana, tempat dia dan suaminya bersama dulu sebelum punya Yoga.
Farah memang memutuskan untuk tinggal bersama orangtuanya setelah melahirkan Yoga. Karna Farah baru kali itu punya anak dan belum bisa mengurusnya sendirian. Sedangkan Doni, suami Farah tidak mampu untuk menyewa pengasuh buat membantu Farah.
Farah berjalan mendekati pintu, kebetulan dia juga punya kunci cadangan kontrakan, dengan begitu dia bisa bebas untuk masuk.
Jam siang begini Doni memang masih di tempat kerja. Farah pun langsung masuk ke rumah yang tak ada siapa-siapa. Setelah meletakan tas berisi pakaiannya di atas kursi. Farah langsung masuk ke dalam kamar mereka. Tempat dia selalu memadu kasih bersama suaminya.
Tak ada yang berubah dari kamar itu. Semua tetap sama. Hanya saja kasurnya memang sedikit berantakan. Farah mengerti jika Doni memang tak ada waktu untuk merapikan kamar.
Farah pun terpaksa merapikan kasurnya mengganti sprei yang sepertinya sudah lama tak di ganti, karna baunya yang sudah apek. Farah menarik sprei kasur namun ia terkejut karna sebuah lingerie hitam ikut terbawa dengan sprei.
__ADS_1
Farah terbelalak, dadanya seolah kembali terhentak oleh benda keras. Nafasnya tersengal-sengal berat, Farah menggeleng kepala dengan mata berkaca-kaca merah.
"Mas, apa sebenarnya yang sudah kau lakukan di belakangku!" geramnya mencengkram kuat lingerie yang tak ia kenali di tangannya.
Saat ini wajah Farah memerah padam, tubuhnya bergetar sangking tak percaya melihat sebuah kenyataan di depannya.
Waktu berlalu begitu cepat, hari pun sudah mulai gelap. Doni baru saja pulang dari bekerja, dia mematikan motor hondanya dan memarkirkannya di teras rumah.
"Mas, ayo aku sudah lapar..."
"Iya sabar sayang, Mas juga sudah lapar..." sahutnya sambil mengeluarkan kunci kontrakan di dalam sakunya.
Doni pun memasukkan kunci ke lubang kunci dan memutarnya, namun ia terpaku dengan wajah terkejut ternyata pintunya tidak terkunci sama sekali.
"Mas ada apa?" tanya wanita berambut pirang itu terheran.
Doni menoleh pada kekasihnya. "Perasaan tadi pagi Mas sudah mengunci pintu kontrakan."
Wanita itu lantas mendorong pelan pintunya yang langsung terbuka. Mereka kembali saling menatap bingung dan heran.
"Ya sudah mungkin Mas tadi lupa kali tak menguncinya..."
"Iya kali ya..." Doni menggaruk kepalanya.
"Sudah yuk masuk Mas, Susi sudah nggak sabar pengen makan bakso yang tadi kita beli..." ajaknya sambil menggelayut manja di lengan Doni. Doni mengangguk setuju.
Lantas Doni menaruh dulu tas kresek berisi dua bungkus bakso istimewa di meja makan untuk pergi menyalakan lampu karna ruangannya gelap. Namun baru saja ingin mendekati saklar yang dekat diding luar kamarnya. Dia terkejut karna lampu tiba-tiba menyala sendiri.
Susi pun ikut terkejut yang baru saja ingin menurunkan bokong bulat dan seksinya di kursi tamu.
Doni terbelalak saat melihat seseorang yang keluar dari tirai kamarnya.
"Fa, Farah ka-kamu disini?!" gelagapnya.
Seperti melihat sosok hantu. Wajah Doni terlihat pucat sekali.
Farah melempar kasar lingerie hitam ke wajah suaminya.
"Jadi begini Mas! Selama aku tidak ada di sampingmu. Kau asyik main-main dengan wanita murahan ini! Hah..!!" berang Farah dengan suara lantang dan menggelegar, ia menunjuk wanita itu dan menatap tajam pada Susi yang malah tersenyum senang melihat kedatangan istri dari kekasihnya.
Bersambung....
...****...
__ADS_1