
...BAB 21...
...Masa Remaja Mereka Dulu...
Tiga hari berlalu, setelah Bu Rukanda mengusir Raffa dan tak lagi mengijinkan Lyra untuk bekerja di rumahnya sebagai pengasuhnya Keyla.
Lyra seolah kehilangan semangat hidupnya, sebab ia tak dapat lagi bertemu dengan Keyla. Bu Rukanda benar-benar melarang Lyra untuk menemui mereka lagi. Sehingga Lyra kerap kali selalu melamun di dalam kamarnya.
Bukan hanya memikirkan Keyla saja, tetapi juga tentang pernikahannya bersama Fadil setelah paksaan dari Ibunya, yang bahkan tanpa menunggu persetujuan Lyra dulu. Bu Rukanda hanya khawatir jika putrinya akan menjalin hubungan lagi bersama mantan kekasihnya.
"Mau tak mau, kamu harus terima Fadil jadi suamimu. Karna bagaimanapun Ibu tak kan pernah setuju jika kamu masih berhubungan dengan lelaki playboy seperti dia! Meski kamu bilang, hubungan kalian hanya sekedar pengasuh dan juga majikan! Tapi Ibu tak akan mudah percaya begitu saja dengan perkataanmu itu!" cecarnya tegas.
Bu Rukanda tak main-main dengan keputusannya. Dia benar-benar akan menikahkan Lyra dan Fadil bila perlu secepatnya dilakukan. Karna baginya Fadil adalah pria baik yang sudah pasti serius menikahi Lyra. Selain itu masa depan Lyra pun akan terjamin cerah bila menjadi istrinya seorang Dokter muda dan pintar seperti Fadil.
"Tapi Bu, bagaimana dengan Keyla? Dia masih butuh aku!" lirih Lyra yang masih saja memikirkan nasib Keyla.
"Dia butuh kamu, atau kamu yang masih ngarepin lelaki nggak bener itu hemm?!" tuding ibunya lagi seraya menggeleng kepalanya.
"Jangan kira Ibumu ini tidak tahu apa-apa, nduk! Ibu bisa lihat dari matanya, kalau lelaki itu lagi berusaha ngedeketin kamu lagi. Dan kamu juga masih ada cinta kan sama si Raffa itu?!" tudingnya lagi menatap Lyra dengan sorot mata yang tajam. "Sudah, lakukan saja apa perintah Ibu, jika kamu masih sayang sama Ibu dan tak ingin buat Ibu marah lagi sama kamu!" tegasnya lagi.
Setelah bicara itu, Bu Rukanda pun berlalu dan meninggalkan Lyra di kamarnya. Menutup pintunya dengan kasar.
Lyra menahan sesak di dadanya. Tak ada pilihan lain lagi, selain pasrah dan menerima semua keinginan Ibunya. Mungkin menikah dengan Fadil akan membuat hati Ibunya bahagia. Sebab Bu Rukanda yang sudah terlanjur kecewa dengan perlakuan Raffa kepada Lyra dulu, dengan tega mempermainkan hati putrinya. Padahal dulu pun, Bu Rukanda berharap penuh pada Raffa untuk menjadi menantunya satu-satunya.
"Bagaimana sekarang kabar anak itu? Dia pasti sangat merindukanku... Ya Tuhan, aku sudah terlanjur menyayangi anak itu. Rasanya perpisahan ini begitu berat untukku..."
Lyra membuka galery fotonya di ponselnya. Memandang sendu foto-foto kebersamaan dirinya bersama Keyla. "Tante rindu sekali sama kamu Key..." lirihnya menangis dan terisak kecil.
*****
"Pokoknya Keyla nggak mau makan, Keyla nggak mau sekolah! Keyla maunya ketemu sama Tante Raraaa!" teriaknya menangis kencang, lantas melempar semua barang yang ada di kamarnya.
"Aduh udah Non jangan di lempar-lempar terus! Nanti barangnya Non rusak semua!" cegah Bi Sumi seraya memunguti barang yang Keyla lempar barusan ke lantai. Seperti keropak dari kaleng dan wadah berisi crayon gambar. Buku-buku sekolah pun anak itu lempar tanpa perasaan.
"Biariin aja! Keyla nggak peduli!" timpalnya berang. Keyla lantas berlari keluar kamar dan turun ke bawah.
"Keylaa kamu mau kemana Nak?!"
"Key mau ketemu Tante Raraa!" Keyla keluar rumahnya dengan masih memakai baju tidur.
"Keylaa!!" Ambar berteriak memanggil-manggil cucunya yang sudah keluar rumah.
Sedang Raffa memang baru saja mau berangkat ke kantornya. Masih di mobil, sebab dia tak jadi ke Bandung hari itu. Dia pun meminta Kakak lelakinya Rano untuk menghandle dulu perusahaan mereka di Bandung. Selama keadaan hati putrinya membaik lagi.
__ADS_1
Setelah Raffa memberitahukan kabar tak menyenangkan soal Lyra yang tak akan lagi jadi pengasuhnya, Keyla tak terima dan sangat marah. Dia kembali uring-uringan tak jelas sikap manisnya seolah hilang dan kembali susah di atur seperti sedia kala.
"Terimakasih Kak, maaf karna Keyla lagi-lagi tak bisa ku tinggalkan..." ujarnya lesu.
["Kenapa, bukankah Bunda bilang sudah dapat pengasuh baru untuk Keyla?!"]
"Iya, tapi dia sudah tak lagi bekerja disini..."
["Wah wah, apa dia juga sudah tak betah mengurus anakmu itu!"] celoteh Rano tertawa meledek, yang sudah pasti hafal karna tak ada satupun yang bisa bertahan menjadi pengasuh keponakannya itu.
Keyla adalah salah satu anak yang paling istimewa dari kebanyakan anak pada umumnya, satupun tak ada yang mampu mengambil hatinya bahkan keluarga terdekat pun sulit untuk mengendalikan sifatnya yang memang keras dan nakal itu.
"Bukan Kak, dia berhenti bekerja karna, akan segera menikah..." ucap Raffa dengan suara yang tersendat-sendat. Raffa mencoba menahan rasa sakitnya di hati. Air mata pun meleleh keluar tanpa ia minta.
Sejak pengusiran Bu Rukanda padanya. Raffa benar-benar frustasi. Dia tak menyangka sama sekali jika Bu Rukanda akan semarah itu padanya.
Tujuh tahun lalu, Raffa yang memang sering mampir dan main ke rumah Lyra hanya untuk menghilangkan rasa jenuhnya. Jika dia dan Lyra libur semester. Baginya makan dan minum di rumah Lyra sudah biasa, bahkan numpang mandi pun, Bu Rukanda sama sekali tak keberatan. Kecuali bila Raffa menginap di rumahnya, Bu Rukanda jelas tak akan mengijinkannya. Karna khawatir itu akan jadi gunjingan para tetangga. Sebab Lyra dan Raffa belum menikah.
"Nak Raffa ayo makan dulu, masakannya sudah matang." titah Bu Rukanda yang melihat Raffa masih rebahan di depan televisi rumahnya. Layaknya rumah sendiri.
"Oke siap Tante!" Raffa pun beranjak dari kursi kayu panjang dengan semangat sebab dari siang tadi perutnya memang sudah lapar.
Lalu Raffa bergegas ke dapur. Melihat Lyra yang masih sibuk mencuci alat masak tadi yang di pakai. Gegas Raffa pun mendekat dan dengan sengaja menggodanya. Menggelitiki pinggang Lyra hingga Lyra terkaget dan menggerutunya.
Raffa tertawa terpingkal-pingkal. Melihat Lyra yang marah karna kegelian.
"Kebiasaan sih kamu! Bu Raffa niiihh!!" teriak Lyra mengadu pada ibunya. Bu Rukanda hanya tersenyum menggeleng melihat tingkah mereka berdua.
"Raffa udah dong! Kerjaan ku nggak selesai-selesai kalau kayak gini!" gerutunya lagi.
"Habisnya kamu tuh lucu, kalau lagi nyuci serius sekali!" celotehnya mengacak rambut Lyra yang masih pendek sebahu.
Lantas dengan usilnya Raffa mengambil busa sabun yang masih menggumpal di tangan Lyra lalu mengusapnya ke pipi juga hidung Lyra dengan busa itu.
"Raffaaa, ya ampuun kamu ngeselin banget sih!!"
Lagi, Lyra kesal dengan kejahilan Raffa, lalu membalasnya lagi hingga mereka berdua tertawa senang dan kejar-kejaran di ruangan dapur yang sempit. Karena di jadikan satu dengan ruang makan.
Bu Rukanda ikut tertawa karna terhibur dengan sepasang remaja yang saling jatuh cinta itu. Lantas menyudahi perilaku mereka yang hanya akan membuat dapurnya jadi berantakan saja.
"Sudah-sudah berantemnya! Ayo kita makan dulu..." titahnya.
Keduanya pun berhenti dan saling senggol kayak kucing dan anjing.
__ADS_1
"Terimakasih Tante, makanan Tante selalu enak dan nomer satu di dunia..." puji Raffa pada Bu Rukanda.
Bu Rukanda hanya tersenyum menanggapi celotehan Raffa, mereka memang sangat dekat bahkan seperti Ibu dan anak.
"Huu ngerayu aja tuh bu... Emang dia pengen makan gratis aja disini!" canda Lyra seraya mencebikkan bibirnya ke arah Raffa. Raffa pun menyengir sendiri dan melahap makanan yang di buat Ibunya Lyra. Tanpa peduli omongan Lyra padanya.
"Lyra!" Bu Rukanda menepuk punggung tangan Lyra agar berhenti bicara untuk tak menyakiti perasaan Raffa walau itu hanya sebuah candaan. Karena selama ini Raffa pun telah berjasa, diam-diam lelaki itu selalu memberikan Ibunya uang untuk belanja dan kebutuhan sehari-hari mereka tanpa sepengetahuan Lyra.
Raffa tahu jika Lyra hanya jualan bisnis kecil-kecilan bahkan penghasilannya menurutnya tak cukup untuk hidup mereka berdua.
"Makan yang banyak ya Nak Raffa, agar kamu bisa tidur nyenyak di kosan."
"Oke Tante!"
Raffa pun pamit setelah makan malam bersama Lyra dan Ibunya. "Aku pulang, besok dua hari lagi aku jemput kamu kemari..." ujarnya. Karna dua hari lagi mereka memang harus masuk kuliah lagi.
Lyra mengangguk tersenyum. "Iya, tapi awas ya kamu jangan ngebut-ngebut di jalan."
"Eh, apa itu?!" Raffa menunjuk ke atas langit malam itu.
"Apa?"
Cup
Lyra terkejut karna Raffa tiba-tiba mengecup pipinya dengan singkat dan cepat. "Selamat malam, cepat tidur dan jangan lupa mimpikan aku malam ini!" ucapnya berbisik di telinga Lyra seraya tersenyum lebar.
Lyra yang masih terpaku di tempatnya berdiri, mengusap pipinya yang sudah memerah panas. Dia benar-benar tak menduganya akan mendapatkan ciuman pertama yang Raffa berikan.
Raffa pun tersenyum geli melihat ekspresi Lyra, lalu mengacak-ngacak rambutnya.
"Sudah masuk ke dalam gih, di luar sangat dingin!" titahnya. Lyra mengangguk, dan mengulum senyumnya.
Perlakuan Raffa dulu memang sangat romantis, walau pun memang sedikit jahil. Tapi itulah yang membuat Lyra jatuh cinta padanya dan tak bisa melupakannya.
Kebaikan sebesar apapun yang pernah Raffa berikan dulu ternyata tak mampu menghilangkan rasa kecewa dari hati Lyra dan juga Ibunya pada Raffa.
Lamunan Raffa buyar saat Keyla memukul kasar jendela kaca mobilnya.
"Key..." Raffa tersentak dan lekas menutup teleponnya.
"Papaa.. antar Key ketemu Tante Rara, sekarang juga!" rengeknya dengan mata yang sudah memerah karna terus menangis.
Bersambung...
__ADS_1