Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku

Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku
Siasat Sinta


__ADS_3

...BAB 61...


...Siasat Sinta...


Keesokan harinya, Sinta pergi berkunjung ke rumah Fadil untuk bertemu dengan kedua orangtuanya. Mungkin dengan cara Sinta mendekati kedua orangtuanya, Fadil bisa kembali padanya.


Kedua orangtua Fadil memang sudah tahu jika mereka berdua tengah pacaran, tapi sampai sekarang pun belum ada kepastian kapan Fadil akan menikahi Sinta?


Sinta turun dari taksi, karna saat ini mobilnya masih ada di bengkel. Lalu ia berjalan menyebrangi jalan dan langsung menyapa Bu Marjuki yang terlihat sedang memomong Yoga di teras rumah.


"Sore Bu..."


"Soree... Eh Sinta! Sini Nak!" seru Bu Marjuki tersenyum melambai ke arah Sinta yang berada di luar pagar rumahnya.


Sinta memasuki pagar, setelah memberi salam pada Bu Marjuki yang sedang sibuk mengasuh Yoga sambil memberinya susu dalam botol bayi.


Namun Yoga terus saja menangis dan menolak susu yang di berikan Neneknya. Sinta pun menghampirinya bertanya.


"Yoga kenapa Bu?"


"Dari malem Yoga ini rewel terus Nak Sinta. Mungkin sedang kangen sama Mamanya. Farah juga belum bilang kapan dia mau pulang lagi..." keluhnya.


Bu Marjuki menghela nafas panjang. Tak hanya lelah mengasuh cucunya sepanjang hari sendirian, terlihat juga gurat kecemasan di wajah tuanya. Selama Farah di Madiun, putrinya itu juga belum menceritakan apa-apa kepadanya. Namun perasaan Ibu lebih peka, walaupun anak mereka bilang sedang baik-baik saja. Tetap saja Bu Marjuki merasa jika ada yang tidak beres dengan rumah tangga putrinya saat ini.


"Ya Tuhan... Kasihan sekali. Sini Bu biar Sinta saja yang gendong Yoga..." Sinta mengambil alih memangku Yoga dari gendongan Bu Marjuki. Seraya memberikan bingkisan makanan untuk Ibu temannya itu. "Ini Bu buat Ibu dan Bapak.."


"Terimakasih banyak Nak Sinta aduh jadi repot-repot nih bawaain oleh-oleh segala. Kalau begitu Ibu permisi dulu ke belakang sebentar ya. Dari tadi Ibu terus menahan buang air kecil belum sempat ke kamar mandi. Bapak masih ada di kantor kelurahan belum pulang. Fadil juga nih, belum pulang udah jam segini. Tumbenan sekali anak itu..." keluhnya.


"Iya Bu. Mumpung ada Sinta main kemari... Biar Yoga saja Sinta yang pegang..." ujarnya.


Bu Marjuki tersenyum senang, karna akhirnya ada juga yang membantunya mengasuh Yoga. Lalu wanita paruh baya itu masuk tergopoh-gopoh ke dalam rumahnya. Sinta pun mencoba menenangkan Yoga dan memberinya susu.


"Ayo di mimi dulu susunya sayang... Uh kasihan sekali sih kamu, masih kecil di tinggal Mama Papamu lagi. Doain Mamamu ya Yoga, supaya Papamu baikan lagi sama Mamamu, lalu Mama Farah cepat pulang kemari lagi... Dan, Om Fadil juga mau balikan lagi sama Ate..." celoteh Sinta, lalu tersenyum licik penuh siasat.


Di dalam pangkuan Sinta, Yoga mulai berhenti menangis. Mungkin karna Sinta adalah sahabat Farah, dan Sinta juga sudah sering menggendong Yoga, jadi bayi mungil itu merasa nyaman di pangkuan Sinta. Yoga pun dengan lahap mengisap susu botolnya hingga habis tak bersisa dan tak lama kemudian ia pun terlelap tidur.

__ADS_1


"Anak pinter..." Sinta pun melangkah pelan masuk ke dalam rumah Fadil. Karna waktu mau memasuki maghrib.


Bu Marjuki yang baru saja membuat teh hangat untuk Sinta, terheran melihat Yoga yang sudah tertidur di gendongan Sinta.


"E-eh Yoga sudah tidur toh?" sahutnya pelan.


"Iya Bu..." angguk Sinta tersenyum.


"Ya Allah, susunya juga udah abis.." Bu Marjuki senang melihat isi botol Yoga kosong di meja. "Nak Sinta emang pinter banget kalau udah ngasuh Yoga. Ibu benar-benar ketolong nih ada kamu, sering-sering main kesini ya..." pujinya. Sinta pun tersenyum bangga.


"Kan Sinta udah terbiasa melakukan ini Bu, dulu sering banget bantuin Ibuku ngasuh ponakan. Keponakan dari adik-adikku..." ujarnya dengan wajah mendadak berubah muram. Sinta pun menghela nafasnya dalam.


Seketika Bu Marjuki menatap sendu pada Sinta yang langsung mengerti, karna dulu Farah pernah cerita padanya, jika Sinta sahabatnya itu telah di langkahi oleh kedua adik perempuannya menikah.


"Yang sabar ya Nak Sin, semoga saja Fadil cepat-cepat nikahi kamu. Supaya nanti kalian bisa beri Ibu cucu juga..." ucap Bu Marjuki memberi semangat, tanpa ia ketahui sebenarnya Fadil dan Sinta sudah putus kemarin.


Semalam setelah pulang dari rumah Rubi, Fadil memang belum sempat bercerita tentang putus hubungannya dengan Sinta pada Ibunya. Fadil masih bingung harus mulai menjelaskannya darimana? Apalagi semalam itu Ibu dan Bapaknya sudah tidur bersama Yoga, terlihat sekali jika kedua orangtuanya sangat lelah dan Fadil tak tega membangunkannya.


Di dalam hatinya, Sinta senang sekali karna Ibunya Fadil masih belum tahu tentang putusnya hubungan mereka.


Sinta berharap Ibunya Fadil akan mendukungnya, dan memaksa Fadil untuk menikahinya.


"Syuuut, Nak Sinta tak boleh bicara begitu. Siapa bilang kamu tak cantik..." Bu Marjuki jadi ikut sedih melihat calon mantunya, lalu mengusap bahunya.


"Tapi memang begitu kenyataannya 'kan Bu.. Lihat aja sampai sekarang Mas Fadil belum juga mau ngajak Sinta nikah..." isaknya tersedu-sedu.


"Sabar ya, mungkin Fadil belum bisa move on juga dari Lyra. Ya, dulu emang Fadil kan cinta banget sih sama Lyra. Kan Nak Sinta juga tahu... Maaf bukan Ibu menyinggung mantan calon menantu Ibu dulu. Tapi kamu tenang saja, Ibu nanti pasti akan bujuk lagi Fadil supaya cepat-cepat nikahi kamu... Ibu juga nggak mau kalau Fadil kelamaan membujang. Kalian juga sudah sama-sama dewasa. Apalagi kamu nih udah cocok banget punya anak..." ujar Bu Marjuki terkekeh.


Sinta terbelalak senang. "Aah beneran Bu?!" sangking girangnya Sinta ingin melonjak dan tak sadar masih memangku Yoga. Yoga pun menggeliat nyaris saja terbangun.


"Syuuu syuu... Cup cup cup..."


"Ya udah ayo tidurin aja dulu Yoganya di kamar, nanti kita ngobrol-ngobrol lagi.." titahnya.


Sinta mengangguk setuju, lalu membawa Yoga ke kamar Farah dan menidurkan bayi mungil itu di dalam box bayi.

__ADS_1


Sinta dan Bu Marjuki pun kembali melanjutkan obrolan mereka, namun kali itu mereka mengobrol di dapur sambil menyiapkan makan malam.


Beberapa jam kemudian, terdengar suara deru mobil Fadil yang masuk ke halaman rumah. Juga motor milik Pak Marjuki.


"Wah kayaknya tuh Bapak dan Fadil sudah pulang. Pas banget kita udah selesai masak juga. Yuk Sin, kita ke depan dulu..." ajak Bu Marjuki.


"Iya Bu..."


Sebelum menyusul Bu Marjuki ke depan, Sinta mencuci tangannya terlebih dulu dan menggantung lagi celemek di dinding dapur. Lalu berjalan ke ruang tamu turut menyambut kepulangan mereka.


Fadil dan Bapaknya menyahut memberi salam dan di jawab cepat oleh mereka. Sontak Fadil terkejut saat melihat Sinta ada di rumahnya.


"Sinta?!" gumamnya dengan dahi mengerut tak suka.


Sinta tersenyum manis sambil menggandeng lengannya Bu Marjuki di sisi pintu setelah mencium punggung tangan Pak Marjuki.


"Mas... Maaf aku tadi tak bilang dulu kalau mau kesini..." ujarnya seolah tak terjadi apa-apa dengan mereka.


"Iya Dil, untung saja ada Sinta tadi bantuin Ibu ngasuh Yoga. Dari malem kan Yoga rewel terus. Tadi pas ada Sinta eh, Yoga langsung diem dan mau minum susunya..." lanjutnya senang karna adanya Sinta, semua pekerjaan rumahnya jadi ringan.


Fadil mengangguk pelan dan datar. "Oh, em ya udah Fadil ke kamar dulu Bu, mau mandi dulu..." Fadil tak menjawab pertanyaan Sinta dia pun lekas masuk ke kamarnya.


"Iya Dil, nanti kalau udah mandi kita makan bareng..." perintah Ibunya.


"Yaa..."


"Ayo Pak, Bapak juga..." Bu Marjuki lantas mengambil tas kerja suaminya dan menggandengnya, lalu sepasang suami istri paruh baya itu masuk sambil bergandengan ke dalam kamar.


Sinta tersenyum miring, menyedekapkan kedua tangannya di dada.


"Kali ini kamu tak akan pernah bisa lepas dariku Mas... Aku yakin orangtuamu pasti akan mendesakmu untuk menikahi aku." gumamnya dengan senyuman menyeringai.


Bersambung....


...****...

__ADS_1


__ADS_2