
...BAB 72...
...Rubi Pergi Tanpa Pesan...
"Rubi, Rubi ..."
"Hah, i-iya Kak?!"
"Kenapa kamu jadi diam?!" tanya Fadil mengerutkan keningnya terheran. Rubi menggeleng cepat dan tersenyum kikuk
"Oh, ti-tidak ada apa-apa Kak ..." gugupnya "Aku hanya kepikiran saja, kasihan sama nasib Yoga nantinya, kalau Mbak Farah sampai bercerai dari suaminya ..." ujarnya ikut prihatin.
Fadil menghela nafasnya dalam, memandang sendu tanaman bunga yang berada di belakang rumah calon istrinya tersebut.
"Ya mau bagaimana lagi aku tidak bisa berbuat apa-apa, tapi ini jalan yang terbaik untuk kakakku. Aku rasa masalah yang menimpa rumah tangga Mbak Farah saat ini, nyaris sama dengan masalahmu dengan mantan suamimu dulu? Ya, kan..." ujar Fadil seraya melempar senyuman pada Rubi.
"Dan aku yakin sekali, tidak ada wanita yang akan sanggup bertahan dengan suami tukang selingkuh seperti mereka, kakak iparku dan juga mantan suami gilamu itu!" lanjutnya yang langsung tertawa terbahak-bahak.
Rubi tersenyum kecut, sungguh dia malas sekali kalau mengingat lagi pria yang sudah menorehkan luka di hatinya.
"I'm sorry, I didn't mean to remind you of your ex-husband ..." ucap Fadil menyesal.
Rubi menggeleng tersenyum. "It's okay, don't worry about me ..." jawab Rubi cepat.
Fadil mengusap pipi Rubi dengan lembut, lalu mendaratkan bibirnya ke kening Rubi. "Sudah mulai larut malam, apa kita jadi dinner berdua?"
Rubi tersipu malu, lalu mengangguk kepala. Malam itu mereka berdua tak jadi makan malam di Restoran. Sebagai gantinya mereka makan bersama di rumah Ambar, dengan hidangan yang sederhana. Mie goreng spesial khas Malaysia buatan Rubi.
Dan malam itu adalah pertama kalinya Rubi memasak masakan untuk Fadil, dan mungkin untuk terakhir kalinya juga Rubi makan bersama dengan Fadil, kekasihnya.
Rubi menatap sendu Fadil yang begitu lahap menikmati masakannya. Hatinya mencelos nyeri, jika seandainya Fadil tahu. Kalau Rubi akan berniat pergi meninggalkannya setelah ini.
Sekarang ia tahu maksud Farah memintanya untuk memutuskan Fadil demi Yoga.
__ADS_1
Maafkan aku Kak Fadil, aku harus pergi ... Maaf, sepertinya kita tidak bisa hidup bersama. Semoga Kakak dapat bahagia bersama Sinta nanti .... Lirih Rubi dalam hatinya pilu.
****
Satu bulan berlalu, akhirnya Farah pun telah resmi bercerai dari suaminya. Namun, Doni masih tak terima jika Yoga berada dalam asuhan mantan istrinya, padahal hakim sudah memberi keputusan.
"Dengar, jika dalam tiga bulan ini kau belum juga mendapatkan penghasilan melebihi dari penghasilanku. Mau tak mau kau harus serahkan Yoga kepadaku!" ancam Doni tak menyerah, seraya tersenyum mengejek.
Setelah hakim mengetuk palu, mereka berdua masih memperdebatkan hal itu di luar gedung pengadilan agama.
Farah menahan amarahnya dan ketika ingin membalas ucapan Doni, Fadil dan Sinta menghampiri mereka.
"Ada apa lagi ini? Kenapa kau masih saja mengganggu Kakakku, heh?" hardik Fadil mendorong bahu mantan kakak iparnya.
"Aku hanya ingin memperingatkan kakak tersayangmu ini. Berikan Yoga putraku jika dia sudah tak sanggup lagi membiayai hidupnya!" tunjuk Doni pada Farah. "Dan kau, kau juga tak perlu sok-sokan menjadi pahlawan untuk anakku! Aku masih sanggup menafkahi Yoga!" cecar Doni seraya membalas mendorong bahu Fadil.
Fadil pun tertawa sinis. "Hahaha, tentu saja aku akan jadi pahlawan untuk keponakanku sendiri, karna selama ini aku bekerja dari hasil usahaku sendiri. Tidak seperti kau yang hanya mengandalkan wanita untuk memanfaatkan kekayaannya saja! Cuih menjijikkan sekali, dasar lelaki tak punya harga diri!" makinya dengan gemas.
"Ya, kau memang pantas dihina karna kelakuanmu yang sangat menjijikan itu! Lelaki yang tidak tahu diri!" sembur Fadil lagi.
Doni pun tak kuat menahan emosi, dia hendak memukul Fadil tapi segera dihalangi oleh Sinta dan Doni spontan menahan tangannya lagi. Hingga tertahan di udara.
"Hentikan!" teriak Sinta menatap tajam Doni. "Kau salah meremehkan Farah. Sekarang, Farah adalah pemilik baru yang sah Deluxe Boutique. Jadi kau tidak perlu khawatir lagi memikirkan nasib putramu, wahai Pak Doni. Karna Yoga sudah pasti akan hidup terjamin bersama Ibunya ..." ucap Sinta tersenyum mengejek.
Farah dan Fadil pun terkejut menatap Sinta tak percaya.
"Bukankah itu nama butikmu?" remeh Doni. "Huh, aku tak percaya. Bilang saja kau hanya ingin melindungi temanmu, makanya kau mengatakan itu agar aku tak bisa membawa Yoga!"
"Jika kau tak percaya, akan kuperlihatkan buktinya padamu!"
Plok plok plok
Sinta menepuk tangan. Seorang wanita muda berkacamata, tiba-tiba berjalan menghampirinya lalu memberikan surat yang berisi pengalihan kepemilikan Deluxe Boutique yang baru di tangannya pada Sinta.
__ADS_1
"Lihatlah ini, aku sudah serahkan aset berharga satu-satunya milikku pada Farah, sahabat terbaikku. Jadi kau mau apa lagi? Pergilah dan jangan pernah kau usik lagi hidup Farah maupun Yoga. Biarkan mereka hidup bahagia tanpa ada lelaki seperti dirimu ..." terang Sinta dengan jumawanya.
Doni mendengus kasar, membaca surat itu tak percaya. Lalu melemparnya dengan kasar di depan Farah.
"Huh, baik. Aku akan pergi. Untuk kali ini kau menang Farah! Tapi ingat satu hal, aku masih punya hak untuk melihat putraku sendiri!" tunjuknya, lalu setelah mengucap itu Doni pun pergi dengan kekalahannya.
Farah tersenyum tipis. Matanya berkaca-kaca. Lantas ia memeluk Sinta. "Terimakasih banyak Sinta, kamu sudah menyelamatkan hidupku ..." isaknya tersedu-sedu.
Sinta membalas pelukan Farah. "Tentu saja, ini sudah kewajibanku untuk menolong sahabat terbaikku, tak akan kubiarkan kamu hidup menderita Farah..." ujar Sinta seraya mengusapi punggung sahabatnya.
Fadil tertegun melihat kedua sahabat yang saling berpelukan. Lantas menghela nafasnya lega. Akhirnya masalah rumah tangga kakaknya telah usai. Semoga tak ada lagi perselisihan setelah ini.
****
Dua bulan kemudian. Tepatnya di bulan Agustus. Fadil sudah tak sabar ingin segera meminang Rubi sebagai istrinya.
Setelah makan malam itu, Rubi meminta Fadil untuk tidak menemuinya dulu sampai hari pernikahan mereka tiba. Tak ada firasat sama sekali yang Fadil rasakan. Jika saat itu Rubi sebenarnya sedang memanfaatkan situasi itu untuk bisa pergi. Pergi meninggalkan Fadil diam-diam dan untuk selama-lamanya.
Hingga satu hari. Penghuni rumah pun gencar, tak ada yang mengetahui kemana Rubi pergi. Padahal pagi itu adalah hari pernikahannya dengan Fadil.
"Jangan bercanda kamu!" Fadil shock mendengar berita dari Raffa, yang mengatakan jika adiknya tiba-tiba menghilang. Padahal semalam itu Rubi masih ada berkumpul bersama keluarganya.
"Bagaimana bisa kamu kehilangan adikmu! Jelas-jelas kalian tinggal satu rumah!" teriak Fadil di telepon. Tak percaya, jika calon istrinya pergi tanpa memberinya kabar.
Bersambung....
...****...
Hai readersku, sebelumnya Author benar-benar minta maaf karna baru bisa update lagi... 🙏🙏🙏🙏🤧🤧🤧
Author hiatus dulu selama tiga bulan kemarin... InsyaAllah Cerita "Pengasuh Anakku Mantan Kekasihku..." ini akan segera author tamatkan...
Mohon dukungannya ya... 🥰🥰🥰
__ADS_1