Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku

Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku
Farah Membenci Rubi


__ADS_3

...BAB 43...


...Farah Membenci Rubi...


"Ibu, dia itu sudah buat putra kesayangan Ibu nyaris mati, tahu! Heran, kok dia nggak punya malu sama sekali. Sok-sokan dekat sama keluarga kita lagi!" sinisnya.


Rubi tersentak kaget mendengar umpatan kasar dari mulut Farah yang membicarakannya. Matanya berkaca-kaca. Kini dia tahu kenapa Farah seperti tak menyukainya. Ternyata inilah penyebab Farah yang tak pernah ramah setiap kali bertemu dengannya.


"Suuutt jangan kenceng-kenceng ngomongnya, Farah! Nanti Nak Rubi bisa dengar omonganmu..." tegur Bu Marjuki dengan suara yang sangat pelan. Dahi keriputnya mengerut tak suka dengan omongan judes putrinya.


Beliau tak habis pikir, kenapa Farah putrinya itu selalu saja tak suka jika Fadil tengah dekat dengan seorang perempuan yang di sukainya. Dulu Lyra sekarang Rubi.


"Huh, biarin saja dia denger Bu! Bagus malah kalau sampai denger. Biar dia tahu diri, gara-gara mantan lakinya yang bejad itu adikku jadi lama cuti kerja kan! Coba Ibu bayangin. Bagaimana kalau misalkan putra Ibu sampai di berhentikan bekerja di Rumah Sakit?! hmm.."


"Dan jika itu sampai terjadi. Ini semua karna wanita itu Bu, kalau saja Fadil dulu tak ikut campur dengan rumahtangganya yang nggak bener itu, nggak bakalan tuh mantan lakinya sampe dendam sama Fadil!" timpalnya lagi.


Rubi menutup mulutnya. Tergugu. Farah benar, seharusnya Rubi tak minta Fadil untuk membantu mengurusi perceraiannya dengan Wisnu saat itu.


Rubi tak kuat mendengarnya, dan memutuskan untuk kembali ke dapur saja. Namun saat ingin melangkah pergi. Rubi melihat anak Farah yang berlari riang dengan menaiki baby walker di ruang tamu sendirian. Dengan kaki berjinjit bayi kecil itu mengulurkan tangan mungilnya untuk meraih gantungan kunci pintu, dan ingin mengambilnya.


Pintu depan rumah yang memang sengaja terbuka pun mendadak tertutup karna ikut terdorong. Sehingga baby walker yang di tumpanginya condong ke depan mau jatuh.


Rubi terbelalak lantas berlari ingin menolong balita itu agar tak ikut terjatuh.


"Awaaaasss...."

__ADS_1


Sayangnya Rubi terlambat, bayi itu sudah ikut terjungkir dan jatuh dari baby walker, hingga keningnya terbentur keras ke lantai keramik. Sontak bayi itu menangis kencang sekali karna kaget.


Rubi buru-buru menggendongnya. "Ya ampun Dek, maaf Tante telat nolongin kamu!" Rubi panik, menimang-nimang bayi itu agar berhenti menangis.


Mendengar jeritan tangis putranya, Yoga. Farah dan Bu Marjuki yang sedari tadi mengobrol di kamar pun terkejut lantas berlari keluar untuk melihatnya.


"Yogaaa!" Farah histeris, matanya membulat lebar kala melihat Rubi memangku putranya. Sedang baby walker sudah jatuh terjungkir di lantai dekat kaki Rubi.


"Heh, kau apakan putraku?!" teriaknya.


"Mbak barusan Yoga terjatuh dari_" Rubi tergagap.


"Terjatuh?!" Farah melangkah cepat menghampiri dan merebut Yoga dari gendongan Rubi. "Sayang, mana yang sakit oh anakku?" Farah kembali melotot melihat dahi putranya yang sudah benjol kebiru-biruan. "Ya ampun Yogaa..."


Lantas Farah kembali menatap Rubi dengan tatapan nyalang.


Rubi menggeleng kepala, wajahnya cemas dan pucat. "Tidak Mbak, dia terjatuh sendiri. Tadi dia ingin ngambil gantungan kun_"


"Alaaah bohong ini pasti gara-gara kamu!"


"Farah sudah! Yoga jatuh memang anaknya yang nggak bisa diem. Kamu juga ninggalin dia begitu saja tadi!" tegur Ibunya pada Farah.


"Ibu!" Farah mendengus kesal karna Ibunya malah menyalahkan dirinya.


Lantas ia membawa Yoga duduk di sofa dan menyusuinya. Karna Yoga terus saja menangis. "Sayang, cup cup cup jangan nangis lagi ya..."

__ADS_1


Rubi kembali berkaca-kaca. Dia hanya terdiam berdiri tanpa bicara. Perasaannya jadi tak enak semenjak Farah membicarakannya tadi. Bu Marjuki yang menyadari itu lantas mendekati Rubi. Mengusapi pundaknya dan tersenyum.


"Sudah tak apa-apa, jangan dipikirkan lagi anak kecil memang sudah biasa terjatuh..." ucap Bu Marjuki, Rubi mengangguk kecil.


"Gimana sih Bu, Yoga sudah benjol begini masih saja di bilang gak papa!" gerutu Farah.


Rubi melihat Yoga masih saja menangis dan tak mau menyusu. Rubi semakin tak enak saja. Seharusnya tadi dia lebih cepat berlari menolong bayi itu.


Suara deru mobil terdengar berhenti di pelataran rumah. Rubi melihat dari jendela rumah. Matanya membulat melihat kedua jenis manusia keluar dari mobil dan berjalan beriringan dengan bercanda gurau.


"Nah itu Fadil sudah pulang..." ucap Bu Marjuki yang lekas membuka pintu rumah.


Fadil dan wanita kemarin memberi salam. Bu Marjuki membalas salam mereka.


"Siang Bu..."


"Nak Sinta terimakasih sekali sudah antar jemput Fadil ke Rumah Sakit. Jadi ngerepotin..."


"Tidak apa-apa Bu... Sinta senang kok bisa antar jemput Mas Fadil..." ujarnya tersenyum.


"Rubi, sejak kapan kamu kesini?" tanya Fadil menatap heran Rubi. Fadil tak terkejut karna barusan sudah melihat mobil Rubi di luar halaman rumahnya.


Rubi bergeming, tatapannya tertuju pada tangan wanita yang menggandeng erat lengannya Fadil.


Bersambung...

__ADS_1


...****...


__ADS_2