Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku

Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku
Memperebutkan Yoga


__ADS_3

...BAB 71...


...Memperebutkan Yoga...


"Kau, kau sejak kapan disini?!" gelagap Farah dengan bibir bergetar. "Mau apa kau kemari hah?!" teriaknya.


"Aku kemari ingin membawa Yoga!"


Pranngg


Farah tak sengaja menjatuhkan mangkuk yang berisi bubur bayi. Kepalanya menggeleng-geleng panik, lantas berlari cepat hendak mengambil lagi putranya dari gendongan Pria yang masih berstatus suaminya itu. Walau Farah memang sudah mengurus gugatan cerainya ke pengadilan agama, tapi mereka belumlah resmi bercerai.


"Tidak, kau tidak punya hak membawa Yoga dariku! Aku tidak akan mengijinkannya!" teriaknya lagi.


Doni mendorong kasar tubuh Farah, dan menjauhkan Yoga dari istrinya. "Kata siapa aku tidak punya hak? Hah! Aku sekarang kaya! Aku bisa mengurus Yoga berdua bersama Susi, sedangkan kau, kau wanita yang sudah tak lagi bekerja! Bagaimana caranya kau bisa menafkahi putraku!" cecar Doni. "Kalau kau ingin bercerai akan ku kabulkan dengan senang hati, tetapi Yoga harus ikut bersamaku!" ancamnya lagi.


"Jangan mimpi kamu, Mas! Yoga adalah hak Ibunya. Apalagi Yoga masih kecil, dan dimana-mana anak laki-laki itu mutlak milik Ibunya!" timpal Farah, matanya menyalang tajam. Rasa marah dan takut jika Doni benar-benar akan memisahkan dirinya dari Yoga.


"Aku yang akan membiayai hidup Yoga hingga dewasa! Dan kupastikan kau akan kalah di pengadilan nanti!" tunjuknya kasar. Doni pun kembali melangkah keluar pagar rumah.


"Jangan Masss... Kembalikan Yoga padakuu!!" Farah berusaha mengejar Doni yang hendak pergi membawa Yoga menaiki mobilnya. "Mas Doniiii!!"


Fadil yang baru saja selesai mandi, sontak kaget mendengar suara ribut dan jeritan Farah dari luar rumahnya.


Gegas, Fadil melihat ke arah jendela yang berada di kamarnya. Fadil membeliak kaget saat melihat kakak iparnya keluar pagar rumah sambil membawa Yoga pergi, dan disana Farah pun berusaha merebut putranya kembali dari suaminya.


Fadil buru-buru memakai kaos dan celananya, lalu bergegas keluar rumah untuk menghentikan Kakak iparnya yang ingin membawa keponakan kesayangannya.


"Tunggu ada apa ini? Heh Mas-Mas, mau dibawa kemana Yoga? Kembalikan dia pada kami!" cegah Fadil.


Fadil berlari cepat, dan lekas menghentikan aksi Doni yang ingin membawa kabur Yoga. Namun terlambat Doni sudah duluan masuk ke dalam mobilnya. Doni menaruh putranya duduk di sampingnya, dan mengikatnya dengan sabuk pengaman.


"Mau apa kau? Ingin menahanku juga, heh?" geram Doni pada adik iparnya yang sudah berdiri di samping pintu mobilnya.


"Jangan nekad Mas Doni, cepat berikan Yoga pada kami!" sentak Fadil lagi dengan tatapan marah.


"Enak saja kau bilang! Tidak akan, dia putraku! Kau tak punya hak mengurus hidup Yoga, mengerti!" tunjuknya, lalu Doni pun menyalakan mesin mobilnya. "Minggir kalian berdua!" hardiknya.


"Kau tidak bisa membawa Yoga begitu saja, Maass! Kembalikan dia padakuu..." teriak Farah dengan histeris. Air matanya mengalir dengan deras.


"Alaaah, sudah minggir saja kau!!"


"Fadilll! Cepat ambil Yoga lagi! Jangan biarkan Mas Doni membawanya!!" titahnya pada Fadil.


"Mas, jangan nekad! Yoga masih butuh Ibunya!" sahutnya tegas. Doni pun tertawa setelah mendengar ucapan Fadil.


"Ibu yang bagaimana dulu, menurutmu?! Kakakmu itu tidak pantas untuk di sebut Ibu! Lihat saja dia bahkan tidak sadar, kalau Yoga tadi nyaris saja keluar rumah melewati pagar!" timpalnya pada Fadil, lalu Doni menatap tajam pada istrinya yang masih siaga berdiri di depan mobilnya menghalangi, dengan berderai air mata dan menggeleng kepalanya lemah.


"Kau memang tak pernah becus mengurusi apapun Farah! Justru, aku malah khawatir kalau Yoga terus-menerus dalam asuhanmu!" sinisnya lagi. Lalu Doni pun menyalakan mesin mobilnya.

__ADS_1


"Minggir kau Farah, atau kau ingin mati ku tabrak!!" perintahnya.


"Lebih baik aku mati daripada kau bawa putraku!" tantangnya tak peduli.


"Fadilll... Cepat hentikan dia, ambil kembali Yoga, Dill..." titahnya lagi pada Fadil.


Ketika Fadil ingin membuka paksa pintu mobil kakak iparnya, namun Doni lebih dulu menginjak gas mobilnya, sehingga tubuh Farah pun terhuyung dan jatuh ke samping.


Tapi tak lama, mobil Doni pun mendadak kembali berhenti, karna tiba-tiba saja ada mobil lain yang berhenti dan menghalanginya jalan tepat di depannya.


"Si*alan! Heii minggirkan mobilmu!!" teriaknya emosi, dengan mengklakson kasar.


Farah sejenak tertegun, lalu matanya membulat lebar kala tahu itu mobil sahabatnya.


"Sintaa..." lirihnya lega. Farah lekas berdiri, dan kembali berlari mengejar, di ikuti oleh Fadil.


"Keluar kau!" perintahnya.


Sementara Fadil menarik kerah baju Doni kasar, memaksa kakak iparnya itu keluar dari mobil.


Farah membuka pintu mobil samping kemudi, dengan cepat ia meraup tubuh mungil Yoga setelah membuka lagi sabuk pengamannya.


"Oh sayang, anakku..." Farah menciumi wajah putranya sambil menangis.


"Farah ada apa ini?" Sinta keluar dari mobil dan ikut panik, lalu menghampiri sahabatnya dan memeluknya.


"Sintaa..."


Fadil melampiaskan amarahnya hingga dia berani menghajar Doni, dia tak peduli meskipun dia kakak iparnya sendiri. Doni yang tak terima di perlakukan kasar oleh adik iparnya, ikut membalas pukulannya.


Farah yang melihat adik dan suaminya masih berkelahi, lantas berteriak meminta tolong. Tak lama kemudian, warga pun datang dan melerai mereka.


*****


Tak terasa hari sudah malam, tepatnya pukul delapan malam. Setelah kejadian tadi sore, Doni pun di bawa pergi ke rumah RT untuk di pertanyakan.


Sementara Farah di kamarnya menidurkan Yoga di temani oleh Ibunya, sementara Pak Marjuki langsung pergi menyusul ke rumah Pak RT untuk menemui Doni dari pulang bekerja. Melihat keadaan menantu yang sudah mengecewakannya.


"Ahh, aku harus pergi..." Fadil menepis pelan tangan Sinta yang masih mengobati luka di pelipisnya dengan es batu, dan beranjak dari sofa.


Setelah melihat jam di dinding. Fadil baru saja ingat, kalau malam ini ia harus pergi menjemput Rubi untuk pergi makan malam di luar.


"Kamu mau pergi kemana Mas, lukamu belum selesai ku obati..." tanya Sinta.


"Ada hal penting yang harus ku kerjakan. Aku pergi dulu, terimakasih banyak Sinta. Aku sudah tidak apa-apa..." Fadil pun lekas mengambil kunci mobil dan ponselnya di atas meja lalu melangkah cepat keluar rumah.


"Tapi Mas, Mas Fadil, tunggu dulu Maas!" teriak Sinta memanggil, namun tetap di acuhkan Fadil, dan lelaki itu sudah menaiki mobilnya dengan tergesa-gesa.


"Huh! Aku yakin sekali, dia pasti ingin pergi menemui wanita itu!" pekik Sinta, mengepal tangannya geram.

__ADS_1


****


Fadil telah sampai rumah calon istrinya, lalu berlari masuk ke teras rumah. Disana Rubi sudah berdiri menunggunya dengan setia.


"Maaf, aku terlambat datang..." ucap Fadil dengan nafas tersengal-sengal. Rubi menggeleng tersenyum.


"Tidak apa-apa Kak, hanya terlambat satu jam saja kok..." jawab Rubi, Fadil pun tersenyum lega karna Rubi tak marah karna keterlambatannya datang. Namun Rubi pun terkejut melihat wajah Fadil sudah penuh dengan luka lebam.


"Kamu kenapa Kak? Kenapa wajahmu luka-luka begitu?" Rubi mengerutkan keningnya panik, lalu mendekat dan menyentuh pelan dahinya Fadil.


"Emh, ini tidak apa-apa, hanya luka kecil..."


"Luka kecil apa, wajahmu sudah babak belur begitu Kak..." sahutnya lagi, cemas. "Kamu habis berkelahi ya, sama siapa Kak?"


"Tidak apa-apa sayang..." Fadil memegang tangan Rubi.


"Kalau begitu, kita batalkan saja makan malam kita! Ayo biar aku obati dulu lukamu..." titah Rubi, Fadil pun mengalah dan mengangguk tersenyum.


Di belakang rumah kediaman Ambarwati, terdapat taman dan gazebo untuk tempat bersantai. Rubi menyuruh Fadil duduk dahulu, sambil menunggu Rubi untuk mengambil obat P3K dan membuat minuman coklat hangat di dapur.


"Kenapa bisa begini sih Kak? Coba ceritakan padaku, bagaimana bisa Kak Fadil itu kena pukulan orang. Lalu siapa orang itu? Berani sekali dia memukulmu Kak. Seharusnya Kak Fadil itu minta bantuan oranglain, bukan malah menghadangnya sendirian. Kakak sih sok jagoan banget! Akhirnya kena pukulan juga kan!" cerocos Rubi tanpa henti.


"Sudah-sudah, aku baik-baik saja! Kau tak perlu mencemaskanku seperti itu. Aku sudah terbiasa seperti ini. Tadi sore, aku habis bertengkar dan berkelahi dengan Kakak iparku..." jelasnya terus terang.


Rubi mendongak kaget. "Apa, berkelahi dengan kakak iparmu?" ulangnya tak percaya.


"Iya, suaminya Mbak Farah..." angguk Fadil.


Rubi semakin mengerutkan keningnya, tak mengerti. "Kenapa, kenapa kalian bisa bertengkar?" tanyanya.


Fadil menghela nafasnya panjang. Lalu menatap dalam wajah Rubi yang begitu antusias ingin mendengarkannya. "Mbak Farah dan suaminya akan bercerai, dan Mas Doni ingin membawa pergi Yoga dari kami..."


Rubi kembali terkejut mendengarnya. "Bercerai, membawa Yoga pergu?!" ulangnya, matanya membulat lebar. Sontak ia menutup mulutnya sendiri.


"Iya, dan aku berusaha menghalangi niatnya itu, untungnya saja masih bisa ku cegah... Kalau tidak Yoga sudah di bawa pergi olehnya!"


Rubi menatap lurus ke depan dengan pandangan yang nanar. Seketika ia jadi teringat dengan permintaan Farah waktu itu padanya.


"Rubi, aku tahu sikap jahatku dulu padamu memang tidak pantas kau maafkan. Tapi kali ini saja... Aku mohon padamu, kamu batalkan niatmu untuk menikah dengan adikku..." pinta Farah memohon, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Ini demi masa depan putraku, Yoga. Sinta sudah sangat mencintai Fadil sejak lama. Aku benar-benar mohon padamu tinggalkan adikku, aku yakin kamu pasti akan dapatkan pria yang lebih baik dari adikku. Biarkan Fadil untuk Sinta sahabatku..." pintanya lagi seraya menangkup kedua tangannya di atas dada, kembali memohon pada Rubi. Agar Rubi mau memenuhi keinginannya.


Rubi tertunduk, matanya berkaca-kaca lagi. Jadi inilah yang di maksud Mbak Farah waktu itu... Ya Tuhan kasihan sekali Mbak Farah. Tapi kenapa juga, dia harus tega memisahkan aku dari Kak Fadil? Dan kenapa harus bersama Sinta? Sebenarnya apa yang tengah di rencanakannya? Apakah ini ada hubungannya dengan perjanjian itu?


Bersambung...


...****...


Hai.Readers setia, terimakasih selalu setia menunggu update cerita ini... Jangan lupa selalu tinggalkan jejaknya ya... 😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2