
...BAB 36...
...Kunjungan Raffa...
Keesokan paginya.
Di teras rumahnya, Bu Rukanda termenung seorang diri. Pandangan teduhnya menerawang jauh ke arah jalanan yang masih lenggang dan hanya ada beberapa motor dan sepeda saja yang lewat, yang dapat terhitung jumlahnya.
Wanita berusia 50 tahun lebih itu menghela nafasnya beberapa kali, masih tak percaya yang ia dengar. Bahwa calon menantu yang ia harapkan selama ini, mengalami sakit yang serius pasca tabrakan itu terjadi.
Keputusan bulat Fadil yang tak bisa melanjutkan pernikahannya dengan putrinya, membuat Rukanda bersedih hati.
Kemarin sore keluarga Fadil datang ke rumah. Mereka meminta maaf sebesar-besarnya pada Bu Rukanda perihal pernikahan putra putri mereka yang terpaksa harus di batalkan.
Mau bagaimana lagi? Bu Rukanda pun tak bisa memaksakan lagi keinginannya. Lelaki yang berprofesi dokter itu juga harus terpaksa cuti panjang semasa penyembuhannya. Karna Direktur Utama Rumah Sakit belum bisa mengijinkan Fadil bekerja lagi. Itu akan sangat beresiko bagi Fadil. Khawatir jika nanti ia akan salah mendiagnosa penyakit pasien yang ia tangani sendiri. Karena kegagalan otak yang dialaminya, membuat Fadil jadi mudah pelupa.
Suara mobil pajero berhenti tepat di depan pagar rumah Bu Rukanda. Rukanda yang sedang melamun pun sedikit terkejut.
Dahinya mengerut. Lantas berdiri tegak ketika melihat Raffa dan Keyla turun dari mobilnya.
Keyla tersenyum mengembang seraya melambai tangan kecilnya ke arah Bu Rukanda.
"Neneeek, Neneeekk!!" teriaknya riang memanggil Rukanda.
Bu Rukanda berkaca-kaca. Lagi ia terharu mendengar gadis kecil itu memanggilnya dengan sebutan Nenek. Layaknya sudah seperti cucunya sendiri.
Raffa membuka pagar rumah Lyra dan mengucap salam. Keyla pun bergegas masuk ke dalam dan berlari kecil menghampiri Rukanda.
Rukanda membalas salam Raffa dengan suara lirihnya yang nyaris tak terdengar. Keyla mendongak menatap cemas wajah Rukanda.
"Bagaimana keadaan Nenek sekarang? Apa Nenek sudah baikan?" tanya Keyla dengan tampang polosnya.
Air mata Bu Rukanda menetes keluar, lantas mengusapnya lagi dengan cepat.
"Alhamdulillah Nenek sudah sehat, Keyla..." jawabnya tersentuh dengan pertanyaan gadis kecil itu.
"Syukurlah kalau Nenek sudah sehat lagi. Dari kemarin Keyla nggak bisa bobo, karna terus kepikiran Nenek..." celotehnya tersenyum sendu.
"Benarkah?!" Rukanda bertambah haru, mendapatkan perhatian hangat dari seorang gadis kecil.
Keyla mengangguk tersenyum, lalu mengambil tangan Rukanda yang sudah mulai keriput itu, keningnya ia tempelkan ke punggung tangannya Rukanda.
Rukanda pun perlahan berjongkok mensejajarkan dirinya dengan anak itu, lalu membalas menciumi kedua pipinya dengan gemas dan sayang.
"Hmm, anak baik... Ayo ikut Nenek masuk ke dalam..." ajak Rukanda tersenyum. Keyla mengangguk menurut.
Rukanda menggandeng tangan Keyla masuk ke dalam rumahnya, namun saat ingin melangkah masuk melewati pintu. Rukanda menoleh ke belakang melihat Raffa yang masih terdiam berdiri di teras rumahnya. Sambil menjinjing paperbag besar berisi oleh-oleh dari luar kota, di kedua tangannya.
"Apa kamu masih betah berdiri disana?!" tanyanya mengerutkan dahinya menatap Raffa.
Raffa tergugup menelan kasar ludahnya. Menggeleng kepalanya seraya tersenyum canggung.
"Em, hehe..."
__ADS_1
"Ayo cepat masuk, Lyra sudah memasak sarapan untuk kamu dan juga Keyla..." titahnya pada Raffa dengan tatapan yang datar.
Namun sekilas itu Raffa seperti melihat Bu Rukanda tersenyum samar padanya.
Raffa masih terbengong tak percaya. Dia pikir Bu Rukanda akan mengacuhkan kedatangannya dan putrinya.
"Kalau memang kamu benar-benar mencintaiku sekarang. Buktikanlah, dan berjuanglah untuk mendapatkan hati Ibuku kembali..." ujar Lyra pada malam itu.
Raffa menghela nafas lega, jantungnya berdebar-debar kencang. Senyumnya semakin lebar bersamaan pipi yang sudah memerah menahan malu bercampur bahagia. Lalu duda beranak satu itu pun menyusul masuk ke dalam rumah setelah di persilakan oleh pemiliknya.
Lyra keluar dari dapur dan menyambut kedatangan mereka, lantas mengajak Keyla ke ruang makan duluan. Raffa menyusul dari belakang setelah meletakkan bawaannya di meja tamu.
Mereka pun makan bersama. Suasana yang tadi canggung di antara Raffa dan Bu Rukanda. Pun jadi tersingkirkan karna mendengar celotehan riang dan lucu dari Keyla.
Bu Rukanda benar-benar terhibur dengan keberadaan Keyla yang akhir-akhir ini selalu di dekatnya, tanpa ia sadari Keyla membuat kesehatannya sedikit membaik. Apa itu karna Bu Rukanda begitu sangat merindukan kehadiran cucu di dalam hidupnya?
Bu Rukanda tahu tujuan Raffa berkunjung ke rumahnya hari minggu ini. Lelaki yang pernah ia usir dan marahi itu, sebenarnya ingin meminta restu darinya. Melihat kesungguhan Raffa kali ini. Sebenarnya Bu Rukanda pun tak tega jika menolaknya. Lagipula putrinya masih mencintai Raffa. Mungkin jodoh mereka memang seperti ini.
Di ruang tamu, satu jam setelah mereka sarapan bersama. Raffa tiba-tiba duduk di lantai dan bersimpuh di depan kaki Bu Rukanda.
Sontak Bu Rukanda terkejut melihat apa yang Raffa lakukan kepadanya. Beberapa kali lelaki itu meminta maaf atas kebodohannya di masalalu. Kali itu, Raffa ingin menjalin hubungan yang serius dengan putrinya. Menikahi dan membahagiakannya.
"Raffa tahu Bu, kesalahan Raffa pada Lyra juga Ibu saat itu memang tidak bisa di maafkan. Tapi Raffa sungguh-sungguh, saat ini Raffa benar-benar mencintai putri Ibu. Raffa berharap Ibu mau menerima Raffa sebagai menantu Ibu dan sebagai suaminya Lyra. Beri kesempatan Raffa memberi kebahagiaan untuk putri Ibu..." ucapnya lirih dengan tatapan memohon. Berharap Bu Rukanda merestui dan mengabulkan niat baiknya.
Lyra ikut meneteskan air matanya melihat Raffa yang menangis sambil mengecup punggung tangan Ibunya beberapa kali.
Sedangkan Bu Rukanda masih terdiam tak bicara sepatah katapun.
"Nenek, ijinkan Papa buat nikah sama Tante Rara ya..." pintanya merengek dengan tatapan memohon. "Karna Keyla, nggak bisa jauh-jauh dari Tante Rara..." ujarnya lagi.
Bu Rukanda menoleh pada Lyra yang tersenyum lirih. Lalu mengangguk kepala pada Ibunya.
"Berdirilah, kenapa kalian berjongkok di depanku seperti ini..." perintahnya pada Raffa dan Keyla.
Bu Rukanda pun membawa gadis kecil itu duduk ke pangkuannya. Menatapnya dengan senyuman. Mengusap pipinya yang sekarang terlihat agak gembul lagi.
"Ehm sepertinya, Nenek juga tidak bisa jauh-jauh darimu Keyla. Nenek kadung sayang sama kamu!" ucapnya terkekeh kecil.
Keyla membulatkan matanya, senang. "Benarkah Nek?!"
Bu Rukanda mengangguk tersenyum lagi.
"Key juga sayang kok sama Nenek!" balas Keyla. Lalu Keyla memeluk Bu Rukanda.
Raffa dan Lyra saling melihat dengan tatapan haru penuh kebahagiaan.
"Terimakasih Bu..." Lyra berhambur memeluk erat sang Ibu. Begitupun Raffa yang ingin memeluk calon mertuanya di sampingnya duduk.
Namun cekatan Bu Rukanda menolak Raffa untuk memeluknya dulu.
"Eitt tunggu dulu! Tapi berjanjilah pada Ibu. Kali ini kamu akan menjaga putri Ibu baik-baik, Nak Raffa. Jangan pernah mengecewakan dan mengkhianatinya lagi. Jika sampai itu terjadi. Maka tak segan-segan Ibu akan membawa lagi Lyra darimu. Ibu tak akan lagi memaafkan untuk kedua kalinya!" tegasnya dengan sorot mata seriusnya.
Raffa menggeleng cepat. Hatinya semakin terharu. "Tidak akan Bu, sungguh kali ini Raffa serius ingin mempersunting Lyra dan menjadikannya sebagai istri satu-satunya buat Raffa. Raffa berjanji pada Ibu..."
__ADS_1
Bu Rukanda tak bisa membendung tangis harunya. Lalu memeluk Raffa, menepuk-nepuk punggung calon menantunya.
Disana Lyra dan Keyla pun saling memeluk bahagia.
****
"Yakin kamu tak ingin di temani Ibu lagi, Nak?"
Bu Marjuki mengerut cemas. Karna malam itu putranya menyuruhnya untuk pulang saja. Fadil hanya tak tega melihat Ibu dan Ayahnya kelelahan sepanjang malam karna terus menjaganya.
Fadil mengangguk tersenyum "Iya Bu, Ibu dan Bapak pulang saja dan istirahatlah di rumah. Besok pagi baru kesini lagi."
"Ya sudah jika itu maumu, tapi kalau ada apa-apa cepat kamu hubungi Bapak dan Ibumu ya..." titahnya.
"Iya Bu, jangan cemas... Disini juga banyak perawat yang siap menjaga Fadil..." terangnya.
Bu Marjuki pun mengangguk, lalu pulang bersama suaminya meninggalkan putranya sendirian di ruang rawat yang di sediakan khusus untuknya di Rumah Sakit itu.
Fadil memang sengaja ingin sendiri dulu, untuk menenangkan pikirannya. Fadil harus bisa merilekskan pikirannya sendiri agar tidak terlalu berlarut mengingat Lyra lagi. Bila sering bicara dengan banyak orang pun, pikirannya juga jadi cepat lelah.
Fadil menghela nafas panjang, setelah tahu kalau jam sudah menunjuk angka sembilan malam. Dia ingin memilih tidur saja.
Namun sebelum ia mematikan lampu, Fadil memandang dan menyentuh bunga pemberian Rubi kemarin. Sehari tak bertemu dengan wanita itu saja, sepertinya Fadil mulai kehilangan.
Fadil mengulas senyum lantas menggeleng kepalanya. Ia tak ingin memikirkan dulu soal wanita. Saat ini dia hanya ingin fokus dulu pada kesembuhannya.
Fadil mematikan lampu kamar, lalu menarik selimutnya dan berbaring.
Namun belum beberapa belas menit Fadil memenjamkan matanya. Samar ia seperti mendengar suara derit pintu kamarnya yang terbuka perlahan dari luar lalu kembali menutupnya.
Fadil bisa mendengar jelas karna dia belum tertidur. Suara langkah kaki yang terdengar mengendap-endap itu semakin dekat.
Walau matanya ia pejam, namun tangan Fadil sudah acang-ancang hendak menekan tombol bel untuk memanggil perawat. Di sisi ranjangnya.
Saat posisi tubuhnya yang berbaring. Fadil melihat siluet seorang berpakaian hitam dengan wajah tertutup topeng hitam bak perampok di malam hari.
Fadil lekas beranjak setelah menekan tombol lalu sigap menyalakan lampunya. Lelaki bertopeng itu pun melonjak kaget. Ia pikir Fadil sudah terlelap tidur.
"HEi, SIAPA KAU?!" tanya Fadil dengan suara lantang.
Sontak Fadil terbelalak melihat pisau tajam di tangan lelaki itu. Tubuhnya beringsut mundur cepat ke belakang. Jantungnya berdebar sangat cepat.
"Mau apa kau masuk ke kamarku? Hah!" Fadil sebenarnya tidak takut, hanya saja tubuhnya belum pulih betul. Kepalanya juga masih sering terasa pusing.
"Aku kesini, INGIN MENGHABISIMU!" Lelaki itu mengangkat pisaunya tinggi-tinggi ke atas, bersiap untuk menusuk Fadil.
"Aaaargh!!"
Bersambung....
Maaf author sibuk dagang. Jadi kemarin sama sekali gak nulis 🙏🥺🥺🥺
...*****...
__ADS_1