
...BAB 48...
...Hinaan Farah...
"Keyla masuk ke kelas dulu ya Tante..."
"Iyaa Key!"
Keyla berlari masuk ke kelasnya. Pagi itu Rubi lah yang mengantarkan Keyla pergi ke sekolah. Karna tiba-tiba saja subuh tadi Lyra mendadak tidak enak badan, suhu tubuhnya tinggi dan jam sembilan paginya Raffa juga harus pergi dinas ke luar kota.
Rubi berjalan ke kantin sekolah, membeli minuman dan makanan ringan untuk dia nyemil sendiri sambil menunggu waktu jam istirahat Keyla. Setelah membeli jajanan, Rubi mencari tempat duduk untuk bersantai. Rubi mengambil ponsel di tasnya yang tiba-tiba saja berdering nyaring.
Rubi mengernyitkan dahinya melihat nomer yang tak ia kenal memanggilnya di layar ponsel android miliknya.
"Ya, hallo... Siapa ini?!" sapa Rubi bertanya.
["Bisa kita ketemuan sebentar, aku ingin bicara penting denganmu."]
"Maaf tapi ini dengan siapa ya?"
["Aku tunggu di taman, sekarang juga! Nanti kau akan tahu sendiri siapa aku!"] jawab seorang wanita di seberang telepon dengan nada ketus.
Rubi tersohok, karna si penelepon itu langsung menutup teleponnya lagi.
"Siapa sih dia? Nggak ada sopan-sopannya banget. Di tanya baik-baik malah menutup kasar teleponnya!"
Rubi menghembus nafasnya kasar, lantas meletakkan ponselnya di atas meja kantin. Lalu mengunyah keripik kentang rasa keju ke dalam mulutnya.
"Bodo amat, emang aku pikirin. Nyuruh-nyuruh seenaknya datang! Emang dia siapa, kenal juga enggak?" sungutnya.
*****
Lyra beranjak dari kasur. Ia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan bubur yang barusan ia makan.
Tubuhnya benar-benar lemas sekali. Selain kepalanya pusing, Lyra pun selalu merasa mual-mual bila memakan sesuatu.
"Sayang, apa Mas batalkan saja dinas hari ini ya?" Raffa cemas, ia tak tega harus meninggalkan istrinya yang sakit.
Lyra menggeleng kepala. "Tidak apa-apa Mas... Pergilah, dinasmu itu lebih penting." ucap Lyra lirih, wajahnya terlihat semakin pucat. Karna lagi-lagi makanan yang baru ia telan harus kebuang lagi.
Lyra kembali berbaring di ranjang setelah minum air hangat yang Raffa berikan.
__ADS_1
"Tapi kan kamu sakit begini, Mas antar periksa ke Dokter saja dulu ya..."
"Mas, aku bilang tidak perlu. Lebih baik Mas cepat cek lagi perlengkapan untuk pemberangkatannya sekarang ke Bandung. Nanti Mas bisa kesiangan... Mobil yang jemput Mas juga udah datang."
"Tapi Mas juga nggak mau, kalau ninggalin kamu dalam keadaan begini..."
"Tenang saja Mas tak perlu khawatir, disini kan ada Bunda dan Rubi yang akan nemenin aku. Ayo cepatlah berangkat, mobil jemputan Mas juga udah nunggu tuh dari tadi..."
Raffa menghela nafas berat. Bingung sebenarnya, antara harus mengurus pekerjaannya tapi tak ingin jauh-jauh dari istri, yang keadaannya tak sehat.
"Ya sudah kalau itu maumu, Mas pergi dulu... Tapi kamu janji, ada apa-apa telepon Mas. Terus kalau mau minta sesuatu panggil Bibi Sumi atau Rubi ya.." titahnya.
"Iya Mas... Jangan khawatir..." angguk Lyra tersenyum.
Raffa tersenyum sendu, lantas mencium dalam dan lembut kening istrinya. "Jaga baik-baik dirimu sayang, aku mencintaimu..." ucapnya seraya membelai pipi kiri Lyra lalu mengecup punggung tangan istrinya.
"Aku juga mencintaimu Mas Raffa..."
Raffa beranjak dari duduknya dan mengambil koper di dekat ranjang. Hari itu dia akan kembali dinas untuk dua minggu lamanya.
Raffa pun pergi dengan mobil perusahaan, setelah menitipkan pesan pada Bi Sumi untuk menjaga istrinya. Lalu berpamitan pada Bundanya.
****
"Mau apa sih dia telepon lagi!"
"Halloo!"
["Kenapa tidak datang juga?!"]
"Hei, aku tadi kan tanya sama kamu! Kamu itu siapa? Seenaknya saja nyuruh-nyuruh ketemu!"
["Heh janda gatel. Aku Farah! Apa kau tidak mengenali suaraku?"] makinya.
"Mb-Mbak Farah?!" gelagap Rubi wajahnya seketika gugup.
"Ba, baiklah Mbak... Rubi kesana sekarang..."
Rubi tergugup, wajahnya mendadak pucat. Ternyata yang meneleponnya dari tadi adalah Farah.
"Mau apa mbak Farah pengen ketemu aku?!" gumamnya bertanya sambil memegang ponselnya di depan dada.
__ADS_1
Tanpa berpikir lagi, Rubi lekas menaiki mobilnya dan pergi ke Taman. Hanya beberapa menit saja dia telah sampai.
Benar saja, Rubi melihat Farah sudah berdiri mondar-mandir di dekat air mancur. Lantas turun dari mobil dan menghampirinya.
Farah menatap sinis melihat kedatangan Rubi.
"Mbak bagaimana kabarnya?" Rubi bertanya sembari ingin menjabat tangan Farah, namun sapaan Rubi malah di acuhkan Farah.
"Aku tak ingin berbasa-basi denganmu. Langsung saja pada intinya." ketusnya seraya bersedekap tangan menatap tajam Rubi.
"Em, memangnya Mbak ingin bicara apa denganku?" tanya Rubi, menarik tangannya lagi yang tadi sempat terulur.
"Aku hanya minta padamu kau jauhi Fadil, adikku. Aku tak suka melihatmu menggodanya!" perintahnya.
"Menggoda?! Maaf Mbak ya, tapi Rubi tidak merasa menggoda Kak Fadil kok..."
"Heh, emang aku nggak tahu ya, kalau kau itu menyukai adikku?" cecarnya.
Wajah Rubi memerah menahan malu, karna suara lantang Farah. Rubi melirik sekitar taman itu. Untungnya saja hanya ada beberapa orang yang berada di taman. Sebab hari itu bukanlah hari libur.
"Ayo jawab, kau menyukai adikku kan, Rubi? Huh, jangan harap kau bisa pacaran sama adikku. Sinta lebih segala-galanya dari kamu. Kamu sadar diri dong, Fadil itu bujang ya cocoknya sama perawan. Bukan janda kayak kamu!" Farah mendorong kasar bahu Rubi.
Rubi tersentak kaget, matanya membulat lebar menatap Farah. "Maksud Mbak Farah apa?"
"Apa kurang jelas aku bicara? Kau itu janda, Rubi. Dimana-mana wanita janda itu nggak bener! Buktinya belum habis masa idahmu kau deketin adikku Fadil! Dasar kecentilan!" makinya lagi.
Plaaak
Karna tak tahan dengan hinaan Farah, Rubi spontan menampar Farah.
"Sudah cukup! Cukup aku dengar kamu hina aku terus Mbak! Apa Mbak pikir aku mau jadi janda? Mbak nggak tahu apa yang sudah aku alami selama ini, jadi jangan seenaknya main hakimi oranglain tanpa tahu penyebabnya!" sentaknya. "Tenang saja Mbak, Rubi nggak akan deketin lagi Kak Fadil. Rubi tahu diri, Rubi memang tak pantas untuk dia... Permisi!" tegasnya.
Rubi menatap miris manik Farah. Ia tak peduli walaupun usia Farah di atas Rubi dan Kakak perempuannya Fadil yang harus dia hormati. Namun sikap Farah kali ini sudah keterlaluan menurut Rubi dan harus sekali-kali ia peringatkan.
Setelah mengingatkan Farah, Rubi pun berbalik pergi meninggalkannya. Dia berlari ke arah parkiran dan menaiki mobilnya.
Farah menahan emosi, mengusap pipinya yang masih panas karna tamparan Rubi
"Huh berani sekali dia menamparku!" kesalnya.
Bersambung....
__ADS_1
...****...