Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku

Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku
Memikirkan Keyla


__ADS_3

...BAB 22...


...Memikirkan Keyla...


Lamunan Raffa buyar saat Keyla memukul kasar jendela kaca mobilnya.


"Key..." Raffa tersentak dan lekas menutup teleponnya.


"Papaa.. antar Key ketemu Tante Rara, sekarang juga!" rengeknya dengan mata yang sudah memerah karna terus menangis.


Raffa keluar dari mobil lalu menggendong Keyla.


"Sayang, pagi ini Papa harus pergi ke kantor, dan banyak kerjaan yang tak bisa Papa tinggalkan. Jadi Papa tak bisa antar Key ketemu Tante Rara..." jawab Raffa menatap sendu putrinya. Raffa tahu jika saat ini putrinya sangat merindukan Lyra.


"Kenapa Tante Rara tiba-tiba saja berhenti jadi pengasuhnya Key, Papa? Kan belum ada satu bulan Tante Rara bekerja disini. Apa Tante Rara sudah tak sayang lagi sama Keyla? Apa Tante Rara akan menikah?!" cerocosnya bertanya-tanya dengan tatapan seriusnya


Raffa tersentak kaget mendengar pertanyaan terakhir Keyla. Menikah? Teringat Raffa, diaqq sama sekali belum pernah menceritakan hal itu pada Keyla. Tapi Keyla sudah tahu tentang Lyra yang akan menikah, dari siapa? Apakah Lyra sendiri yang mengatakannya? tanya Raffa dalam hatinya.


"Dulu Tante Rara pernah bilang sama Key... Kalau Tante Rara tak bisa terus temani Keyla, bila Tante Rara nanti menikah. Apa benar Tante Rara akan menikah Pah? Dengan siapa? Kenapa Tante Rara tak menikah saja sama Papa. Bukankah Papa juga sudah tak lagi sama Tante pirang itu?" cerocosnya lagi, yang berhasil membuat Raffa gelagapan tak mampu menjawab setiap pertanyaan dari putrinya.


Raffa menelan kasar ludahnya. Mendengar setiap ucapan polos yang keluar dari bibir putrinya. Bagaimana bisa gadis kecilnya itu mampu berkata kritis seperti itu? Siapa yang mengajarinya seperti ini?


Keyla dan Raffa sama-sama memiliki keinginan yang sama. Ingin menjadikan Lyra bagian dari keluarga mereka. Namun semua telah terlambat dilakukan. Raffa terlambat untuk menggapai hati Lyra kembali. Ternyata Fadil temannya, sudah lebih dulu memintanya jadi seorang istri. Mungkin Lyra memang bukan jodohnya. Dan Raffa pun tahu diri, bahwa ia juga telah banyak mengecewakan hati Bu Rukanda dengan menyakiti perasaan putrinya.


Sebab itulah, mengapa Bu Rukanda sama sekali tak menginginkannya kembali dekat dengan Lyra, walau hanya sekedar ingin ber-silahturahmi.


Dulu, pernah satu kali Raffa mengatakan pada Bu Rukanda bahwa dirinya akan menjaga Lyra baik-baik, dan dengan ringannya Raffa juga katakan bahwa dirinya adalah pacarnya Lyra.


Mungkin itulah yang membuat Bu Rukanda marah besar kepadanya, karna menganggap ucapan Raffa dulu adalah sebuah janji yang harus di tepati.


"Sayang, nanti kalau Papa ada waktu banyak, kita main ke tokonya Tante Rara bagaimana?" alih Raffa agar Keyla tak lagi merengek memintanya untuk bertemu Lyra.


Keyla terdiam, dan tampak berpikir. "Papa janji?!" tanyanya lagi memastikan.


Raffa mengangguk tersenyum. Lalu ia menurunkan putrinya lagi dan berjongkok di depannya, mensejajarkan tubuhnya dengan putrinya seraya memegang kedua bahu kecilnya.


"Iya sayang, Papa berjanji padamu. Tapi sekarang Keyla ganti pakaiannya dulu dengan seragam sekolah. Papa tungguin disini, nanti biar Papa yang anterin Keyla ke sekolah, mau ya?!" tawar Raffa, mencoba untuk membujuk lagi putrinya agar dia mau ke sekolah.


Karna sudah tiga hari itu anak itu juga tak mau masuk sekolah. Sejak Lyra tak kembali ke rumahnya.


Keyla menggeleng kepalanya dengan cepat. "Keyla nggak mau ke sekolah dulu Pa, Keyla nggak bakal pergi kalau nggak dianterin sama Tante Rara!" sentaknya lagi.


Keyla pun kembali berlari masuk ke dalam rumahnya. Dia tetap bersikeras tak mau ke sekolah jika tak ada Lyra di sampingnya.

__ADS_1


Hati kecilnya pilu, Keyla sebenarnya tak mau mendengar lagi ada ledekan dari teman-teman sekelasnya. Mereka kerap kali selalu menghina Keyla yang tak punya Ibu. Karna ke sekolah, dia yang selalu di antar Papanya saja atau di antar jemput Pak Damar supir keluarganya.


Sejak pertama kali Lyra menjadi pengasuhnya. Keyla yang sudah terlanjur menyayangi Lyra, dan tanpa sepengetahuan Lyra dan juga Papanya sendiri. Keyla pernah mengatakan kebohongan besar pada teman-teman di sekolahnya bahwa Lyra adalah calon Mama barunya.


Makanya kenapa, Keyla sempat melarang neneknya untuk memberikan Lyra seragam babysitter. Sehingga Lyra hanya menggunakan pakaian biasa saja bila berpergian bersama Keyla, itu agar semua orang yang melihat, mengira bahwa Lyra adalah Mamanya bukan pengasuhnya.


Keyla masuk ke kamarnya dan kembali mengurung diri disana, meringkuk tidur walau tidak mengantuk. Menangisi Lyra yang tak kunjung datang padanya.


"Pokoknya Keyla tak mau pergi ke sekolah kalau bukan Tante Rara yang anterin..." lirihnya lagi terisak-isak menangis.


Raffa menghela nafasnya berat dan panjang setelah melihat putrinya yang sudah masuk lagi ke rumah.


Ini akan menjadi hari-hari yang sulit baginya? Kehadiran Lyra memang telah merubah hidup Keyla, tapi kepergiannya ternyata menyiksa hati putrinya. Begitupun dengan dirinya.


Raffa kira, Tuhan akan memberinya kesempatan kedua setelah pertemuannya dengan Lyra, melanjutkan lagi kisah kasih mereka. Tapi ternyata, tidak semudah itu Raffa dapatkan hati Lyra kembali setelah apa yang pernah ia lakukan kepadanya.


****


Lyra merasa jenuh sekali di dalam rumahnya. Semua pekerjaan rumah sudah ia selesaikan. Dia pun berniat untuk pergi ke toko siang itu. Karna sudah tiga hari juga dia belum sempat memantau tokonya lagi.


"Mau kemana?!" Bu Rukanda yang sedang menyulam kain lantas terkejut melihat Lyra yang sudah bersiap ingin pergi keluar membawa tasnya.


"Bu, Lyra pergi ke toko sebentar ya?" jawabnya.


"Iya Bu... Lyra mau lihat toko dulu. Kasihan kan Noni dan Dini di tinggali terus. Sudah tiga hari Lyra nggak kesana." ujarnya.


Bu Rukanda melirik jam di dinding rumahnya. Melihat jarum jam menunjuk pukul sebelas, dia pun menyuruh Lyra untuk menunggu sebentar lagi. Lalu Bu Rukanda diam-diam mengirim pesan pada Fadil.


"Tunggu Fadil pulang dulu dari Rumah Sakit, sebentar lagi jam prakteknya juga selesai." sahut Ibunya yang sudah hafal jadwal praktek calon menantunya.


"Bu, kenapa sih sedikit-sedikit minta Mas Fadil terus yang jemputin Lyra. Lyra kan udah besar jadi tak perlulah sampai di antar jemput lagi oleh dia." timpal Lyra yang heran dengan sikap Ibunya yang akhir-akhir ini selalu mengekangnya.


"Siapa yang bilang kamu itu masih kecil sih, nduk?! Ibu hanya ingin kamu tidak diam-diam bertemu lelaki itu lagi. Jadi lebih aman bila kamu di antarkan oleh Fadil kemanapun kamu pergi." sergah Ibunya lagi.


"Ya Allah Bu... tapi kami kan belum menikah, ya nggak panteslah tiap waktu pergi barengan terus." gerutu Lyra dengan suara pelannya.


Bu Rukanda berdecak sinis lantas tertawa meledek putrinya. "Apa kamu lupa nduk, dulu kamu sama Raffa juga udah kayak pengantin baru. Tiap waktu kalian barengan terus kan kalau di kampus?!" sindirnya.


"Kalau itu lain Bu, kan kami memang satu kampus sudah pasti tiap hari ketemu..."


"Tetap saja sama!"


Lyra menghembus nafasnya kasar, percuma saja panjang lebar bicara sama ibunya. Lyra tetap akan kalah debat. Mau tak mau Lyra pun harus menunggu Fadil datang menjemputnya.

__ADS_1


Empat puluh menit kemudian, mobil Fadil terdengar dari luar rumahnya. Lantas lelaki itu mengklakson mobilnya di depan rumah. Bu Rukanda pun beranjak dari kursi dan berjalan ke depan duluan.


"Ayo nduk, itu Nak Fadil sudah datang." sahutnya. Lyra mengangguk malas.


Lalu Lyra berdiri dan mengikuti ibunya. Fadil menghampiri Bu Rukanda, menempelkan punggung tangan calon mertuanya dengan dahinya.


"Assalamualaikum Bu, Lyra..." sapanya tersenyum tipis.


"Wa'alaikumsalam Nak Fadil." balas Bu Rukanda tersenyum senang.


"Mau ke toko, ayo biar aku antar..." ujar Fadil pada calon istrinya yang masih terkesan dingin padanya.


Fadil tahu jika Lyra masih marah dengan ucapannya saat itu. Karna Fadil yang ikut menuduh Lyra seperti Ibunya, bahwa Lyra masih mengharapkan Raffa.


Di perjalanan, Fadil melirik calon istrinya yang masih saja terdiam.


"Kenapa diam saja? Masih marah padaku? Kalau kamu memang benar-benar sudah melupakan dia. Bersikap biasalah bila bersamaku..." titahnya tegas.


"Kenapa sih kamu selalu saja menyinggung dia terus kalau kita lagi berdua?" tukas Lyra yang tak suka Fadil hanya terus membahas Raffa di depannya.


"Itu karna aku masih sakit hati padamu, karna kamu tak mau terus terang padaku jika Raffa adalah mantan kekasihmu." timpalnya dengan nada kesal.


Fadil menghela nafasnya kasar. Seharusnya dialah yang marah disini bukannya Lyra. Karena ia merasa telah di bohongi.


"Aku tahu aku salah, untuk itu aku minta maaf padamu. Itu karna aku tak ingin hubunganmu dengan dia, jadi masalah gara-gara aku." ucap Lyra seraya menundukkan kepalanya.


Fadil mengangguk pelan, mencoba mengerti maksud calon istrinya. Lantas ia mengulurkan tangan kirinya dan menggenggam lembut tangan kanan Lyra sambil terus menyetir mobilnya.


Lyra terkejut dan segera menarik lagi tangannya. Namun Fadil semakin menggenggamnya erat. "Mas, kumohon jangan seperti ini. Kita belum resmi menikah."


Fadil tak menggubrisnya, lantas ia menepikan mobilnya dulu. Lalu menatap Lyra dengan lekat dan meminta kejujuran darinya.


"Aku hanya ingin tahu perasaanmu padaku saat ini. Katakan padaku, apa sudah ada cinta di hatimu untukku Lyra? Aku takut kamu masih memendam perasaan untuknya. Walau kamu berkata sudah melupakannya. Aku tak ingin jika kamu menikah denganku karna terpaksa." tegasnya.


Lyra menarik nafasnya dalam. Lantas menggeleng kepala. "Mas... Aku"


"Jawab saja, aku ingin dengar kejujuranmu. Aku tak ingin ada kebohongan lagi. Cukup kemarin kamu menyembunyikan siapa Raffa sebenarnya dariku!"


"Mas Fadil aku memang belum sepenuhnya mencintaimu. Tapi aku sudah mencoba untuk menerimamu. Untuk itu jangan kamu bahas lagi masalaluku bersama Raffa. Aku sudah tak ada hubungan apapun dengannya..."


"Benarkah?" tanyanya, Lyra mengangguk lagi. "Lalu kenapa kamu selalu diam tak semangat selama ini?"


"Aku hanya memikirkan Keyla Mas... Dia pasti akan sangat kehilangan aku... Sedang Ibu juga tak ingin aku menemuinya lagi." lirihnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2