Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku

Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku
Tidak Bisa Jauh Darimu


__ADS_3

...BAB 52...


...Tidak Bisa Jauh Darimu...


Fadil menyetirkan mobilnya menyusul mobil Rubi dari belakang. Dia tahu saat ini Rubi tengah mabuk, dapat dia lihat cara Rubi mengendarai mobilnya yang berbelak-belok seperti tidak terkendali.


"Rubi, hentikan mobilmu sekarang juga! Berbahaya, kamu sedang mabuk!" teriak Fadil memerintah wanita itu di kaca mobilnya yang sudah terbuka.


Saat ini mobil Fadil berada tepat di samping mobil Rubi berjalan. Berapa kali Fadil membunyikan klaksonnya agar Rubi segera menghentikan mobilnya.


Namun Rubi sangat acuh dia tetap mengendarai mobilnya, walau kepalanya sudah terasa berat dan pusing, dia tetap memaksakan untuk menyetir mobilnya sendiri.


Fadil mendengus kesal, karna terus di abaikan Rubi. Fadil melajukan mobilnya lebih cepat dan mendahului mobil Rubi, lantas lelaki berusia 31 tahun itu dengan gesit membelokkan mobilnya ke kiri lalu berhenti tepat di depan mobil Rubi.


Cekiiiiiitttt


Mendadak Rubi pun menginjak remnya. Keningnya nyaris saja terbentur setir sendiri. Nafasnya naik turun menatap marah pada Fadil yang mobilnya sudah menghalangi jalannya.


Fadil bergegas turun dari mobil dan berjalan menghampiri mobil Rubi. Membuka pintu mobilnya.


"Ayo keluar, aku tidak ingin terjadi sesuatu denganmu..." titahnya mengantisipasi.


****


["Apa?! Kenapa kau tidak melarang dia pergi sih, Sin?!"] teriak Farah di seberang telepon.


"Nggak bisalah Fa, aku nggak mau kalau nanti di dikiranya suka mengatur hidup Mas Fadil. Kalau sampe tiba-tiba Mas Fadil mutusin aku gara-gara ini, gimana?" sahut Sinta dengan wajah muram dan cemasnya.


Farah berdecak kesal. Lama-lama Fadil membuatnya darah tinggi. Adik lelaki satu-satunya itu memang susah di bilangin.


"Ayo dong Fa, kamu harus bantu aku. Peringatkan wanita itu, agar dia tidak menyusahkan Mas Fadil lagi. Aku nggak suka ya dengan sikapnya yang berpura-pura, agar menjadi pusat perhatiannya Mas Fadil..." gerutu Sinta yang mulai tak tenang, karna menurutnya perhatian Fadil pada Rubi itu terlalu berlebihan.


["Sebelum kamu beritahu pun aku sudah pernah menyuruh janda itu untuk menjauhi adikku. Ya, tapi katanya sih dia bilang dia nggak akan deketin adikku lagi! Memang Fadilnya aja yang kelewatan, tenang saja Sin aku bakal marahin dia kalau dia sudah pulang!"] sungut Farah ikut kesal karna Fadil malah terang-terangan ingin menyusul Rubi di depan Sinta.


"Jangan dimarahin-lah Fa... Itu malah bikin Mas Fadil jadi curiga kalau aku yang menyuruhmu buat ngatur dia..."


["Terus gimana?! Kalau nggak di ingetin terus, anak itu mana ngerti-ngerti sih, Sin!"] sahut Farah.


Sinta menekukkan alisnya, tiba terlintas ide di benaknya.


"Gini aja Fa, kalau ada kesempatan ngomong, kamu tanyakan kapan dia akan melamarku? Aku udah pengen sekali jadi istri dia. Biar si Rubi itu nyadar diri. Kalau dia nggak bisa deket-deket dan berharap lagi sama Mas Fadilku!" ] usulnya.


Farah terdiam sejenak lantas mengangguk setuju dengan usulnya Sinta


["Baiklah, kalau perlu aku akan desak dia sampai dia mau menikahimu secepatnya!"]

__ADS_1


Fadil memang menerima cinta Sinta, tapi sampai detik ini pun Fadil belum juga berniat untuk menikahinya. Entah apa yang di tunggu-tunggu Fadil?


"Maafkan aku Sinta, aku memang belum bisa mencintaimu. Kamu tahu sendiri kan, kalau aku belum bisa melupakan cinta pertamaku. Tapi, bagaimana kalau kita coba dulu mejalani hubungan ini. Semoga akan ada kecocokan di antara kita berdua nantinya... Dan kuharap kamu bisa lebih bersabar dengan semua sikapku yang mungkin tidak kamu sukai..." ucap Fadil saat itu. Sinta mengangguk setuju.


"Terimakasih Mas, akhirnya Mas mau menerimaku... Tidak apa-apa aku akan bersabar menantimu sampai kamu akhirnya dapat mencintaiku juga..." ucap Sinta dengan mata berkaca-kaca penuh harap.


Mobil Fadil telah sampai di depan gerbang rumah kediaman Ambar. Dia menghentikan laju mobilnya, lalu menoleh pada Rubi yang sudah terlelap tidur. Dengan gerak pelan Fadil membuka sealbeat yang mengikat tubuh Rubi.


Seketika ia terpaku, memandangi penampilan Rubi yang memakai gaun dengan bahu terbuka. Rambut agak kecoklatan seatas bahu itu tergerai, dan lembaran anak rambutnya menutupi sebagian wajah cantiknya, bibir yang di poles berwarna merah. Fadil terkesima dengan kecantikan yang Rubi miliki, baru kali itu dia melihat wajah Rubi dari jarak yang sangat dekat.


Saat Fadil ingin merapikan anak rambut itu, tiba-tiba Rubi memegang tangan Fadil tanpa dia sadari, sontak Fadil pun terkejut.


"Kenapa, kenapa kau begitu peduli padaku Kak...? Bila tak ada cinta di hatimu, lalu kenapa kau terus saja mendekatiku..." lirihnya, dengan mata masih terpejam rapat, Rubi mengigau.


Fadil menatap sendu wajah Rubi dan membelai lembut pipinya.


"Entahlah Rubi, ada perasaan dimana diriku tidak bisa jauh dari dirimu. Apakah memang... Kita sudah terbiasa bersama, sehingga aku selalu merasa nyaman dan tentram bila di dekatmu? Aku pun tak mengerti kenapa aku begitu menyayangimu..." gumamnya pelan.


Fadil menjawab pertanyaan Rubi, entah itu terdengar atau tidaknya oleh Rubi. Fadil tak peduli. Namun kalimat itu keluar begitu saja di mulutnya Fadil.


Fadil mendekatkan bibirnya, lantas mendaratkannya di kening Rubi. Lembut dan dalam.


Karna khawatir jika Rubi akan kedinginan, Fadil mengambil mantelnya di kursi belakang, lalu menutupi tubuh Rubi dengan mantel itu.


Fadil keluar dari mobil, berlari memutar ke depan dan membuka pintu samping.


Seorang wanita yang masih terjaga sejak tadi pun akhirnya bisa bernafas lega. Karna yang di tunggu-tunggu sudah pulang.


Lyra membuka lebar pintu kamar Rubi agar Fadil bisa masuk sambil menggendong Rubi. Dengan hati-hati tubuh wanita langsing dan padat itu, ia baringkan perlahan di atas kasur.


"Terimakasih banyak ya Mas Fadil, ada kamu aku jadi tenang. Inilah yang aku dan Mas Raffa khawatirkan. Rubi jadi tak bisa mengontrol dirinya, jika dia terlalu sedih dan patah hati." ucap Lyra. Fadil mengangguk tersenyum, dia dapat mengerti kenapa Rubi bisa begitu.


Lyra menghela nafasnya dalam, lantas menyelimuti dan menatap sendu adik iparnya.


"Apakah dia, selalu bercerita padamu tentang kesedihannya?" tanya Fadil, merapatkan bibirnya gugup. Lyra mengangguk kepala.


"Iya, sesekali dia selalu mencurahkan segala keresahan hatinya padaku. Hanya saja dia tak pernah mengatakan padaku, siapakah pria yang membuatnya patah hati seperti ini..." terang Lyra.


Fadil meneguk ludahnya perlahan, mendengar perkataan sindiran dari mantan calon istrinya, wanita yang pernah singgah di hatinya.


Lalu Fadil menatap sendu ke arah Rubi yang terpejam dan pulas dalam tidurnya.


"Ya sudah kalau begitu, aku pamit pulang dulu. Tolong kamu jaga dia baik-baik. Jika dia keluar malam lagi. Hubungi saja aku..." pesannya. Lyra mengangguk tersenyum.


"Iya Mas aku pasti hubungi kamu..."

__ADS_1


Setelah pamitan pada Lyra, Fadil melangkah keluar kamar Rubi dan pulang di antar Lyra hingga pintu depan rumah.


****


Keesokan harinya. Pukul setengah enam Farah baru saja terbangun dari tidurnya, karna semalaman dia tidak bisa tidur. Selain memikirkan masalah Fadil dan Sinta sebenarnya dia pun tengah memikirkan suaminya yang berada di luar kota.


Ia baru saja mendapat pesan singkat dari suaminya. Setelah semalaman Farah menghubunginya beberapa kali. Namun tak jua di angkat oleh suaminya. Entah mengapa ada kegelisahan di hati Farah yang tak bisa dia ungkapkan. Ataukah mungkin hanya perasaannya saja. Hampir dua bulan lebih Doni juga tak pulang, alasan karna proyek bangunan yang belum selesai.


"Huh, akhirnya Mas Doni balas pesanku juga." gerutunya.


Farah menelepon suaminya yang akhir-akhir ini selalu sibuk dan tak ada waktu untuk meneleponnya.


"Mas, kemana saja sih?! Kok baru balas pesanku?" dumel Farah.


["Maaf Mas lagi sibuk kerja, Dek. Pekerjaan Mas banyak banget..."] sahut Doni di seberang teleponnya dengan suara seraknya sehabis bangun tidur.


"Tapi sesibuk apapun itu, dulu Mas selalu nyempetin buat hubungi aku kan!" gerutu Farah lagi.


["Ah, iya Mas lupa... Sangking kecapean, terus semalam kan ada acara makan-makan juga sama atasan jadi pulang larut malam banget, Dek..."]


["Mas... Ini jam berapa?" ]


Deg


Farah terkejut, seketika ia seperti mendengar ada suara wanita di dekat suaminya.


"Siapa itu Mas?!" tanya Farah dengan jantung yang tiba-tiba berdebar kencang tak karuan.


["Eh Dek itu sudah dulu ya Mas mau mandi dulu. Mau siap-siap ke tempat kerja udah kesiangan... Nanti Mas hubungi lagi..."] sahutnya.


Buru-buru Doni pun menutup sambungan telepon Farah.


"Tapi Mas! Mas Doniii!" teriak Farah.


Mendadak wajah Farah pun berubah merah padam, nafasnya berhembus tak beraturan. Farah semakin tak tenang. Menekan dadanya yang tiba-tiba terasa sesak sekali. Lantas ia menggeleng-geleng kepalanya dengan cepat.


"Tidak, itu tidak mungkin. Mas Doni tidak mungkin berselingkuh di belakangku!" pekiknya dengan cemas yang semakin menjadi-jadi.


Bersambung....


...****...


VISUAL RUBI


__ADS_1


VISUAL FADIL



__ADS_2