Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku

Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku
Rubi Hilang Arah


__ADS_3

...BAB 45...


...Rubi Hilang Arah...


Rubi berlari masuk ke dalam kamarnya. Tanpa memperdulikan Bundanya yang sedang asyik mengobrol dengan teman sejawatnya.


Air mata Rubi terus bercucuran. Rasanya dia ingin cepat masuk ke dalam kamarnya dan mengurung dirinya sendiri disana. Hatinya kecewa, hancur, dan putus asa jadi satu.


Ambar terheran menatap putrinya yang tak biasanya, dahinya mengernyit bertanya.


Ada apa dengan anak itu? Masuk ke rumah kok tak memberi salam dulu... Tahu-tahu main nyelonong masuk saja... gerutu Ambar dalam hatinya, merasa tak enak karna di lihat oleh temannya yang sedang berkunjung ke rumah.


Bi Sumi ikut menggeleng kepala. Karna penasaran Nyonya Ambar bangkit dari sofa lalu melangkah menyusul Rubi ke kamarnya. Namun kamar Rubi ternyata sudah tertutup dan terkunci dari dalam.


"Rubi... Rubii kamu kenapa Nak?" panggilnya sembari mengetuk-ngetuk pintu. "Rubiii.."


Ambar semakin cemas, karna Rubi sama sekali tak menjawab panggilannya. Samar terdengar suara tangisan Rubi. Beliau menerka dalam pikirannya, mungkinkah saat ini putrinya sedang ada masalah?


Karna tak ada jawaban sama sekali. Beliau pun memutuskan kembali ke ruang tamu, karna tak enak meninggalkan temannya di ruang tamu sendirian. Sambil menunggu hati putrinya kembali membaik. Ambar pun melanjutkan ngobrolnya dengan temannya lagi.


Rubi sesenggukan di dalam kamarnya, entah sudah berapa banyak lembar tissue yang ia habiskan untuk menghapus air matanya. Hingga kamarnya jadi tempat pembuangan tissue.


Rubi masih tak percaya dengan kenyataan ini. Begitu cepatnya Fadil mendapatkan lagi penggantinya Lyra.


Rasanya begitu sesak di hati, bila memendam perasaan cinta itu sendirian.


****


"Bagaimana, adikku udah nerima kamu kan?" tanya Farah pada Sinta dengan suara pelan, sebab Yoga baru saja terlelap tidur di keranjang bayi.


"Iya Fa... Aku seneng banget, akhirnya Mas Fadil mau nerima aku tadi..." sahut Sinta.


"Aaaaa.... Selamat ya San, jadi juga kita iparan..." jerit Farah sangking senangnya. Spontan Sinta membekap mulut Farah.


"Syuuuttt! pelan-pelan Fa, nanti Yoga kebangun, malu juga kalau sampe kedenger Mas Fadil. Dia juga kan baru istirahat..." bisik Sinta tersipu, seraya mengulum senyumnya bahagia.


Farah menutup mulut dan menganggukkan kepala. Lalu kedua sahabat itu saling berpelukan. Barusan sekali keduanya tengah berbincang mengenai hubungan Sinta dan Fadil.


Saat di Rumah Sakit tadi, Sinta meminta jawaban Fadil lagi. Sudah lama sekali Sinta menunggu jawabannya semenjak hubungan Fadil dan Lyra berakhir.


Sinta memang sudah lama menyukai Fadil dan sering menjenguknya dan memberinya semangat hidup. Sudah berapa kali dia utarakan perasaannya. Dan baru terjawab tadi pagi. Fadil akhirnya mau menerima cinta Sinta.


Sementara Fadil di kamarnya, belum mau terpejam setelah meminum obat barusan. Kedua matanya menatap langit-langit kamar. Apakah dia sudah benar dengan keputusannya untuk menerima cinta Sinta? Namun entah mengapa, tiba-tiba perasaannya jadi tak enak ketika melihat Rubi yang menangis tadi.


*****


Raffa, Lyra dan Keyla baru saja pulang pukul tujuh malam itu. Dari jam pulang sekolah Keyla. Keluarga kecil itu telah menghabiskan waktu bermain bersama di luar.


"Maah ngantukk!" Keyla mengucek matanya seraya menguap lebar setelah mobil mereka berhenti di halaman rumah.


"Iya sayang, tapi sebelumnya sikatan sama cuci kaki dulu ya.."

__ADS_1


Keyla mengangguk. Lalu meminta di pangku Lyra. "Pangkuu Maah..."


"Uuh manjanya nih anak Mama..." Lyra memangku Keyla. "Aku masuk duluan ya Mas.. Tolong tasku dan tas Keyla."


"Iya sayang." sahut Raffa yang lekas mengambil dua tas wanita kesayangannya.


Lyra masuk ke dalam rumah mengucap salam, sambil memangku Keyla.


Ambar berdecak kecil seraya menggeleng kepala. "Key Key... udah gede kok masih minta di pangku aja! Malu dong Key... Udah lima tahun..." sindir Ambar.


Lyra tersenyum mendengar ocehan Ibu mertuanya, lantas mengecup punggung tangan keriputnya.


"Udah ngantuk katanya Bun..."


"Uuh, anak ini." Ambar mengusap pipi cucunya dengan gemas yang matanya merem melek menahan rasa kantuk. "Ya sudah cepat istirahat, kamu juga Lyra jangan kecapean.."


"Iya Bun..."


Lyra pun pamit masuk dulu ke kamar Keyla di lantai dua. Tak lama Raffa pun masuk ke dalam rumah, namun segera di tahan Bundanya.


"Bunda ingin bicara sama kamu.." ujar Ambar.


"Ada apa ya Bun?" Raffa terkejut menatap antusias Bundanya.


Ambar menarik lengan putranya dan mengajaknya duduk dulu di sofa.


"Rubi, sejak tadi siang dia di kamar terus nggak mau keluar-keluar." ujar Ambar masih cemas dengan putri bungsunya.


"Makanya itu, Bunda bertanya sama kamu..."


"Memangnya, tadi dia habis pergi kemana?"


"Tadi pagi setelah kalian bertiga pergi. Rubi katanya ingin ketemu Nak Fadil. Pulang-pulang dia kayak nangis gitu Fa, tolong kamu cek dan lihat adikmu dulu. Bunda khawatir dia kenapa-napa..." cemasnya lagi. Raffa mengerutkan keningnya.


Bertemu Fadil? Apa mereka berdua sedang bertengkar? batinnya.


Setelah Raffa menaruh tas Keyla di kamarnya dan tas istrinya. Lalu Raffa pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Sedang Lyra menidurkan Keyla. Raffa pun berniat ke kamar adiknya dulu untuk melihat keadaannya.


Namun saat ingin mengetuk pintu kamar Rubi, pintunya tiba-tiba terbuka dari dalam. Rubi terkejut mendapati Kakaknya sudah berdiri di depan pintu kamarnya.


"Apa?!" ketusnya. Memalingkan wajah seraya bersedekap tangan di depan pintu.


"Belum kutanya udah sewot aja. Bunda dari tadi mencemaskanmu. Kenapa baru keluar dari kamar?" tanya Raffa. Rubi malas menjawabnya, dia malah membetulkan tali tas yang terjatuh di bahunya.


Raffa mengerut kening melihat penampilan Rubi dengan jaket dan celana panjang jeans. Rambut di ikat satu ke atas. Gayanya seperti anak masih remaja saja. Cuek dan tomboy.


"Mau pergi kemana kamu berpenampilan begitu?" tanyanya dengan tatapan menyelidik.


"Terserah akulah mau pergi kemana kek, yang penting aku happy. Bosan diam terus di rumah!" timpalnya santai.

__ADS_1


Rubi menutup pintu kamarnya lalu melengos melewati Kakaknya. Ambar yang melihat Rubi keluar kamar pun terkejut dan lekas menghampirinya.


"Rubi, kamu kenapa baru keluar kamar nak? Ada apa sama kamu?"


"Tidak apa-apa Bun, tadi Rubi sedang capek aja. Ngantuk banget. Sekarang Rubi pamit keluar dulu ya..."


"Jam segini, ini sudah malam Rubi..."


"Aku di tunggu sama temen Bun, sebentar saja paling jam sepuluh Rubi udah pulang lagi..."


"Ya Allah Rubi, kamu bukan lagi remaja yang sukanya bersenang-senang. Lagian wanita itu tak pantas keluyuran malam-malam. Ayo masuk lagi ke kamarmu, jangan buat Bundamu tensinya naik yaa...." tukas Ambar melarang putrinya untuk pergi keluar rumah.


"Tapi Bun, nggak enak Rubi sudah di tunggu sama temen. Ada acara penting. Lagian Rubi juga jenuh di rumah terus..." bantahnya.


"Tetap saja tidak boleh Rubi, ayo masuk..." perintah Ambar lagi.


"Tidak Bun, Rubi cuma sebentar saja. Rubi janji kok gak akan pulang lewat dari jam dua belas malam. Udah ya Bun... Daah..."


Rubi tak peduli teguran Bunda Ambar. Dia tetap bersikeras ingin pergi. Rubi melangkahkan cepat kakinya keluar rumah, menutup kedua telinganya dan menaiki mobilnya.


"Ya Allah Rubi, anak itu... Makin hari makin susah saja di bilangin..." Ambar menghela kasar. Dia tak habis pikir dengan Rubi. Setelah bercerai, Rubi seakan hilang arah.


Raffa mengusap punggung Bundanya. Menyuruhnya untuk bersabar menghadapi sikap putrinya yang belum berubah dan masih saja kekanak-kanakkan.


Malam-malam berikutnya Rubi jadi sering keluar malam. Kali itu dia mencoba pergi ke club seorang diri untuk menghilangkan rasa kesepian di hatinya.


Siang sebelumnya, ia pergi ke salon untuk memotong dan mencat rambutnya menjadi coklat, Rubi tak sengaja melihat Fadil dan Sinta masuk ke dalam mall. Rubi mengikuti mereka dari belakang. Hatinya bertambah sakit. Ketika melihat kemesraan mereka. Saat di Cafe, Wanita itu juga begitu perhatian sampai menyuapi Fadil makan.


"Ini semua salahmu Kak, kenapa kau begitu mudahnya menerima cinta orang lain. Padahal dulu aku selalu ada di dekatmu. Apa kau tidak pernah menyadari bahwa aku mencintaimu..." lirihnya.


Rubi meneguk lagi minuman beralkohol itu. Hingga tak terasa dia menghabiskan satu botol minuman.


"Hai, baby sendirian aja?" seorang lelaki tiba-tiba menghampiri Rubi yang sudah setengah mabuk di bar tander.


"Siapa kau hah? Jangan ganggu aku, sana!" usir Rubi dengan suara seraknya. Rubi menunjuki kasar lelaki itu.


"Kemarilah biar aku temani ya... Kasian cantik-cantik tapi sendirian...".Lelaki itu semakin mendekat dan berani menyentuh bahu Rubi.


"Kubilang pergi! Tinggalkan aku sendiri!" sentak Rubi mendorong lelaki yang terus saja mendekatinya. Rubi risih dan tak ingin di ganggu.


Rubi keluar dari club, karna sudah merasa tak nyaman. Dia berjalan sempoyongan menuju mobil di parkiran.


Namun lelaki tadi ternyata mengikutinya dan membekap Rubi. Membawa Rubi masuk mobil lelaki itu.


"Emmm, lepaskaan aku..."


Bersambung....


...****...


Bagaimana nasib Rubi??

__ADS_1


__ADS_2