Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku

Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku
Selingkuhan Suami Farah


__ADS_3

...BAB 53...


...Selingkuhan Suami Farah...


Pukul enam pagi Rubi baru saja terbangun, samar ia teringat lagi kalau semalam itu ia mabuk. Rubi pun terkejut melihat mantel yang tak ia kenali sudah membungkus tubuhnya. Rubi menghirup dalam bau mantel itu.


Parfum yang sangat familiar itu berhasil memutar memori otaknya kembali mengingat pada malam tadi. Dimana Fadil membopong tubuh tak berdayanya masuk ke dalam mobilnya.


"Apakah aku bermimpi, semalam sepertinya Kak Fadil menciumku..." gumamnya seraya menyentuh keningnya. Kedua pipi Rubi tiba-tiba mendadak jadi merah.


Kreeeetttt


Pintu terbuka perlahan. Rubi terkejut dan lekas membuang mantel Fadil ke samping tempat tidurnya. Karna Lyra tiba-tiba saja membuka pintu kamarnya tanpa mengetuk lebih dulu.


"Eh maaf, Mbak pikir kamu masih tidur..." ucap Lyra jadi tak enak hati.


"Tidak apa-apa Mbak..."


Lyra menghampiri Rubi dengan membawa nampan sarapan untuk Rubi, roti sandwich dan segelas susu. Lalu ia duduk di sisi ranjang Rubi. Setelah menyimpan nampan makanan itu di meja kecil dekat lampu tidur.


"Tadinya Mbak ingin bangunin kamu, eh kamu sudah bangun duluan. Ayo minum susu hangat dulu. Supaya pusingnya hilang..." titahnya lembut.


Rubi mengangguk tersenyum, lalu meraih gelas susu di tangan Lyra.


"Terimakasih banyak Mbak, Mbak Lyra selalu perhatian sama Rubi..." ujarnya sungkan dengan kebaikan Kakak iparnya selama ini. Karna jarang sekali ada ipar yang baik seperti Lyra.


Lyra tersenyum manis. "Sudah sepantasnya Mbak baik dan sayang sama kamu. Kamu kan adiknya Mas Raffa berarti kamu juga adiknya Mbak. Hari ini kamu istirahat saja, nanti biar Mbak saja yang antar Keyla ke sekolah.."


"Memangnya Mbak udah nggak sakit-sakitan lagi?!"


"Tidak, Alhamdulillah sudah agak mendingan... Udah jangan pikirin Mbak. Lebih baik kamu pikirin sendiri, makan roti dan minum susunya, agar badannya kembali bugar..."


Rubi mengangguk. Lalu meneguk perlahan susu yang masih hangat itu. Rubi menghela nafasnya setelah meminum setengah gelas susu.

__ADS_1


"Oh ya, Mbak..."


"Ya?" Lyra menoleh saat dia akan beranjak pergi keluar kamar Rubi.


"Tadi malam siapa yang bawa aku sampai ke tempat tidur?" tanyanya malu-malu, seraya merapatkan bibir bawahnya.


"Mas Fadil, dia yang menggendong kamu... Coba kalau nggak ada dia. Mbak bingung mau minta tolong sama siapa buat nyusul kamu... Jangan di ulangin ya Rubi, Mbak nggak mau kalau kamu sampai kenapa-napa..." ujar Lyra cemas. "Tahu sendiri kan Mas Raffa kalau marah seperti apa?!"


"Iya Mbak, maaf sudah membuat Mbak Lyra cemas..."


Rubi menunduk lalu meletakkan gelas susu yang tinggal setengahnya di meja sisi ranjangnya. Rubi pun beringsut maju dan memeluk Lyra.


"Iya Rubi, Mbak sudah maafin kamu kok..." ucap Lyra tersenyum.


Rubi menangis tergugu di pelukan Lyra. "Mbak Lyra, sebenarnya selama ini Rubi itu cinta sama Kak Fadil..." lirihnya terisak-isak.


"Apa, jadi kamu...??" Lyra terkejut mendorong pelan bahu Rubi dan menatapnya tak percaya.


Rubi mengangguk dengan air mata yang terus menetes keluar. Akhirnya Rubi pun menceritakan semuanya pada Lyra, bahwa lelaki yang membuatnya patah hati adalah Fadil.


"Ada apa Mbak, kenapa terlihat gelisah sekali?" tanya Fadil, makan pun jadi ikut tak tenang karna melihat wajah semrawut Kakaknya yang dari tadi tak berhenti grasak grusuk menatap layar ponselnya.


Farah menggeleng kepala. "Tidak ada apa-apa, hanya sedang menunggu Mas Doni telepon..." jawabnya ketus.


Lantas Farah menatap adiknya yang kembali melanjutkan sarapannya. "Oh iya Dil, ngomong-ngomong kapan kamu mau melamar Sinta?" tanyanya to the point. Farah baru saja ingat permintaan Sinta tadi malam.


Fadil tersedak makanan, mendengar pertanyaan Farah. "Ma-maksud Mbak?" balik bertanya setelah meminum airnya.


"Kamu tahu, orangtua Sinta itu sudah sering nanyain kamu. Kapan kamu mau nikahin Sinta?" tanyanya lagi dengan tatapan seriusnya.


Fadil menghela nafasnya panjang. Lalu menggeleng kepalanya pelan.


"Maaf Mbak Farah, tapi Fadil belum siap untuk nikahin Sinta. Sudah aku katakan sebelumnya pada Sinta, kalau aku tidak ingin dulu cepat-cepat menikah..." jelasnya.

__ADS_1


"Fadil, sebenarnya kamu itu lagi nunggu apa sih? Kasihan Sinta. Dulu aja kamu sama Lyra pengen cepat nikah kan?! Nah kenapa sama Sinta malah di ulur-ulur terus waktunya nggak ada kepastian sama sekali. Inget umur Dil! Umur kamu dan Sinta itu hampir sama. Udah pada dewasa. Nikah Dil daripada terus pacaran, gak enak di lihat terus sama tetangga." cecar Farah.


"Itu lain Mbak, dulu Fadil pengen cepet nikah karna memang Fadil cinta mati sama Lyra. Tapi pada Sinta, Fadil masih ragu. Maka itu kenapa Fadil masih ingin pacaran dulu sama dia..." ucapnya terus terang. "Selain itu Fadil juga masih takut kalau nantinya akan menyakiti perasaan Sinta, bahwa aku hanya setengah hati menerimanya..."


Farah mendengus kasar, dan menggeleng kepalanya. Menatap kesal adiknya yang susah di beritahu itu.


"Sekarang jawab pertanyaan Mbak dengan jujur. Apakah karna kamu masih mencintai si Lyra? Atau kamu sekarang memang lagi demen aja sama si janda centil itu, hah iya ngaku aja kamu Dil?!" berangnya.


"Mbak, dia itu punya nama. Namanya Rubi. Sebaiknya Mbak berhenti menjulukinya dengan sebutan itu. Karna bisa jadi julukan itu malah berbalik menimpa ke diri Mbak sendiri!"


Deg


Farah melotot, mendengar ucapan telak adiknya.


"Eh, kamu doain Mbak biar janda juga ya?!"


"Bukan begitu Mbak, Fadil hanya nggak suka aja denger Mbak itu ngata-ngatain terus Rubi! Mbak nggak tahu saja sikap suaminya saat itu bagaimana? Gimana kalau sampai itu terjadi dalam kehidupan rumah tangga Mbak Farah sendiri? Ini Mbak, ini!"


Fadil menunjuk-nunjuk dadanya sendiri. "Kita tuh di beri Tuhan ini, hati dan juga perasaan. Jadi berhati-hatilah dengan ucapan kita agar tidak menyakiti perasaan oranglain. Karna lidah itu lebih tajam dari sebilah pedang. Sakitnya tak bisa hilang..."


Setelah sedikit memberi pelajaran pada Farah agar bisa mengerti. Fadil pun beranjak dan pergi untuk bekerja, meninggalkan sarapannya yang belum habis. Karna mendadak selera makannya jadi hilang karna terus berdebat dengan Kakaknya.


Farah mendengus kasar. Jantungnya lagi-lagi berdebar tak karuan. Lantas Farah mengambil ponselnya dan menelepon suaminya.


"Hallo Mas Doni?! Mas... Kamu kemana saja sih? Mas Doni!" sahut Farah.


["Maaf ya, Mas Doni saat ini sedang mandi....]


"Si-siapa kau?" Farah terkejut karna yang mengangkat teleponnya adalah seorang wanita.


["Em sayaaa... Susi. Saya adalah pacarnya Mas Doni..."]


"Apa katamu?!" Farah terbelalak, berdiri. Matanya nyaris saja keluar mendengar ucapan wanita itu.

__ADS_1


Bersambung...


...****...


__ADS_2