
...BAB 67...
...Farah Ingin Bercerai...
"Katakan padaku Mas, jadi benar saat ini Susi sedang hamil anakmu?!" teriaknya, dengan nafas memburu Farah mencoba menahan api amarah yang sudah berkobar di dalam dadanya seolah sebentar lagi akan membakar rumah itu.
Susi pun beranjak dari kursi lalu melipat kedua tangannya, dan menatap sinis Farah.
"Memangnya kenapa kalau iya? Sekarang aku memang sedang hamil anaknya Mas Doni. Untuk itu, lebih baik kamu pergi saja dari sini. Bukankah selama ini kamu tak pernah ada di samping suamimu, hah? Mengurusinya saja kamu tidak pernah becus!" remehnya dengan nada ketus.
Farah pun kembali mendelik tajam suaminya.
"Kau sungguh keterlaluan, Mas! Bagaimana jika orangtua kita sampai dengar kalau kau itu sudah hamili wanita lain sebelum menikahinya?! Aku tak sangka kau akan melakukan segila ini Mas Doni! Sudah berapa kali kau berzina dengannya?! Ku pikir kau adalah pria baik-baik yang Ayahku kirimkan dulu padaku Mas, walaupun kita menikah karna perjodohan, tapi aku tulus mencintaimu. Aku terpaksa tinggal bersama orangtuaku, karna aku sedang berusaha untuk membantu perekonomian keluarga kecil kita! Dan aku di Surabaya juga sama-sama sedang bekerja Mas, bukan untuk bermain-main!" tukas Farah, tampak matanya kini berkaca-kaca merah.
"Aaah sudahlah!! Semua sudah terjadi, lalu apa yang ingin kau lakukan sekarang? Kau ingin mengatakan semua pada kedua orangtua kita?! Silakan, aku sudah tak peduli lagi. Dan perlu kau tahu, semenjak mengenal Susi hidupku penuh dengan warna, aku merasa punya istri sepenuhnya, tapi denganmu hanya kesengsaraan saja yang selalu kudapatkan, entah bagaimana orangtuaku bisa menyukaimu...!" bentak Doni dengan nada sinis dan amarah.
Farah menelan ludahnya kasar, kalau begini terus rasanya Farah tak bisa mempertahankan lagi rumah tangganya yang kacau. Tapi, bila ia bercerai dari Doni pun, Farah akan benar-benar kehilangan muka bila suatu saat nanti dia bertemu dengan Rubi. Seolah ucapan hinaannya yang dulu kini semua berbalik kepadanya.
"Ayo sayang, lebih baik kita cepat pergi dari sini aku tidak mau kalau moodku hilang, hanya karna gara-gara suasana ini!"
Doni pun pergi bersama Susi dan meninggalkan Farah sendirian di kontrakan sederhana itu.
Tubuh Farah pun merosot dan terduduk lunglai di lantai. Hatinya benar-benar perih dan tak bisa lagi terobati, jadi beginilah rasanya bila di hianati seorang suami?
Dan siang itu, sementara Doni asyik menikmati indahnya bulan madu bersama istri keduanya. Farah pun mulai mengemas kembali pakaiannya ke dalam tas besarnya. Dia nekad untuk pulang hari itu juga, tanpa sepengetahuan Doni.
"Mungkin jodoh kita sampai disini saja Mas, aku sudah nggak kuat lagi menahan rasa sakit di hati ini. Aku akan gugat cerai kamu, sampai bertemu nanti Mas di pengadilan agama. Dan jangan harap Yoga bisa kamu temui lagi... Aku tak sudi, mempertemukanmu dengan putraku..." geramnya, dengan tatapan tajam ke arah foto pernikahan mereka yang tersimpan di atas meja.
Farah pun menginjak foto itu hingga kacanya pecah, lalu setelahnya ia membuangnya ke dalam tong sampah di sudut kamar mereka.
****
__ADS_1
"Katakan padaku Sinta, apa yang kau janjikan pada Mbak Farah di belakangku?"
Fadil menatap tajam dan dingin Sinta. Tak sengaja tadi dia mendengar semua yang di ucapkan Sinta pada Rubi.
Fadil yang memang ingin menjemput Rubi dan Keyla, lekas menghampiri mereka yang tengah berdebat di depan pagar sekolah.
"Am, i-itu bu bukan apa-apa Mas... Itu hanya perjanjian biasa antara wanita, aku dengan Kakakmu hehe, itu saja..." sangkalnya tergugup. Sinta benar-benar kaget, karna kepergok Fadil yang sedang mengancam Rubi.
Fadil semakin menyipitkan matanya, hatinya di penuhi rasa penasaran yang sangat besar.
"Jangan bohong padaku Sinta, aku tahu kamu dan Mbak Farah sedang menyembunyikan sesuatu yang sangat besar dariku..."
"Ah, tidak Mas... Percayalah, em ya sudah kalau begitu aku pergi dulu ke butik ya masih banyak pekerjaan... Permisi..." Sinta pun segera berbalik dan pergi meninggalkan Fadil dan Rubi. Untuk menghindari pertanyaan Fadil.
Fadil yang masih di buat penasaran pun ingin menahannya namun di cegah Rubi.
"Kak, sudahlah... Biarkan saja dia pergi..." sahut Rubi.
Rubi menggeleng kepala, ia pun tak tahu dan memang tak ingin tahu. Biarlah itu hanya urusan mereka, yang pasti Rubi sudah tahu jika Fadil hanya mencintainya seorang.
****
Tiga jam kemudian, Farah telah sampai di kota tempatnya lahir. Kedatangannya di sambut oleh Ibu dan putra kecilnya di teras rumah. Farah pun menghambur memeluk Ibunya lalu menggendong dan menciumi putranya dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi, rasa rindu dan sedih menjadi satu.
"Putra Mama, Mama kangen sekali sama kamu Nak..." lirihnya dengan suara parau dan dada yang sangat teramat sesak.
"Nduk, ayo sekarang masuk dulu ke dalam dan minum dulu. Lalu ceritakan apa yang terjadi denganmu. Dan kenapa Doni juga tidak mengantarmu pulang?" sahut Bu Marjuki.
Farah pun menghela nafas dalam dan panjang, wajahnya tampak kusut dan sayu seolah banyak beban yang sedang Farah pendam sendirian. Dan hal itu mengudang banyak pertanyaan bagi Bu Marjuki.
Farah mengangguk pelan, lalu menurut perkataan Ibunya. Mungkin inilah saatnya Farah ceritakan semua masalah rumah tangganya kepada Ibunya. Dan agar semuanya cepat selesai, walaupun hal ini bukanlah yang Farah inginkan.
__ADS_1
Dua jam kemudian setelah menidurkan Yoga dan Farah menceritakan semua yang terjadi, Bu Marjuki tampak terkejut dan shock mendengarnya.
"Ibu benar-benar nggak nyangka, kalau Doni akan berbuat seperti itu Nduk! Bapak dan orangtua Doni harus segera di beri tahu, Ibu nggak rela, sungguh Ibu nggak rela kamu di sakiti Farah..." Bu Marjuki menangis dan memeluk putrinya.
Begitupun Farah yang kembali terisak menangis di dalam pelukan Ibunya. "Farah ingin bercerai Bu... Farah ingin cepat bercerai dari Mas Doni..."
"Iya Nduk, Ibu setuju dengan keputusanmu... Apapun yang membuatmu itu bahagia, Ibu pasti dukung kamu..." angguk Bu Marjuki.
Suara pintu depan pun terbuka, Fadil dan Pak Marjuki yang baru saja pulang bekerja pun tersohok kaget melihat kedua wanita berbeda usia itu saling berpelukan dan menangis di sofa ruang tamu. Mereka saling tatap dan bertanya.
"Ada apa ini?" tanya Pak Marjuki.
Farah tersentak dan melepas pelukan Ibunya, lalu berdiri dan menghambur memeluk Pak Marjuki.
"Bapaaak..."
"Ada apa Farah, kau kenapa menangis? Tumben-tumbenan putri Bapak cengeng seperti ini..." sahutnya bergurau.
"Bapaaak, Mas Doni Paakk..."
"Ada apa dengan Doni?"
Farah masih terisak, rasanya dia tak kuat lagi untuk bercerita. Tapi dia harus tetap mengatakan itu pada Bapaknya.
"Mas Doni, dia nikah lagi Pak... Karna di-dia sudah menghamili wanita lain..." isaknya terbata-bata.
Duaaar
Pak Marjuki terbelalak kaget, begitupun Fadil yang ikut membulatkan matanya lebar, sungguh tak percaya dengan apa yang mereka berdua dengar.
Bersambung...
__ADS_1