
...BAB 60...
...Seolah Karma Datang Menghantuinya...
Sementara di kota Madiun...
Farah mengusap air matanya beberapa kali, setelah kepergian Doni. Hatinya perih dan nelangsa. Malam minggu itu Doni, suaminya nekad pergi ke rumah Susi dan berniat akan melamar Susi di rumahnya. Padahal Farah sudah berusaha untuk memperbaiki dirinya menjadi seorang istri.
Tapi Doni tetap bersikeras dengan keinginannya untuk menikahi Susi. Karna memang suaminya sudah terlanjur mencintai wanita itu, yang hampir satu tahun itu mereka berpacaran tanpa sepengetahuan Farah sendiri.
Lalu Istri manakah yang tak sakit hati, melihat suaminya yang begitu mencintai wanita lain selain dirinya?
...~Flashback on~...
"Baiklah aku maafkan kesalahanmu, dan tidak akan menceraikanmu. Tapi dengan satu syarat, kau jangan larang-larang aku lagi untuk berhubungan dengan Susi. Karna aku sudah berencana untuk menikahinya..." terang Doni. "Mau tak mau kau harus bisa menerima Susi sebagai istri keduaku..." lanjutnya.
Farah tercengang, lantas menggeleng kepalanya shock. "Mas kau tidak serius dengan ucapanmu 'kan? Tapi aku tidak mau kau madu Mas!" tolaknya, persyaratan Doni seolah membuatnya tak bisa bernafas. Hatinya bagai tercabik-cabik dan tak lagi berbentuk.
Farah seakan tak punya lagi hak untuk menyuarakan pendapatnya sebagai seorang istri, semua memang berasal dari kesalahannya sendiri yang berambisi menjadi bagian pemilik butik temannya. Sehingga dia mengabaikan tugas-tugasnya sebagai seorang istri.
Bagai buah simalakama. Bila dia menolak keinginan suaminya untuk menikahi Susi, maka dia harus bersiap di ceraikan dan menyandang status janda.
Tentunya hal itu sangat di takutkan Farah selama ini, teringat ketika Farah dengan congkaknya dan terang-terangan menghina status Rubi sebagai seorang janda. Seolah karma akan datang sebentar lagi dan menghantuinya.
Tapi jika Farah memilih bertahan, maka dia juga harus bersiap menanggung resikonya, merasakan sakit hati sepanjang harinya melihat kemesraan suaminya bersama wanita lain di depan matanya sendiri.
"Oke, kalau kau tak mau aku menikahi Susi, berarti kau memang menginginkan perceraian!" gertak Doni lagi dengan nada sinis.
Farah menggeleng lagi, dengan berurai air mata dia memohon agar suaminya mau mempertimbangkan lagi keputusannya itu.
"Tidak Mas, sedikit saja kau pikirkan Yoga! Bagaimana dengan nasibnya, bila kita nanti berpisah? Yoga masih sangat kecil dan dia masih membutuhkan kedua orangtua yang lengkap di sisinya..."
"Makanya itu, kalau kau tak ingin anak kita kekurangan kasih sayang dariku, jangan melarang aku untuk menikahi Susi, kau mengerti!" tegasnya lagi.
Deg
__ADS_1
Lagi hati Farah mencelos nyeri. Farah tak menyangka kalau rumah tangganya akan mengalami badai sebesar ini.
"Baiklah Mas... Aku mengijinkanmu menikahi wanita itu..." angguknya dengan suara terbata-bata, Farah pun terpaksa akhirnya memenuhi keinginan suaminya untuk menikah lagi.
...~Flashback of~...
Satu minggu berlalu, Farah berada di kota Madiun. Bukan dia melupakan Yoga, tapi dia sedang berusaha agar membuat suaminya berubah pikiran.
Hatinya menolak keras di madu tapi juga tak menginginkan perceraian. Namun semua sudah tak bisa lagi di perbaiki, suaminya tetap kekeh untuk meneruskan niatnya itu.
Karna masalah yang rumit ini, bahkan dia pun tak lagi bernaf-su untuk menjadi bagian penerus butik Sinta lagi dan lebih mengutamakan mempertahankan rumahtangganya.
Karna kebingungannya itu, dia jadi mengabaikan pesan dan panggilan Sinta akhir-akhir ini.
Layar ponsel menyala, dan terlihat nama Sinta yang memanggilnya lagi dan nyaris beberapa kali seharian ini. Farah memang sengaja mengubah nadanya menjadi senyap, karna dia memang tak ingin di ganggu dulu. Hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Tapi melihat kegigihan Sinta yang terus meneleponnya berulang kali. Farah pun jadi tak tega dan akhirnya dia mengangkat telepon dari sahabat baiknya itu.
"Hallo Sin... Ada apa?" sapanya dengan suara serak sehabis menangis.
Cecar Sinta memberondong banyak pertanyaan pada temannya. Bukan hanya ia mencemaskan Farah, tapi saat ini Sinta pun perlu bantuan Farah.
Sinta masih tak terima karna Fadil memutuskan hubungan mereka tiba-tiba, sebisa mungkin dia harus merebut Fadil kembali padanya. Dan menyingkirkan Rubi dari Fadil.
"Maaf Sin, aku sedang ada masalah dengan Mas Doni. Makanya itu sekarang aku nggak bisa balik dulu ke Surabaya..." sesal Farah.
["Lalu, sekarang bagaimana dengan nasibku?! Kau sudah berjanji padaku agar mengusahakan Mas Fadil buat nikahi aku! Lihatlah sekarang, gara-gara kau pergi tak ada lagi yang bisa ngawasin Mas Fadil sehingga dengan bebasnya ia berduaan dengan janda itu! Gara-gara kau pergi juga, hubungan kami jadi putus Farah! Mas Fadil tega memutuskan aku demi wanita sialan itu! Farah kau harus cari cara agar mereka berpisah dan Mas Fadil kembali padaku!"]
Sinta tak berhenti bersungut-sungut di telepon mungkin jika di lihat dengan mata batin, saat ini kepalanya tengah mendidih dan mengeluarkan uap panas.
Farah tercengang dengan perkataan yang di sampaikan Sinta. "Apa Fadil, memutuskanmu? Kau serius?!"
["Apa aku terdengar seperti bercanda? Makanya itu aku kesal sekali, kamu sama sekali tak pernah mengangkat teleponku dari kemarin!"] gerutunya lagi.
Farah menghela nafasnya kencang. Bertambahlah kembali beban pikirannya. Iya, dulu memang dia sudah berjanji pada Sinta untuk membantunya, demi sebuah keinginannya. Tapi sekarang seolah hasratnya menguap begitu saja.
__ADS_1
Selain itu Farah juga merasa malu pada dirinya sendiri dan pada Rubi, karna apa yang di rasakan Rubi dulu sekarang tengah menimpanya.
"Maafkan aku Sinta, sepertinya aku juga tidak bisa membantumu lagi..."
["Apa, apa maksudmu bicara begitu Farah?"] gelagap Sinta.
"Iya aku sudah tidak lagi berkeinginan untuk menjadi pemilik butikmu lagi. Karna, saat ini rumah tanggaku juga sedang tidak baik-baik saja. Mas Doni, Mas Doni mau menikah lagi Sin..." isaknya dalam, akhirnya Farah pun mengeluarkan semua beban di hatinya dan dia ceritakan semua pada Sinta.
Sinta pun terkejut mendengarnya. Di sisi lain dia ikut prihatin dengan kesedihan yang menimpa Farah. Tapi dia pun tak mau bila putus dari Fadil.
Sinta melempar kasar ponselnya ke lantai hingga pecah berkeping-keping. Lalu mengobrak-abrik seluruh make up nya di meja rias.
"Tidak, aku tidak akan pernah biarkan wanita itu bahagia dengan Mas Fadil. Aku harus bisa merebutnya lagi! Ya, Mas Fadil harus tetap menjadi milikku!"
Sinta menatap tajam dirinya di depan cermin. Matanya mengkilat penuh amarah. Apapun dia akan lakukan untuk membuat Fadil kembali padanya.
****
Sementara di kediaman Ambar. Semua terkejut dan ikut bahagia mendengar kabar yang tiba-tiba itu. Bahwa Fadil akan berniat menikahi Rubi secepatnya.
Di depan Ambar, Raffa dan Lyra bahkan Keyla si kecil turut mendengar keseriusan Fadil untuk meminang Rubi.
"Syukurlah Mbak ikut bahagia Rubi, selamat ya sayang..." Lyra terharu, lantas memeluk erat adik iparnya.
"Iya Mbak Lyra, ini juga berkat doa dan dukunganmu selama ini pada Rubi..." ucapnya dengan kedua mata berkaca-kaca penuh haru.
Raffa dan Fadil pun saling berpelukan dengan rona kebahagiaan jelas terpancar di wajah-wajah mereka.
"Wah berarti, sebentar lagi status kita bukan lagi sebagai teman, tapi sebagai saudara ipar! Hahaha aku sudah nggak sabar, menunggu hari bahagia kalian tiba..." ucap Raffa pada Fadil seraya menepuk-nepuk punggungnya.
Fadil pun tertawa bersama Raffa, lalu Fadil menoleh pada Rubi yang juga sama-sama sedang melihat ke arahnya, dan keduanya melempar senyum kebahagiaan yang tidak terkira.
Bersambung....
...****...
__ADS_1