
...BAB 29...
...Kartu Undangan Pernikahan...
Fadil tak tega melihat Rubi yang menangis di tempat umum. Lalu ia mengajaknya pergi ke tempat lain yang lebih nyaman untuk mereka mengobrol.
Terakhir kali Fadil bertemu dengan Rubi saat kelulusan SMA, saat itu Rubi masih SD kelas 6. Fadil dan keluarganya makan bersama di sebuah Restoran mewah sebagai bentuk rasa syukur kepada sang Maha Pengasih, karna ternyata hasil nilai kelulusan UN Fadil paling tertinggi dari siswa yang lainnya. Tak ayal jika dia mendapatkan beasiswa kuliah di Amerika sebagai calon Dokter.
Fadil menyapa Raffa dan keluarganya juga yang tengah makan disana. Raffa pun memperkenalkan semua anggota keluarganya pada Fadil. Begitupun sebaliknya Fadil mengenalkan anggota keluarganya pada Raffa.
Sosok Rubi kecil dan tomboy dulu, tak sangka ia telah berubah jadi perempuan dewasa yang cantik. Fadil pernah sekali melihat fotonya di handycam milik Keyla.
"Lalu yang ini fotonya siapa?" tanya Fadil saat tengah menghibur Keyla yang sakit di Rumah Sakit.
"Kalau ini Tante Rubi Om!"
"Rubi?!" Fadil terkejut melihat perubahan drastis Rubi.
Setelah Rubi menceritakan permasalahannya, Fadil pun ikut prihatin mendengarnya.
"Apakah di dunia ini stok lelaki yang benar-benar setia itu sudah habis?!" tanyanya terisak-isak kecil sambil mengusap air matanya dengan sapu tangan milik Fadil.
Fadil menyungging senyumnya. "Tentu saja, lelaki setia itu masih ada." jawabnya santai.
Seraya memandangi lautan yang berdebur ombak besar tak jauh beberapa meter di depannya.
"Bagiku lelaki setia itu sudah sangat langka Kak! Buktinya bukan aku saja yang jadi korban perselingkuhan suamiku sendiri. Hampir semua temanku juga mengalami nasib yang sama denganku..." terangnya.
"Huhuhuuu... Dasar para suami gila, kenapa kalian tidak pernah puas dengan satu istri saja?! Lelaki playboy hidung belang! Kusumpahin kalian pasti akan dapat karmanya!" teriaknya sambil menangis, diiringi dengan sumpah serapahnya.
Rubi pun melempar kencang dan jauh batu-batu kecil di tangannya ke laut. Dia emosi tingkat tinggi pada pria tukang selingkuh apalagi pria bergelar suami.
Fadil yang mendengarnya, bukannya ikut bersedih dengan luka lara yang Rubi alami, tapi ia malah tertawa geli.
"Kok Kak Fadil malah ketawain aku sih?!" renggutnya. Fadil menggeleng dengan senyuman kecil.
"Menurutku setia atau tidak setianya seorang pria, itu tergantung bagaimana orangnya sendiri. Kalau seseorang yang hanya memikirkan kesenangan hidup saja!" Fadil menjeda ucapannya, dan ikut melempar jauh batu kecil ke laut seperti Rubi.
"Sudah pasti dia tak akan pernah puas dengan satu wanita. Tetapi lelaki setia, dia hanya akan fokus memikirkan masa depannya. Fokus membahagiakan keluarganya, pasangan dan juga buah hati mereka. Hal itu lebih penting dari segala-galanya dibandingkan apapun, maka tak terbesit dalam pikiran mereka sedikit pun akan menyakiti hati orang-orang yang di sayanginya..." terang Fadil menatap dalam Rubi, lalu ia mendongak ke atas dengan sendu pada pemandangan langit malam di atas lautan.
Rubi tertegun. Lalu mengangguk kecil, memahaminya. "Apa Kak Fadil sudah berkeluarga?" tanyanya.
"Belum, tapi sebentar lagi aku mau menikah..." ujarnya datar. "Memangnya kenapa?" Fadil bertanya balik.
Rubi tersenyum lebar ikut senang mendengar kabar teman Kakaknya itu akan segera menikah.
"Tidak. Rubi hanya yakin sekali, jika wanita yang akan jadi istri Kakak nanti pasti akan hidup bahagia karna sudah menikah dengan lelaki yang pemikirannya luas dan berkomitmen seperti Kak Fadil..." ucap Rubi mengagumi Fadil yang sangat dewasa menurutnya.
__ADS_1
Fadil menatap sekilas Rubi, adik dari temannya itu. Lantas ia tersenyum miris mendengar kata-kata Rubi barusan.
Apa iya, Lyra akan bahagia setelah menikah denganku? Hahaha Rubi Rubi kau belum tahu saja, siapa sebenarnya wanita yang akan aku nikahi? Dia mantan pacar Kakakmu, dan aku yakin masih ada cinta Lyra untuk kakakmu itu, dibandingkan aku yang benar-benar tulus mencintainya... gumam Fadil dalam hatinya.
*****
Rubi pulang dengan wajah cerah, dengan menenteng beberapa paper bag belanjaan di kedua tangannya. Pertemuannya dengan Fadil tadi, membuat moodnya kembali membaik.
Setelah mengobrol lama dengan Fadil tadi. Rubi dan Fadil mampir ke Cafe dan makan malam bersama lalu setelahnya mereka berdua jalan-jalan ke mall menghilangkan rasa sedih di hatinya masing-masing. Tak lupa Rubi membeli semua barang yang ia sukai, untuk Keyla dan juga Bundanya. Kecuali Raffa, yang sengaja Rubi tak ingin memberinya. Karna Rubi yang terlanjur kesal pada Kakaknya itu.
"Key... Keylaaa!" serunya memanggil-manggil keponakan kesayangannya di ruang tengah.
"Keyla sudah tidur!"
Raffa menatap heran pada adiknya yang senyum-senyum sendiri tak jelas.
Sebab tadi, Rubi pergi dengan bermuka masam, lalu kembali pulang dengan wajah berubah ceria.
Raffa melirik jam di dinding. Pukul sembilan malam adiknya itu baru pulang. Ia berdecak sinis.
"Pergi-pergi tadi ngambek, sekarang pulangnya senyum-senyum sendiri. Habis kesurupan ya?! Inget tuh, belajar hemat mumpung usiamu masih muda." sindir Raffa yang duduk di sofa sambil kembali fokus menatap layar laptopnya.
"Apa sih Kak? Terserah akulah mau beli-beli apa. Uang-uangku sendiri, repot amat sih jadi orang!" cibirnya menimpali.
Tak ingin berlama-lama dengan Raffa yang kerjaannya selalu mengomentari hidupnya. Lebih baik Rubi ke kamar keponakannya dulu. Melihat Keyla, walau kata Raffa gadis kecil itu sudah tidur.
Rubi melangkah cepat menaiki anak tangga. Pelan-pelan ia masuk ke kamar Keyla dengan satu paperbag di tangannya hadiah untuk Keyla yang tadi ia beli di mall.
Di lihatnya lampu kamar Keyla masih menyala. Rubi terkejut melihat Keyla duduk di lantai, menyenderkan punggung kecilnya di pinggiran kasur, sambil menatap foto Mamanya di tangannya.
Keyla menoleh terkejut ke arah pintu kamarnya yang di buka. "Tante Rubi?"
"Hei, kamu belum tidur Key? Tadi Papamu bilang, katanya kamu sudah tidur..."
"Belum Tante, Key belum ngantuk..."
Rubi menyimpan hadiah untuk Keyla di atas kasur, lalu dia ikut duduk di bawah sampingnya Keyla. "Ada apa, apa masih sakit?" tanyanya seraya meraba kening keponakannya.
Keyla menggeleng pelan kepalanya. "Keyla sedih Tante... Sebenarnya Keyla masih nggak rela kalau Tante Rara akan menikah." lirihnya.
"Tante Rara? Siapa dia?" tanya Rubi.
Keyla menoleh pada Rubi dengan wajahnya yang semakin sendu.
"Tante Rara adalah teman kecilnya Mama, Tante...! Dia baik sekali sama Keyla, udah gitu wajahnya sangat cantik. Cantik seperti Mamanya Keyla..." kagumnya tersenyum.
Lantas Keyla mengambil handycame miliknya di laci meja belajar, memperlihatkan foto dan video kebersamaannya dengan Lyra pada Rubi. Rubi melihatnya tersenyum, ia akui wanita yang di sebut Keyla memang sangat cantik.
__ADS_1
"Keyla terlanjur sayang sama dia Tante. Keyla sedih karna sebentar lagi dia akan menikah sama Om Dokter. Coba saja kalau nikahnya sama Papa! Keyla pasti bahagia sekali, karna Tante Rara bisa jadi Mama barunya Keyla..."
Rubi terkejut. "Siapa barusan katamu? Tante Rara mau nikah sama Om Dokter, Dokter yang mana. Apa maksudmu Om Fadil?"
Setahu Rubi hanya Fadil satu-satunya Dokter yang pernah merawat Keyla dulu. Dan Ambar pernah menceritakannya lewat telepon. Karna setelah menikah Rubi jarang pulang ke Indonesia.
Keyla mengangguk cepat. "Iya Tante..."
Rubi tersohok. Jadi wanita ini, calon istrinya Kak Fadil? gelagapnya di hati. Seketika Rubi teringat dengan ucapannya Fadil tadi.
"Lalu apa yang membuatmu terlihat sedih menjelang hari pernikahanmu? Harusnya kamu bahagia dong..." tanya Rubi penasaran karna melihat wajah Fadil sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan. Fadil pun tersenyum masam.
"Jelas aku tidak bahagia. Sebab calon istriku, tidak pernah mencintaiku... Aku tahu di hatinya masih mencintai pria di masalalunya..." ucapnya dengan hati yang patah Fadil ungkapkan.
"Buat apa jika nanti raga ini bersatu dalam ikatan pernikahan. Tapi pasangan yang kita cintai malah mengharapkan pria lain."
Rubi bergeming mencerna setiap kata yang di ucapkan Fadil tadi. Dia bertanya-tanya dalam pikirannya.
Memangnya siapa, pria masalalu calon istrinya Kak Fadil ini?
Uuh dasar wanita bodoh, udah ada pria baik yang tulus mencintaimu, masih aja ngarepin lelaki lain! umpatnya di hati.
Rubi sengaja mencaci maki Lyra di hatinya. Khawatir jika Keyla akan mendengarnya dan jadi marah padanya. Karna keponakannya terlihat begitu menyayangi wanita bernama Rara itu.
****
Keesokan harinya. Keyla mulai masuk sekolah dan Rubi yang mengantarkannya. Rubi memang satu anggota keluarga Raffa yang pandai merayu Keyla.
Raffa pun kembali lega melihat putrinya yang mau kembali ke sekolah, walau masih terlihat tak bersemangat.
Raffa pamitan pada Bunda dan putrinya, lalu berangkat duluan ke Kantornya. Empat puluh lima menit dia sampai di gedung kantor.
Raffa terkejut karna pagi-pagi sekali ternyata sudah ada tamu yang menunggunya di ruang kerjanya.
"Maaf, membuatmu kaget. Aku kesini cuma mampir sebentar, untuk memberikan ini..."
Fadil menyodorkan kartu undangan pernikahannya dengan Lyra. "Aku harap kamu bisa datang ke pernikahan kami..."
Raffa terpaku, menelan kasar ludahnya yang tercekat. Menatap nanar pada kartu pernikahan berwarna merah maroon yang kini ada di tangannya. Nama wanita yang ia cintai, sebentar lagi wanita itu akan menjadi istri pria lain.
"Kalau begitu aku pamit pergi." Fadil berjalan melewati Raffa yang masih membeku, seraya menepuk pelan pundaknya.
Fadil keluar dari ruang kerja Raffa. Sementara Raffa mencengkram dadanya yang seakan terasa sesak menekan. Mata elangnya berkaca-kaca merah. Semua sudah terlambat, sebab Lyra bukanlah jodoh yang Tuhan berikan untuknya.
Bersambung....
...****...
__ADS_1