Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku

Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku
Bagai Orang Asing


__ADS_3

...BAB 45...


...Bagai Orang Asing...


Rubi bergeming, tatapannya tertuju pada tangan wanita yang menggandeng erat lengannya Fadil.


Fadil yang menyadari itu. Refleks melepas tangannya yang sedari tadi di pegang oleh Sinta. Lelaki itu sedikit tergugup karna tatapan Rubi.


"Em, sejak pukul sembilan tadi kak..." Rubi tersenyum kecut. Rasanya sakit sekali melihat pemandangan di depannya.


"Oh..." Fadil tersenyum mengangguk, lantas terheran melihat Yoga yang menangis menjerit di pangkuan Farah. "Ada apa dengan keponakanku Mbak?"


Farah mencebik sinis. Bu Marjuki menjelaskan. "Yoga barusan terjatuh dari baby walker, dahinya kejedug lantai."


"Oalah... Kasihan jagoan Om, udah di obati Mbak?" tanyanya yang lekas menghampiri Farah dan keponakannya melewati Rubi dan Ibunya di depan pintu.


"Keningnya benjol Dil! Padahal baru di tinggali sebentar ke kamar. Eh tahu-tahu Yoga jatuh, padahal sebelumnya Yoga anteng mainan sendiri..." ketus Farah seraya melirik sinis ke arah Rubi.


Sinta ikut menghampiri Farah melihat keadaan Yoga. "Ya ampun benjolnya gede banget Fa, mending kompres pakai air anget aja!" titahnya.


"Iya Sin, tolong kamu pangkuin dulu anakku ya, dari tadi nangis terus gak mau nyusu. Aku mau ngerebus air dulu..." ujar Farah pada Sinta temannya.


"Iya sini aku gendongin..." Sinta menggendong Yoga. Farah bergegas ke dapur. Di susul oleh Bu Marjuki hendak mengambilkan air minum untuk Sinta.


"Sayang, cup cup cup kasihan... Sakit ya..." seketika Yoga mendadak berhenti menangis di gendongannya Sinta.


Fadil terkesima melihat kelihaian Sinta yang memomong Yoga. "Wah, Yoga langsung berhenti menangis hanya kamu timang sebentar saja, kamu memang punya bakat mengasuh bayi..." pujinya. Sinta tersipu malu.


"Tentu saja Mas, aku sudah terbiasa mengasuh keponakanku di rumah." ujar Sinta.


"Oh ya, pantas saja..." kagumnya.


Melihat mereka asyik mengobrol, Rubi seolah orang asing disana. Fadil pun sama sekali tak berinisiatif untuk mengajaknya mengobrol hanya sekedar basa-basi saja.


"Ini Nak Sinta diminum dulu ya..." Bu Marjuki datang dengan membawa nampan minuman dan cemilan. Di susul Farah yang membawa baskom kecil dan lap seka.


"Terimakasih Bu jadi repot-repot..." ucap Sinta.

__ADS_1


Mereka pun berbincang dan tak ada satu pun yang mengajaknya bicara seolah tak ada yang melihat keberadaan Rubi disana.


Rubi menelan kasar ludahnya. Lalu ia menghampiri Bu Marjuki dan berpamitan pulang padanya. Semakin lama Rubi di rumah itu semakin sesak rasanya, lebih baik dia pulang saja.


"Tante, Rubi pulang dulu ya..."


"Loh, kenapa cepat-cepat pulang? Nggak ikut makan siang bareng dulu?"


"Tidak Tante terimakasih. Lain kali saja..."


Rubi lekas mencium punggung tangan Bu Marjuki lalu tersenyum kecil kepada Fadil dan Farah.


"Kak Fadil, mbak Farah... Rubi pulang dulu..." ucapnya pelan. Fadil mengangguk namun Farah tak peduli. Dia fokus mengompres kening putranya.


Rubi mengambil tas selempangnya dan berjalan keluar rumah Fadil. Setelah di luar pagar ia pun berlari kecil ke arah mobilnya.


Rubi sudah tak bisa menahan air matanya lagi, rasanya ingin tumpah disana. Rubi sakit hati bukan hanya karna ucapan Farah padanya, tapi juga sakit hati dan cemburu melihat kebersamaan Fadil bersama wanita lain. Keberadaannya sama sekali tak di hargai olehnya. Rubi tak nyangka jika Fadil akan setega itu padanya.


Rubi terisak kencang di dalam mobil. "Kak Fadil bodoh! Kenapa kau acuhkan aku! Aku benci padamu!" sungutnya memukul-mukul setir mobil dengan kesal.


Tok tok tok


Fadil mengetuk jendela mobil Rubi. Sontak Rubi terkejut dan menoleh ke arahnya. Rubi cepat-cepat menghapus air matanya lagi.


Fadil membuka pintu mobilnya. "Kenapa buru-buru pulang. Tadi Ibu menitipkan ini padamu. Katanya buat Ibumu di rumah..."


Fadil menyodorkan kantung bingkisan berupa makanan oleh-oleh dari Madiun karna kemarin saudara Bapak Fadil berkunjung ke rumah. Rubi melihat bingkisan itu lalu mengambilnya dengan tangan gemetar.


"Terimakasih Kak..."


"Ya sama-sama, hati-hati di jalan..." ucap Fadil tersenyum.


Rubi mengangguk kecil lalu ingin menutup kembali pintu mobilnya. Namun pintunya buru-buru di tahan Fadil, karna sekilas lelaki itu seperti melihat jejak air mata di pipinya Rubi.


"Kamu kenapa?" tanyanya mengerutkan kening. Rubi tersentak menatap gugup Fadil. "Kamu habis nangis? Ada apa?" tanyanya lagi perhatian.


Rubi menggeleng kepala "Tidak ada apa-apa Kak, tadi Rubi habis kelilipan hehe..." sangkalnya tersenyum kecut.

__ADS_1


"Oh ya Kak, wanita tadi siapa, kok kelihatannya akrab banget sama Kakak?" tanyanya dengan jantung yang berdebar kencang juga tak tenang, Rubi memberanikan diri untuk bertanya.


"Maksudmu, Sinta?" Fadil mengangkat satu alisnya.


Rubi mengangguk pelan dan menatap lagi wajah Fadil dengan tatapan seriusnya. Sebab keingintahuannya yang begitu besar. Apakah mungkin Fadil punya hubungan yang spesial dengan wanita itu? Rubi bisa melihat ekspresi dan cara mereka mengobrol. Dan wanita itu selalu tersenyum setiap kali bicara dengan Fadil.


Fadil tersenyum mengembang. "Dia... Dia temannya Mbak Farah. Saat ini kami berdua tengah dekat dan mencoba untuk menjalin hubungan yang serius." jujurnya.


Duaaar


Bagai terhempas angin badai. Rubi sangat terkejut mendengar kenyataan pahit itu. Matanya semakin memanas perih, seperih hati yang ia rasakan saat ini. Hatinya seperti hancur berkeping-keping. Pupus sudah harapannya selama ini, untuk menjadikan Fadil satu-satunya pria terakhir untuknya. Pria yang sudah berhasil mencuri hatinya, memberinya semangat hidup. Setelah dirinya terluka oleh penghianatan Wisnu.


Tapi nyatanya pria itu sudah di dahului wanita lain. Rubi pikir, Fadil tak akan mudah menerima wanita lain lagi setelah batalnya pernikahannya dengan Lyra. Rubi pikir, dengan terus ia bersama Fadil, pria itu akan perlahan menerimanya bukan sebagai teman atau sebagai adik dari teman. Tapi sebagai wanita dan pria dewasa yang saling mencintai.


"Kamu benar Rubi, aku harus bisa melupakan Lyra. Sinta sudah menerimaku apa adanya. Dan dia juga tak mempermasalahkan kondisiku yang sakit. Bagaimana menurutmu. Apakah aku dan dia terlihat cocok?" tanyanya dengan wajah terlihat bahagia.


"Jadi Kak Fadil dan dia... Pacaran?" ucapnya terbata-bata.


"Ya, bisa di bilang begitu..." Fadil tertunduk, tersipu malu.


Malu sebenarnya harus mengungkapkannya. Tapi Rubi memang sudah dia anggap sebagai adik baginya. Jadi tidak masalah hanya sekedar curhat saja. Karna keduanya pun sebelumnya sudah pernah saling curhat.


Air mata Rubi sudah menganak sungai. Bukan terharu, tapi lebih pada merasakan sakit di hatinya karna tak bisa mengungkapkan perasaan cintanya pada Fadil.


"Baguslah kalau begitu Kak, Rubi ikut senang. Semoga Kakak dan dia cocok... Dan Kakak bahagia selalu bersamanya..." lirihnya menahan sesak di dada.


Rubi meneteskan air matanya dengan deras, lalu segera mengusapnya lagi. Fadil menatap Rubi tak biasa. Lantas membantu menghapus air matanya Rubi.


"Terimakasih doanya, tapi kamu tak perlu sampai menangis begitu kan..."


"Rubi hanya terharu saja Kak, akhirnya Kakak dapat wanita yang benar-benar mencintai Kakak..."


"Jangan putus asa. Aku yakin kamu juga pasti akan mendapat lelaki yang lebih baik dari Wisnu. Percayalah padaku..."


Rubi semakin meraung dan menangis kencang. Bukan karna perkataan Fadil. Tapi karna Fadil yang tidak mengerti, bahwa Rubi sebenarnya mencintai Fadil dan mengharapkannya sebagai pria terakhir untuk Rubi.


Bersambung....

__ADS_1


...****...


__ADS_2