Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku

Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku
Fadil Yang Koma


__ADS_3

...BAB 32...


...Fadil Yang Koma...


Selang beberapa waktu kemudian. Mobil pengantin yang mengantarkan Lyra dan Ibunya, beserta mobil rombongan mempelai wanitanya, telah sampai di mesjid tempat untuk melangsungkan ijab qabul pernikahan mereka nanti.


Namun sudah beberapa menit lamanya, belum juga terlihat ada tanda-tanda mobil Fadil akan datang. Mereka bertanya-tanya cemas. Lyra turun dari mobil di bantu oleh Noni dan Dini. Noni mengangkat sedikit gaun pengantin Lyra yang menjuntai panjang hingga ke tanah. Khawatir gaunnya Lyra akan jadi kotor terkena debu.


Saat turun, Lyra terkejut, sontak ia terpaku melihat Raffa dan Keyla yang sudah berdiri tak jauh beberapa meter dari mobilnya. Pandangan mereka bertemu, cukup lama.


"Mas Raffa, Keylaa..." gumamnya pelan, menelan pelan ludahnya, dengan mata yang berkaca-kaca.


Di sana Raffa tak berhenti memandangi Lyra dengan tatapan terpana. Lyra begitu sangat anggun dan cantik dengan gaun pengantin yang dia kenakan. Raffa sejenak mengandaikan, jika dirinya lah yang menjadi pengantin Pria nya. Sungguh dia akan sangat beruntung dan bahagia bisa memiliki Lyra.


"Tante Raraaaa!!" teriak Keyla yang langsung berlari kecil ke arah Lyra. Menghambur memeluk erat pinggangnya Lyra.


"Sayang..." Lyra mengusap lembut rambut kepala Keyla dengan senyuman lirih.


"Tante, Keyla kangen banget sama Tante Rara... Udah dua minggu kita nggak pernah ketemu!" rajuk Keyla, dengan tatapan sedihnya.


"Tante juga kangen sama kamu Key..." balas Lyra lalu berjongkok memeluk Keyla, mengecup kening dan juga dua pipi gadis kecil itu penuh kasih sayang.


Bu Rukanda yang berdiri di samping Lyra, lekas memalingkan wajahnya mendelik tak suka, begitu dia melihat Raffa disana. Lelaki yang dulu ia harap-harapkan akan menjadi menantu satu-satunya. Tapi malah membuatnya kecewa. Dengan menyakiti hati putrinya.


Kenapa dia bisa kesini? Siapa yang mengundangnya? Apa Fadil yang mengundang dia? pikirnya bertanya-tanya.


"Nduk ayo kita tunggu dulu saja di dalam. Di luar panas sekali!" alih Bu Rukanda seraya mengipas-ngipasi wajahnya sendiri yang memang kegerahan.


Karena pakaian kebaya yang ia pakai. Juga teriknya sinar matahari yang mulai condong ke atas, menandakan hari menjelang siang.


Bu Rukanda pun lekas menggandeng putrinya untuk mengajaknya masuk ke dalam serambi mesjid yang nampak sejuk.


Lyra yang tangannya di tahan Keyla, pun jadi bingung. "Sayang, Tante kesana dulu ya..."


Keyla menggeleng kepalanya dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Tak ingin berpisah lagi dari Lyra. Setiap hari Keyla tak bisa menutupi kesedihannya. Karena setelah pernikahan Lyra dan Fadil. mereka pasti akan jarang bertemu.


"Keyla, sini sayang sama Tante!" Rubi menghampiri Keyla dan membantu melepas tangan Keyla yang menggenggam erat tangannya Lyra.


"Maaf ya Mbak..." ucap Rubi meminta maaf pada Lyra karna keponakannya sudah mengganggu Lyra. Lyra menggeleng tersenyum.


"Tidak apa-apa Mbak..."


"Ayo Key, kita tunggu di sana dulu, sama Papa ya..."

__ADS_1


Rubi mengajak Keyla menjauh dari Lyra. Namun pandangan Keyla tak lepas melihat ke arah Lyra di belakangnya.


"Aneh, kenapa Kak Fadil belum juga datang ya?" tanya Rubi pada Kakaknya, yang sedari tadi kakak lelakinya itu hanya terdiam saja sambil memandangi Lyra dengan tatapan tak berkedip.


Rubi mengerutkan dahinya lantas mengibas-ngibasi tangannya pelan di depan wajah Kakaknya.


"Hallooo... Sadar Kak sadaar! Wanita itu sebentar lagi akan menjadi istrinya Kak Fadil. Jadi percuma saja Kak Raffa ngarepin dia lagi!" celetuk Rubi, cepat-cepat ia menutup mulutnya, menahan tawanya yang geli. Meledek Raffa.


Raffa membulatkan matanya, terkejut dengan sindiran adiknya. Wajahnya memerah padam, jadi malu.


"Maksudmu apaan?!" sungutnya.


"Aku tahu Kak Raffa masih ngarepin dia kembali sama Kakak kan? Udah berapa lama dulu Kak Raffa pacaran dengan dia?" celetuknya lagi. Rubi bertanya seraya memiringkan bibirnya.


Ternyata Rubi sudah tahu tentang kedekatan Raffa dan Lyra dari Ambar. Bahwa mantan pengasuh keponakannya itu ternyata adalah mantan kekasih Kakaknya sendiri. Pantas saja dulu Fadil bilang jika Lyra masih mencintai cinta masalalunya.


Raffa gelagapan dan menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal. "Itu_!"


"Ya Allaaah...!" tiba-tiba terdengar kencang jerit tangis Bu Rukanda di serambi mesjid.


Raffa dan Rubi sontak terkejut, melihat semua orang tengah berduyun-duyun mengerumuni Bu Rukanda dan Lyra.


Lantas mereka bergegas ikut melihatnya, penasaran. Raffa bertanya-tanya dan berdesakan dengan orang-orang disana. Dia terkejut melihat Bu Rukanda sudah jatuh pingsan di pangkuan Lyra yang sedang menangis sesenggukan. Cepat-cepat Raffa berjongkok di sampingny Lyra.


Lyra menggeleng cepat kepalanya, air matanya bercucuran deras membasahi kedua pipi meronanya.


"Mas, Mas Fadil... Dia kecelakaan Mas..." isaknya lantas membekap mulutnya sendiri, tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan dari telepon Farah.


Raffa tercengang. Rubi dan Keyla pun sama-sama ikut tercengang.


"Kak, Kak Fadil kecelakaan?!" gelagap Rubi, jantungnya seakan berhenti berdetak. Entah mengapa, Rubi turut sakit dengan apa yang menimpa lelaki yang ia kagumi dalam diam.


****


Mereka kini telah di rumah sakit. Lyra tak peduli dengan orang-orang yang kini tengah melihat ke arahnya, yang masih mengenakan gaun pengantin. Lyra berlari-lari kecil menyelusuri lorong-lorong Rumah Sakit. Di ikuti oleh Raffa di belakangnya.


Dia benar-benar shock sekali setelah mendapat kabar dari Farah, jika Fadil masuk Rumah Sakit karna insiden tabrak lari.


"Mas Fadilll..." Lyra berlari menghambur memeluk Bu Marjuki. "Bukk..."


"Lyraa..." Bu Marjuki membalas pelukan calon menantunya.


"Bagaimana sekarang Mas Fadil Bu?" tanya Lyra, raut wajahnya benar-benar sangat cemas.

__ADS_1


Bu Marjuki menggeleng pasrah, kedua matanya sembab karna terus menangis sejak tadi. Tatapannya penuh dengan kesedihan. Seharusnya hari ini adalah hari kebahagiaan putranya. Namun tiba-tiba saja musibah datang menimpa putranya tanpa ia duga sama sekali.


"Doakan semoga Fadil cepat sadar dan sembuh kembali, Nak Lyraa..." isaknya kencang dan dalam.


"Iya Buk..."


Lyra mengangguk cepat, dia kembali memeluk calon mertuanya itu, mengusap punggungnya menenangkan hatinya agar mampu bersabar menghadapi cobaan berat ini. Dalam hatinya, Lyra tak berhenti terus melantunkan doa untuk kesembuhan Fadil pada Tuhan maha pengasih.


Walaupun Lyra belum mencintai Fadil, tapi hatinya ikut terguncang dan sedih mendengar kabar tak menyenangkan itu. Fadil sudah banyak berjasa dan membantu Ibunya untuk berobat. Lyra akui Fadil adalah lelaki yang sangat baik dan santun terhadap orangtua dan siapapun. Sebab buah hasil.didikan kedua orangtuanya.


Farah menghampiri Lyra dengan tatapan yang getir. Lalu ia memberikan kotak cincin pernikahan mereka pada Lyra yang ia pungut di jalan. Hati Lyra semakin terguncang. Mengambil kotak cincin itu dan memeluknya erat di dada. Air matanya kembali meleleh tak tertahankan.


"Adikku begitu sangat mencintaimu. Jadi hargailah setiap ketulusan yang ia berikan padamu..." ujar Farah seraya mengusap cepat air matanya yang tak berhenti mengalir.


Lyra mengangguk cepat. "Iya Mbak Farah, terimakasih sudah mengingatkanku..." lirihnya.


*****


Sudah hampir satu minggu, Fadil belum juga tersadar dari komanya. Dokter yang memeriksanya mengatakan jika Fadil terkena benturan keras di bagian belakang kepalanya sehingga mengakibatkan gegar otak.


"Pulanglah Nak Lyra, dari pagi kamu menunggu disini. Kamu pasti sangat lelah sekali, istirahatlah ini sudah larut malam... " titah Bu Marjuki dengan wajah kuyunya dia tak tega melihat Lyra yang terus menunggu dan menjaga putranya.


Hampir setiap hari Lyra pergi bolak-balik ke Rumah Sakit setelah tabrakan itu. Lyra berharap Fadil lekas tersadar kembali dari koma panjangnya.


Lyra mengangguk tersenyum. "Baiklah Bu, besok Lyra akan kemari lagi..." ucapnya. Bu Marjuki menggeleng cepat kepalanya, melarang Lyra.


"Tidak perlu Nak Lyra, nanti saja jika ada kabar Fadil telah sadar kembali, Ibu akan kabari secepatnya..." sarannya.


"Oh, begitu. Baiklah Bu, kalau begitu Lyra pamit pulang dulu..." ucapnya yang segera di angguki Bu Marjuki.


Sebelum keluar dari kamar rawat Fadil. Sejenak Lyra memandang sendu tubuh Fadil yang masih terbaring lemah di ranjang. Luka di kepalanya sudah di perban.


Selamat tidur Mas Fadil. Semoga besok kamu cepat tersadar kembali... gumamnya di hati.


Tak berapa lama Lyra pulang. Jari tangan Fadil sekilas bergerak kecil. Namun matanya masih terpejam rapat.


Bersambung ...


...****...


Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejaknya ya...


Beri dukungan like komen dan giftnya... Agar author bisa menyelesaikan novel ini hingga Tamat. Dan jangan sampe gantung ya. Lihat pembacanya sepi author juga kurang semangat menulisnya 🀧🀧πŸ₯ΊπŸ˜Š

__ADS_1


__ADS_2