Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku

Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku
Farah Pergi Menyusul Suaminya


__ADS_3

...BAB 54...


...Farah Pergi Menyusul Suaminya...


"Dadaaah Yogaa!!" Fadil melambai tangannya dan tersenyum pada keponakannya di kaca mobil. Setelah ia pamitan untuk berangkat kerja pada Ibunya.


"Dadah juga Om Fadill..." jawab Bu Marjuki yang baru saja membeli sayuran di tukang bakul sayuran lewat di depan rumahnya, sambil menggendong cucunya mengarah pada mobil putranya.


Setelah mobil Fadil pergi. Bu Marjuki masuk ke dalam rumah. "Makan bubur dulu ya minta sama Mama, Yoga pasti laper kan?" celotehnya pada cucunya.


Yoga mengangguk menanggapi perkataan Neneknya sambil memakan roti di tangan kecilnya.


"Farah, Faraah..." Bu Marjuki memanggil putrinya lantas meletakkan sayuran tadi di atas meja makan.


"Farahh!! kemana sih anak itu di panggil kok nggak nyahutin!" gerutunya sambil mengeluarkan beberapa macam bahan makanan mentah di dalam kantung kresek dengan tangan kanan yang masih memangku Yoga.


Karna tak ada jawaban sama sekali, Bu Marjuki pun terpaksa mencari Farah ke kamarnya. "Farah, Yoga kasih sarapan dulu toh. Ibu mau masak du.."


Bu Marjuki menghentikan ucapannya saat melihat Farah yang sedang terburu-buru memasukkan beberapa pakaian miliknya ke dalam tas sedang sehingga tak sempat menjawab seruan Ibunya.


Bu Marjuki terkejut melihat putrinya yang tengah sibuk mengemasi pakaian.


"Loh kamu mau kemana Farah?" tanyanya terheran yang lekas menghampiri putrinya.


"Farah mau ke Madiun Bu, mau nyusul Mas Doni!" jawabnya tanpa melihat ke arah Ibunya di sampingnya.


"Lho ngedadak begini, terus Yoga?!"


"Bu, Farah titip Yoga disini dulu ya, hanya beberapa hari saja. Nanti Farah pulang lagi kok..." pintanya.


Farah memegang tangan Ibunya memohon dengan wajah memelasnya. Farah tak mungkin membawa Yoga ke Madiun dalam keadaan rumah tangganya yang sedang tidak baik-baik saja bahkan nyaris berada di ujung tanduk.


"Sek-sek Nduk, ene opo? Kamu kok yo ndak biasanya tiba-tiba pengen nyusul Doni ke Madiun?" tanya Bu Marjuki yang tiba-tiba perasaannya jadi tak enak.


"Tidak ada apa-apa Bu, Farah hanya sedang ada masalah kecil sama Mas Doni. Nanti Farah akan ceritain kalau sudah balik lagi ke sini..."

__ADS_1


Farah mengangguk lagi dengan tatapan memohon agar Ibunya mau mengijinkannya pergi. Setelah di beri pengertian, Bu Marjuki pun terpaksa mengijinkan putrinya pergi.


"Ya sudah kalau begitu hati-hati di jalan ya Nduk. Nanti kalau sudah sampai hubungi Ibu..."


"Iya Bu, maaf ya Bu jadi ngerepotin Ibu sama Bapak buat jagain Yoga.."


"Iya tidak apa-apa Yoga anaknya pinter anteng kalau udah di kasih maenan..."


Farah mengangguk terharu, lantas memangku sebentar dan menciumi seluruh wajah putranya. "Mama pergi dulu ya sayang, sama Nenek Kakek dan Om Fadil dulu disini yaa... Jangan nakal..." ucapnya pada putranya dengan suara lirih menahan rasa sedih.


Farah tak bisa membendung lagi air matanya. Dia benar-benar terluka, jika memang benar suaminya telah menghianatinya, maka dunianya benar-benar hancur. Lalu bagaimana dengan nasib Yoga? Farah tidak bisa membayangkan jika pernikahan mereka akan berakhir begitu saja.


Tidak, aku harus bisa mempertahankan rumah tangga ini. Aku yakin ini masih bisa di perbaiki. yakinnya dalam hati


Farah pun pergi dengan menaiki taksi online mengantarnya sampai terminal, bus tujuan ke Madiun.


****


Sementara di kediaman Ambar. Rubi baru saja selesai mandi dan memakai pakaiannya, lalu ia membuka tasnya untuk mengambil ponselnya. Rubi terkejut karna ponselnya sudah tidak ada di dalam tas miliknya.


"Aduuh ceroboh, kok bisa lupa ya? Semalam kayaknya ketinggalan di hotel..." pekiknya spontan menepuk kening sendiri.


Rubi pun mengambil ponsel satunya lagi di dalam laci lemari, yang memang jarang sekali di gunakan. Lalu menghubungi nomernya sendiri.


Rubi terkejut senang karna yang mengangkat ponselnya ternyata adalah temannya sendiri.


"Randi?! Jadi handphoneku ada di kamu?!" teriaknya bersyukur karna ponselnya tidak hilang, semalam setelah minum pesta reunian, Randi melihat ponsel Rubi tergeletak di sofa. Saat ingin mengembalikan lagi, namun Rubi sudah pulang.


Randi pun meminta alamat rumah Rubi dan akan kesana untuk mengantarkan ponselnya.


Setelah mengirim alamat dengan google map. Rubi pun turun untuk sarapan bersama Bundanya, karna Lyra dan Keyla sudah berangkat ke sekolah sejak tadi.


Rubi menyantap sarapan dengan lahap. Hingga tak lama terdengar suara deru mobilnya berhenti di pelataran rumahnya.


"Sepertinya itu mobilmu..." sahut Ambar yang memang sudah hafal sekali dengan suara mobil putrinya.

__ADS_1


Rubi bangkit dan bergegas keluar teras dia tahu siapa yang datang. Rubi melihat Fadil keluar dari mobilnya lantas lelaki berprofesi Dokter anak itu tersenyum manis menatap Rubi.


"Hai... pagi, aku kemari untuk mengantar kembali mobilmu..." sapanya seraya memberikan kunci mobil milik Rubi.


"Terimakasih banyak sudah repot-repot." ucapnya dengan sedikit ketus, Rubi mengambil kunci mobilnya di tangan Fadil, tanpa melihat sedikit pun ke arah Fadil.


"Loh Fadil, sini kemarilah Nak, ikut sarapan bersama kami..." ajak Ambar menghampiri Fadil.


"Pagi Tante Ambar..." Fadil mencium punggung tangan Ibu temannya. "Oh hehehe makasih Tante, tapi Fadil tadi sudah sarapan di rumah tadi..." tolaknya halus.


"Oh sayang sekali, padahal Tante sudah buat masakan banyak sekali pagi ini. Sengaja memang, supaya Lyra bisa memilih makanan yang ia suka..." ujarnya sedikit kecewa karna Fadil menolak sarapan di rumahnya.


"Iya Tante, lain kali saja..."


Fadil tersenyum, sebenarnya tadi dia tidak terlalu kenyang sarapan, karna terus berdebat dengan Kakaknya. Namun Fadil masih tak enak, melihat sikap dingin Rubi kepadanya.


Fadil pun memutuskan untuk kembali ke Rumah Sakit. Tapi saat Fadil ingin pamitan pada Rubi dan Nyonya Ambar, suara klakson motor terdengar nyaring dari luar pekarangan.


Rubi membulatkan matanya lebar, wajahnya terlihat girang sekali. "Randii!!" teriaknya melambai tangan. Lalu Rubi berlari ke arah gerbang pagar melewati Fadil.


"Hahaha kau tuh masa ponsel sendiri bisa kelupaan!" ledek lelaki itu.


"Kamu juga sih, nantangin aku minum jadi lupa kan!" cebiknya kesal seraya menepuk kencang pundak lelaki itu. "Ayo masuk dulu ke rumah!" ajak Rubi setelah temannya membuka helm dan turun dari mogenya.


Fadil mengerutkan kening, menatap tajam ke arah lelaki itu. Lelaki yang sudah memberi minuman keras untuk Rubi semalam tadi. Lelaki itu pun menyadari ada Fadil disana, lantas membalas tatapan tajam Fadil dengan senyuman sinisnya.


...Bersambung...



...


Author mengucapkan 🙏🙏🙏☺️☺️☺️


Marhaban Ya Ramadhan... Selamat Menunaikan Ibadah puasa Ramadhan 1444 H

__ADS_1


__ADS_2