
...BAB 59...
...Dia Bukan Wanita Penggoda...
Sinta melangkah cepat setelah melihat mereka berdua sudah turun dari apartemen, tangannya melayang ke atas bersiap untuk menampar Rubi. Namun tangannya segera di tahan oleh Fadil.
"Tunggu Sinta, dengarkan aku... Kita perlu bicara!" Fadil menarik Sinta menjauh dari Rubi.
"Lepaskan aku Mas! Akan ku beri tamparan untuk wanita si penggoda itu!" sentaknya memberontak.
"Rubi bukan wanita penggoda!" tegas Fadil menatap Sinta dengan tatapan tak suka. Entah mengapa hati Fadil jadi sensitif bila ada orang yang menghina Rubi. Walau itu teman kakaknya sendiri.
"Lalu sebutan apa yang pantas untuknya selain penggoda? Oh ya, aku hampir saja lupa ya dia itu pantasnya di juluki si janda gatel dan murahan?!" timpal Sinta sinis.
"Sinta!" bentak Fadil.
Sinta terkesiap kaget dengan suara keras Fadil. Begitupun Rubi yang mendengarnya tak jauh dari mereka. Karna ini adalah pertama kalinya Fadil membentak dirinya.
Fadil memenjam rapat matanya, lagi tak hanya Farah saja yang menghina Rubi dengan terang-terangan begini. Sinta pun sama. Kakak dan sahabatnya memang sama-sama tak punya hati. Bila saja Sinta bukan seorang wanita, Fadil sudah pasti akan menampar mulutnya agar tak lagi menghina orang.
Fadil menggeleng tak mengerti, padahal mereka sama-sama wanita. Tapi sama sekali tidak bisa menjaga ucapannya pada sesama wanita.
"Sekali lagi tak ada sebutan buruk untuknya Sinta, kamu mengerti." tegas Fadil lagi.
"Kenapa sih, Mas lebih membela dia daripada aku yang jelas pacarmu? Apa Mas mulai kepincut sama wanita itu, hah? Ayo katakan padaku Mas! Kenapa Mas juga tadi bohongi aku, Mas bilang siang ini Mas sedang ada acara. Tapi nyatanya Mas malah asyik berduaan dengan wanita itu di tempat ini!" timpalnya berang.
Sinta memukul dada Fadil kesal bercampur amarah. "Jangan salahkan aku yang marah begini, karna aku tak suka kamu yang terus peduli padanya Mas!" cecarnya lagi.
Fadil tak mencegah Sinta yang terus memukul dadanya. Biarkan saja wanita itu meluapkan amarahnya kepadanya.
Pukulan Sinta perlahan berkurang, lalu berganti dengan isakan tangis yang menyayat hatinya. "Kenapa kau bohongi aku Mas..." sahutnya sesenggukan.
Fadil menundukkan kepala. Di sisi lain dia juga merasa bersalah pada Sinta, seharusnya dia katakan saja sejujurnya dari tadi.
"Maafkan aku Sinta, seharusnya aku berkata jujur tadi. Dan kamu benar, aku memang mencintai Rubi..." ungkap Fadil terus terang.
Seolah ada suara guntur yang menggelegar keras di pendengaran Sinta. Wanita yang memiliki rambut lurus sebahu itu membeliak kaget dengan pernyataan Fadil. Matanya membulat lebar, menatap getir pada pria yang sangat ia cintai selama ini.
"Ap, apa katamu Mas?" Sinta menggeleng kepalanya shock. Matanya semakin memerah panas. Sedang Fadil menganggukkan kepalanya lagi tanpa melihat wajah Sinta.
"Maaf sekali lagi, karna aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Maaf karna aku tidak bisa membalas cintamu dan tak bisa memberikanmu kebahagiaan seperti yang kamu inginkan..." ucapnya lagi.
"Tidak, aku tidak mau putus darimu Mas..." gelagapnya. Fadil masih menundukkan kepala, sedang Sinta menoleh dan menatap nyalang pada Rubi yang masih terpaku di tempatnya berdiri.
Sinta pun berjalan cepat ke arah Rubi kali ini dia berhasil menampar keras pipi Rubi.
Plaaak
__ADS_1
"Ini semua karna kau dasar janda murahan! Kau lah yang menggoda Mas Fadil!" makinya seraya menunjuki muka wanita yang berstatus janda itu.
Rubi terkejut, lantas menangkup pipinya yang terasa panas. Fadil disana ikut terkejut dan berlari menghampiri mereka.
"Sinta sudah kukatakan padamu, kalau Rubi tidak pernah menggodaku! Aku, akulah yang pantas kau salahkan disini bukan Rubi! Salahkan saja aku yang memang mencintainya!"
Plaakkk
Tak hanya Rubi, Sinta pun menampar pipi Fadil. Air matanya berlinangan dengan deras. "Kau jahat padaku Mas... Kau tega menyakiti aku. Aku yang telah lama mencintaimu, aku yang sudah tulus padamu... Tapi dengan mudahnya kau mempermainkan perasaanku..."
"Bukan aku yang ingin mempermainkan perasaanmu Sinta. Apa kau sudah lupa, sebelumnya aku juga sudah bilang kalau aku tak mencintaimu... Aku menerimamu karna aku menghargaimu sebagai sahabat Mbak Farah."
"Baiklah! Kita putus. Tapi aku tetap tak rela dan tak terima bila kau bersama wanita ini Mas!" tunjuk Sinta pada Rubi.
Setelah mengatakan itu Sinta pun melenggang pergi dengan hati yang hancur, lalu mencari taksi di jalan dan sengaja meninggalkan mobilnya disana.
"Kak Fadil..."
Fadil menoleh lantas mengusap pipi kiri Rubi yang barusan di tampar Sinta. "Maafkan dia ya... Apa pipimu masih sakit?"
Rubi menggeleng kepala. "Aku jadi tak enak Kak, aku merasa bersalah padanya. Aku takut dia akan mengadu pada Mbak Farah soal hubungan kita. Dan Mbak Farah akan semakin membenciku..."
"Apa, Mbak Farah membencimu?"
Rubi menganggukkan kepala. "Iya Kak, sebenarnya aku menjauh dari Kakak bukan hanya diriku yang cemburu karna kamu bersama Sinta. Tapi Mbak Farah juga sudah pernah memperingatkanku agar aku tak lagi mendekatimu Kak..." ungkap Rubi menundukkan kepalanya. Fadil membulatkan matanya terkejut.
Keterlaluan Mbak Farah, jadi selama ini dia yang meminta Rubi untuk menjauh dariku?! pekiknya dalam hati.
"Apa maksudmu Rubi?" Fadil mengerutkan kening.
"Aku hanya takut jika Mbak Farah nanti memarahimu gara-gara aku..." Rubi menggeleng kepalanya. Dia hanya tak ingin ada pertengkaran nantinya dari dua saudara itu.
"Tidak, jangan khawatir itu tidak akan terjadi. Aku akan jelaskan semuanya padanya. Lagipula saat ini Mbak Farah ada di luar kota bersama suaminya..."
"Tapi Kak, aku jadi nggak enak sama Sinta... Dia begitu mencintaimu. Aku merasa jadi orang jahat karna sudah merebutmu darinya..."
Fadil tersenyum sendu lalu kembali membawa Rubi dalam pelukannya. "Kamu tidak pernah merebutku darinya Rubi. Tapi hatiku-lah yang mantap memilihmu. Kamu memiliki hati yang baik yang tak terlihat oranglain. Walau Sinta sudah menamparmu dan menghinamu tapi kamu tidak pernah membalasnya, aku kagum padamu..."
Rubi meneteskan air matanya terharu, di sisi lain perkataan Fadil mampu menyejukkan hatinya yang terluka oleh ucapan Sinta tadi. Tapi tetap saja Rubi merasa dirinya yang salah, karna Sinta yang lebih dulu menjadi kekasih Fadil.
****
"Sekarang kamu duduk dulu disini ya Mas, inget jangan dulu buka matamu..." titah Lyra pada Raffa yang baru dua jam itu sampai rumahnya.
Setelah tiba di kota Surabaya dan pulang ke rumah. Lyra meminta Raffa mandi dulu dengan air hangat, dan sebelum mereka berdua pergi makan malam, Lyra ingin memberi kejutan dulu untuk suaminya. Kejutan yang sudah ia persiapkan sejak Raffa pergi dinas waktu itu.
"Apa sih sayang? Aku sudah tak sabar melihatnya..." gemas Raffa dengan mata yang masih setia terpejam.
__ADS_1
Lyra menahan senyumnya, lantas mengambil sesuatu di laci nakas. Menyembunyikan benda itu di belakang punggungnya.
"Ehem, sekarang kamu boleh buka matamu..." titah Lyra sudah siap.
Raffa tersenyum lalu membuka matanya. Melihat istrinya yang sudah berdiri di hadapannya, dengan kedua tangan yang ia sembunyikan di belakang punggungnya.
"Surprissee....!" Lyra pun memperlihatkan benda pipih panjang dan bergaris dua warna merah itu pada Raffa.
Sontak Raffa pun berdiri dan membulatkan matanya lebar. "Kamu, kamu hamil sayang?!" serunya melihat dan memegang benda tes kehamilan itu, bibirnya melongo seketika dan berubah menjadi senyuman yang lebar penuh kebahagiaan.
Lyra mengangguk cepat. "Iya Mas... Aku hamil dan sekarang usianya sudah jalan satu bulan."
"Terimakasih ya Tuhan, akhirnya aku akan punya anak lagi..."
"Iya Mas, akhirnya Keyla akan punya adik..." sahut Lyra yang segera di peluk Raffa.
"Terimakasih sayang, kamu sudah melengkapi hidupku. Aku bahagia sekali hidup bersamamu..."
"Aku juga bahagia hidup bersamamu Mas..."
Raffa melepas pelukannya lalu menangkup wajah Lyra, menatap penuh dan dalam wajah istri cantiknya yang sangat ia rindukan.
"Aku rindu sekali padamu..." ucapnya membelai lembut pipi Lyra, Raffa mendekatkan bibirnya lantas memberi kecupan lembut di bibir manis sang istri. Keduanya lalu tersenyum malu-malu.
Saat mereka ingin melepaskan kerinduan dengan pelukan dan cumbuan lagi. Seketika menjadi buyar karna mendengar ketukan keras di pintu.
"Mamaa Papaaa.... Ayo kita makan! Key udah laper dari tadi!" teriak gadis kecil memanggil kedua orangtuanya yang sudah terlalu lama di dalam kamar.
Raffa membuang nafasnya kencang. "Huuft, sepertinya juniorku perlu bersabar beberapa jam lagi untuk bisa tidur di sangkarnya.." celetuknya seraya mengusap-ngusap sesuatu yang sudah menonjol keras di bawah sana. "Kau tahu rasanya tersiksa menahan ini selama dua minggu..." gerutunya.
Lyra terkekeh geli, lantas mengusap pipi suaminya. "Sabar ya, nanti juga ada waktunya. Sebelum mengenyangkan adikmu, bagaimana kalau kita kenyangkan dulu perut kita..." bisik Lyra.
"Ya kau benar, aku juga perlu mengumpulkan tenaga dulu sebelum olahraga malam.... Ah, rasanya sudah tak sabar lagi ingin menyantap hidangan malam yang indah..." Raffa kembali menyosor ingin mencium lagi bibir istrinya.
"Papaa ayoo..." Lagi teriakan Keyla menggagalkan keinginannya.
Raffa memutar matanya jengah. Lyra tertawa lagi.
"Sudah, nanti saja kita sambung lagi..." Lyra menarik tangan suaminya dan membawanya keluar dari kamar, menyambut putrinya yang sedari tadi sudah menunggu mereka di depan pintu dengan bibir kecil yang sudah menekuk.
"Papa dan Mama ngapain aja sih? Kok lama banget di dalam kamar?!" kesalnya bersedekap tangan.
Raffa memangku Keyla lalu mencium gemas putrinya.
"Papa dan Mama lama di kamar karna tadi sedang mendiskusikan tentang calon adik barumu sayang... Apa kau senang sebentar lagi punya dedek bayi?"
Wajah cemberut Keyla seketika berubah ceria. "Ooh, iya Papa... Kata dokter waktu itu di perut Mama sekarang ada dedek bayi... Keyla senang banget Pa, karna nanti Keyla bakal punya temen main.." celotehnya bahagia. Lyra dan Raffa pun tertawa ikut bahagia melihat putri mereka.
__ADS_1
Bersambung....
...****...