Pengkhianatan Cinta Pertama

Pengkhianatan Cinta Pertama
Bab 14. Harus Memilih


__ADS_3

Aku mulai sibuk untuk fokus belajar, karna sebentar lagi kenaikan kelas dan pemilihan kelas IPA atau IPS. Walaupun hati ini sedang terguncang karna dilema dengan keadaan, tapi keadaan harus memaksa fokus pendidikan. Aku berusaha sebisa mungkin berlari dari kebingungan dengan terus berlatih drumband, mencari nada untuk penutupan MOS nanti. Untungnya ada Ka Fero dan Ka Beno yang selalu mengajakku bercanda sambil memainkan alat drumband. Hatiku sedikit terhibur saat itu. 


"Eh lo tuh sebenarnya gimana sih sama si Yori?" Tanya Ka Fero sedikit berbisik.


"Ih apasih Ka hahaha nanyanya gitu." Jawabku berusaha tenang.


"Yeh gue serius Ri.. Lo tuh gimana sih sama Yori? Udah jadian belom sih?" Sepertinya Ka Fero mulai penasaran dengan hubunganku dan Yori karna memang terlihat jelas kami sedang ada sesuatu.


"Elu nih Ka, kepo amat hubungan orang ah hahhaaha." Timpal Ka Beno.


"Gini yaa Ri, gue ngerasa sekarang Yori kok malah makin deket sama Lani ya? Terus lo kok gak deket lagi ya sama si Lani?" Kata Ka Fero lagi sambil memegang tanganku. 


Aku hanya mengela nafas dan terdiam saat Ka Fero memberikan pertanyaan dan pernyataan secara bersamaan. 


"Yang sabar yaa Ri.... udah kita ketawa - ketawa aja hari ini ya.." KataKa Fero lagi sambil menepuk - nepuk punggungku perlahan. 


Tak lama saat kami bertiga sedang berbincang - bincang, Yori, Bani dan Lani masuk ke dalam ruang drumband. Dan saat Yori masuk, dia menatapku dengan tajam dan tersenyum, lalu dia keluar lagi bersama Bani. Lani masuk dengan kehebohan yang seperti dibuat - buat, seperti ada yang disembunyikan.


"Gue sama Bani ke depan ya Bang Fero, Bang Beno." Katanya sambil berteriak.


"Riiiii... Lo kok tadi ninggalin guee sih, jadinya gue bareng mereka deh kesini." Kata Lani sambil memelukku.


"Iya... Gue tadi pengen duluan aja." Jawabku dengan pelan.


"Hmmm are you oke sista?" Tanya Lani sambil menatapku dalam.


"Lan.. Gue gapapa kok. Gue ke depan dulu ya.." Kataku sambil tersenyum lalu berdiri dan pamit dengan Ka Beno dan Ka Fero.


"Ka Ben, Ka Fer, aku ke depan dulu ya. Mau cari udara dulu." 


"Emang disini gak ada udara daritadi Ri? Gak nafas lo dari tadi?" Canda Ka Fero kepadaku agar aku tertawa.


"Hahaha aduh iya disini kurang oksigen Ka, kebanyakan Karbondioksida." Jawabku lagi untuk membalas lelucon Ka Fero.


"Ah bilang aja lo kangen Yori, makanya mau ke depan."Timpal Ka Beno sambil memainkan stick drumnya.

__ADS_1


Aku hanya tersenyum dan berlalu pergi meninggalkan mereka bertiga. 


Saat aku berjalan ke depan, lalu aku berjalan menuju pepohonan dekat lapangan. Aku duduk disitu dan memejamkan mata lalu menikmati angin yang sejuk. Ah.. aku suka sekali suasana sekolahku, jauh dari polusi, banyak pepohonan dan terkadang aku melihat monyet atau tupai diatas genteng sekolah. 


"Ehem.." Tiba - tiba ada seseorang yang duduk di sebelahku, seketika aku membuka mata lalu menoleh kearah suara itu.


"Akhir - akhir ini gue sering perhatiin lo Ri. Lo jadi sering menyendiri kayaknya. Gimana sama Ka Putra?" Tanya dia sambil menatapku.


"Emang lo sering perhatiin gue kan? Dari dulu kan? Kenapa lo jadi nanya hubungan gue sama Ka Putra? Lo kayaknya gak ada hati ya Yor?" Aku menjawab dengan emosi karna tenyata Yori yang menghampiriku dan mengatakan hal yang membuat hatiku makin kesal.


"Ri.. Gue gapapa kok kalo lo milih Ka Putra, apalagi dia lebih ganteng dari gue. Udah senior, sebentar lagi kan dia lulus jadi anak kuliahan deh. Bakal bawa mobil lah kemana - mana. Gue cuma pake motor sekarang." 


Tiba - tiba saja pembicaraan kami mulai serius.


"Yor, kenapa lo jadi gini sih? Kenapa lo gak peka ya? Jadi lo kayaknya mending gue sama Ka Putra ya? Oke!" Setelah itu aku terdiam dan memalingkan wajah dari Yori. 


"Gue kayaknya gak pantes aja sama lo Ri." Kata Yori lagi dengan pelan.


"Iya, besok gue bakal terima perasaan Ka Putra biar lo seneng!" Jawabku tanpa melihat wajahnya.


"Gue mau balik. Gue duluan Yor." Lalu aku berlalu pergi meninggalkan Yori yang masih memainkan ranting pohon. 


***


Setelah kejadian itu, aku selalu menghindari Yori dan Lani. Semakin menjauh dari mereka. Lalu aku tetap menanggapi pesan singkat dari Ka Putra. Lalu suatu ketika Ka Putra menyatakan perasaannya kepadaku dan mengajakku untuk berpacaran.


"Ri.. Sebenarnya aku udah mulai nyaman sama kamu. Kamu baik, sabar, lucu, seru lagi. Hmm Kamu mau gak jadi pacar aku?" Tanya Ka Putra dalam pesan singkat. Dan saat itu dia mengirimkan SMS saat kami masih di sekolah.


"Kakak kenapa gak langsung ngomong kesini?" Aku langsung memberikan tantangan itu.


"Maaf yaa Ri.. Aku malu kalo ngomong langsung, makanya aku SMS kamu." Jawabnya lagi.


Sepertinya aku sedikit jahat kali ini dengan Ka Putra, aku sengaja menyuruh Ka Putra menyatakan perasaannya langsung di depan teman - temanku agar Yori juga melihatnya. Aku ingin membuat Yori cemburu, walaupun sebenarnya rasaku ke Ka Putra tidak ada. 


"Gapapa ka, tapi boleh yaa kalo gitu aku pikir - pikir dulu. Gak langsung jawab." Jawabku lagi.

__ADS_1


"Oh gitu ya Ri. Gapapa kok." Jawab Ka Putra seperti kecewa. 


Lalu saat waktunya pulang sekolah, aku berjalan bersama Pipit dan aku melihat Yori duduk di bawah pohon dekat gerbang sekolah. Dia melihat kearahku dan...


"Yoriiii..." Teriak Pipit.


Lalu Yori menoleh kearahku dan Pipit.


"Yor, anterin Riri ke depan dong. Kalian kan udah lama gak pulang bareng." Kata Pipit sambil menarik tanganku yang berusaha terus menjauh dari Yori.


"Oh. Ririnya mau gak?" Tanya Yori menanyakan hal itu ke Pipit. Padahal aku ada di hadapannya.


"Ri.." Panggil Pipit karna aku hanya diam saja.


Saat itu juga Ka Putra datang menghampiriku.


"Eh ada Ka Putra... Ka, mau ajak pulang Riri ya?" Tanya Pipit dengan sumringah.


Pipit ini maunya apasih, sudah jelas disitu ada Yori. Baru saja dia yang menawarkan Yori untuk mengantarkanku ke depan, dengan seketika berubah meminta Ka Putra untuk mengantarkanku ke depan.


"Ayo, emang aku mau ajak Riri pulang bareng kok. Tapi aku gak bisa anterin kamu sampe rumah ya Ri. Mau nongkrong dulu sama anak - anak nih." Kata Ka Putra sambil mengusap kepalaku.


Aku berdiri di tengah - tengah Ka Putra dan Yori saat itu. Ini rasanya seperti di film romansa percintaan segitiga. Seperti wanita yang sedang mempermainkan 2 hati Pria yang baik. Aku melihat jelas wajah Yori yang kecewa dan berusaha untuk tersenyum.


"Tuh udah diajak pulang bareng sama Ka Putra, balik gih." Kata Yori sambil tersenyum dan menatapku penuh arti.


"Hmm oke. Gue balik duluan ya semua.. Bye." Kataku tanpa berbasa - basi lagi. Dan sekejap aku meninggalkan Yori dan Pipit, lalu jalan berdampingan dengan Ka Putra. 


Di sepanjang jalan Ka Putra tersenyum kearah kaca spion motornya, aku melihatnya. Walaupun dia tidak mengajakku untuk mengobrol, tapi dia hanya memandangiku saja.


"Terima kasih banyak ya Ka, udah nganterin aku." Kataku sambil turun dari motornya.


"Iya.. yaudah sana, kamu hati - hati ya." Katanya sambil mengelus kepalaku lagi.


"Iya ka... hati - hati juga.." Kataku sambil melambaikan tangan kearahnya.

__ADS_1


Ah.. Tiba - tiba saja aku teringat saat aku sering diantar ke depan dengan Yori. Ya.. harusnya aku jelas memilih yang mana. Jangan seperti mempermainkan 2 hati yang tidak bersalah. Dan aku tau akan memilih siapa.


__ADS_2