Pengkhianatan Cinta Pertama

Pengkhianatan Cinta Pertama
Bab 39. Pura - Pura Tidak Tau


__ADS_3

Lagi - lagi aku masih terus mempertahankan hubunganku dengan Yori. Semalaman aku menangis di kamar hanya untuk terus membayangkan Lani dan Yori jalan berdua setiap hari. Yori yang selalu berkunjung ke rumah Lani setiap hari. Tertawa bersama dan ahhhh benar - benar menyaktikan terus membayangkan mereka berdua. Tapi menyakitkan juga jika aku harus mengakhiri hubunganku dengan Yori. Perasaanku sudah terlalu dalam kepadanya. Mungkin karna cinta pertama, aku merasa sangat menyayanginya.


"Kamu habis nangis ya Ri?" Tanya Mama yang sedang memperhatikan mataku saat aku bangun tidur.


"Gakk.. Ini gara - gara aku kucek - kucek semalem gatel jadi bengkak gini." Aku berbohong pada Mama. 


"Yang bener?" Tanya Mama seperti tidak mempercayai ucapanku. 


"Iyaa Maaa Riri gapapa kok, udah ah aku mau siap - siap dulu. Nanti telat." Aku mengelak dan membuang muka agar mama tidak terlalu lama memperhatikan mata ku yang bengkak.


"Tumben bangun sendiri nih tanpa harus di bangunin Mama atau Bapak." Ledek Bapak yang sudah bersiap - siap untuk mengantarku berangkat sekolah.


"Aku pasang alarm Pak, jadi kebangun hehehe..."Aku berbohong lagi, padahal memang tidak bisa tidur karna terus memikirkan Yori dan Lani.


"Gitu dong... Sholat Subuh dulu sana."


"Iyaa Pak." 


Aku bergegas segera Sholat, Mandi dan siap - siap untuk berangkat ke sekolah. Dan rasanya ingin segera bertemu teman - temanku untuk melupakan sejenak kesedihanku karna hubunganku yang sudah mulai tidak jelas. 


***


"Pagi Riri...Tumben banget nih dateng pagi - pagi." Ledek Jerry.


"Iyaaa lagi mau rajin kan." Jawabku sambil pura - pura senyum. 


"Okeee semangat Riri!" Jawab Jerry sambil menepuk - nepuk pundakku. 


Aku duduk sambil membaca - baca catatan salah satu temanku dan menyalinnya ke buku catatanku agar aku bisa mengerti materi apa saja yang sudah di pelajari. Ternyata sulit jika hanya membaca dan memahaminya sendiri, ini harus sambil bertanya dan belajar kelompok dengan yang lainnya. Aku pun berusaha untuk mengerti dulu catatan temanku dan..

__ADS_1


"Ri... Kemarin gue liat Yori jalan sama Lani berduaan." Kata Timo yang tiba - tiba datang menghampiriku.


"Ssstt... Gak usah keras - keras Tim." Jawabku sambil menutup buku.


"Eh sori - sori, tapi lo kok malah.. Ri.."


"Iya gue tau kok sebenarnya Tim. Tapi gue berusaha diem dulu, gak mau memperkeruh keadaan." 


"Lo pacarnya loh Ri. Lo kok diem ajasih.. Ih. Gila si Yori." Timo benar - benar kesal karna perilaku Yori.


"Sabar dulu Tim, gue gapapa kok. Ini gue aja tetep senyum, gue harus fokus dulu di kelas IPA ini. Setelah itu gue urus hubungan gue sama Yori yaa... Gue gapapa kok Tim. Lo tenang aja... Keep calm dulu lah pokoknya." 


Aku berusaha menenangkan diri dan Timo, aku tidak mau teman - temanku yang lain akhirnya tau semua tentang Aku, Yori dan Lani. Aku haru berusaha bertahan walaupun sakit. Aku tidak tau kenapa aku masih harus mempertahankan hubunganku dengan Yori. Bukan hanya perasaan sayang, seperti ada hal lain yang membuat aku harus tetap bertahan dengannya. 


"Yaudah... Gini Ri... Kalo ada apa - apa lo bilang sama gue yaa... Lo kan temen gue juga.. Kalo Yori bikin lo sakit hati, biar gue hajar dia."


"Gaya lo, badan lo sama Yori aja gedean Yori Tim. Hahahha.."


"Iyaa deh iyaaa... Siap Bosss... Tenang ajaa.."


Setelah Timo pergi meninggalkanku, Mytha tiba - tiba menghampiriku. Mytha adalah temanku di drumband dan sekarang kami sekelas di kelas IPA.


"Ri....Lo ada yang gak ngerti gak?" Tanya Mytha yang duduk di sebelahku.


"Hey Myth.. Iya nih ada yang gue bingung.. Boleh ajarin?"


"Mana sini..."


Mytha baik sekali mau membantuku belajar, karna aku sudah terlalu jauh tertinggal pelajaran di kelas IPA ini. Mungkin Mytha akan menjadi sahabatku di kelas yang baru ini. Dan aku berharap Mytha tidak seperti Lani yang tega menikung sahabatnya sendiri. 

__ADS_1


"Udah kan? Kalo masih gak ngerti lo bisa tanya lagi sama gue yaa Ri..." Kata Mytha yang daritadi sudah menjelaskan panjang kali lebar.


"Iyaa InsyaAllah udah ngerti kok Myth. Makasih banyak yaa Myth."


"Iyaa sama - sama Ri. Oh iya by the way Ri... Lo sama Yori putus ya?" Tanya Mytha.


"Hah? Kata siapa?" Tanyaku dengan terkejut.


"Ehhhh gue nanya...Soalnya gue gak tau kan."


"Gak kok Riiiiii... Ihhh dapet kabar dari siapa?"


"Gue gak dapet kabar dari siapa - siapa.. Kemarin gue kan dianter pulang sama cowok gue. Terus ketemu Yori berduaan sama hmmm Lani... Terus boncengannya mesrah banget. Makanya gue pikir lo udah putus sama Yori." 


Seorang Mytha bisa mengatakan hal seperti itu, orang bodoh mana yang menganggap itu hanya teman. Apalagi aku mendengar Mytha bilang mesrah... Mereka sedang melakukan apa????


"Maksudnya pelukkan?" Tanyaku dengan nada kesal.


"Hmmmm gue jadi salah ngomong nih... Gue sih liat Lani peluk Yori mesrah banget Ri. Naik motor mereka berdua."


"Mereka kan temanan aja Myth." Aku berusaha menutupi.


"Eh serius? Yakin temenan aja? Mudah - mudahan gue salah liat yaa Ri." Kata Mytha yang langsung menggenggamm tanganku.


"Iyaa kayaknya lo salah liat deh Myth.. Yaudah makasih yaa Myth udah ngajarin gue. Gue mau ke toilet dulu."


"Iyaa sama - sama... Mau gue temenin gak?" 


"Gak usah Myth, gue sendirian aja."

__ADS_1


Aku berlari menuju toilet, menahan tangis lagi. Mau sampai berapa orang lagi yang bilang padaku bahwa Yori dan Lani ada sesuatu? Mau berapa lama lagi aku masih terus bersabar dengan mereka? Apakah aku kuat? Aku masih kuat...


__ADS_2