Pengkhianatan Cinta Pertama

Pengkhianatan Cinta Pertama
Bab 45. Yori Khawatir


__ADS_3

Aku menahan sakit karna ada beberapa luka di kakiku dan rasanya lemas. Melihat kedaan Nana yang masih belum tersadar. Orang - orang terus berdatangan melihat keadaan kami dan berusaha membangunkan Nana dengan memberikan minyak kayu putih ke hidungnya. Mereka benar - benar membuatku pusing karna semakin menumpuk orang - orang menghampiri kami.


"Na....naa... bangun na..." Aku terus berusaha membangunkan Nana dengan energi yang sudah tidak ada lagi.


"Riii..." Aku mendengar suara yang tidak asing, suaranya yang lantang dan keras. Dia datang menghampiriku dengan tergesa - gesa.. Ya Yori, dia datang.


Aku lemas dan hanya tersenyum saat melihat wajahnya.


"Lo gapapa? Mana yang sakit?" Tanya Yori yang duduk langsung di sebelahku. 


"Yor.... Gue.... lemes banget..." Aku menjawab dengan terbata - bata karna rasanya benar - benar masih syok dan lemas. 


"Ini Nana belum bangun?" Tanya Yori.


"Yor, mending lo anterin si Riri balik. Gue yang anterin si Nana ke rumahnya nanti, tunggu dia sadar tapi." Sahut Bani yang sejak tadi dia datang hanya terdiam dengan wajah bingung melihat keadaan kami.


"Kepala lo kena gak Ri?" Tanya Yori sambil memegang kepalaku.


"Gak... Kita pake helm kan, jadi.. Alhamdulillah gak kena kepala..." Jawabku.


"Yaudah.. Gue udah bawain tas lo ini, sekalian gue anterin lo pulang ya.. Lo gak usah latihan hari ini." Kata Yori sambil menggendong tasku.


"Na... Na..." Kata Bani sambil mengguncang - guncangkan badan Nana.


Dan akhirnya Nana terbangun saat dia terus - terussan dikasih minyak kayu putih oleh tukang ojek yang membantu kami tadi.


"Alhamdulillah..." Jawab kami semua serempak saat melihat Nana sudah sadar.


Nana masih belum kesadaran penuh, dia masih melihat sekitar dan diam. Lalu tukang ojek itu meminta semuanya tidak berkumpul banyak disitu agar tidak terlalu ramai. 


"Ini.. dimana?" Tanya Nana sambil memegang kepala dan berusaha bangun.

__ADS_1


"Na.. ini ada temen - temen lo. Tadi abang mau anterin lo cuma lo belum sadar, jadi nunggu lo sadar dulu. Lo mau gue anterin atau temen lo nih yang anter?" Tanya Abang ojeknya.


"Siapa aja deh anterin, pusing banget." Jawab Nana sambil meringis.


"Yaudah Pak, saya bawa motor Nana. Abang gonceng Nana ke rumah ya..." Jawab Bani. 


Lalu Nana diantar dengan Bani dan tukang ojeknya. Yori mengantarkanku.


"Ri, pelan - pelan naiknya." Yori sambil menahan agar aku tidak jatuh.


"Iyaa ini pelan - pelan kok."


Yori membawa motor dengan pelan, bahkan dia basah kuyup. Saat itu gerimis masih saja membasahi kami.


"Yor..... Maaf ya... Lo jadi kehujanan gini." Sahutku.


"Gak usah minta maaf Ri. Namanya juga musibah kecelakaan, siapa yang tau lo tadi bisa jatuh gitu sama Nana." Jawab Yori yang masih sambil fokus menyetir motornya. 


"Yor... Lo basah kuyup gini."


"Gue kan pulang, lo nanti balik lagi ke sekolah."


"Gapapa Ri."


Karna aku tidak tega melihat keadaan Yori yan sudah basah dan kedinginan, aku meminta dia mengantarkanku untuk ke rumah sepupuku saja Wina. Rumah WIna tidak terlalu jauh dari jalan raya, rumahku masih agak masuk ke dalam.


"Yor.. Nanti lo anterin gue ke rumah sepupu gue aja ya. Kalo ke rumah gue kejauhan."


"Loh.. Kenapa Ri?" 


"Gapapa... Yor. Kasihan lo lebih jauh ke rumah gue. Kalo rumah sepupu gue gak terlalu jauh dari jalan raya."

__ADS_1


"Oh yaudah Ri. Gue anterin kesitu yaa.. Kasih tau jalannya. 


***


"Nah disini Yor." Aku turun di bantu Yori.


"Awas, pegangan yang bener."


"Riri??? Lo kenapa?" Tanya Wina yang langsung keluar dari rumah.


"Gue kecelakaan Win." Jawabku sambil berpegangan dengan Yori.


"Ini Yori?" Tanya Wina.


"Iyaa Gue Yori." Jawab Yori sambil mengajak bersalaman dengan Wina.


"Oh iyaa gue Wina sepupunya Riri. Kok bisa gini Yor?" Kata Wina sambil membalas jabatan tangan Yori. 


"Udah nanti gue ceritain yaa. Ini Yori kasihan udah basah kuyup." Jawabku sambil pindah berpegangan dengan Wina.


"Lo mau masuk dulu gak Yor?" Tanya Wina.


"Gak usah Win, gue langsung balik aja. Next time deh ya..." Jawab Yori.


"Serius? Gak mau keringin dulul tuh badan lo?" Tanya Wina.


"Gak usah gapapa, ini gue ke sekolah lagi soalnya."


"Yaudah deh... Hati - hati lo Yor." Jawab Wina.


"Hati - hati yaa.. Nanti kabarin gue." Sahutku.

__ADS_1


"Iyaa nanti gue kabarin."


Lalu Yori pergi dengan kecepatan sedang dan untungnya cuaca sudah mulai mereda, tidak hujan lagi. Dia benar - benar mengkhawatirkanku hari ini, aku senang sekali. 


__ADS_2