Pengkhianatan Cinta Pertama

Pengkhianatan Cinta Pertama
Bab 18. Jadian


__ADS_3

Pagi itu, burung - burung berkicauan menyambut bahagiaku. Langit pun cerah, tak berawan.  Langkahku menuju depan gerbang sekolah pun begitu gesit, agar aku dapat cepat masuk kelas dan bertemu Yori, pacarku. Ya pacar pertamaku setelah sekian lama kami pendekatan. 


"Pagi Pipit, Pagi Lani.." Sapaku pagi itu kepada mereka yang sedang duduk tenang.


"Pagi Ri. Kelihatannya lagi bahagia banget nih." Jawab Pipit sambil tersenyum.


"Kenapa lo senyum - senyum Ri?" Tanya Lani sambil tersenyum sedikit.


"Gapapa....." Aku menjawab sambil melihat kanan dan kiri, melihat apakah Yori sudah sampai atau belum. Dan setelah mataku kembali melihat ke depan pintu kelas, ternyata Yori masuk kelas dengan senyuman yang selalu aku suka.


"Hai..." Sapa Yori dan langsung menghampiriku. "Sayang." Dia melanjutkan lagi dan mengusap kepalaku.


Pipit dan Lani pun terkejut, begitupun kelas dibuat bising karna sikap Yori.


"IHHHHHH GELI LUUUUU." Kata salah satu teman sekelasku bernama RIna.


"Lah kenapa sih lo sirik aja." Jawab Yori meledek.


"Tunggu.. tunggu deh.. Kalian udah jadian ya??" Tanya Lani dengan nada tinggi.


"HAH??? Serius?" Pipit pun terkejut.


"Ihhh caelah pantessss yaa!! Akhirnyaa yaaa kalian duhhhh jadian juga setelah sekian purnama!" Ledek Rina sambil berteriak di depan kelas.


Lani dan Pipit langsung memelukku saat itu dan mengucapkan selamat karna mereka tau perjalanan proses pendekatanku dengan Yori.


"Gue ikut seneng sist." Setelah Lani mengatakan itu, Lani pergi keluar kelas tanpa pamit. Aku tidak tau dia mengapa memberikan respon seperti itu. Apa mungkin dia sakit hati karna akhirnya aku berpacaran dengan Yori. Padahal sebelum Yori akhirnya menembakku kami sudah bicara bertiga bahwa dia sudah ikhlas jika akhirnya aku dan Yori bersama dan dia merelakan perasaannya yang menurutku itu salah. Ya benar - benar salah. 


"Pit, gue udah gak perlu khawatir lagi kan ya harusnya?" Aku masih khawatir dengan hubungan Yori dan Lani.


"Tenang Ri, kan sekarang hubungan kalian udah jelas. Jadi Yori pasti lebih memilih ke Lo sih." Jawaban Pipit sangat menenangkan perasaanku. 


Aku berharap Lani benar - benar melupakan Yori dan akhirnya jadian dengan Ryan.


***


Bel berbunyi menandakan kami harus bersiap ke lapangan untuk upacara bendera. Aku bersiap untuk ke ruangan drumband dan mengambil pianika. Dan Yori pun mengajakku untuk ke ruangan drumband bersama - bersama.


"Yuk Ri.." Ajak Yori.


"Hmmm yang diajak Riri aja yaa Yor." Ledek Pipit.

__ADS_1


"Hahaha apasih Pit, daaahh duluan yaa." Aku langsung pergi dan menggandeng tangan Yori. 


Sepanjang kami berjalan menuju ruang drumband, kami saling memandang satu sama lain dan saling tersenyum. Hari kedua kami berpacaran hari itu sangan menyenangkan dan mendebarkan. Setiap aku menatap mata Yori dan melihat senyumnya, jantungku selalu berdebar seakan mau copot. Dia adalah cinta pertamaku yang sempurna di mataku hari itu. Dia benar - benar sesuai tipe idamanku. Punya humor yang tinggi, bertubuh besar dan tinggi diatasku jauh sehingga dia bisa melindungiku kapan pun, dan satu lagi senyumnya yang manis itu adalah salah satu favoritku. 


"Eh apaan nih kok gandengan tangan kayak mau nyebrang?" Ka Romi keluar dari ruang drumband dan melihatku dan Yori bergandengan tangan, lalu merasa curgia dengan kami.


"Biasa Ka, pasangan baru." Tiba - tiba saja Pipit menyambar dan ternyata daritadi Pipit berjalan di belakangku dan Yori.


"Ohhhh udah jadian yaa... Inget jangan pacaran terus di drumband yaa..." Ledek Ka Romi.


"Siaapp Bos." Jawab Yori sambil memberi hormat.


"Yuk yuk guys, upacara udah mau mulai nih." Sahut Ka Joe yang tiba - tiba keluar dari ruangan drumband dengan membawa alat musk Bass yang sangat besar itu. 


Setelah kehebohan di depan ruang drumband itu, kami semua sudah berkumpul rapih di lapangan untuk bersiap upacara bendera di hari senin.


"Gue berdiri di sebelah Yori ya.." Aku berbisik kepada Pipit.


"Iyaaaaa iyaaa Riii..." Wajah Pipit seperti meledek senang.


Saat di pertengahan upacara, Yori tiba - tiba mengajakku bicara.


"Gak kok, kan matahari pagi gapapa."


"Sini kalo panas agak geser biar ketutupan sama gue."


Saat kami sedeng berbincang - bincang manis, Bani mendengarnya. "WOII upacara ini, jangan pada pacaran lu ih."


"Ssstt.. Nanti kedengeran guru. Jangan berisik." Jawab Ka Romi dari depan. Ternyata suara kami sudah benar - benar terdengar dengan yang lainnya. 


Lalu setelah upacara selesai, kami mengembalikan alat musik kami masing - masing ke ryang drumband. 


"Ri, mau ke kantin dulu gak?" Tanya Yori sambil merangkulku.


"Mau beli apahh?" Tanyaku dengan nada yang manja.


"Astagaa bener - bener lo berdua yaaa ih masih fresh pacaran gini nih. Berdua muluu." Kata Bani dengan nada meledek.


"Kamu cemburu ya sayang..." Jawab Yori dengan meledek dan berbalik merangkul Bani.


"Yor ih geli lu ahh..." Bani langsung melepaskan rangkulan Yori. Dan kami pun tertawa bersama.

__ADS_1


***


Saat pulang sekolah tiba, Yori menghampiriku dan mengajakku pulang bersama.


"Ri, yuk. Mau main ke ruang drumband dulu atau langsung pulang?"


"Ke ruang drumband dulu yuk Yor."


"Yaudah oke."


"Lo mau bareng gak Lan?" Yori tiba - tiba mengajak Lani untuk ke ruang drumband bersama. 


"Gak deh, gue bareng Pipit aja Yor." Jawab Lani lesu.


"Yaudah gue sama Yori duluan yaa Lan..."


Setelah itu aku dan Yori meninggalkan Lani dan Pipit, kami berjalan berdua berdampingan. 


"Yor, mau ke kantin dulu gak?" Aku bertanya karna sepertinya perutku lapar. 


"Lo laper?" Yori sambil mengelus kepalaku.


"Iyaaaaaa.. Emang lo gak laper?"


"Kalo lo makan gue ikut makan." 


"Okee sayang." Aku mulai manja - manja sambil memeluk Yori di depan umum.


Lalu Yori merangkulku membalas pelukkanku. Dan ternyata di kantin ada beberapa teman Ka Putra yang melihat kearahku. Yang Ku tau ada Ka Bara dan Ka Gery sedang makan berdua.


"Mau makan apa?" Tanya Yori dengan lembut.


"Makan soto deh, lo?" Dan ya, cara kami memanggil tidak seperti kebanyakan orang berpacaran. Kami masih memanggil Lo dan Gue. Aku nyaman jika harus memanggil Yori tidak dengan Aku dan Kamu. 


"Gue siomay aja deh, tunggu ya. Duduk disini kita?" 


"Iyaa sini aja deh, jangan disana." Aku berbisik kepada Yori seperti menandakan disana ada senior.


"Oh okee." Yori sambil menoleh dan tersenyum sinis kepadaku, seakan menandakan tau apa maksudku.


Ya.. Kami benar - benar seperti di mabuk asmara. Sepasang kekasih yang baru saja sah jadian. Aku berharap jalinan kasih kita berdua bisa langgeng dan bahkan mungkin bisa serius.

__ADS_1


__ADS_2