
Hari ini aku dan mama mengambil rapor untuk kenaikan kelas, ini sangat mendebarkan untukku. Karna ini adalah penentuan aku bisa masuk kelas IPA atau tidak. Karna aku sangat berharap bisa masuk kelas IPA karna aku ingin masuk ke fakultas kedokteran. Dan ini giliran namaku di panggil oleh guru wali kelas...
"Riri Saputri...." Wali Kelasku memanggil.
"Iya Bu, gimana rapor anak saya?" Mama bertanya dengan harap - harap cemas.
"Bagus semua bu nilainya, hanya saja nilai matematikanya yang kurang. Untuk nilai IPAnya melewati standart semua. Bagus semua, rata - rata 7,5 yaa bu."
"Terus kalo matematikanya masih kurang gimana bu?" Mama khawatir.
"Nah, ini Riri mau ke IPA ya bu?"
"Iya Bu, anak ini gak ngerti katanya IPS. Terus juga kan dia mau jadi dokter bu, jadi penjurusannya harus IPA." Mama menjelaskan dengan gemetar.
"Oke ibu tenang dulu ya, saya jelaskan dulu. Jadi gini bu, untuk memenuhi standar masuk kelas IPA ini yaa Riri masih kurang 2 poin matematiknya, walaupun matematikanya melewati nilai KKM tapi masih kurang bu sebenarnya. Emang harus jadi dokter Ri? Kalo Riri ke IPS dia bagus banget nilainya ini." Wali Kelasku menjelaskan dengan lembut.
"Hmm Riri tetep mau jadi dokter bu, gak bisa diusahakan ya bu untuk Riri masuk ke IPA?" Aku berbicara pelan menahan sedih.
"Gini, sebenarnya gak cuma Riri yang nilainya kurang. Ada beberapa siswa yang mau masuk IPA tapi nilainya kurang sedikit. Hanya saja untuk sementara waktu nanti Riri masuk kelas IPS dulu sambil menunggu ujian lagi untuk tambahan nilai masuk ke IPA." Wali Kelasku menjelaskan lagi.
"Kapan ujiannya bu?" Mama bertanya dengan wajah penuh harapan.
"Itu 2 minggu lagi bu, setelah liburan sekolah selesai lah. Jadi nanti Riri masuk kelas IPS 1 dulu yaa.." jawab wali kelasku.
"Baik bu, saya siap ikut ujian tambahan agar saya dapat masuk IPA." Aku menjawab dengan yakin.
"Yaudah itu aja yaa, selebihnya nilai Riri bagus semuanya bu. Riri nih pinter kok bu, aktif di kegiatan sekolah juga. Jangan di marahin ya bu."
"Iyaa bu, makasih ya bu."
Lalu aku dan mama beranjak pergi dari kelas, kami pulang naik angkot. Dan untungny aku tidak bertemu dengan Yori dan Lani. Tapi mama sudah tau jika aku berpacaran dengan Yori, dan mama menanyakannya.
__ADS_1
"Yori mana? Masuk IPA atau IPS?"
"IPS kayaknya ma." Aku menjawab dengan singkat karna masih tidak mau mendengar nama dia, bahkan aku dan Yori sudah tidak komunikasi sejak pulang dari pentas seni kemarin.
"Oh yaudah dia kan santai, kalo kamu kan pengen jadi dokter. Jadi harus rajin yaa. Udah off dulu deh drumbandnya, biar fokus belajarnya nak."
"Hmm.. tapi sebentar lagi kan mau ada MOS maa.. jadi aku harus latihan pas liburan sekolah ini."
"YaAllah, kamu denger kan tadi ujian tambahannya pas masuk sekolah. Gimana kamu bisa belajar fokus."
"Bisa maa.. InsyaAllah." Aku menjawab dengan meyakinkan mama agar mama tidak perlu khawatir soal penjurusan IPA ku.
"Mama gak mau ya nanti akhirnya sia - sia. Kamu urus aja sekolah mu sendiri kalo gitu." Mama mengomel seperti menandakan bahwa aku tidak boleh sibuk lagi mengikuti kegiatan drumband.
Aku tidak menjawab pertanyaan mama, aku hanya diam dan terus berjalan, kami pulang naik angkot karna bapak tidak pulang hari itu. Dan pakde tidak bisa mengantarkanku karna ada urusan.
***
"Selama libur kamu belajar yang bener ya. Gak ada pergi jalan - jalan."
"Gak, masuk IPA yang utama."
Benar - benar, mama marah padaku karna aku gak langsung di terima ke penjurusan IPA. Sedangkan aku juga harus berlatih drumband untuk acara MOS. Dan yang pasti aku harus benar - benar merayu mama agar mama luluh hatinya.
"Udah, sana belajar. Cicil dulu." Mama mencuci baju sambil mengoceh.
"Hmmm iya maa." Aku langsung masuk ke dalam kamar.
Berulang kali aku membuka - buka SMS lama dari Yori disaat kami sedang pendekatan dan awal - awal berpacaran. Betapa bahagianya kami berdua saat itu, tidak ada perdebatan ataupun tidak ada seharipun kami lewati tak membalas SMS. Hari libur ku kali ini pasti sunyi dan membosankan, karna aku tidak berkomunikasi dengan Yori karna kami masih perang dingin. Aku sekarang punya pikiran, Lani dan Yori pasti akan sering main bersama selama liburan karna rumah mereka sangat dekat. Membayangkannya saja sudah menyakitkan hati, apalagi kalau benar - benar terjadi. Jadi bagaimana nasib hubunganku ini. Tetap bersama tapi seperti tak ada status.
"Ri, jangan lupa nanti sapu halaman yaaa. Udah kotor tuh banyak daun jatuh." Mama agak berteriak dari tempat cuci baju karna pintu kamarku di tutup.
__ADS_1
"Iyaaa maa." Sahutku dari kamar.
Ya.. hari - hariku pastinya akan disibukkan dengan membantu mama membereskan rumah. Apalagi mama bilang tidak ada jalan - jalan, aku harus fokus belajar agar bisa mengerjakan ujian masuk ke kelas IPA.
"Ri, bapak pulang yaa nanti malam. Kita mau beli makan apa? Atau mau masak?" Mama bicara dan keluar rumah karna aku sedang menyapu halaman rumah.
"Ohh yaa terserah mama, kalo mau masak harus belanja dulu. Jam segini kalo beli sayur udah pada layu. Jajan ajalah ma." Aku menjawab sambil melanjutkan menyapu halaman.
"Yaudah nanti kita beli makan keluar ya sebelum bapak pulang."
"Iyaa maa.
***
"Libur sekolah mau kemana nih Ri?" Bapak bertanya sembari mengambil lauk yang sudah kita beli tadi sore.
"Gak ada pergi - pergi, biarin dia belajar Pak. Itu dia bersyukur dikasih kesempatan sama gurunya buat ujian supaya bisa masuk kelas IPA." Mama menyahut dari kamar karna mendengar pembicaraan bapak.
"Tuhkan, kamu sih gak belajar yang bener. Main hp terus, liat tuh mamamu marah." Bisik Bapak kepadaku.
Pastinya aku bakal di serang deh sama mama dan bapak karna nilai raporku kurang.
"Tapi masa belajar terus ma, kan mau refreshing juga gitu sehari." Aku menjawab dengan lesu.
"Makanya belajar. Siapa suruh latihan drumband terus." Mama mengomel dan keluar dari kamar menuju meja makan.
"Belajar kok maaa, kan raporku juha bagus itu nilainya diatas 7 nilainya."
"Yeh anak ini pinter ngejawab ya." Mama mengomel sambil melototiku.
Aku tidak mau menjawab lagi setelah itu aku diam dan tidak berani bicara apapun.
__ADS_1
"Yaudah nantilah sehari aja kita pergi yaaa, kasihan kan masa belajr terus Riri. Kita bertiga aja, aku cari waktu kosong nanti." Sahut Bapak.
Dalam hatiku senang sekali dan berkata "alhamdulillah" aku hanya senyum kecil mendengarnya. Memang bapakku adalah penyelamatku dikala aku sedang dimarahi mamaku. Gak kebayang kalo aku cuma berdua sama mama aja, tiap hari kayaknya diomelin terus.