
Pagi ini aku, mama dan bapak di rumah. Kami menikmati hari - hari kosong kumpul bertiga. Aku bersyukur bapak tidak ada jadwal praktek, beliau sengaja izin untuk kumpul bersama aku dan mama. Memang bapak adalah seorang dokter umum yang tidak bekerja di rumah sakit melainkan di klinik 24 jam, sehingga dia sangat sibuk jika ada dokter lain yang tidak bisa bertugas.
"Kita mau masak atau mau makan diluar?" Tanya Bapak sambil menonton berita di televisi.
"Cieelah, bapak lagi banyak duit tuh." Ledek mama.
Bapak hanya tertawa.
"Gimana Ri? Mau makan diluar atau masak?" Mama bertanya.
"Ada film bagus gak Ri?" Tanya Bapak lagi.
"Mau makan apa nonton Pak?" Aku bertanya sambil mengecek internet untuk melihat jadwal film.
"Kalo ada film bagus kita nonton aja, makannya masak di rumah." Sahut Mama.
"Tunggu ini lagi aku cari dulu.. Kayaknya gak ada yang bagus deh."
"Yaudah kita makan aja keluar kalo gak ada film bagus." Jawab Bapak.
"Asikkk.." Sahut mama kegirangan.
Kami memang keluarga sederhana, dan kami selalu meluangkan waktu sehari dalam sebulan untuk makan keluar, nonton bioskop atau sekedar kumpul bertiga.
"Mau makan apa nih kita nanti?" Tanya Mama.
"Tuh Riri biasanya bisa kasih ide." Jawab Bapak.
"Hmmm apa yahh.. mau tempat nongkrong atau gak?"
"Jangan tempat yang ngerokok ya Ri." Bapak memang tidak suka bau asap rokok.
"Yaudah makan di Mall kali ya..." Aku mencoba memberikan ide.
"Makan pizza kek yuk." Sahut Mama.
"Boleh tuh pizza Ri, Bapak pengen saladnya." Jawab Bapak mengiyakan tawaran Mama.
"Okeee."
Sore hari Bapak menyalakan mesin mobil untuk kita bersiap pergi makan keluar. Aku dan Mama bergegas keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil yang sudah panas.
Di perjalanan, aku banyak diberi pertanyaan dan nasehat oleh Bapak dan Mama.
"Kamu udah belajar Ri?"Tanya Bapak.
"Udah nyicil kok Pak." Jawabku.
"Nyicil apa?" Tanya Mama.
"Ya nyicil belajar lah Ma."
__ADS_1
"Kamu kok ngejawabnya bolak balik aja Ri. Kamu tuh yang serius kalo belajar, ini penentuan kamu loh Ri." Jawab Mama mulai bernada tinggi.
Aku tidak menjawab, hanya diam. Aku sudah duga, pasti aku akan kena nasehat beserta omelan.
"Kamu tuh harus belajar disiplin Ri. Belajar atur waktu kamu, kapan harus belajar, kapan harus santai, kapan harus main dan kapan waktunya tidur. Kamu tidurnya malem, bangun siang. Apalagi kamu anak gadis." Timpal Bapak.
"Iyaa.. Ma..Iya...Pak..."
Setelah itu kami diam beberapa menit, lalu kita sampai di tempat tujuan.
"Mau pesen apa aja nih?" Tanya Mama.
"Mama mau apa?" Tanyaku.
"Bapak dulu deh." Mama sambil menyodorkan menu ke Bapak.
"Aku yang penting ada saladnya. Riri aja yang pesenin, bapak gak ngerti menunya."
Yap, inilah keluargaku. Benar - benar sederhana, walaupun Bapakku adalah seorang dokter bukan berarti dia suka kemewahan. Bapakku adalah seseorang yang sangat biasa, tidak memakai barang - barang ternama, tidak gila gelar dan untuk makanan bapak lebih suka makan makanan yang tradisional. Untuk makan makanan pasta, pizza, salad, dan lainnya itu sekali - sekali saja saat Bapak punya gaji lebih untuk kami sekedar jalan bertiga. Dan aku bersyukur itu, aku sangat bersyukur bisa menjadi anak dari Mama Lila dan Bapak Ardy. Ya itu nama orang tuaku. Walaupun aku anak tunggal alias anak satu - satunya, mereka selalu mengajarkanku mandiri, sederhana dan disiplin. Untuk urusan di manja, tidak. Aku merasa mereka tidak pernah memanjakanku sebagai anak tunggal. Bapak selalu mengingatkanku, ini prinsipnya: Jika kamu sangat ingin sesuatu, ingatlah kebutuhanmu. Utamakan kebutuhan bukan keinginan. Maka dari itu aku tidak pernah merengek ingin dibelikan ini dan itu atau sekedar apapun yang aku minta harus dikasih.
Aku sangat menikmati hari - hari sebagai anak tunggal dan berada di keluarga yang sederhana ini. Bapak adalah seorang ayah yang tidak pernah melarang anaknya dan tidak pernah memarahiku, bahkan Bapak adalah orang tua yang selalu membebaskan anaknya, itu yang membuatku menjadi seseorang yang bertanggung jawab untuk diri sendiri. Karna cara didik Bapak yang membebaskan tandanya aku harus menghargai kebebasannya dengan bertanggungjawab untuk diri sendiri. Dan aku selalu mengagumi Bapak, dan berharap suatu saat nanti aku bisa mempunyai suami seperti Bapak sifatnya. Mama...mama adalah wanita yang kuat, mama bercerita waktu masa kecil mama, mama adalah anak yang manja karna mamaku adalah anak bontot, paling di sayang dan di manja oleh eyang Kung. Tapi mama bercerita sejak menikah dengan Bapak, mama menjadi wanita yang mandiri dan kuat bahkan tidak manja. Apalagi aku dan mama lebih sering tinggal berdua di rumah karna Bapak jarang di rumah karna sibuk. Jadi mama lsudha terbiasa menjadi dua peran orangtua untukku. Walaupun pekerjaan Mama hanya sebagai petugas asuransi, tapi aku tidak pernah malu punya Mama. Pekerjaan apapun baik selagi itu halal.
***
"Aduuuh Ri... Mama lupa lagi mau pergi sama temen mama hari ini. Kamu di rumah sendirian gapapa kan?" Pagi- pagi mama sudah ribut karna sesuatu hal yang tidak penting.
"YaAllah Maaaa Aku kira ada apa. Bikin kaget aja teriak - teriak gitu. Aku kira Mau ngomelin aku lagi."
"Hahahaha iyaaa Nak, Mama lupa. Tunggu deh Mama SMS temen mama dulu yaa.."
"Aku gapapa kok sendirian di rumah Ma..."Sahutku berteriak dari depan ruang TV.
Mama tidak menjawab karna asik membuka ponselnya.
"Udah kalo jadi pergi siap - siap dulu Ma.."Sahutku lagi.
"Iyaaa.. eh kamu jangan lupa belajar yaa Ri. Jangan mentang - mentang gak ada mama sama bapak di rumah kamu jadi gak belajar." Jawab Mama lalu duduk menghampiriku.
"Iyaaa siap bos."
Tiba - tiba handphoneku berdering keras. Tanda telpon masuk. Ah ternyata Yori. Dia menelponku? Tumben? Ada apa ya?
"Halo." Aku menjawab.
"Assalamualaikum." Salam Yori.
"Walaikumsalam. Ya kenapa Yor?"
"Gapapa, lagi pengen telpon Lo aja Ri."
"Kangen?"
__ADS_1
"Iyalah pasti, gue gak biasa jarang ketemu gini sama pacar sebenarnya Ri."
"Dulu juga gitu ya sama mantan - mantan Lo?"
"Hahahahaha banyak banget kayaknya mantan gue Ri."
"Masa??"
"Udah ah. Lagi apa? Berapa hari lagi ya kita ketemu?"
"Makanya main dong ke rumah."
"Iyaa nanti gue main ya."
"Iyaaa sayang. Udah telpon aku cuma mau gitu ajah kan?"
"Iya hahahaahaha.."
"Bener - bener lo ya Yor."
"Yaudah salam buat Mama Lo ya."
"Iya nanti Gue salamin yaa."
"Okee. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
Lalu aku menutup telponku dengan senyuman, rasanya berbunga - bunga sekali di telpon Yori.
"Ri....Mama berangkat yaa. Jangan lupa kunci pintu."
"Iyaa Maa... oiya maa tadi dapet salam dari Yori."
"Yori? Kok bisa?"
"Barusan Yori telpon aku."
"Oh. Iya.. oh iya gimana dia? Masuk IPS atau IPA?"
"Astaghfirullah aku gak nanya sama dia."
"Kamu gimanasih pacarnya sendiri kok."
"Iyaa lupa maa."
"Kamu tuh jangan pacaran aja sama dia, diskusi pendidikan juga dong."
"Iyaaa lupa maa lupaa."
"Yaudah mama berangkat, Assalamualaikum."
__ADS_1
"Walaikumsalam."
Mama berangkat dan meninggalkanku di rumah sendirian. Dan ini berarti waktunya aku me time. Karna Bapak juga tidak ada di rumah karna hari ini praktek dan baru besok pagi pulang. Setelah aku Me time, aku harus mengumpulkan niat untuk belajar.