
Pagi yang cerah untuk berolahraga dan mencari keringat. Tapi sayangnya aku masih bermalas - malasan di kasur. Bahkan alarm saja tak ku hiraukan, ku matikan lagi setiap berbunyi. Tapi mama sudah mengomel diluar untuk membangunkanku.
"Riri... ayo bangun, jangan mentang - mentang libur sekolah kamu habis subuh tidur lagi yaaa. Ayo bangunnnnn. Anak gadis kok." Hahaha kebiasaan malas bangun pagi memang sulit ku ubah.
"Iyaaaa hmmmm." Aku menjawab sambil mengulat.
"Ayo banguuun, mana ini pintu kamar belum kebuka."mama berteriak dari luar.
"Astagfirullah iyaaa ini aku bangun." Bergegas bangun dan membuka pintu kamar.
"Kalo libur jangan bangun siang dong, anak gadis juga." Mamaku masih ngomel.
"Iyaaa maaa, masih ngantuk."
"Udah sana cuci piring kek, nyapu kek. Atau masak lah."
"Iyaa iyaaa..."
Duh aku nih malas banget, kalo untuk ukuran anak gadis gak baik kayak gini. Harusnya mah tetep bangun pagi dan bersih - bersih yaa. Gak baik di contoh nih hehehe.
Akhirnya aku membersihkan halaman, menyapu, setelah itu mencuci piring dan membereskan tempat tidur. Lalu setelah itu aku mandi dan makan.
"Pengen jalan - jalan deh ma." Aku berbicara sambil menyeduh secangkir coklat panas lalu duduk di depan TV.
"Hari Sabtu aa, pas bapak libur. Sekarang kamu belajar dulu sana. Jangan main hp mulu." Jawab mama yang sedang main hp.
"Hmmmm iyaa ini aku mau belajar kok."
Aku pun masuk ke kamar dan berusaha membuka buku dan belajar. Tapi tiba - tiba aku ingin membuka hp. Sepertinya aku sudah tidak bisa mendiamkan Yori, dan aku mencoba mulai percakapan dengannya.
"Yor."
Ternyata sudah sampai satu jam Yori tidak membalas pesanku. Mungkin sebenarnya Yori sudah bosan denganku, sehingga dia malas membalas pesan dariku. Karna saking lamanya kita hanya diam.
Terkadang aku merasa, Yori mulai berubah saat setelah satu bulan kita berpacaran. Dulu saat pendekatan Yori berbeda, dia selalu memperhatikanku dari jauh, memberikan senyuman, bahkan hal sekecil apapun dia peduli.
***
Hari ke-3 libur sekolah, Yori masih tidak membalas pesanku. Tapi hari ini ada latihan drumband untuk persiapan penutupan MOS nanti.
"Aku ke sekolah dulu ya ma, pak." Kebetulan bapak hari itu libur.
"Iyaa.. dianterin pakde ke curug jadinya?" Tanya mama.
"Yaudah hati - hati. Nanti kabarin kalo pulang ya Ri." Jawab bapak.
"Iyaaa.." Lalu aku salim dan jalan ke depan gerbang rumah karna pakdeku sudah menunggu di depan.
Setelah sampai curug, aku menyambung naik angkot sampai halim. Lalu sampai komplek halim aku naik lagi trans halim dan langsung turun di depan sekolahku. Lalu saat aku turun, aku melihat ternyata ada Yori. Aku hanya menunduk dan tidak berani melihat kearahnya. Dan dia juga sepertinya tidak berniat menghampiriku. Tapi...
"Ri... Eh... lesu banget sih lo." Ternyata Bani memanggilku dari belakang.
__ADS_1
"Hmmm iya ya." Aku menoleh kearahnya dan menjawab dengan malas.
"Lo ada masalah sama Yori?" Tanya Bani sambil berbisik.
"Masa sih?" Aku menjawab dengan pura - pura tidak tau.
"Dih, lu berdua pacaran apaansih kayak gini?" Tanya Bani agak berteriak.
"Ban, jangan keras - keras suara lo. Nanti kedengerannnn." Jawabku sambil menyenggol tangannya.
"Yor!" Bani berteriak sambil menggandeng tanganku.
Lalu Yori menoleh kearahku dan Bani.
"Ban. Apasih." Aku berbicara sambil berbisik.
Yori setelah menoleh hanya tersenyum saja lalu tetap berjalan masuk ke dalam ruang drumband.
Rasanya hatiku benar - benar teriris melihat Yori yang tidak ada respon apapun saat melihatku. Aku ini siapa? Pacarnya kan? Atau dia anggap hubungan kami sudah berakhir?
"Sabar ya Ri..." Kata Bani sambil menepuk - nepuk pundakku.
Aku tidak menjawabnya dan hanya diam. Sampai aku masuk ke ruang drumband, Yori melihatku dan dia hanya meletakkan tasnya di dalam lalu pergi keluar ruang drumband.
"Mau kemana Lo Yor?" Tanya Bani berteriak karna Yori sudah berjalan agak jauh dari ruangan drumband.
"Mau cari makannn. Laper." Yori menjawab dengan teriakan juga.
"Gak. Gue udah kenyang." Jawabku singkat dan kesal.
"Ih yaudah daahh."
Aku benar - benar tidak menyangka, Yori setega itu padaku. Sudah sekian lama kami saling diam, tapi dia tidak ada usaha sedikitpun untuk menyapaku duluan. Aku benar - benar tidak tau setelah ini bagaimana nasib hubunganku dengan Yori. Aku benar - benar pasrah.
"Eh Riri udah dateng.. rajin kamu yaaaahh..." Kata Ka Romi. Dan Ka Romi datang bersama dengan Ka Oji dan Ka Joe.
"Eh hehehe iyaa Ka.."
"Yang lain pada kemana nih?" Tanya Ka Joe.
"Tadi baru aku, Bani sama... hm Yori yang dateng Ka. Yang lainnya belum ada."
"Terus si Bani sama Yori sekarang kemana?" Tanya Ka Oji.
"Makan." Aku seperti di introgasi dengan polisi.
"Buset galak amat neng." Ledek Ka Joe.
"Ini aku ditanya kayak di kantor polisi yaaa sama kalian bertiga. Kan serem."
Serempak mereka bertiga tertawa bersama "HAHAHAHAHAHA."
__ADS_1
Lalu setelah itu, Ka Oji dan Ka Joe keluar dari ruang drumband. Sedangkan Ka Romi memilih untuk duduk di dalam ruang drumband menemaniku.
"Ri. Aku boleh nanya gak?"
"Mau nanya apa Ka Romi?"
"Hubungan kamu sama Yori tuh gimana sih sekarang? Kayaknya beda aja gak kayak dulu sebelum pacaran."
"Menurut Kakak gimana keliatannya?"
"Lah malah nanya balik nih anak hahahha..."
"Yaa gapapa. Menurut Kakak hubungan aku sama Yori gimana?"
"Menurut aku ya kayak lagi gak baik - baik aja sih."
"Ya gitu deh Ka." Jawabku lesu.
"Kenapa sih? Gara - gara Lani ya pasti?" Ka Romi bertanya sambil agak berbisik.
"Hah? Kenapa kakak bisa ngomong gitu?"
"Udah banyak tau Ri yang ngomongin mereka berdua karna mereka sering jalan bareng."
"Hah? Mereka sering jalan bareng?" Aku benar - benar kaget. Aku pun tidak tau kalau mereka sering pergi berdua.
"Lahhhh kamu gak tau? Kan kamu pacarnya.. nah si Lani juga kan sahabat kamu. Ih gimana sih kalian..." Ka Romi berkats sambil menggeleng - gelengkan kepala.
Aku terdiam dan hanya bisa menahan sedih lagi. Ya lagi dan lagi aku sedih karna mereka.
"Eh kaget gue ada lo Ka." Yori tiba - tiba datang masuk ke ruang drumband dengan wajah terkejut melihat Ka Romi dan melihat ke arahku sebentar.
"Habis makan lo Yor?" Tanya Ka Romi seperti orang yang tidak mau terlihat habis membicarakan dia.
"Yoi. Laper gue Ka." Yori menjawab sambil merogoh - rogoh isi tasnya.
"Nyari apaan lo?" Tanya Ka Romi lagi.
"Kunci motor." Yori menjawab singkat.
"Mau kemana lo? 30 menit lagi kita apel yaaa." Ka Romi selaku ketua memperingati.
"Iyaaa. Gue mau jemput Lani dulu yaa." Jawab Yori tanpa merasa salah.
Aku benar - benar tidak salah dengan kan? Iyaa benar, bahkan Ka Romi pun tersentak saat Yori menjawab pertanyaan Ka Romi dengan menyebut nama Lani di depanku, di depan pacarnya sendiri.
"Emang Lani gak bisa kesini sendiri ya?" Aku sudah tidak sanggup menahan diam, aku menjawab dengan lantang.
Yori menoleh kearah ku dan menjawab "Gak. Bokapnya gak ada di rumah, jadi gue yang jemput." Lalu dia pergi keluar dari ruang drumband tanpa ada kata pamit kepadaku untuk sekedar izin karna dia adalah pacarku, bukan pacarnya Lani.
Aku keluar dari ruang drumband tanpa melihat wajah Ka Romi yang menatapku seakan mengasianiku. Aku benar - benar menahan air mata sampai aku masuk ke dalam toilet sekolah, setelah ku kunci pintu aku menangis sebanyak - banyaknya. Tega Yori, benar - benar manusia kejam, laki - laki gila, tidak punya hati. Hancur rasanya hati ini mendengar ucapannya tadi. Bahkan dia tidak menghiraukan pesanku selama 3 hari. Apa yang ada di pikirannya sehingga dia melakukan itu? Dia menggantungkan hubungan kami lalu pendekatan dengan Lani? Apakah itu wajar? Semua pertanyaan itu ada di kepalaku. Apa mungkin hubungan kami hanya sampai disini?
__ADS_1