Pengkhianatan Cinta Pertama

Pengkhianatan Cinta Pertama
Bab 8. Curahan Hati


__ADS_3

Saat aku tiba di rumah, aku bergegas langsung membersihkan diri lalu mengganti baju dan setelah itu makan malam bersama mama. Dengan nasi panas dan ikan lele goreng, sambal beserta lalapan timun, itu benar - benar kesukaanku.


"Kamu latihan terus ya drumbandnya di sekolah, sampe pulang malem terus gini?" Tanya mama sembari mengambil air minum.


"Iya ma, soalnya eventnya udah deket. Jadi sibuk latihan setiap pulang sekolah." Jawabku dan berhenti mengunyah untuk berbicara.


"Yang penting pelajaran mu jangan terbengkalai, aktif di ekskul boleh nak. Tapi inget, kamu mau ambil penjurusan IPA kan? Belajar yang bener." Kata mama dengan wajah menyindir.


Karna mama paham, aku anak yang moody kalo belajar. Terkadang aku bisa niat sekali belajar, terkadang aku bisa malas sekali belajar. Dan mama tau bagaimana prestasiku dari jaman Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama, nilaiku selalu naik turun dan bahkan sempat turun sekali sehingga aku harus bekerja lebih keras untuk belajar.


Dan aku hanya menjawab, "Iyaa maaa."


Saat aku sekolah dasar dulu, aku belum terlalu aktif ikut kegiatan di sekolah. Mungkin hanya sekedar ikut les dan yaa pramuka saja karna itu kegiatan wajib di sekolah. Saat di pramuka banyak point yang ku dapatkan, karna aku anak yang aktif jika di lapangan dan lebih suka berpetualang. Saat aku Sekolah dasar, bapakku ikut kegiatan club mobil dan aku ikut bergabung di organisasi tersebut mengikuti camping dan lomba. Dan memang, jika aku sudah fokus di bidang non akademik, aku bisa malas untuk akademik. Tapi saat ini aku berusaha untuk menyeimbangkan prestasiku di bidang akademik maupun non akademik, agar mama tau jika aku bisa berubah jadi lebih baik.


"Kalo udah selesai makan, belajar, kalo ada PR kerjain dulu. Habis itu tidur, biar besok gak kesiangan. Bapak hari ini gak pulang ya nak, praktek sampai besok. Besok kamu berangkat naik angkot ya." Kata mama lagi dengan panjang lebar.


"Iya maaa."


Hari - hariku sebagai anak tunggal dari seorang dokter umum yang hanya bekerja di klinik 24 jam ya begitu, terkadang hanya berdua dengan mama di rumah. Tapi terkadang kami kumpul bertiga. Dan setiap weekend biasanya bapakku mengajak nonton film atau sekedar makan keluar. Dan mungkin aku bisa dikatakan anak yang masih menuruti kata orang tua.


***


Saat jalan menuju kelas, perasaan ku mulai campur aduk. Aku seperti masih memikirkan kata - kata Yori kemarin. Bahkan semalam pun dia tak mengirimkan pesan singkat untukku. Biasanya dia selalu mengirimkan pesan singkat untukku.


"Pagi Riri... kok lemes sih? Belum sarapan yaa? Ini aku ada cemilan loh." Tanya Pipit sambil menggenggam tanganku.


"Pagi Pit, eh udah kok. Gapapa lagi kurang enak badan ajah." Jawabku dengan senyum paksa.

__ADS_1


"Ih Riri sakit? Sakit apaaah? Mau aku anterin ke UKS aja ya?" Tanya Pipit dengan wajah khawatir.


"Gak usah Pit. Gapapa kok aku." Saat aku berbicara dengan Pipit, mataku mencari - mencari seseorang, ya Yori. Dia belum datang. Bahkan Lani juga.


Tapi.... ah tidak, tiba - tiba saja aku melihat mereka dari jendela kelas, mereka datang berdua. Apa mereka berangkat sekolah bersama? Yori menjemput Lani?


"Yuhuuu good morning everybody!" Teriak Lani masuk kelas dan memeluk ku.


Aku cukup terkejut dan terdiam tanpa memandang wajah Lani, tapi hanya memandang kearah Yori.


"Lo bareng Yori?" Tanyaku tanpa basa - basi.


"Eh oh iyaaa sist, tadi di jemput gue ke rumah. Kan rumah kita juga deket sist." Jawab Lani tanpa rem.


"Oh. Permisi Lan, gue mau duduk keluar dulu ya. Mau duduk di depan." Jawabku tanpa menghiraukan Lani.


"Oh okeeyy."


"Ngapain disini Ri?" Tiba - tiba ada suara pria menghampiriku.


"Eh.... ooohh Ryan. Gue lagi pengen duduk bengong aja disini." Jawabku sambil menoleh kearah Ryan teman sekelasku dan dia adalah laki - laki yang sedang dekat dengan Lani.


"Kok gak sama Yori? Tuh dia di dalem kelas kayaknya nyariin lo. Tadi dia ke meja lo, tapi lagi ngobrol sama Lani."


"Oh ya? Yaudah biarin aja Yan." Mataku sambil mencari kearah pintu kelas, berharap Yori keluar kelas dan menghampiriku.


"Lo lagi sedih ya Ri?" Tanya Ryan sambil menatapku.

__ADS_1


"Hah.. a apasih hahaha gaklah Yan, masa masih pagi udah sedih." Aku menjawabnya dengan tergagap dan menutupi kebohonganku.


"Hmmm nah tuh kan Yori kesini, yaudah yah gue tinggal." Ryan memutarkan badannya dan berdiri lalu pergi ke kelas lagi.


Dan Yori menghampiriku.


"Lo ngapain disini?" Tanya Yori dengan wajah serius.


"Gue lagi pengen disini aja. Kenapa Yor?" Tanyaku sambil menatap balik matanya.


"Lo gapapa kan?" Tanya Yori lagi.


"Semoga." Aku hanya menjawab singkat dan menahan air mata.


"Gara - gara gue ya?" Sepertinya Yori mulai peka.


"Yor. Kemarin lo kan. Nanya di motor pas pulang ya, capek gak sih gitu ya? Maksudnya apa? Apakah lo capek sama kita?" Aku mulai bertanya secara terang - terangan.


"Maaf Ri. Gue kan emang gini ya orangnya apa adanya dan cuek lah, gak kayak cowok - cowok lainnya. Kita nih apasih ya? Gue gak mau lo jadi salah paham sama pertanyaan gue kemarin."


"Kita? Ya kita lagi deket kan, yaudah kita pendekatan aja dulu kan. Gue harus gimana Yor?"


"Bingung, kita nyaman satu sama lain. Tapi gak jelas ajasih mau kemana. Gue gak ngerti lo kayak gak peka aja sama gue Ri."


Ini pertama kalinya Yori berbicara sangat serius tanpa bercanda sama sekali. Karna dia adalah seseorang yang humoris dan suka bercanda jarang serius.


"Lo maunya apa Yor?" Aku berusaha mengecilkan volume suaraku agar tak di dengar teman - temanku.

__ADS_1


"Yaudahlah, kita fokus diri sendiri aja dulu. Gue gak ngerti sama lo. Lebih baik gini ajalah." Yori berlalu pergi meninggalkan ku setelah pembicaraan itu.


Tanpa sadar aku meneteskan air mata. Aku tidak tau apa maksud Yori, aku tidak peka? Atau aku harus apa? Bukannya aku yang harus menunggu pernyataan dia? Bagaimana caranya bisa akhirnya berpacaran dari status pendekatan? Ini rumit. Aku belum paham isi hati Yori saat itu.


__ADS_2