Pengkhianatan Cinta Pertama

Pengkhianatan Cinta Pertama
Bab 25. Malas Latihan


__ADS_3

Setelah aku puas menangis di dalam toilet sekolah, aku mengusap air mata yang sudah membanjiri pipiku ini. Lalu aku keluar dari toilet dan mencuci muka agar tidak terlihat bahwa aku habis menangis. Aku berjalan keluar berusaha untuk kuat melihat wajah Yori dan Lani setelah ini. 


"Si Riri di cariin. Tadi kata Romi lo udah dateng soalnya." Ka Fero berdiri di depan pintu ruang drumband.


"Aku habis dari toilet tadi Ka, Kenapa?" Aku menjawab dengan suara pelan, karna energiku dudah terkuras saat menangis tadi. 


"Lo habis nangisnya Ri?" Ka Fero bertanya sambil menarik tanganku dan mengajakku ke belakang ruang drumband. 


Untuk masalah kepekaan, memang Ka Fero adalah orang yang peka dengan kami semua. Di saat kami ada apa - apa, Dia orang yang pertama menyadarinya. 


"Gak kok Ka." Aku menjawabnya dengan menunduk, dan berusaha menahan air mata jatuh lagi. 


"Jangan bohong lo sama gue ya Ri. Lo gak bisa bohongin gue, ada apa? Cerita sama gue."


"Yuhuuu aku datanggg..." Tiba - tiba ada suara kearah kami, dan kami menoleh.


"Hmmm rumah paling deket, dateng paling akhir lo ya Lan." Ka Fero melihat kearah suara itu, dan ternyata itu Lani.


"Yaah abisnya ojeknya baru jemput guee Ka. Hehehe..." Lani menjawab dengan candaan.


"Yuk apel apel apel." Ka Romi berteriak dari depan.


"Ri... gue tau kenapa. Udah yuk kita latihan yah. Jangan sedih... sedih.. ada gue kok yaa." Ka Fero seakan mengerti apa yang sedang terjadi, dia berusaha menghiburku dan menenangkanku. 


Aku berjalan menuju ruang drumband dan mengambil botol minum untuk aku bawa nanti ke depan saat latihan. Aku jalan menunduk dan diam tanpa melihat wajah Yori dan Lani. Aku tau Lani sedang memperhatikanku, dia seperti bingung saat berhadapan denganku. 


"Lan, lo bawa minum dua kan buat gue?" Yori mengajak berbicara Lani dan aku mendengarnya dengan jelas. 

__ADS_1


"Iyaaaa gue udah bawain sesuai permintaan lo Yang Mulia Yori." Lani menyodorkan minum yang sudah dia siapkan untuk Yori.


"Oke." Yori mengambil minumnya dari Lani, lalu dia berbaris untuk mulai apel. 


Setelah selesai apel, kami bersiap - siap untuk latihan ke lapangan. Sejujurnya aku jadi malas untuk latihan hari ini, karena setelah kejadian tadi. 


"Ri, yuk fokus." Ka Fero menepuk pundakku tiba - tiba seakan menyemangatiku. 


Aku tidak menjawabnya, hanya diam dan tetap lesu tanpa ada semangat untuk latihan hari ini. 


"Ri... udah jangan di pikirin dulu, kita fokus dulu yaa buat latihan hari ini." Jawab Pipit yang tiba - tiba datang menghampiriku. 


"Gak bisa aku Pit, fokusku hilang sebenarnya gara - gara tadi. Udah gak mood aku latihan hari ini." 


"Duh susah juga ya namanya perasaan, sabar ya Ri. Udah kamu sama aku aja sini." 


"Ih jangannn. Kan kita mau latihan dulu."


"Males banget liat muka Lani sama Yori Pit, sampe pusing." 


"Aku bilang sama Ka Fero aja kali ya biar kamu istirahat aja. Aku ngeri kamu pingsan."


"Gak usah Pit, aku duduk disini aja."


"Aduh aku khawatir jadinya, Yori tega banget sih sama kamu ah sebel." 


"Ri.. Pitt. Ngapain sih lo berdua?" Ka Fero datang menghampiriku dan Pipit. 

__ADS_1


"Ka... ini Riri kayaknya lemes deh." Kata Pipit dengan wajah khawatir.


"Gak kok, bukan lemes. Aku jadi gak mood latihan."


"Duh jangan lahh..... Ri. Lo tuh paling semangat yaa disini, jangan gitu lah." Ka Fero seperti tidak terima melihat keadaanku yang lesu seperti ini. 


"Maaf ya Ka.." Aku hanya menjawab dengan maaf.


"Terus gimana?" Ka Fero masih berharap aku bisa fokus latihan.


"Gak bisa Ka. Aku pulang aja deh." 


"Ri. Apasih lu gara - gara ini jadi males."


Aku hanya diam dan menutup seluruh wajah menahan ingin menangis lagi.


"Duh udah udah deh, Pit. Bawa Riri ke ruang drumband aja sekarang. Biar dia tenangin diri dulu. Gak bisa nih kalo kayak gini, malah ribet." 


Akhirnya Pipit menggandengku kearah ruang drumband. Aku tidak tau bagaimana tanggapan orang - orang saat melihatku dan Pipit yang jalan kearah drumband. Aku tau mereka semua pasti sudah membicarakanku. 


"Pokoknya gue mau disini dulu ya Pit sampe gue lebi tenang buat liat muka Yori dan Lani." 


"Mau aku temenin?" Tanya Pipit.


"Gak usah, gapapa gue sendirian aja."


Setelah itu Pipit meninggalkanku keluar dari ruang drumband dan bergabung dengan yang lainnya.

__ADS_1


Saat benar - benar sendiri, aku merenung dan diam termenung setelah apa yang sudah kualami saat ini. Ini adalah cinta pertamaku, kenapa menyakitkan? Aku masih anak SMA yang labil. Terkadang emosi ku bisa berubah drastis saat hati ini disakiti. Aku belum dewasa untuk menghadapinya. Tapi kenapa Yori begitu terlihat jelas peduli dengan Lani di depanku dan yang lainnya?


__ADS_2