Pengkhianatan Cinta Pertama

Pengkhianatan Cinta Pertama
Bab 38. Mencari Tau


__ADS_3

Hari ini penentuanku akan masuk kelas IPA atau tidak. Ya.. Aku berhasil lulus masuk kelas IPA, benar - benar lega. Aku dan Ratna masuk ke kelas IPA setelah hanpir sebulan kami di kelas IPS. Aku dan Ratna harus benar - benar mengejar ketinggalan mata pelajaran yang sudah berjalan selama beberapa minggu ini. Belajar lebih keras lagi untuk, Kimia, Fisika, Biologi dan pastinya Matematika. Duh buat pusing kepala saja. Matematika adalah pelajaran yang paling tidak kusukai sejak kelas satu. Dari mulai aljabar aku sudah membencinya huh, pusing tujuh keliling menghafal semua rumusnya yang berubah - ubah, belum lagi sin cos tan juga, akar pangkat ih benar - benar jengkel. 


Pada saat bel istirahat Aku dan Ratna di panggil ke depan kelas, untuk diajak bicara oleh Bu Yani guru Kimia di kelas IPA.


"Riri, Ratna... Kalian harus benar - benar belajar yaa..Ibu tidak akan mengajarkan ulang. Tapi kalian yang berusaha sendiri dan minta catatan teman - teman kalian yaa.. kalau kalian tidak mengerti bisa tanya saya atau teman - teman kalian yang mengerti. Jelas?" Kata Guru Kimiaku Bu Yani.


"Baik Bu..." Serentak Aku dan Ratna menjawab.


"Nanti kita belajar bareng aja ya Ri kalo gak ngerti." Kata Ratna sambil menggandeng tanganku.


"Iya.." Jawabku singkat.


Aku yang sejak tadi memikirkan hal - hal seharusnya tidak aku pikirkan yaitu hubungan Yori dan Lani. Aku harus mencari tau yang sebenarnya dan tidak mau gegabah mengambil keputusan. 


"Ri.." Kata salah satu temanku di kelas IPA yaitu bernama Timo. 


"Yaa Tim..." Jawabku singkat.


"Sekelas lagi kita jadinya yaa.. Padahal enak sekelas sama Yori kan bisa pacaran tiap hari."


"Iyaa Alhamdulillah gue masuk IPA akhirnya. Gue gak ngerti pelajaran IPS Tim, mending pusing baca rumus - rumus kimia sama fisika dan daripada harus pusing mikirin geografi sama ekonomi. Mana ada gue pacaran di kelas, Yori kan banyak main sama temen - temennya."


"Hahahahaa gitu ya? Eh tapi lo baik - baik aja kan sama Yori?"


"Alhamdulillah baik kok Tim. Kenapa emangnya?"


"Alhamdulillah kalo gitu ya... Gapapa sih."


"Bener?"


"Iyaaa... Eh tuh si Yori ngintip." Kata Timo yang langsung melihat kearah jendela kelas.


Aku pun menoleh dan tersenyum, Yori sedang memperhatikanku dari jendela dan tersenyum lalu memanggilku untuk menghampirinya dari jendela.


"Sini.." Kata Yori.


Aku pun datang menghampirinya "Apa?"


"Sini gue bisikin."

__ADS_1


Dan aku pun menuruti suruhannya untuk menempelkan telingaku ke jendela.


"Assalamu I Love You..." Kata Yori, lalu dia melanjutkan lagi "Lo jawabnya gini ya... Walaikum sayang.. hahaha.."


"Hahahaha ih kok gitu sih Yor."


"Udah.. ikutin ajaa... Gue ulang yaa... Gue ngumpet dulu. Nanti gue muncul lagi di jendela yaa.. Cepet sana dulu.." 


Dalam Hatiku: Yori kenapa ya? Tiba - tiba sekali dia seperti ini dan lucu banget. Bagaimana bisa aku tidak menyukainya terus menerus jika dia selalu menyenangkan terus seperti ini. 


"Ririiiii....." Teriak Yori dari jendela. 


"Apa?!" Jawabku yang langsung menghampirinya. 


"Assalamu I Love You..." Bisik Yori yang bisa di dengar dengan satu kelas IPA.


"Walaikum Sayang Yoriii. Hahahha...." Jawabku sambil tertawa geli. 


"Cieelaah Yori sama Riri romantis amat lo berduaa yeee..." Teriak Jerry teman sekelasku. 


Seketika kelas IPA menjadi ramai karna perilaku Yori. 


"Hahaha si Yori tumben - tumbenan kayak gitu Tim."


"Bagus lah... berarti kecurigaan gue salah." 


"Maksudnya Tim?" Aku bertanya seakan tau maksud Timo.


"Hahaha gak kok. Eh udah yaa gue ke kelas cewek gue Ri." Timo pergi seakan menghindari perkataanku.


Aku semakiin yakin kalau orang - orang disekitarku sudah mulai merasa jika Yori dan Lani bermain api di belakangku. Karna secara diam - diam mereka sering pergi bersama. Dan aku harus segera mencari tau itu. 


***


Saat bel pulang sekolah, secara diam - diam aku bersembunyi dulu di belakang ruang drumband sebelum Yori datang. Dan benar saja, aku berhasil dan aku mendengar Yori datang bersama Lani.  Dan aku mendengar percakapan mereka. 


"Yor... Nanti Kamu jemput aku kan?" Kata Lani dengan nada manja. 


"Iyaa..."

__ADS_1


"Ihhh serius.. Jadi kita aja? Si Rogo gak ikut?" Tanya Lani memastikan lagi.


Oh mungkin maksudnya mereka mau nonton ya ke bioskop. Lani menyebut nama Rogo.


"Dia gak bisa, ceweknya gak mau ikut soalnya. Dia gak mau sendirian jalan sama kita." Jelas Yori.


Maksud dari kata - kata Yori apa ya... seperti mengarah kalo Rogo tidak bisa ikut karna pacarnya gak mau. Kalo Rogo jalan sama mereka dia sendirian? Mereka mau double date? 


Seketika hatiku benar - benar seperti tertusuk pisau yang habis diasah. Sangat menyakitkan. Mereka benar - benar bermain api di belakangku? Kenapa Yori tega? 


"Yaudah yukk pulang, anterin yaah." Lani lagi - lagi berbicara dengan nada manja. 


"Iyaa... bentar gue taro tas gue dulu disini." Jawab Yori.


Lalu aku mendengar mereka berdua pergi, dan aku masih diam di belakang ruang drumband. Aku berusaha tidak menangis. Tapi ternyata aku tidak bisa menahan air mata. Ya.. Aku menangis sangat banyak. Aku benar - bernar terisak, apakah aku harus mengakhiri hubunganku dengan Yori? Tapi aku belum cukup kuat untuk melepaskannya. Aku masih belum bisa merelakannya. 


Setelah beberapa menit aku menangis, aku berusaha keluar dari belakang ruang drumband dan duduk di dalam ruang drumband untuk menunggu Yori kembali dari rumah Lani. Aku tidak tau apakah aku harus memarahinya dengan sekuat tenaga atau harus menangis di depannya. Ini adalah pengalaman pertamaku berpacaran dan pertama kalinya juga di sakiti seperti ini. Pengalaman pertama, kebahagiaan tapi menyakitkan. 


Dan tidak lama, Yori datang kembali.


"Loh... Ri... Lo kok disini? Gue kira lo udah balik." Wajah Yori seperti benar - benar kaget setelah melihatku.


"Gue di jemput bokap nanti." Jawabku singkat. Aku masih berfikir aku harus bicara apa dengan Yori atas kejadian tadi. 


"Yaudah temenin gue dulu disini berarti ya.. Lo di jemput jam berapa?" Tanya Yori seperti tidak ada rasa bersalah atas kejadian tadi.


"Jam 5." Aku benar - benar menjawabnya dengan singkat. 


"Lo udah makan?" Yori seperti ingin merayu dan menutupi sesuatu dari ku.


"Nanti aja di rumah. Tadi istirahat gue udah makan kok." 


"Yaudah...Gue tiduran disini ya.." Yori tidur diatas pangkuanku dan menatapku sambil tersenyum.


Tanpa sadar aku mengusap kepalanya dan ikut tersenyum. Seperti lupa atas kejadian tadi, aku seperti di tutup mulutnya untuk berbicara dengan Yori. 


"Lo tuh cantik ya Ri.. Makanya gue suka sama lo." Kata Yori seperti gombalan laki - laki buaya.


"Apasih lo.. Jangan gombal." Jawabku sambil tersenyum malu. 

__ADS_1


Hatiku menahan untuk segera mengakhiri hubunganku dengan Yori, entah sampai kapan aku masih terus bertahan dengan hubungan yang tidak baik ini. Aku akan berusaha untuk terus bertahan dengan Yori dan terus mencari tau yang sebenarnya. 


__ADS_2