
Aku tidak mau memutuskan hubungan hanya karna aku emosi, aku mau saat bicara dengan Yori aku benar - benar sudah tenang.
"Besok lo ke velodrom Ri?" Tanya Mytha.
"Besok hari minggu lagi ya.."
"Lah iya kan kita kalo ambil nilai lari hari minggu. Buat tambahan nilai olahraga. Kenapa emang?"
"Mudah - mudahan bisa dateng deh. Kayaknya besok gak ada yang bisa anterin gue deh Myth."
"Yaudah paling nanti izin aja Ri."
"Iyaa Myth, hari ini gak ada latihan drumband kan ya?"
"Gak ada kok, lagian kan kita masih belum ada event lagi."
"Iyaa sih.. Yaudah deh."
Aku berfikir apakah Yori bisa menjemputku ya besok pagi dan mengantarku ke Velodrom. Kalau hari minggu kan pasti jalanan kosong, Yori kan tidak suka kalau macet. Semoga saja..
***
"Yor, besok lo ke Velodrom kan?" Tanyaku saat Yori sedang sibuk merapihkan alat - alat di ruang drumband.
"Iya.. Kenapa?"
"Lo jemput gue dong... Kan hari minggu kosong. Masa pacar sendiri gak pernah anter jemput ke rumah."
"Oh gitu.. ke rumah lo gak macet?"
"Gak... Nanti gue arahin lo yaa lewat mananya."
"Berarti gue harus berangkat pagi - pagi dong?"
"Kok kayaknya lo berat banget yaa Yor buat jemput gue doang ke rumah?"
"Bukan berat Ri, rumah lo itu kan jauh ya.. dan gue belum tau jakarta sama bekasi."
"Lo kenapa sih Yor, alasannya itu terus? Mau sampe kapan emang kayak gitu? Bener - bener gak mau sama sekali ke rumah gue?"
"Lo kenapa sih Ri selalu mempermasalahkan ini? Capek Gue." Yori pergi begitu saja meninggalkanku.
Sekarang aku benar - benar kesal padanya, dia seolah - olah tidak peduli perasaanku. Aku juga mau seperti cewek - cewek lain yang diantar dan di jemput pacarnya. Kenapa Yori sampai detik ini tidak mau datang atau sekedar mengantarku ke rumah? Apa dia tidak benar - benar menyayangiku?
Lalu tiba - tiba Yori kembali ke ruangan drumband.
"Yaudah besok pagi gue jemput lo." Kata Yori yang langsung mengambil tas ranselnya.
"Ikhlas gak?" Aku bertanya dengan nada kesal.
"Udah gue mau pulang, lo mau gue anterin ke depan gak?"
"Gak usah, gue sebentar lagi di jemput."
"Yaudah, gue balik duluan."
Lalu Yori lagi - lagi pergi begitu saja meninggalkanku. Aku tidak tau lagi harus bagaimana menghadapi Yori yang selalu beralasan. Tapi kenapa aku masih terus mempertahankan hubungan ini? Ya karna aku benar - benar menyayanginya. Aku berharap besok Yori benar - benar datang menjemputku ke rumah.
***
Pagi ini aku sudah bangun dan bersiap - siap untuk ke velodrom. Mama pun heran hari minggu aku sudah bangun pagi - pagi sekali.
"Kamu mau kemana?" Tanya Mama.
"Mau ambil nilai lari Ma." Jawabku sambil memakai kaos kaki."
"Naik apa? Bapak kan gak di rumah. Pakde lagi pergi kan.."
"Di jemput Yori."
"Yori mau kesini?"
"Kemarin sih bilangnya dia mau jemput aku."
"Dia tau gak jalan kesini? Kamu udah SMS dia?"
__ADS_1
"Ini aku mau SMS dia."
Aku membuka ponselku dan mencari nomer Yori, lalu mengirimkan pesan singkat untuknya.
"Yor, udah dimana?"
Ternyata Yori tidak langsung membalas pesanku, setelah sekitar 1 jam Yori baru membalas pesanku.
"Ri... Gue kesiangan. Kayaknya gue gak ke velodrom deh. Udah jam segini." Yori membalas pesanku dan itu membuatku kecewa.
"Lo baru bangun?"
"Iya ini gue baru melek."
"Yaudah gapapa... Padahal gue udah siap."
"Lah.. Kalo lo udah siap berangkat aja Ri."
"Gak ada yang bisa anterin gue Yor. Makanya gue minta jemput lo."
"Emang gak bisa naik ojek atau angkot."
"Gak boleh sama mama naik ojek, kalo naik angkot bingung nanti rute kesananya."
"Oh gitu.. Yaudah, gue juga gak ke velodrom kok. Yaudah tidur aja lagi Ri hari minggu ini hahaha.."
Tanpa rasa bersalah dia tidak meminta maaf sama sekali. Bahkan aku sudah siap dan rapih, Yori keterlaluan sekali. Pesan terakhirnya tidak aku balas, aku benar - benar kesal.
"Loh Ri, kok ganti baju lagi? Gak jadi ke velodrom?"
"Gak Ma...Yori juga gak ke velodrom."
"Gak wajib emang?"
"Gak kok."
"Yaudah mending beres - beres rumah sana." Jawab Mama yang sedang duduk di depan TV.
"Iyaa nanti ma, mau tiduran dulu..." Aku lesu dan tidak mood karna Yori, dan aku langsung masuk ke kamar dan merebahkan seluruh tubuh ke kasur.
***
"Lo kemarin kok gak ke Velodrom Ri? Biasanya lo gak pernah absen." Kata Timo yang duduk datang menghampiriku.
"Gak ada yang anterin gue Tim, Gue juga udah minta jemput Yori katanya dia juga gak kesana."
"Hah? Serius lo Yori ngomong gitu?"
"Iya.."
"Ri... Dia dateng kemarin sama Lani."
Aku terdiam sejenak dan rasanya dunia sudah runtuh. Dan... "Lo bener liat Yori sama Lani?"
"Bukan liat lagi, gue sempet ngobrol kok sama Yori, si Lani ngobrol sama cewek gue."
"Sialan.."
"Ri.. Sabar." Timo langsung menenangkanku yang saat itu sepertinya emosiku sudah memuncak.
"Yori tega banget sama gue Tim."
"Yaudah lo bicarain lah sama dia Ri."
"Gue SMS dia dulu Tim."
Aku berusaha tidak menangis di depan Timo. Saat aku mengetik pesan untuk Yori, dengan sekuat tenaga. Aku tidak mau langsung menghampiri dia di kelas, aku tidak mau ada keributan dan semua orang menjadi tau masalahku dan Yori.
"Maksud lo apasih bohongin gue kayak kemarin? Jadi laki - laki tuh yang gentle dong. Ngomongnya sama gue gak bisa pergi dan jemput gue taunya di belakang gue lo pergi sama Lani. Mau lo apasih Yor?"
Setelah aku memaki Yori, aku mengirim pesan dan menunggu balasan darinya. Tapi ternyata Yori tidak membalas pesanku sama sekali sampai akhirnya bel pulang berbunyi, Yori membalas pesanku.
"Ketemu gue di ruang drumband." Balas Yori dengan singkat.
Setelah aku membaca pesan dari Yori, aku tidak langsung ke ruang drumband. Aku ke kantin untuk menenangkan emosi ku terlebih dahulu. Jika hari ini aku harus selesai dengan Yori, bagaimana perasaanku nantinya...
__ADS_1
"Lo dimana?" Yori mengirimkan pesan kepadaku lagi.
Lalu aku membalasnya.
"Di kantin, makan dulu."
Tak butuh waktu lama Yori langsung cepat membalas.
"Gak usah lama - lama Ri, biar cepet kelar urusan kita."
Oke, setelah membaca pesan Yori yang terakhir aku langsung bergegas menuju ruang drumband. Aku berusaha tenang saat berjalan menuju ruang drumband, hatiku berdebar dan tanganku gemetar. Apa yang harus aku bicarakan nanti?
Saat aku datang, Yori sudah berdiri di depan pintu ruang drumband dengan wajah kesalnya.
"Yor.." Sapaku sebelum akhirnya kita bertengkar.
"Maksud lo apa tadi di SMS?" Yori langsung ke topik permasalahan.
"Lo bohong kan sama gue?"
"Apa?"
"Kemarin lo bilang sama gue gak ke velodrom, lo bilang kesiangan. Taunya ke velodrom sama Lani kan?"
"Kata siapa?!" Yori membentak.
"Lo udah salah masih aja yaa.."
"Gue pengen tau aja siapa yang mulutnya ember ngomong sama lo."
"Gila lo ya Yor... Lo tuh udah kepergok jalan sama Lani, masih aja bela diri."
"Gue gak bela diri Ri, lagian Lani tuh temen gue, adek gue... Lo tau gak sekarang di rumahnya dia cewek semua.. Bokapnya lagi dinas. Jadi gak ada cowok di rumahnya, makanya gue sering main ke rumahnya dan sering nemenin dia pergi."
"Oh yaaa? Terus harus banget tiap hari gitu ya?"
"Lo kenapa sih Ri selalu aja punya pikiran jelek ke Lani?"
"Pikiran jelek? Lo keliatan banget ngebelain dia ya Yor..Jelas banget.."
"Anjir.... Siapa sih yang ngomong ke lo kalo gue sama Lani ke velodrom. Biar gue hajar dia."
"HEH! Lo sadar gak sih lo tuh salah Yor? Sadar gak?! Pacar lo tuh gue atau Lani?!"
Yori terdiam saat aku membentak dan menunjuk wajahnya dengan amarah.
"Okeee okeeee gue ngaku salah.. okee sekarang mau lo apa? Gue udah ketauan kan bohong.. Lo mau apa? Putus?"
Aku tersentak mendengar omongan Yori barusan.
"Lo gampang yaa... bilang.... putus...." Aku menjawab dengan terbata - bata dan meneteskan air mata.
Yori tidak membalas omonganku, dia menghela nafas dan merubah ekspresi wajahnya yang marah menjadi sedih.
"Gue salah apa sama lo sih Yor? Kenapa lo tega giniin gue?" Aku tidak bisa menahan tangis.
"Ri.. Jangan nangis. Gue minta maaf.."
"Lo pikir perasaan gue ini bisa semudah membalikkan tangan Yor? Bisa gampang gitu yaa gak sayang lagi karna masalah ini? Gue gak gitu Yor, gak gitu!"
"Iyaa.. udah Ri.... Lagian gue sama Lani tuh udah kayak kakak sama adek. DIa gak mungkin pacaran sama gue."
"Stop Yori, gue gak mau lo ngomong gitu. Hati - hati."
"Iya Ri.. emang bener kok."
"Stop Yor, stop!"
"Okee... Oke..Yaudah jadi sekarang kita gimana?"
"Yaudah gue maafin lo dan gue kasih lo kesempatan lagi. Gue gak mau kita putus."
"Yaudah..Sini gue minta maaf ya.." Yori lalu memelukku dengan erat.
Aku berusaha tidak marah lagi dengan Yori, aku berusaha tenang setelah Yori memelukku. Walaupun hati ini masih marah tapi setidaknya aku sudah mulai berani marah dengan Yori dan Yori akhirnya mengakui kalau dia bohong. Aku berharap dia setelah ini menjauhi Lani.
__ADS_1