Pengkhianatan Cinta Pertama

Pengkhianatan Cinta Pertama
Bab 22. Lani


__ADS_3

Lani Marlina, dia adalah sahabatku. Dia yang selalu menggebu - gebu supaya aku cepat jadian dengan Yori. Dia yang selalu menceritakan tentang ku kepada Yori, dan juga dia sering menceritakan tentang Yori kepadaku. Sampai akhirnya aku dan Yori sama - sama menyimpan hati, lalu kami proses pendekatan. Lani membantu kami agar kami berpacaran. Tapi, dengan teganya Lani merubah perasaan biasa sajanya kepada Yori menjadi tidak biasa. Ya, dia mengakui perasaannya.. bahwa dia mulai ada rasa dengan Yori dengan seiring berjalannya waktu karna Yori sering mengunjungi rumahnya, karna rumah mereka yang dekat dan juga Yori sering curhat tentang aku kepada Lani. 


"Tenang sist, gue sama Yori itu gak ada apa - apa kok." Lani yang duduk di sebelahku pagi itu menjelaskan kepadaku setelah kejadian kemarin.


"Gue percaya kok Lan, tenang ajah. Kalopun kalian ada apa - apa yaudah, karma kalian tanggung sendiri akibatnya Lan." Jawabku masih kesal.


"Ri, masih pagi loh ini. Masa udah bete aja sih? Liat tuh Yori jadi murung gara - gara kejadian kemarin." Jawab Lani sambil menunjuk kearah Yori. 


"Ya lo aja hibur dia, kan kalian sahabatan katanya. Misi gue mau lewat." Aku berlalu pergi meninggalkan Lani yang aku tidak mau melihat raut wajah Lani maupun Yori.


Aku berjalan menuju kantin dengan menahan amarah dan menangis. Aku tidak mau orang melihat wajahku yang sudah memerah. Untung saja hari itu tidak ada kegiatan di sekolah. Kami hanya masuk setengah hari karna sebentar lagi pengambilan rapor kenaikan kelas. 


"Ri. Si Yori mana?" Salah satu temanku yang berbeda kelas menanyakan Yori kepadaku, namanya Rogo. 


"Gaktau. Mati kali." Jawabku ketus.


"Dih.. gila lu. Pacar lu sendiri tuh. Kenapa sih? Berantem lo berdua ya?" Rogo begitu penasaran dan pengen tau.


"Bukan urusan lo." Aku langsung pergi meninggalkan Rogo, dan aku berjalan menuju ruang drumband.

__ADS_1


Saat itu aku benar - benar butuh sendiri, aku benar - benar sayang dengan Yori. Rasanya aku ingin menyelesaikan hubunga, tapi hati ini rasanya tidak sanggup. Ingin mengakhiri karna tidak mau punya rasa curiga terus menerus dan memendam, tapi jika berakhir aku tidak akan mampu karna aku sudah benar - benar menyayangi Yori. 


"Eh Ri, dicariin juga ternyata jauh yaa sampe kesini." Pipit datang menghampiriku ke ruang drumband.


"Gue....udah.... gak sanggup Pit, capek. Bingung harus gimana lagi. Kenapa gue harus terjebak dalam hubungan ini?!" Setelah melihat Pipit aku sudah tidak bisa menahan tangis, aku benar - benar menumpahkannya kepada Pipit.


"Sabar yaa Ri... Kan kta udah lama bahas ini sebelum lo jadian sama Yori. Lo harus kuat yaaa." Pipit memelukku dengan erat dan menggosok - gosok punggungku supaya aku lebih tenang. 


***


Setelah bel sekolah berbunyi, pertanda kami pulang. Aku masih tidak mau berbicara dengan Yori maupun Lani. Tapi sepertinya Lani senang jika hubuganku jadi dinging dengan Yori. Aku melihat dia semakin menempel dengan Yori. Tanpa rasa bersalah masih bisa tertawa lepas saat berdua. 


"Lo gak cemburu ya liat cowok lo berduaan sama sahabat lo sendiri? Si Lani loh Ri." Kata Roky teman sekelasku yang tiba - tiba menghampiriku.


"Eh, gue merhatiin tau gerak - gerik mereka. Kayak gak beres aja menurut gue. Mereka kayaknya ada sesuatu. Tapi ini kayak jelas terang - terangan loh mereka nunjukkin. Padahal ya kan Lani udah jadian sama Ryan." Roky masih saja memperjelas., membuatku dongkol.


"Udah? Gue mau balik. Gak perduli deh." Aku langsung pergi begitu saja.


Ya.. hari ini aku selalu pergi begitu saja, aku tidak mau menanggapi omongan orang - orang yang membahas mereka. Aku masih kesal, tidak ada usaha dari Yori dan Lani juga hanya sok mau menjelaskan saja tadi pagi, tapi sebenarnya dia senang jika aku perang dingin dengan Yori.

__ADS_1


Sebelum aku pulang aku menghampiri ruang drumband terlebih dahulu dan berharap tidak bertemu Yori dan Lani. Karna sejak tadi mereka sudah duluan keluar kelas. Tapi ternyata...


"Ri.. gue mau ngomong sama lo." Lani lagi Lani lagi.


"Mau ngomong apa?" Jawabku dengan ketus.


"Gue mau minta maaf ya sama lo, gara - gara gue jadi salah paham loh. Please dong, jangan marahan yaa. Gue udah anggep Yori tuh brother gue kok, sama kayak lo sist. Di rumah tuh kalo Yori lagi main sama gue yaa.. duh udah kayak anak bokap nyokap gue deh. Kita udah kayak kakak adek banget Ri." Lani berusaha menjelaskan secara rinci dan itu membuatku semakin muak, karna ia menjelaskan seakan - akan dia dan Yori sudah sedekat itu sampai - sampai kedua orang tuanya sudah menganggap Yori anaknya? Gila sih.


"Udah Lan? Gue mau pulang." Aku benar - benar malas merespon omongannya.


"Ri, please dong jangan gini." Lani memohon. 


"Gue capek, mau pulang."


"Gue panggil Yori ya biar lo dianterin sama dia ke depan." 


"Buat apa? Udah sering dia anterin gue ke depan. Gue mau dia anter gue ke rumah." Aku benar - benar muak sekali melihat Lani.


"Ri, lo kan tau dia masih baru tinggal di Jakarta. Nanti kalo dia nyasar gimana coba? Kasihan loh, dia tuh anak daerah banget.

__ADS_1


"Terus? Yaudah, ngapain pacaran sama gue? Kenapa gak pacaran sama lo aja yah yang deket rumahnya, jadi gak perlu nyasar baliknya nanti." Aku benar - benar melihat matanya dalam - dalam tanpa berkedip, setelah itu aku pergi tanpa berpamitan dengan Yori yang jelas di depan gerbang sekolah saat itu. 


Aku hanya ingin ada kejujuran dari Lani dan Yori, mereka menyembunyikan apa? Aku dan Yori baru saja menikmati hari - hari jadi kami, tapi aku merasa sudaha da pengkhianatan dari mereka berdua. Segitu teganya kah mereka kepadaku? Akus salah apa?


__ADS_2