
Sore itu Aku, Yori, Lani, Pipit, Nana, Ka Romi, Ka Oji, Ka Joe, Ka Fero, Ka Bani dan yang lainnya berkumpul. Untuk senior seperti Ka Gita, Ka Titi dan senior lainnya tidak dapat ikut karna mereka harus fokus karna akan masuk ke perguruan tinggi.
"Jadi kita tema untuk pensi dan penutupan MOS nanti apa Ka?" Tanyaku Ke Ka Fero.
"Kasih ide dong jadinya kita mau pake tema apa di pensi sama di MOS?" Jawab Ka Fero.
"Kalo saran aku sih ya ka, untuk pensi kita pake yang lama aja. Tapi nanti pas penutupan MOS baru kita pake tema baru. Yang lagu - lagu kemarin kita cari, ada medley segala macem."
"Gue gak salah sih emang pilih lo buat terus tiap hari ke ruang drumband." Ka Fero selalu saja membangga - banggakanku karna aku selalu punya ide untuk ekskul drumband.
"Udah kali bang jangan di angkat - angkat terus. Nanti aku terbang, mentok genteng nih." Jawabku dengan canda.
"Yaudah berarti nanti openingnya si Fery dong?" Tanya Lani.
"Gak Lan, nanti openingnya anak melodi dulu. Pake suara stasiun kereta yaa yang bells, terus si pianika kayak klakson keretanya gitu. Baru si Fery suarain keretanya jalan." Kata Ka Fero dengan idenya.
"Gila gilaa keren sih Ka... Terus nanti itu kalian jangan masuk dulu. Itu sebelum masuk yaa suaranya. Nah pas bunyi suara senare dari si Fery kan kayak suara jalan kereta tuh, kalian abru jalan baris masuk lapangan dari mulai anak colour guard, terus melodi baru perkusi." Sahut Ka Beno.
"Ini temanya Pulang kampung kan?" Tanya Lani lagi.
"Iyaaa Laniii, nyimak dong nyimak yukkk." Sahut Ka Fero.
__ADS_1
"Hahahaa iyaa memastikan Kaa. Aku sambil mikirin gerakkannya nih sama Ka Risya.
"Yaudah lo cari deh yaaa berdua gerakkannya yang bener yaaa cantik." Jawab Ka Fero.
"Ini perkusinya gimana Ka? Gue harus cari juga temponya nih sama elu Ka Ben." Sahut Yori.
"Iyasih Trio nih yang agak susah. Coba deh nanti kan habis ini kita kumpul per bagian. Anak perkusi kita sampe sore yaa cari nadanya." Jawab Ka Beno.
Setelah kami berdiskusi untuk acara pensi dan Penutupan MOS nanti, saatnya kami semua turun ke lapangan dengan latihan bersama mencocokkan nada dan setelah itu mencari formasi untuk gerakkan kami nanti.
"Lo pegang bells ya Ri, kita kekurangan orang untuk bells. Kalo pianika udah cukup lah banyak." Tiba - tiba saja Ka Fero menyuruhku untuk pindah alat. Untungnya aku sudah bisa memainkan bells.
"Siap Ka. Pake stand yaa hehehe.. Pegel kalo dibawa terus." Jawabku merayu.
"Eits, jangan pegang - pegang pacar saya ya.." Kata Yori yang tiba - tiba datang.
"Astaghfirullah tiba - tiba muncul darimana lo. Kagak ih, cemburuan aja si Yori." Ka Fero langsung pergi setelah itu.
"Jangan cemburu dong sayang." Rayuku kepada Yori.
"Yuk, kita latihan. Semangat..."Yori lalu mencubit pipiku sambil tersenyum.
__ADS_1
Aku selalu berbunga - bunga setiap melihat senyumannya. Lesungnya, matanya yang sipit, dan kulitnya yang hitam manis. Selalu saja membuatku terbayang setiap saat. Ah aku adalah anak SMA sedang lagi kasmaran dengan pacar pertamaku. Beruntung punya Yori yang menurutku dia adalah lelaki idamanku dan idaman beberapa perempuan. Dia humoris, lucu, menyenangkan, aktif di sekolah, walaupun tidak terlalu baik dalam nilai di sekolah tapi menurutku dia adalah sosok laki - laki yang keren.
***
"Lo kok bisa sih jadian sama Yori?" Tiba - tiba Ka Romi datang menghampiriku yang sedang mencari - cari nada dengan alat musik bells.
"Eh Ka Romi. Kenapa nanya gitu Ka?"
"Soalnya yaa gue kira Yori tuh deket juga sama Lani."
"Oh itu... mereka kan emang deket juga Ka, justru si Lani yang nyomblangin kita Ka."
"Serius? Gue liatnya beda soalnya Ri. Ya tapi kalo Lo bilang gitu gue percaya deh."
"Hahahaha ih kenapa sih Ka, kayak ragu gitu ngomongnya.."
"Yaaa sebenarnya kayak janggal aja gue liat kalian bertiga Ri. Pokoknya kalo ada apa - apa bilang yaa..." Jawab Ka Romi sambil menepuk - nepuk pundakku.
"Hmmm iya Ka.. semoga aku sama Yori baik - baik aja yah."
"Amiiiinnnnn.. yaudah lanjutin latihan lagi oke. Semangat semangaat...!!!!" Lalu Ka Romi pergi berlalu meninggalkanku dengsn segudang pemikiran dengan kata - katanya barusan.
__ADS_1
Aku tidak munafik, sebagai perempuan jujur aku cemburu jika Yori terlalundekat dengan Lani. Terkadang tanpa disengaja aku sering melihat mereka duduk berdua sambil tertawa seperti layaknya pacaran. Tapi di sisi lain Yori juga perhatian denganku. Aku berusaha tidak mau punya pemikiran sendiri, dan aku percaya kepada Yori. Karena sampai sekarang saja dia mau bersabar denganku dan akhirnya kami bisa jadian setelah lama kita pendekatan.