
"Riri!! Ayo bangun! Mandi, sarapan, siap - siap. Kamu katanya kan harus jam 6.00 udah sampe sekolah." Seperti biasa pagi ini mama membangunkanku dengan teriakan yang nyaring.
"Hmmmm aduhh masih ngantuk maa."Aku menjawab sambil menutup wajahku dengan bantal.
"Ri, ayo bangun. Kamu kan mau tampil katanya, jadi harus dateng pagi ke sekolah." Bapak tiba - tiba masuk ke kamar dengan mengguncang - guncangksn tubuhku.
"Astaghfirullah.." Aku terbangun melompat dari tempat tidur.
"Tuh udah jam 5 lewat, kamu juga belum sholat subuh. Mandi lama.. ayoo." Bapak dengan dabar membangunkanku tanpa mengomel seperti mama hahaha..
"Iyaaa."Aku bergegas langsung mandi, sholat subuh dan bersiap - siap.
"Jangan ada yang ketinggalan, repot nanti balik lagi ke rumah." Kata mama sambil menyispkan bekal untukku.
"InsyaAllah gak ada maa. Aku berangkat yaa... doain acaranya lancar. Assalamualaikum.."Aku mencium tangan lalu pergi bergegas masuk ke mobil dan bapak sudsh menungguku di mobil.
"Walaikumsalam.. aamiin. Hati - hati yaa.." Jawab mama sambil melambaikan tangan.
Lalu bapak membunyikan klakson kepada mama tanda bahwa kami akan segera berangkat.
Di perjalanan menuju sekolah, aku selalu diberi nasehat oleh bapak. Untuk tidak malas bangun pagi, jangan menunggu mama mengomel dulu baru mengerjakan tugas atau sholat. Dan masih banyak lagi. Tapi bapak adalah sosok penyabar, beliau menasehatiku tanpa memarahiku. Bahkan tata cara bicaranya lembut sekali, tidak pernah membentak putri sematawayangnya. Ah memang cinta pertama ku ini idamanku. Semoga Yori kelak seperti bapak sifatnya.
"Yaudah ya pak aku turun, Assalamualaikum." Aku berpamitan mencium tangan bapak lalu turun mobil.
"Walaikumsalam....Iyaa hati - hati.. Semoga sukses acaranya ya. Nanti kabarin pulang jam berapa sama mama ya atau sama pakdemu. Bapak gak pulang soalnya, jaga sampai besok."
"Iyaaa...." Aku turun dari mobil sambil berlari karna aku sepertinya sudah terlambat karna kesiangan tadi bangunnya. Karna jam sudah menunjukkan pukul 6.10 pagi.
Menikmati sejuknya udara di sekolahku di pagi hari sangat menyenangkan... Aku bersyukur bisa bersekolah di daerah halim sejak SMP, karna disini polusi sangat sedikit karna banyak pepohonan yang rindang.
"Ini diaaa jagoannya baru dateng." Sambut Ka Beno di depan pintu ruang drumband.
"Astaghfirullah Ka... Ma ma maaf yaa a a aku telat 10 menit.. Aku kesiangan ini ampun dehhhh." Aku menjawab sambil terengah - engah.
"Emang lo kan suka begitu deh ah, tenang - tenang.. belum pada dateng kok yang lainnya. Baru lo doang sama kita - kita pelatihnya nih. Ka Fero, gue, si Titi, Gita, Romi sama Oji. Temen - temen lo belum pada dateng nih." Jelas Ka Beno.
"YaAllah aku kira aku telat Ka. Ih pasti pada ngaret deh ini mah."
"Tuh tuh baru dateng si Lani sama Yori." Tunjuk Ka Fero kearah mereka.
Aku terkejut mereka datang berdua, dan mereka seperti agak menempel sekali. Tapi setelah mereka melihatku Lani seperti salah tingkah dan berjalan agak menjauh dari Yori.
"Pagi Ri..." Sapa Lani dengan kaku.
"Yaaa. Lo bareng Yori?" Tanyaku sinis.
"Eh hmm gak kok, tadi pas datengnya aja barengan sama Yori. Gue dianterin bokap tadi." Tapi raut wajahnya berubah memerah.
"Eh lo udah dateng Ri. Rajin banget emang.." Sahut Yori yang tiba - tiba memberikanku senyuman dan mengusap kepalaku.
"Yuk siap - siap yang udah dateng, bantuin gue beresin alat - alat. Bawa ke depan. Supaya nanti gampang pas mau tampil." Timpal Ka Beno untuk memecah suasana yang agak kaku.
__ADS_1
Aku langsung bergegas mengganti baju dan siap - siap merapihkan alat - alat melodi seperti pianika dan bells. Dan Lani sibuk membereskan tongkat - tongkat dan bendera untuk dipasang. Lalu Yori juga mulai sibuk merapihkan alat - alat perkusi.
"Udah disiapin semuanya Ri?" Tanya Ka Fero sambil menepuk pundakku pelahan.
"Udah Ka. Aku ke toilet dulu ya sebentar.." Jawabku lesu lalu bergegas pergi.
"Oke.. Jangan lama - lama. Biar kita briefing dulu." Teriak Ka Beno.
Aku seperti mau menangis tapi air mataku tertahan, aku memang perempuan yang sensitif. Melihat sesuatu yang membuatku kesal saja bisa ingin menangis rasanya. Aku merasa Lani dan Yori menyembunyikan sesuatu dariku.
"Ri. Yaampun cantik banget sih lo pake baju gini." Pipit ternyata ada di toilet juga.
"Eh Pipit, lo juga cantik banget deh. Deg degan gak sih nanti mau tampil di sekolah sendiri. Kalo event diluar kita kan gak ada yang kenal."
"Ih iyaaa yaah, mana banyak kakak kelas. Malu banget nihhh.." Wajah Pipit memerah karna memang Pipit sebenarnya anaknya pemalu.
"Udah kita berdoa aja yaa Pit, semoga lancar nanti pas kita tampil."
"Woy! Lu berdua ngapain sih di toilet? Sini buru! Kita mau briefing sebelum acara nih." Ka Beno memanggil kami dari kejauhan.
Lalu kami tanpa menjawab langsung bergegas kearah Ka Beno dan yang lainnya untuk briefing. Dengan jantung yang berdebar dan juga badan terasa dingin, aku berusaha tidak grogi saat tampil nanti.
"Lo kemana ajasih?" Yori seperti mengomeliku.
"Hah? Tadi gue dari toilet Yor."
"Tolong bukain kancing baju gue dong. Ini gue gak nyampe nih sampe ke belakang tangan gue." Yori sambil memegang tanganku dan memposisikan tanganku ke punggungnya.
"Ri...." Ka Gery menyapaku dengan senyuman.
"Oh iya Ka..." Lalu Yori langsung menggandeng tanganku di depan mereka seakan memberi tanda bahwa kami sudah berstatus pacaran.
Aku melihat jelas tatapan Ka Putra saat itu, benar - benar tajam saat aku dan Yori bergandengan tangan. Dan aku melihat Ka Gery wajahnya seperti terkejut dan seperti sedang membicarakanku dengan teman - teman yang lainnya. Ah sudahlah biarkan saja, aku tidak perduli dengan mereka. Karna sekarang aku sudah ada Yori yang melindungiku.
***
Tiba saatnya drumband untuk tampil dan aku berharap tidak ada kesalahan sedikitpun. Kalaupun ada kesalahan semoga tidak terlihat dengan yang lain. Aku ingin sekali menampilkan yang terbaik untuk perpisahan Kakak Kelas 12.
"SIAP?!" Teriak Ka Beno.
Lagu yang kita tampilkan adalah lagu - lagu lama karna lagu - lagu baru akan ditampilkan di MOS nanti.
Aku merasa teman - temannya Ka Putra benar - benar menyoroti kearahku seperti benar - benar memperhatikan.
Setelah kami selesai tampil semua bersorak sorai bertepuk tangan seperti terkesima melihat penampilan kami.
"Cieeee akhirnya selesai yaaa guys. God Job!" Dengan bangganya Ka Fero meneriaki kami di belakang ruang drumband.
"Makasi yaa penampilan hari ini bagus banget asli. Semua sampe pada tepuk tangan. Gila keren banget sih kalian!" Ka Beno juga ikut menyanjung penampilan kami.
"Makan - makan kita yuk." Sahut Lani.
__ADS_1
"Heh makan di depan tuh banyak jualan makanan. Acara pensi masih panjang sampe malam guys." Jawab Ka Titi.
"Oiya aku mau jajan dulu ah..." Jawabku.
"Ikuut." Sahut Pipit.
Yang lainnya sudah membubarkan diri untuk berganti baju dan ada yang sudah ke kantin dan bahkan sudah standby di depan lapangan untuk menonton anak dance dan cheerleaders tampil.
"Tadi ada Ka Putra ya?" Tanya Yori sambil merangkulku.
"Iyaa tadi lo liat sendiri kan. Makanya lo langsung gandeng tangan gue."
"Iyalah, lo kan udah sama gue sekarang."
"Iyaaa iyaaa, yuk ke depan kita jajan." Jawabku sambil mencubit perutnya.
"Aw.... gak ah mahal pasti, beli di kantin aja yuk." Ajak Yori sambil menahan dan menarik tanganku.
"Ihhhh.... iyaa iya deh gue temenin."
Setelah kami makan di kantin, aku penasaran makanan yang di jual di pensi. Dan hari itu masih panjang, acara sampai malam. Aku menunggu acara sampai selesai, acara selesai pukul 23.00 malam. Benar - benar melelahkan.
"Lo gimana baliknya ini Ri, udah malem banget." Yori mengomeliku.
"Yaudah gampang Yor, gue biasa naik angkot jam segini kok. Lo juga gak mungkin nganterin gue kan??" Jawabku kesal. Aku ingin melihat pengorbanan Yori, apakah dia mau mengantarkanku pulang atau tidak.
"Ya gue gak bisa anterin lo lah, rumah lo jauh Ri. Gue kan baru tinggal di Jakarta ini."
"Tapi nganterin Lani bisa?" Jawabku lagi dengan nada tinggi.
"Ya dia rumahnya deket Ri, jangan aneh - aneh lah pertanyaannya." Yori selalu tidak mau berusaha tau dimana rumahku.
"Eh lu berdua kenapa sih udah malem gini ribut?" Sahut Ka Beno.
"Gapapa Ka, aku balik yaa..Balik semuanya." Aku tidak mau berfikir lagi, aku benar - benar kesal dengan Yori. Aku pulang malam tapi dia tidak mau berusaha mengantarkanku ke rumah.
"Loh. Yor? Serius lah itu cewek lo balik sendiri jam segini? Gila lu ya?" Ka Beno marah kepada Yori.
"Ri..... Lo bareng Joni ajaa, kan searah lo berdua rumahnya." Teriak Ka Beno.
"Lah.. Si Yori gak nganter?" Tanya Ka Fero.
"Kagak. Udah sama si Joni aja." Jawab Ka Beno kesal.
"Yeh gimanasih laki lo Ri, yaudah sini deh bareng gue. Pinjem helm dong Bang." Ka Joni adalah senior drumband angkatan Ka Titi.
Aku berusaha menahan air mata lagi, ya lagi lagi. Yori benar - bena sangat keterlaluan. Dia tega membuatku beberapa kali ingin menangis tapi selalu ditahan.
"Sabar yaa Ri... Udah lo balik sama gue." Jawab Ka Joni sambil menepuk pundakku perlahan.
Sepanjang perjalanan pulang aku hanya diam dan menangis tanpa bersuara. Aku tidak mau Ka Joni tau aku menangis. Kakak - kakakku di sekolah semua baik mau memperhatikanku, tapi pacar sendiri acuh kepadaku. Menyakitkan.
__ADS_1