Pengkhianatan Cinta Pertama

Pengkhianatan Cinta Pertama
Bab 15. Gara - gara Yori


__ADS_3

"Cie... yang kemarin dianterin Ka Putra." Kata Lani saat aku baru datang masuk kelas.


"Tau darimana?" Tanyaku sambil meletakkan ransel di kursi.


"Dari....hmm Pipit." Kata Lani sambil menunjuk Pipit.


"Ih kapan aku ngomong? Perasaan belum ngomong deh." Timpal Pipit.


"Oh gue tau lo di kasih tau siapa Lan. Yori kan?" Tanyaku langsung menunjuk.


Lani tidak menjawab, dia hanya tersenyum saja menjawab pertanyaanku.


"Gue tau kok Yori sering main ke rumah lo sekarang. Karna curhatin gue? Atau yang lainnya ya?" Tanyaku dengan menyindir.


"Hah? Maksudnya?" Tanya Lani dan menjadi berubah suasana.


"Gue mau ke toilet dulu. Permisi." Aku langsung pergi dan tidak melihat wajah Lani. Perasaanku mulai gelisah, aku mulai merasa Lani semakin dalam menyukai Yori. Aku ingat dulu dia bilang mulai terbawa perasaan dengan Yori. Padahal saat ini dia masih dekat dengan Ryan.


Saat aku berjalan menuju toilet, aku bertemu dengan salah satu teman Ka Putra dan dia menyapaku.


"Eh Riri... dapet salam dari Putra hahaha." Katanya sambil tertawa dan terus berjalan pergi. 


Kenapa dia tertawa? Apakah ada yang lucu? Dia seperti meledekku. Aku punya perasaan tidak baik akan hal ini. 


Dan aku hanya membalas dengan senyuman. Karna sejujurnya aku masih takut dengan geng Ka Putra. 


Lalu setelah aku kembali dari toilet, aku masuk ke kelas dan melihat Lani duduk di sebelah Yori. Dan teman sebelah Yori pindah duduk denganku, yaitu Bani. 


"Lo kok disini Ban?" Tanyaku heran.


"Gue di gusur sama sista lo tuh." Kata Bani sambil menunjuk kearah mereka.


"Oh.. mereka mau pacaran ya?" Kataku kesal.


"Dih.. hahaha cemburu yaa? Cieeelahhh.." Kata Bani meledekku.


Aku hanya diam dan tak menghiraukan ledekkan Bani. Setelah itu aku semakin merasa bahwa mereka semakin dekat, sekarang hatiku semakin sakit saja. Tapi, aku semakin yakin bahwa aku benar - benar menyukai Yori bahkan sudah sayang. 


***


Hari terus berganti, aku sudah tidak berkomunikasi lagi dengan Ka Putra maupun Yori. Karna aku tau Ka Putra sedang fokus perisapan Ujian Nasional. Begitupun aku yang sibuk belajar untuk pembagian ke kelas IPA atau IPS. Dan aku harus dapat IPA, karna tujuan cita - citaku adalah menjadi Dokter. Lalu aku juga sibuk berlatih drumband untuk acar penutupan MOS nanti. Jadi pikiranku tidak selalu kearah Yori. 


"Lo mau masuk IPA Ri?" Tanya Pipit saat aku sedang menulis catatanku.

__ADS_1


"Hmm iya, gue kan mau jadi dokter Pit. Jadi harus masuk IPA." Jawabku masih sambil menulis.


"Yahhh gak sekelas lagi dong nanti kita, sedih ah." Katanya sambil cemberut.


"Eh, kan kita masih bisa main bareng walaupun gak sekelas Pit." Jawabku lalu berhenti menulis sejenak.


"Iyaasihh.. Tapi kan bakalan beda nanti, anak IPA sama IPS. Anak IPA pasti belajar mulu deh nanti, kalo IPS kan santai." 


"Hahahaha gaklah Pit, emang aku bakal belajar mulu setiap waktu?" 


"Eh terus gimana hubungan kamu sama Yori? Terus sama Ka Putra?"


"Gue lagi gak mikirin mereka dulu deh Pit, lagi fokus belajar. Biar bisa naik kelas dan masuk IPA." Kataku dengan tegas.


"Ih tapi Ka Putra udah nembak emang?" Tanya Pipit penasaran.


"Udah." Jawabku singkat.


"HAH??? JADI KA PUTRA UDAH NEMBAK??!!!" Pipit berteriak dan terkejut, dan membuat semua orang di kelas mendengarnya.


"Ihhh Sssttt. Berisik kamu mah ihhhh Pit." Aku terkejut sambil menutup mulut Pipit dan melihat kearah Yori dan Lani. Ternyata Yori mendengarnya dan wajahnya seketika berubah seperti ingin mengatakan sesuatu kepadaku.


"Ih lagian sih kamu gak cerita sama temen sendiri." Kata Pipit sambil melipat tangannya dan dengan wajah cemberut.


"Serius? Ah yaudahlahhh terima ajaa Ri, lagian kan Yori gak jelas." Lagi - lagi Pipit agak berteriak seakan sengaja agar Yori dan Lani mendengar pembicaraan kami berdua.


"Iya nanti aku pikir - pikir dulu. Lagian kan Ka Putra juga lagi fokus mau Ujian Nasional Pit." 


"Udahlah aku dukung kamu sama Ka Putra deh, daripada pedekate lama tapi gak jadi - jadi." Gerutu Pipit. 


"Tapi Pit, Ka Putra ngerokok. Aku kurang suka cowok perokok." Jawabku pelan.


"Hmmm gitu ya.. Ah yaudah deh Ri, ikutin kata hati kamu aja. Hati gak bisa dipaksa sih." Kata Pipit sok bijaksana.


Setelah itu aku diam memikirkan apa setelah ini. Setelah aku akhirnya naik kelas masuk kelas IPA, lalu bagaimana hubunganku dengan Yori? Bagaimana aku dengan Ka Putra?


***


Setelah aku memikirkan pembicaraanku dengan Pipit tadi, aku langsung saja mengirimkan pesan ke Ka Putra


"Selamat malam Ka Putra." 


"Iya Ri. Malam, ada apa? Tumben nih SMS aku." 

__ADS_1


"Hehehe iya Ka. Apa kabar?"


"Alhamdulillah baik kok Ri. Kamu sendiri?"


"Aku juga Alhamdulillah baik. Aku mau nanya boleh?"


"Nanya apa RI?"


"Penyataan kakak waktu itu masih berlaku Ka?"


Setelah terakhir aku mengirimkan pesan itu, Ka Putra lumayan agak lama membalasnya. Entah dia sedang berpikir atau tidak mau membalasnya. Aku tidak mau mendesaknya dengan mengirimkan pesan lagi, yang kulakukan hanya menunggu jawabannya.


"Oh, kamu masih inget ya Ri ternyata.. Aku kira kamu udah lupa, soalnya kamu ngilang gitu aja sih." 


"Maaf ya ka, karna aku lagi sibuk banget latihan drumband dan fokus belajar buat masuk IPA."


"Oh gitu yaa, semangat yaa kamu. Hmmm gimana ya Ri. Aku juga bingung jadinya, ini udah lumayan lama ya hampir sebulan kamu gak jawab pertanyaan aku. Aku tau kamu kayaknya agak kecewa ya sama aku karna aku gak nembak kamu langsung tapi lewat SMS."


"Iya ka.. Aku minta maaf yaa jadi kayak gantungin kakak, gak ada maksud kok."


"Kayaknya kalo untuk sekarang kita temenan aja kali ya, aku juga lagi fokus buat UN nih. Kalo pacaran nanti malah gak fokus belajarnya."


Aku berhasil? Apakah aku menyakitinya di waktu yang tepat? 


"Iya ka.. Sekali lagi aku minta maaf ya sama kakak. Kakak semangat buat belajar UNnya yaa, dan semoga lulus dengan nilai yang baik. Terus bisa masuk ke Universitas yang kakak mau."


"Terimakasih ya Ri. Tapi aku mau nanya deh sama kamu.."


"Nanya apa ka?"


"Kamu sendiri gimana perasaannya sama aku?" 


"Aku nyaman kok sama kakak, kakak baik. Tapi aku masih ragu sebenarnya. Makanya aku lama mikirnya harus terima atau gak." 


"Terimakasih ya.. Tapi emangnya kamu mau jawab apa Ri?"


"Aku masih belum tau Ka sebenarnya, aku yakin kakak pasti dapet perempuan yang lebih baik dari aku."


Aku merasa nyaman dengan Ka Putra yang baik, tapi memang aku tidak bisa menerima orang karna dia baik. Aku menerima seseorang karna aku menyukainya, walaupun dia bukan orang yang baik sekalipun. Aku berusaha mengatakan hal yang seakan - akan tidak menolaknya tapi membuat keadaan seperti tidak bisa jika bersama. Dan sepertinya aku berhasil membuat keadaan itu.


"Yaudah gapapa, terimakasih yaa Ri untuk beberapa bulan ini. Semoga kamu juga dapet cowok yang lebih baik dari aku."


"Aamiin. Iya terima kasih ka."

__ADS_1


Dan setelah itu aku dan Ka Putra benar - benar tidak berkomunikasi lagi, ah aku lega. Akhirnya aku bisa menyelesaikan urusanku satu persatu dengan baik. Sepertinya ini karna perasaanku dengan Yori, jadi aku bisa berani menyelesaikan hal yang tidak pernah aku mulai.


__ADS_2