
Sudah hampir 5 bulan aku dan Yori pendekatan. Ya cukup lama menurutku. Pastinya harus lama untuk mengenal satu sama lain, karna ini adalah hubungan awal ku dengan seorang laki - laki. Karna sebelumnya aku belum pernah pacaran. Tapi aku bersyukur Yori tidak tergesa - gesa dan buru - buru menembak ku. Kami bertemu setiap hari di sekolah, kami sekelas dan satu ekskul dan juga setiap hari kami berkomunikasi melalui via SMS. Tiada hari tanpa komunikasi, hampir tidak ada habisnya pembahasan kami. Selalu seru untuk di bahas.
"Minggu depan kita sudah hari H event. Tolong lebih serius yaa adik - adik. Dan kemungkinan kita akan lebih ekstra latihan. Jadi kalian harus segera menghubungi orang tua kalian untuk izin pulang terlambat ke rumah. Paham? " Kata salah satu kakak pelatih drumband yaitu ka Beno.
"Baik kaaa." Teriak kami serempak.
Seminggu full kami harus berlatih dengan keras, agar menampilkan yang terbaik saat event nanti. Rasanya senang sekali bisa bergabung di ekskul ini. Suatu ketika aku melihat Yori dari kejauhan menghampiri Lani. Aku tidak tau mereka sedang membicarakan apa. Yang pasti aku berusaha tidak punya pemikiran aneh - aneh tentang mereka. Dan tiba - tiba Lani melihat ku dari kejauhan, dia seperti merasa aku memperhatikan mereka sedang berdua. Lalu Lani berlari kearahku.
"Ri. Nanti lo balik sama Yori kan?" Tanya Lani sambil terengah - engah karna berlari.
"Gaktau deh. Gue mah bebas, mau sama Yori atau naik ojek ke depan atau jalan kaki juga gapapa. Kenapa emangnya?" Tanyaku heran.
"Nanti Yori berarti anterin lo dulu baru gue ya. Mau ada yang dia ambil barangnya ketinggalan di rumah gue."Kata Lani lagi.
__ADS_1
Hah? Apa? Sejak kapan Yori jadi main ke rumah Lani? Ada apa dengan mereka? Aku hanya terkejut dalam hati. Aku tak bisa berkata apa - apa dan hanya terdiam.
" Si Yori tuh ke rumah gue suka curhatin lo tau Sist. Karna dia tau gue sahabat lo. Makanya dia curhatnya sama gue. Apalagi kan rumah kita deket, jadi yaa udah sekalian main. Dia belum ada temen kan disini." Lani berbicara seakan menjelaskan apa yang terjadi. Tapi kenapa baru sekarang Lani menceritakannya? Dari kapan mereka sedekat ini? Perasaan apa ini? Apakah aku cemburu? atau curiga? ah mana mungkin, Lani adalah sahabat terbaikku. Dan aku tau kok siapa lelaki yang dia taksir sekarang. Bahkan sepertinya mereka sudah ada perkembangan mau jadian.
"Sejak kapan Yori main ke rumah lo Lan?" Jawabku dengan lembut agar dia tidak curiga bahwa aku sedang kesal dan cemburu.
"Hmm... kayaknya udah hampir sebulan deh sist. hehehe.. maaf yaa gue gak ceritaa. soalnya gue harus jaga rahasia kan dia lagi curhatin lo, dan dia minta bantuan gue gitu deh supaya bisa jadian sama lo. Surprise. hahahah..." Lani langsung memelukku dan tertawa.
Saat itu juga perasaan cemburuku hilang dan aku merasa senang kembali. Oh Yori ternyata sedang buat rencana agar bisa jadian denganku di waktu yang tepat. Makanya dia curhat ke Lani, karna Lani adalah sahabat dekatku.
***
Saat di motor aku hanya diam dan diam. Yori pun juga tak ada sepatah katapun di ucapkan di sepanjang perjalanan. Kami hanya saling diam. Aku tidak tau harus bicara apa, karna sejak kejadian tadi aku belum bisa mencerna dengan baik.
__ADS_1
"Ri. Lo capek gak?" Tiba - tiba saja Yori mengajakku bicara.
"Hah? Iya kenapa Yor? Capek?" Tanyaku kembali seketika menghentikan lamunanku.
"Iya lo capek gak?"
"Dikit. Tapi gue seneng kok." Jawabku sambul tersenyum.
"Seneng? Serius lo seneng kita kayak gini?" Tanya Yori heran.
Sepertinya maksud Yori dan maksudku berbeda. Aku beranggapan dia menanyakan capek karna latihan drumband bukan yang lainnya.
"Maksudnya? Kita? Kita kenapa?" Aku bertanya dengan kebingungan.
__ADS_1
"Nanti aja deh Ri.Udah sampe juga nih, lo hati - hati ya.Gue balik dulu sekalian mau anterin Lani. Kasihan dia nungguin gue nanti. Dahh.." Lalu Yori berlalu pergi dengan motor maticnya dengan kencang.
Baru saja aku turun dari motornya, dia langsung melaju pergi dengan wajah yang kesal dan penuh tanda tanya. Apa yang sudah kulakukan sehingga Yori berubah hari ini? Apa karna aku terlalu lama pendekatan dengan dia? Aku pikir dia akan baik - baik saja. Mungkin aku harus melakukan sesuatu agar kami baik - baik saja.