
Sudah sebulan aku menjalani hari di sekolah baru, tapi hampir setiap hari setelah pulang sekolah aku pasti ke Halim. Untuk bertemu dengan teman - teman lamaku disana.
"Ri.. Lo kenapa pindah sih?" Tanya Ka Beno yang masih belum terima jika aku pindah sekolah.
"Maaf yaa Ka... Ini kemauan Mamaku." Jawabku dengan sedih.
"Serius deh, drumband gak ada lo beda banget rasanya. Apalagi kan lo wakil kedua disini. Asli gue sedih banget." Jawab Ka Beno.
Tiba - tiba Yori masuk ke dalam ruang drumband.
"Lo kesini? Gak bilang sih?" Tanya Yori sambil duduk di sebelahku.
"Iyaa... Gue kan kesini setiap mau latihan drumband Yor." Jawabku pelan.
"Eh gue mau ke depan dulu bentar yaa.." Kata Yori yang langsung berdiri dan keluar ruang drumband.
__ADS_1
Aku merasa Yori sudah mulai berubah lagi, semakin cuek lagi dan jauh denganku. Aku yang berusaha setia walaupun kami tidak satu sekolah tapi sepertinya Yori tidak bisa berpacaran seperti ini.
"Ri...." Panggil Ka Fero yang sejak tadi hanya sibuk memainkan stick drum.
"Eh iya kenapa Ka?"
"Sori ya.. Gue gak maksud. Lo sama Yori masih kan?"
"Masih pacaran maksudnya?"
"Iyaa.."
"Oh... Gapapa kok. Gue kira lo udah putus sama Yori."
"Pasti lo sering liat dia berduaan sama Lani ya?"
__ADS_1
Ka Fero terdiam saat aku mengatakan seperti itu. Aku memang sudah ada firasat bahwa Yori sering berdua di sekolah dengan Lani. Walaupun aku jauh dari dia, tapi teman - temanku selalu menghubungiku dan selalu membiacarakan Yori yang semakin mesrah dengan Lani.
"Lo jangan terus - terussan nyakitin diri deh Ri. Apalagi kan kalian udah jauh nih beda sekolah, udah mending lo fokus aja sama pendidikan lo. Masih banyak kok cowok diluar sana yang mau sama lo. Lo cantik, pinter, bertalenta. Apa lagi? Udah lahhh yaa.. Lo tuh udah kayak adek gue.. Gue gak mau liat lo sedih." Jawab Ka Fero seperti menasehatiku.
"Iyaa makasih yaa Ka...." Aku hanya menjawab dengan singkat karna aku sudah tidak sanggup lagi untuk bertahan sesungguhnya. Aku sudah berat menopang kehidupanku yang naik turun ini. Yang harus pindah sekolah hanya karna seseorang yang seperti Zayn, lalu mengetahui pacar sendiri terus - terussan bermain api dengan mantan sahabat, pendidikanku yang drop. Aku merasa psikisku sudah sangat terguncang saat ini apalagi mendengar cerita - cerita dari teman - temanku soal Yori terus - terussan. Aku seperti kekasihnya tapi hanya status saja. Tapi rasanya sudah sama orang lain bahkan itu adalah Lani mantan sahabatku sendiri. Aku sudah tidak menganggapnya sahabat sejak lama, aku sudah tidak mau dekat lagi dengan Lani. Untukku dekat dengannya menyakitkan hati.
***
Sudah beberapa hari aku tidak berkomunikasi dengan Yori, aku merasa Yori mulai jauh dia seperti menjaga jarak denganku. Bahkan untuk memulai suatu komunikasi saja aku bingung. Beberapa kali Mama menanyakan kabar Yori kepada ku, tapi aku selalu berbohong dan menjawabnya baik - baik saja. Aku tidak mau Mama sedih jika Mama tau kalau hubunganku semakin tidak baik dengan Yori bahkan Mama tidak tau bahwa Yori bermain api dengan Lani di belakangku. Mungkin jika Mama tau, Mama akan memarahi ku, Yori juga Lani. Sebisa mungkin aku tidak perlu menceritakan kesedihanku dengan orang tuaku. Cukup beban mereka adalah pendidikanku saja, tidak dengan keluh kesah percintaanku yang sedih.
"Ri... Gimana sekolahnya? Udah bisa beradaptasi kan?" Tanya Mama saat kami berdua sedang makan malam. Jangan tanya Bapak dimana ya... Seperti biasa Bapak pasti praktek hari ini tidak pulang ke rumah.
"Alhamdulillah bisa kok Ma, ini aku lagi ngejar materi banget."
"Iyaa pokoknya kamu semangat yaa nak, Mama sama Bapak pasti dukung kamu lewat doa dan semangat."
__ADS_1
"Iyaa Ma..."
Aku harus menunjukkan prestasi yang baik untuk mereka. Aku harus merelakan persaaan sakitku terhadap Yori, aku lebih rela kehilangan Yori daripada aku harus jatuh dalam pendidikan.