
Malam itu, aku dan Yori masih saling berbalas pesan singkat. Aku senang akhirnya Yori menembakku, dan aku senang dia memberikan kado terindah di hari ulang tahunku. Dan yah... akhirnya hubungan tidak jelas ini akan jelas, tapi..
"Yor, pernyataan lo eh pertanyaan lo ya? Hmm harus gue jawab sekarang gak?"
"Gak harus kok Ri, gue kasih lo waktu untuk berfikir dulu yaa..."
"Thankyou Yor."
"Annything for You Ri."
Setelah malam itu, kami masih terus berbalas pesan. HIingga hari H event drumband, aku masih belum juga menjawab YA atau TIDAK.
"Lo kenapa Ri? Jangan bengong terus ih. Kesambet loh." Pipit selalu saja mengagetkanku saat sedang melamun.
"Gue kangen Yori."
"Hah? Ah itu mah tiap hari kayaknya deh. HAHAHA...." Ledek Pipit.
"Seriussan Pit, kali ini beda. Gue kayak ngerasa bersalah aja deh."
"Ngerasa bersalah gimana Ri?"
"Ngegantungin pernyataan dia Pit."
"Maksudnya??? Yori udah nembak lo?!" Pipit terkejut dan sedikit berteriak.
"Sssttt... jangan berisik ah. Nanti kalo pada denger gimana???" Aku tanpa sadar menutup mulut Pipit dengan tanganku.
"Duh sorry Ri. Gue kaget dan ikut seneng sih habisnyaaa. Gilaa setelah sekian lama loh kalian gak jelas. Akhirnya loh kalian ih.."
"Belum Ri, belum."
"Hmmm kenapa gak lo langsung terima ajasih Ri?"
"Lo paham yang namanya tarik ulur gak?"
"Oh okee lo pake tarik ulur gitu?"
"Iya, gue pengen liat gimana dia setelah nunggu jawab dari gue. Apakah dia bakal sabar menunggu jawaban dari gue, walaupun hubungan kita udah hampir setahun ini gak jelas."
"Mau sampe kapan Ri?"
"Gini ya Pit, gue aja sabar nunggu dia buat nembak gue selama hampir setahun ini. Masa sih dia gak mau sabar sedikit aja buat gue jawab IYA."
"Okee, tapi lo jangan kelamaan juga. Ini saran gue yaaaa, please jangan terlalu lama gantungin dia. Takutnya dia bosen malah cerita ke orang lain, terus malah jadi nyaman sama orang itu dan.."
"Baper? Jadi males sama gue? Berarti dia gak sayang sama gue Pit."
"Ri.. Bukan masalah sayang atau gak, tapi ini realistis aja yaa. Apalagi lo tau kan sekarang Yori lagi deket banget sama...
__ADS_1
"Lani? Iya gue tau, gerak gerik mereka semakin lama buat gue risih. Apalagi Lani sahabat gue. Jadi terkadang gue dilema banget Pit. Susah buat gue ungkapin gimana rasanya, sahabat gue sendiri punya gerak gerik berbeda sekarang dengan cowok yang gue sayang."
"Ri... Kalian berdua juga sahabat - sahabat gue di kelas, di drumband. Gue gak mau kita pecah karna perasaan."
Itu yang selalu aku takutkan, sekarang rasanya aku lebih memilih pergi menjauh dari Lani dibandingkan aku harus melupakan perasaanku kepada Yori. Semakin hari aku semakin menghindari Lani, semakin hari juga aku membentuk tembok yang tinggi dengan Lani. Bahkan kami sudah jarang saling curhat masalah cowok sejak Lani mengakui dia mulai ada rasa dengan Yori.
"Makasih Pit, tapi untuk saat ini kayaknya gue lebih baik menjauh dari Lani dibandingkan gue harus merelakan perasaaan gue ke Yori. Apa gue salah?"
"Ri.. Tapi gak gitu."
"Gue salah? Dimana salah gue? Yang memulai untuk pendekatan gue dan Yori kan? Lani hanya hadir disaat Yori butuh cerita. Cerita tentang gue, cerita tentang gimana perasaannya ke gue. Kenapa dia harus terbawa perasaan? Kenapa dia tega dengan sahabatnya sendiri?"
"Ri..." Pipit menggenggam tanganku erat - erat. Dan tanpa sadar aku menangis, yaa.. memang setelah kejadian Lani mengakui perasaannya kepadaku terhadap Yori aku berusaha menutup mata dan menutup telinga. Berusaha tidak menyadari kalau mereka ada sesuatu. Aku hanya fokus dengan perasaanku, aku hanya berusaha untuk tetap hangat dengan Yori walaupun hubungan kami sempat senggang beberapa waktu. Aku merasa, ini tidak adil. Disaat aku merasakan cinta pertama, tapi mengapa begitu menyakitkan seperti ini.. Apa aku tidak berhak untuk dicintai dan mencintai?
"Ri... Udah yaa jangan nangis lagi. Yang penting sekarang lo yakinin lagi. Kapan lo bakal jawab pengakuan Yori sama lo. Gue yakin lo bisa kok menghadapi semua yang udah terjadi." Pipit berusaha menenangkanku yang saat itu air mata semakin deras membasahi pipi.
"Iyaa Pit, gue lagi berusaha kuat. Makasih ya... Cuma lo sekarang orang yang bisa gue curhatin. Gue udah gak bisa curhat sama Lani." Aku berusaha mengusap air mata yang sudah banjir dan berusaha untuk berhenti menangis.
"Iyaa udah udah.. lo boleh cerita kapan aja sama gue kok. Ini lo minum dulu yaa.." Pipit langsung menyodorkan air mineral gelas yang ada di meja sebelahnya.
"Woyy! Lu berdua ngapain disitu?? Sini, kita siap - siap mau tampil nih." Ka Fero memanggil kami dari jauh.
"Ohh iyaa Kaaaa..." Jawab Pipit dan aku hanya diam saja karna masih mengatur nafas setelah menangis kuat, lalu kami bergegas menghampiri tim drumband untuk segera tampil.
***
"Makan - makan yuk kita..." Kata Ka Titi setelah event hari itu selesai.
"Setuju gak guys?" Tanya Ka Gita kepada kami semua.
"OKEEEE KAAA!!" Jawab kami semua serempak.
Setelah event selesai, kami jalan untuk cari makan bersama - sama di daerah Mall Taman Mini. Tapi ternyata tidak semuanya bisa ikut, karna beberapa ada yang harus pulang dan beberapa lainnya ada urusan.
"Alhamdulillah event hari ini lancar, tinggal closing MOS dan pensi yaa nanti." Kata Ka Beno.
"Yaahh... Gue, Gita sama angkatan gue yang lainnya udah gak bisa ikut dehhh. Bye guys..." Kata Ka Titi dengan wajah sedih.
"Eh iyaa kapan pengumuman UN?" Tanya Ka Fero.
"Minggu depan Ka.. Doain kita lulus 100% yaaaa." Jawab Ka Gita.
"AAMIIN!!! Gue yakin kalian lulus semua kok. Anak drumband pinter - pinter lahhh. Lulus semua pasti." Ka Fero sambil merangkul Ka Gita dan Ka Titi.
Dan setelah kami selesai makan - makan, kami semua pulang ke rumah masing - masing. Dan aku tidak sabar untuk segera menghubungi Yori. Tapi sebelum aku pulang, tiba - tiba Lani menghampiriku.
"Sist..."
"Ya.. Kenapa Lan?"
__ADS_1
"Lo marah sama gue?"
"Gak. Kenapa kok lo nanya gitu?"
"Gue ngerasa lo sekarang ngejauh dari gue."
"Perasaan lo aja mungkin. Gue gapapa kok." Aku berusaha menutupi bahwa aku mencurigai dia.
"Bener?" Lani merasa tidak yakin bahwa aku baik - baik saja terhadapnya.
"Hmmm.. Udah gak usah di pikirin. Balik duluan ya Lan.." Jawabku lalu langsung berlalu pergi meninggalkannya.
Aku meninggalkan Lani dalam keadaan wajah yang bingung. Maaf Lani, aku menahan. Aku berusaha menutup mata untuk melihat dia sering bersama Yori di sekolah.
Tiba di rumah, handphoneku bergetar menandakan SMS masuk. Dan ternyata Yori yang mengirimkan pesan singkat untukku.
"Ri..."
"Ya.. Kenapa Yor?"
"Gimana tadi eventnya? Lancar?" Ternyata Yori menanyakan event tadi.
"Alhamdulillah lancar kok Yor. Lo masih di puncak ini?"
"Masih kok, gue sampe hari minggu disini Ri. Lo udah di rumah?"
"Udah nih....Capek banget."
"Yaudah istirahat yaa Ri."
"Iya ini gue udah tiduran kok... Yori lagi apa?"
"Lagi mikirin lo nih..."
"Mikirin gue? Kenapa?"
"Gapapa... Yaudah lo istirahat gih Ri. Kan katanya capek."
"Hmmm oke, lo juga yaa Yor."
Setelah pesan singkat terakhir yang ku kirim, Yori tidak lagi membalas pesanku. Mungkin dia marah karna aku menggantung perasaannya. Dan akhirnya..
"Yor, gue mau jawab pernyataan lo yang kemarin."
"Iyaa Ri. Apa?"
"Iya.. Gue mau jadi pacar lo."
"Okee.. Makasi yaa Ri.. Jadi mulai sekarang kita pacaran ya... Yaudah istirahat yaa. Sampai ketemu hari senin sayang.."
__ADS_1
"Hehehe.. iyaa sayang..."
Akhirnya aku tidak bisa lagi menggantung perasaannya, dan aku sudah tidak sabar mengganti statusku dengan Yori yang sudah lama tidak jelas. Jadi kuputuskan untuk menjawab pernyataannya.