
"terima kasih tuan, taknik ini akan kami pelajari baik baik." ucap seorang dari pasukan pemanah.
"ya, itu niat yang bagus, aku akan kembali kerumah, pasukan berpedang kalian berlatih lah, pasukan berkuda kalian rawat kuda itu dengan baik, pasukan pemanah kalian segeralah kuasai teknik yang aku berikan tadi." ucap Ling lalu ia pergi dan pulang kerumah.
Sesampainya di rumah "Yugo, panggilkan para petani di kota ini." ucap Ling.
"siap laksanakan tuan." ucap Yugo lalu ia pergi memanggil beberapa petani untuk menemui Ling.
Setelah satu jam menunggu akhirnya para petani datang ke kediaman Ling "maaf tuan, ada apa mencari kami." ucap seorang petani.
"aku ingin bertanya, apakah hasil panen akhir akhir ini melimpah?" ucap Ling.
"itu, akhir akhir ini kita sulit pakan, karena tanah disini sangat kering." ucap petani tadi.
"kalian semua antarkan aku ke ladang, aku ingin melihatnya sendiri." ucap Ling.
"baik tuan, mari ikuti saya." ucap petani tadi dan berjalan ke ladang.
Ling mengikuti mereka dan sampai di ladang, ternyata ladang di tempat ini tidak sesuai dengan ekspektasi Ling "ck ck ck, ternyata ladang disini lebih buruk dari yang aku kira." ucap Ling sambil mengelus dagunya dan melihat ladang dengan tananh yang tandus.
"bukan hanya itu tuan, para petani kehilangan pekerjaanya dan juga terjadi kelaparan akibat petani tidak berkerja." ucap petani tadi.
"yah, ini sangat buruk kalau tempat yang aku pimpin seperti ini, mau di taruh mana muka ku saat orang orang tau kalau rakyatku kelaparan." ucap Ling.
"mau bagaimana lagi tuan, ini juga bukan kami yang mau, ini sudah kehendak tuhan." ucap petani.
"mulai sekarang kalian harus mulai bertani lagi, jika kalian mempermasalahkan tanah yang tandus ini, aku sudah punya solusinya." ucap Ling.
Ling memejamkan mata "Jurus Gelombang Air." ucap Ling dengan pelan, air yang di keluarkannya mulai membanjiri seluruh ladang dan membuat ladangnya tidak tandus lagi.
"sekarang kalian bisa bertani lagi, oh iya, buatlah kolam besar di dekat ladang untuk menampung air hujan, agar kalian tidak mengalami kesusahan lagi seperti ini." ucap Ling.
Para petani langsung meneteskan air mata dan bersujud kepada Ling "terima kasih tuan, maaf saya tidak bisa membalas jasa anda."
__ADS_1
"tak apa, kau hanya perlu membalasnya dengan memastikan warga di sini tidak kelaparan lagi." ucap Ling.
Para petani berdiri dan mengusap air matanya "sekali lagi terima kasih tuan, kami akan berkerja sebaik mungkin."
"mulai besok kalian harus mulai bercocok tanam lagi, Yugo gunakan pajak tahun ini untuk membeli benih sekarang, setelah itu susul aku di kedai, aku ingin makan dulu." ucap Ling.
"tuan, tapi kita ini sedang dalam krisis ekonomi, jadi pajak kita sangat sedikit tahun ini, jadi hanya bisa beli beberapa benih." ucap Yugo.
"********, pakai ini." ucap Ling dan mengeluarkan peti emas yang ia miliki.
"nah, gitu dong, jadi pemimpin itu gak boleh pelit, he he he." batin Yugo.
Lalu Ling pergi ke kedai untuk makan "ah, masalah makanan sudah selesai, akhirnya bisa bersantai." ucap Ling.
"woi, kenapa makanan di sini sangat mahal sekali, apa kalian ingin memerasku." ucap seorang prajurit yang makan di kedai.
"maaf tuan, tapi harga daging sekarang sangat mahal, kami juga tidak ingin rugi." ucap pemilik kedai.
"hei hei, kalau tidak punya uang lebih baik tidak makan di sini." ucap Ling sambil makan.
Prajurit itu menaikan kakinya ke meja Ling "siapa kau, mau bertarung, aku ini adalah seorang prajurit di sini."
"sangat tidak sopan, memangnya kenapa kalau kau prajurit di sini." ucap Ling dan tidak menghiraukan kalau prajurit tadi menaikan kaki kemeja nya.
"sialan, kau pergi saja sana ke neraka." ucap prajurit ini dan mengayunkan pedangnya dan berniat menyerang Ling.
Ling menghentikan pedang hanys dengan dus jari, dan prajurit itu mencoba menarik pedangnya "usaha yang sia sia." ucap Ling lalu mematahkan pedangnya.
Prajurit tadi sangat terkejut dan tak berkata apa apa, kemudian Yugo datang "hai prajurit, kenapabkau menyerang nya." teriak Yugo.
"maaf tuan, tapi dia menghina Gubernur Ling tadi, jadi aku tidak bisa diam saja." ucap prajurit ini dan menurunkan pedangnya.
"apa kau tau siapa dia, dia adalah Gubernur Ling." teriak Yugo.
__ADS_1
"apa, aku tidak tau dia adalah Gubernur Ling, sial, mati aku kali ini." batin prajurit ini.
Ling menghela nafas lalu berdiri "hah, Yugo hakum dia sesuai hukuman militer, pukul dengan tongkat kayu sebanyak 500 kali tanpa henti, paman ini uangnya, tenang saja dia tidak akan membuat masalah lagi untuk mu."
"ah, iya terima kasih tuan, kapan kapan mampir lagi." ucap pemilik kedai.
Setelah itu Ling keluar daru kedai, namun tak jauh ia berjalan dari kedai, ia sudah di hadang oleh empat orang "siapa kalian?" ucap Ling.
"maaf maaf tuan, kami hanya orang yang tidak sengaja melihat kehebatan." ucap orang yang berada di depan.
"oh, ternyata kalian orang di kedai tadi. katakan saja apa mau kalian." ucap Ling.
"anda benar tuan, saya mendengar anda adalah orang yang hebat, anda membantu Jendral Hong meraih kemenangan saat perang di perbatasan." ucap orang ini.
"yah itu benar, lalu apa mau kalian kamfret?" ucap Ling.
"kami ingin menjadi murid sekaligus prajurit anda." ucap orang ini sambil memberi hormat.
"hm, aku tidak mengenal kalian, dan juga aku tidak ingin menerima orang yang biasa biasa saja." ucap Ling.
Empat orang itu membuka jubahnya "maaf tuan, tapi bagaimana cara kami untuk membuktikan kalau kami layak menjadi murid anda." ucap orang ini.
"kalian berempat ikuti aku, jika kalian benar benar ingin menjadi muridku kalian harus aku tes dulu, sekarang tinggallah di rumahku, besok baru aku mulai ujiannya." ucap Ling lalu berjalan kembali kerumah.
"baiklah tuan." ucap orang ini sambil mengikuti Ling dari belakang.
Sesampainya di sana Ling memberikan kamar untuk empat orang itu "kalian tinggallah dulu di sini, oh aku belum tau siapa nama kalian." ucap Ling.
"namaku Huangse, dan ini adik ku Lanse, Hongse, dan adik perempuanku Luse." ucap Huangse.
"oh, istirahatlah dengan baik malam ini, karena ujianku akan sulit besok." ucap Ling lalu berjalan kembali kekamarnya.
"sepertinya mereka berempat bukan kultivator, aku akan memberikan ujian yang mudah saja, kira kira mereka harus membunuh Hewan Iblis apa ya." batin Ling saat berjalan ke kamarnya.
__ADS_1